APA ADA SEORANG SALESMAN
YANG AGUNG
?
Februari 2003
Legenda
Ratusan
tahun yang lampau ,seorang Raja dari negeri Persia memerintah dari
tahtanya
dengan anggun aman dan tenteram. Semua idaman dan kenikmatan hidup yang
diinginkannya dapat terpenuhi melalui kelima panca inderanya. Rakyat
sangat
menghormatinya, reputasi internasionalnya tersebar sampai keempat
penjuru bumi.
Ia sangat kaya dan memiliki kekuasaan yang mutlak; perkataannya
merupakan
hukum. Apabila ia bersabda maka semua perintahnya akan terlaksana.
Seluruh
kerajaannya mematuhi akan pemerintahannya. Apapun yang dikelolanya
selalu
membawa keberuntungan. Pemerintahannya mempromosikan kesejahteraan dan
perdamaian. Ia sering dijuluki sebagai "Raja Damai". Oleh karena
kekuatannya dan caranya memerintah dengan adil dan bijak, maka semua
bangsa
bangsa lain takut dan segan untuk memusuhinya, apalagi berperang dengan
raja
ini.
Namun,
ditengah tengah kehidupannya yang menjulang tinggi itu ia merasa ada
ganjalan
dalam hatinya. Ia merasa tidak dekat dengan rakyatnya dan merasa
"terasing" dengan objek yang dipimpinnya. Ia ingin untuk bisa
bergaul, berjabat tngan, dan ikut merasakan kebutuhan kebutuhan mereka
sebagai
rakyat jelata dan bahkan merindukan bagaimana merasakan penderitaan
yang masih
dialami oleh sebagian rakyatnya.Tetapi bila ia melakukannya dengan
mengunjungi
mereka dengan memakai jubah kebesarannya pastilah ia akan diperlakukan
sebagai
layaknya seorang raja. Dan pasti ia tetap merasa "jauh" dan
"terasing" dengan mereka yang ditemuinya. Akhirnya ia menanggalkan
semua pakaiannya, mahkotannya dan menggantikannya dengan pakaian butut
yang
banyak dipakai oleh kalangan bawah.
Seorang raja yang dibalut dengan pakaian rakyat jelata.
Dibawah
kegelapan malam ia menyelinap keluar dari istananya dan menyusuri jalan
yang
membawanya ketempat pusat kota yang ada pasarnya. Tampak sebagai orang
biasa
masuklah ia kedalam sebuah tempat penginapan dengan harapan dapat
meminta
tempat untuk bermalam.
"Semua sudah penuh, pergilah ketempat lain",
demikian jawaban yang ketus dari pemiliknya.
"Tapi tentunya anda punya tempat tidur dimana saya
boleh membaringkan badan saya ?," pintanya
"Engkau bisa kalau mau tidur di onggokan rumput
kering
dikandang kuda disana itu." Akhirnya dengan menghangati dirinya dengan
kayu2 bakar sambil mengeratkan syal lehernya ia membaringkan tubuhnya
diatas
tumpukan rumput kering melewatkan malam dikandang binatang.
Setelah
makan pagi ia pergi menuju pasar yang sudah sibuk sekali dengan
kegiatan
rutinnya. Semua yang dilihatnya tampak aneh, belum pernah ia melihatnya
selama hidup sebagai raja ,maklum
karena selalu tinggal diistana. Ia dimaki disana sini karena berprilaku
seperti
orang tolol yang muncul dari desa masuk kota dan menganggu lalu lalang
kereta
dan orang berjalan. Raja yang terbungkus dengan kesederhanaan itu mulai
merasakan bahwa ia telah menyatu dengan mereka. Sementara ia berusaha
agar
orang tidak mengenalinya , mendadak terdengar suara," Itu Raja, itu
raja!
Selamat Paduka Raja! Salam hormat!" teriak seorang pria yang sudah
lanjut
yang membungkukan badannya menyembah serta mencium tangan raja . Sambil
mengangkat tubuh orang tua itu raja berbisik agar ia diam dan tidak
bicara
kepada siapapun. Tapi terlambat beberapa orang mulai mengenalinya dan
mengerumuninya. Tapi beberapa orang tidak begitu saja percaya
Raja itu sekarang menjadi pusat perhatian dan
objek
kontroversi ."Tak mungkin ia seorang raja'" kata seseorang".
