Mr & Mrs Kiwindo of St Andrews

 

Ishak Natan

Jan 2012

Pengantar

Makalah ini mencoba mengabadikan sejarah pendirian jemaat berbahasa Indonesia pertama di Selandia Baru dengan pendekatan ‘historical context’ serta analogi perkawinan antara dua jemaat yang berbeda latar belakang; ‘suami’ yang berbudaya Inggris Kiwi danisteri’yang berbudaya Jawa Indonesia.

Riwayat Perjalanan 'Jejaka' Kiwi Dan 'Perawan' Indo

 

Masa pacaran 1985-1995

Berawal 23 Juni 1985 - Pemahaman Alkitab & Persekutuan Doa  pertama kali diselenggarakan dirumah keluarga Sorongan di wilayah Manurewa. Setahun kurang sehari, 22 Juni 1986, dengan bantuan pendeta StAndrew’s First Presbyterian Church, John McKinlay & istrinya Christine (ex-misionaris di  Bandung); persekutuan diizinkan menggunakan bangunan belakang gereja StAndrews, dibalai pertemuan yang lama dan sekarang sudah berubah jadi lapangan parkir. Menjelang akhir 1986, jumlah jemaat telah mencapai 60 orang.

Almarhum Nico & Femy Sorongan (mertua Elder Barita Pohan) usul dan didukung oleh para anggota pengurus saat itu, agar persekutuan ini ditingkatkan menjadi Gereja berbahasa Indonesia.  Kemudian 7 Juni 1987, jemaat Indonesia diperkenankan menggunakan gedung gereja setelah kebaktian jemaat berbahasa Inggris selesai.  Pdt John McKinlay dan Session Gereja StAndrew waktu itu banyak berperan membesarkan sang ‘perawan’ Indo.

 

Kendala & Solusinya

Walaupun belum mempunyai Gembala Sidang tetap, jemaat tetap bertekun dalam pendalaman Alkitab yang dipelopori oleh Zakeus Indrawan, Tiansa Ginting dan Markus Tandajaya. Tiansa dan Markus melayani selagi mereka studi di Bible College NZ.  Menginjak tahun 1989, setelah mereka semua menyelesaikan studinya dan kembali ke Indonesia, pelayanan diatur bergantian dengan mengundang pembicara dan pengajar dari luar. Karena belum adanya gembala sidangpenuh waktusaat itu, jumlah jemaat menjadi merosot. 

Catatan:

Pdt Markus Tandajaya sempat kembali ke NZ selama 1 tahun untuk melayani  jemaat Indonesia full time dengan biaya sendiri tanpa di bayar oleh gereja. Keluarga Barita Pohan yg menyediakan ‘free accommodation and meal’.

 

Untuk solusi jangka panjangnya, pengurus mulai mengundang Pdt Jusak Susabda secara berkala, yang saat itu adalah pendeta di St David's Presbyterian, dikota Gisborne; dengan harapan mau mengembalakan Jemaat berbahasa Indonesia yang ‘sedang numpangitu. 

Ide ini didukung penuh oleh  Pdt John McKinlay dan Session Gereja StAndrew. Salah satuya Elder Josua Tan yang saat itu ber-gereja di StLuke Remuera yang sebelumnya dihimbau oleh John McKinlay dan Jusak Susabda untuk pindah ke StAndrew. Beliau bersama Pdt John dan beberapa anggota session bule (Mark, Jim, Ray and Alistair ) mengusahakan pembentukan jemaat Indonesia resmi digereja StAndrews sambil mempersiapkan pemindahan Pdt Jusak dari Gisborne ke Auckland. Lalu tgl 21 Juni 1990, Pdt Jusak dikukuhkan oleh Auckland Presbytery sebagai associate pastor sampai Pdt John McKinlay pension.

Demi membiayai dua pendeta penuh waktu, Gereja StAndrews berkorban menjual rumah pendeta didaerah Parnell yg saat itu dihuni oleh keluarga Pdt John McKinlay, termasuk dukungan dana dari Gereja Presbyterian di Manurewa selama beberapa tahun.

 

Hari Perkawinan

Akhirnya dua jemaatjejaka’ Kiwi danperawan Indo’ mengikrarkan pada 13 Augustus 1995 bahwa mereka bukan lagi dua jemaat, tapi satu. Seluruh jemaat Indo diterima sebagai anggota penuh (communicant member) Gereja StAndrew, yang mana system keuangan masing masing Jemaat sudah menjadi satu sejak bulan Juli 1995 sebelumnya.

