. . . isi komentar . . .
Mengenal
Konsep Mitos Agensi Tekstual
Teguh Wijaya Mulya
Tuhan Yesus tidak berubah
Tidak berubah
Tidak berubah
Tuhan Yesus tidak berubah
Tak berubah, selama-lamanya
Pernahkah Anda mendengar lagu di atas? Setujukah Anda dengan isinya? Yakin?
Iya-lah, wong ada tertulis:
Kali ini kita akan menelaah bahwa lagu itu mungkin ada benarnya, tapi mungkin juga ada salahnya. Tuhan Yesus mungkin tidak berubah dalam hal-hal tertentu; tapi dalam hal-hal lain, seperti ajarannya tentang apa yang benar dan salah, ternyata sering berubah sepanjang zaman lho!
Siapa bilang? Mungkin para teolog teolog yang belum lahir baru . . .
Daftar
Dosa yang Selalu Berubah
Kalau kita menengok sejenak perjalanan sejarah kekristenan selama lebih dari 2000 tahun, ada banyak hal yang dulu pada zaman Alkitab dianggap dosa, namun sekarang tidak lagi. Dan sebaliknya, ada banyak hal yang di Alkitab dipraktikkan, namun sekarang kita anggap dosa terkutuk.
· Perbudakan: dipraktikkan sejak zaman PL hingga PB, dan masih dilakukan orang Kristen sampai sekitar 200 tahun yang lalu.
Betul
· Poligami: dipraktikkan sejak zaman PL hingga PB, dan baru dilarang gereja sekitar abad pertengahan.
Betul
· Genosida (pembasmian etnis): Di PL Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk menghabisi bangsa-bangsa Kanaan, termasuk perempuan, anak-anak, dan ternak.
Ada dua alasan:
1.Bangsa Israel yang keluar dari Mesir adalah umat pilihan yang menyembah TUHAN Allah yang benar, sedangkan bangsa bangsa Kanaan peyembah berhala berhala.
2.DNA
bangsa Kanaan sudah tercemar. Meminjam istilah tehnology, mereka
digolongan