Raja tinggal diistana dan tidak mungkin berkeliaran di pasar."
"Ini Raja"'kata yang lainnya. "Saya pernah
bersalaman dengan beliau dan mengenalnya secara pribadi."
"Tapi kenapa ia pakai pakaian yang jelek begitu
?," kata yang lain." Raja tidak mungkin berpakaiaan compang camping -
raja memakai jubah kebesaran, mahkota dan cincin cincin berlian"
Dengan tenang, sang raja berdiri diam. Kemudian
seorang yang
skeptis menghampirinya dan orang orang berpikir ia akan menjernihkan
permasalahannya. "Tuan, apakah anda raja ?"
Saya tak dapat berdusta pikir raja dalam dirinya.
"Ya,
saya adalah raja."
"Kalau tuan adalah raja ,apa yang anda lakukan
ditempat
ini ?" "Saya datang untuk mengerti dan meyelami kebutuhan hidup
rakyat sehari hari, ingin menolong membebaskan mereka dari
hutang-hutangnya dan
memperbaiki kehidupannya ."
"Saya mengerti", kata sipenanya yang sekarang
bertambah curiga. "Jadi ,engkau seorang raja."
Buk ! Sebuah
tamparan tangan melayang kekepala sang raja sehingga tutup kepalanya
jatuh.
"Nah, mana mahkotamu ?" Krek!
Pakaian bututnya disobek dan bergantungan dipundaknya. "Mana ,jubah
kebesaranmu ?" Duk! Sebuah
pukulan tinju melayang kepundaknya membuat raja roboh diatas lututnya.
"Dan engkau hai 'raja', mana mereka yang berlutut dihadapanmu ?"
Beberapa
orang sekarang mencoba untuk membela raja, namun beberapa orang yang
senang
dengan adegan ini menghalangi mereka. Bangkit secara perlahan dan
berdiri tegak
sebagai layaknya seorang yang memiliki wibawa ia berkata," Mengapa anda
memukul saya? Saya tidak bermaksud
menyakiti anda, saya datang hanya demi keuntungan anda."
Pak! Tinju orang
itu melayang lagi kepipi sang raja.
"Bukan karena kebaikan yang kamu tawarkan saya
memukulmu ;melainkan karena kamu, seorang manusia biasa, sosok orang
tolol -
berani berani mengaku bahwa dirimu adalah raja"
Implikasi masa kini
Saudara
pembaca yang budiman , tentunya dalam menjual seringkali kita dituntut
untuk
melihat kebutuhan dari sang prospek atau pelanggan kita. Mengusahakan
dengan
sungguh sungguh untuk melihat dari sudut pandangnya, apa sih yang
mungkin
menjadi implikasi dari masalah yang dihadapinya, keinginannya dan
kebutuhannya.
Apabila kebutuhan ini dikenali dan kemudian dikonformasikan oleh sang
prospek
atau pelanggan, maka langkah yang berikutnya yalah menyodorkan solusi
yang
dimiliki oleh produk/ jasa yang anda jual, yang mampu mengisi dan
memenuhi
keinginan dan kebutuhannya itu serta memecahkan masalah yang
dihadapinya.
Contoh kisah diatas
mengambarkan perwujudan yang ekstrem dari sikap "berusaha melihat dari
sudut pandangnya"; rela meninggalkan status kedudukannya dan menjadi
sama
dengan rakyatnya dalam segala aspek kehidupan.
Anda boleh percaya atau
tidak, cara tersebut
diatas juga
pernah diterapkan oleh seorang "salesman" didalam sejarah manusia.
Status kedudukan raja Persia dibandingkan dengan status sang
"saleman" ini bukan apa apanya. Kalau raja tsb diatas hanya disakiti,
sang "salesman " ini malah dianiaya sampai mati, bahkan sampai mati
di kayu salib. Dan anehnya kematian
yang dialaminya itu di "selling" oleh banyak orang sampai sekarang.
Mengapa? Jawabannya oleh karena sang 'salesman' yang sudah bangkit itu
dapat memberikan solusi menyeluruh terhadap totalitas
problema
kehudupan yang dialami manusia fana, bahkan hidup yang tiada
berkesudahan
bagi siapa saja yang mau
"membelinya".
Bagaimana tanggapan Anda ?