 

Dinamika Hidup Perkawinan

Pada tgl 24 Oktober 2002, Pdt Jusak Susabda memasuki pension setelah memimpin sekaligus dua Jemaat StAndrews  berlainan bahasa. Jemaat Inggris kemudian digembalakan Rev. Arthur Palmer, sedangkan Jemaat Indonesia oleh Johnvin Kiki Anugraha, yang sebelumnya immigrate ke New Zealand dari Singapura ditahun 2000.  Baru pada tgl 25 May 2003 beliau diteguhkan menjadi pendeta tetap berbahasa Indonesia di Gereja StAndrews.

 

Sebelum pergantian, secara periodik kebaktian gabungan diadakan sebulan sekali dengan jemaat Inggris jam 10.00 yang lambat laun terhapus. Kegiatan yang mendukung kebersamaan mulai kendor karena dirasakan tidaknyaman’. Sebagian jemaat Indonesia merasa lebih betah diwilayah ‘comfort-zone’ nya.

 

Permohonan Sang Isteri

Dengan berlalunya waktu,  timbul penafsiran yang berbeda dengan vision & mision statement StAndrews. Kalau penekanan misinya ke-inner city of Auckland, lalu bagaimana dengan penjangkauan komunitas Indo yang bermukim diluar inner city? Permintaan isteri dinilai wajar dan masuk di akal. Timbulah gagasan menanganinya dengan membentuk wadah tambahan <Elders (person Indo yang anggota Session) & Associate (person Indo yang bukan anggota Session)> yang setara denganMajelis Jemaat Gereja Kristen di Indonesia.

 

Wadah ini berubah nama menjadi Indonesian Council yang dikukuhkan oleh Rev Arthur Palmer dan Rev Johnvin Kiki Anugraha pada tanggal 28 April 2003, dalam kebaktian bahasa Indonesia.

Tujuan dibentuknya Indonesian Council agar jemaat Indo lebih banyak diperhatikan dibidang-bidang pelayanan seperti:

 

Pada masa itulah (2003) diperkirakanisteri Indo’ mulai bunting. Memasuki awal 2010 lahirlah anakNorthShorepada tanggal 25 April 2010 dengan disaksikan oleh papa (=Session) dan mama (=Indonesian Council) setelah usia perkawin 15 tahun dari Mr&Mrs Kiwindo. Sang balita (bayi dibawa lima tahun) ‘Northshoreakan memasuki usia dua tahun dan masih perlu minumbanyak susu’ (1 Pet 2:2).

Rumah Tangga Mr&Mrs Kiwindo   

Hubungan papa mama tetap mesra walaupun disana sini ada perbedaan paham dalam masalah membelanjakan uang dan pengaturan hidup berumah tangga. Cekcok besar setahu penulis pernah terjadi berkaitan dengan phenomena ‘Toronto Blessing’ pada awal decade 2000.

Johnvin Kiki Anugraha sebelum ditabiskan ikut menanganinya.

 

Prospek Kedepan

Seyogyanya IC memikir jauh kedepan dengan activities yang melibatkan kedua Jemaat berorientasi visi & misi; mengemban Amanat Agung Kristus (Mat 28: 18-20) di Selandia Baru. Karenanya hubungan papa mama perlu dilestarikan dengan acara kebersamaan seperti Presbetery Meeting, Assembly General Meeting, Social function, Natalan, Paskah, Perjamuan Kudus, BBQ, Dinner, piknik  agar keluarga besar StAndrews danbalita Northshoretumbuh subur.

Misalnya mendorong jemaat Indonesia mau berpartisipasi di BOM (Board of Management) sehingga bisa memicu Sense of Belonging. Di bidang lain seperti choir, (SS) Sunday School and Teens (anak anak remaja). Peleburan di tingkat SS and teen/youth bisa menjadi wadah kebersamaan yang lebih muda terwujud. Tentunya process ini harus digumuli bersama dengan meminta bimbingan dari Tuhan.

Contoh: Sepertinya Tuhan sudah mengatur dengan adanya pendeta baru Kiwi setelah pendeta sebelumnya pension diawal 2011 dan diawal 2012 seorang calon pendeta wanita Samoa akanpraktek pelayanan’ (program interns Knox Centre) selama 2 tahun di StAndrews subject dievaluasisetelah setahun.

Benih keinginanpisahumumnya mencuat dikalangan atas karena tuntutan dari Session bule dirasakan berat dan agenda rapat lebih mendominasi urusan ‘papa’ ketimbang urusan ‘mama’. Tambahan lagi banyak anggota IC Indo masih dibungkus oleh budayasungkan’, takut menyingung hati orang.

Walaupun satu dua individu di Session berkarakter sangat kukuh dan sang ‘mama’ merasa sebagai anggota kelas dua, hal itu bukanlah watak keseluruhan anggota Session bule.

 

 

 

Sumber: