Raja yang Turun: Makna Natal dalam Sebuah Legenda



Ishak Natan
Feb 2003, Des 2025

Sebuah Renungan Natal

Ratusan tahun yang lampau, seorang Raja dari negeri Persia memerintah dari tahtanya dengan anggun, aman dan tenteram. Semua idaman dan kenikmatan hidup yang diinginkannya terpenuhi. Rakyat sangat menghormatinya, reputasinya tersebar sampai keempat penjuru bumi. Ia sangat kaya dan memiliki kekuasaan mutlak; perkataannya adalah hukum. Seluruh kerajaan mematuhi pemerintahannya. Apapun yang dikelolanya selalu membawa keberuntungan. Pemerintahannya mempromosikan kesejahteraan dan perdamaian. Ia sering dijuluki sebagai "Raja Damai". Karena kekuatannya dan caranya memerintah dengan adil dan bijaksana, semua bangsa lain takut dan segan untuk memusuhinya, apalagi berperang dengannya.

Namun, di tengah kehidupannya yang menjulang tinggi itu, ia merasa ada ganjalan dalam hatinya. Ia merasa tidak dekat dengan rakyatnya dan merasa "terasing" dengan mereka yang dipimpinnya. Ia ingin bergaul, berjabat tangan, dan ikut merasakan kebutuhan rakyat jelata, bahkan merindukan untuk merasakan penderitaan yang masih dialami sebagian rakyatnya. Tetapi bila ia mengunjungi mereka dengan memakai jubah kebesarannya, pastilah ia akan diperlakukan sebagai layaknya seorang raja. Dan ia tetap akan merasa "jauh" dan "terasing" dengan mereka yang ditemuinya.

Akhirnya ia menanggalkan semua pakaiannya dan mahkotanya, menggantinya dengan pakaian butut yang banyak dipakai kalangan bawah. Seorang raja yang dibalut dengan pakaian rakyat jelata.

Di bawah kegelapan malam ia menyelinap keluar dari istananya dan menyusuri jalan yang membawanya ke pusat kota. Tampak sebagai orang biasa, masuklah ia ke dalam sebuah tempat penginapan dengan harapan dapat meminta tempat untuk bermalam.

"Semua sudah penuh, pergilah ke tempat lain," demikian jawaban ketus dari pemiliknya.

"Tapi tentunya Anda punya tempat tidur di mana saya boleh membaringkan badan saya?" pintanya.

"Engkau bisa kalau mau tidur di onggokan rumput kering di kandang kuda di sana itu."

Akhirnya, sambil menghangatkan dirinya dengan kayu bakar dan mengeratkan syal lehernya, ia membaringkan tubuhnya di atas tumpukan rumput kering, melewatkan malam di kandang binatang.

Setelah makan pagi, ia pergi menuju pasar yang sudah sibuk dengan kegiatan rutinnya. Semua yang dilihatnya tampak aneh, belum pernah ia melihatnya selama hidup sebagai raja, maklum karena selalu tinggal di istana. Ia dimaki di sana-sini karena berperilaku seperti orang tolol yang muncul dari desa masuk kota dan mengganggu lalu-lalang kereta dan orang berjalan. Raja yang terbungkus kesederhanaan itu mulai merasakan bahwa ia telah menyatu dengan mereka.

Sementara ia berusaha agar orang tidak mengenalinya, mendadak terdengar suara, "Itu Raja, itu Raja! Selamat Paduka Raja! Salam hormat!" teriak seorang pria lanjut usia yang membungkukkan badannya menyembah serta mencium tangan raja. Sambil mengangkat tubuh orang tua itu, raja berbisik agar ia diam dan tidak bicara kepada siapa pun. Tapi terlambat, beberapa orang mulai mengenalinya dan mengerumuninya. Namun beberapa orang tidak begitu saja percaya.

Raja itu sekarang menjadi pusat perhatian dan objek kontroversi. "Tak mungkin ia seorang raja," kata seseorang. "Raja tinggal di istana dan tidak mungkin berkeliaran di pasar."

"Ini Raja," kata yang lainnya. "Saya pernah bersalaman dengan beliau dan mengenalnya secara pribadi."

"Tapi kenapa ia pakai pakaian yang jelek begitu?" kata yang lain. "Raja tidak mungkin berpakaian compang-camping. Raja memakai jubah kebesaran, mahkota dan cincin berlian."

Dengan tenang, sang raja berdiri diam. Kemudian seorang yang skeptis menghampirinya dan orang-orang berpikir ia akan menjernihkan permasalahannya. "Tuan, apakah Anda raja?"

Saya tak dapat berdusta, pikir raja dalam dirinya. "Ya, saya adalah raja."

"Kalau Tuan adalah raja, apa yang Anda lakukan di tempat ini?"

"Saya datang untuk mengerti dan menyelami kebutuhan hidup rakyat sehari-hari, ingin menolong membebaskan mereka dari hutang-hutangnya dan memperbaiki kehidupannya."

"Saya mengerti," kata si penanya yang sekarang bertambah curiga. "Jadi, engkau seorang raja."

Buk! Sebuah tamparan tangan melayang ke kepala sang raja sehingga tutup kepalanya jatuh. "Nah, mana mahkotamu?"

Krek! Pakaian bututnya disobek dan bergantungan di pundaknya. "Mana, jubah kebesaranmu?"

Duk! Sebuah pukulan tinju melayang ke pundaknya membuat raja roboh di atas lututnya. "Dan engkau hai 'raja', mana mereka yang berlutut di hadapanmu?"

Beberapa orang sekarang mencoba untuk membela raja, namun beberapa orang yang senang dengan adegan ini menghalangi mereka. Bangkit secara perlahan dan berdiri tegak sebagai layaknya seorang yang memiliki wibawa, ia berkata, "Mengapa Anda memukul saya? Saya tidak bermaksud menyakiti Anda. Saya datang hanya demi keuntungan Anda."

Pak! Tinju orang itu melayang lagi ke pipi sang raja.

"Bukan karena kebaikan yang kamu tawarkan saya memukulmu, melainkan karena kamu, seorang manusia biasa, sosok orang tolol, berani-berani mengaku bahwa dirimu adalah raja!"


Refleksi: Natal - Ketika Raja Sorga Turun ke Bumi

Legenda sang Raja Persia ini menggambarkan dengan indah misteri Natal yang kita rayakan. Seperti raja dalam cerita ini, Allah yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, meninggalkan takhta kemuliaan-Nya dan turun ke dunia dalam rupa manusia.

Phil 2:6-8 menggambarkan peristiwa Natal dengan kata-kata yang luar biasa: "Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

Seperti raja yang menanggalkan jubah kebesarannya dan mengenakan pakaian rakyat jelata, Kristus menanggalkan kemuliaan sorga-Nya dan mengenakan daging manusia. Seperti raja yang tidur di kandang binatang, Kristus dilahirkan di palungan, tempat makanan ternak, karena tidak ada tempat bagi-Nya di rumah penginapan (Luk 2:7).

Seperti raja yang ingin "mengerti dan menyelami kebutuhan hidup rakyat sehari-hari", Kristus datang untuk mengalami langsung pergumulan manusia. Ia merasakan lapar, haus, lelah, dan pencobaan. Hebr4:15 berkata: "Imam Besar kita bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa."

Dan seperti raja yang berkata "ingin menolong membebaskan mereka dari hutang-hutangnya", Kristus datang untuk membebaskan kita dari hutang dosa yang tidak mungkin kita bayar sendiri. Mat 1:21 mencatat: "Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."

Tragisnya, seperti raja yang tidak dikenali dan bahkan dipukuli, Kristus juga ditolak oleh umat-Nya sendiri. Joh 1:10-11 mencatat: "Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya."

Ketika Yesus mengaku sebagai Anak Allah, Raja segala raja, banyak orang yang merespons seperti orang dalam cerita ini: "Engkau, seorang manusia biasa, berani-berani mengaku sebagai Allah!" (bandingkan Joh 10:33). Mereka memukul-Nya, meludahi-Nya, menyobek pakaian-Nya, dan akhirnya menyalibkan-Nya.

Namun inilah keindahan Natal yang berlanjut hingga Paskah: Raja yang turun itu tidak turun untuk membalas dendam atau menghukum. Ia turun karena kasih. Ia rela dihina, dipukul, dan disalibkan "demi keuntungan kita" - untuk menyelamatkan kita.

Di musim Natal ini, marilah kita merenungkan keajaiban inkarnasi: Allah menjadi manusia. Raja Sorga tidur di palungan. Yang Mahakuasa menjadi lemah. Yang Kekal memasuki waktu. Yang Tak Terbatas membatasi diri. Semua ini karena kasih-Nya yang tak terbatas kepada kita.

Pertanyaannya bagi kita: Apakah kita akan seperti orang-orang yang menolak dan memukul sang Raja? Atau seperti orang tua yang berlutut menyembah-Nya?

Joh 1:12 memberikan janji indah: "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya."

Selamat Natal. Kiranya kita menerima Raja yang turun itu dengan hati yang terbuka, mengenali-Nya sebagai Juru Selamat kita, dan menyambut-Nya sebagai Tuhan dalam hidup kita.


"Sebab begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Joh 3:16)



Beranda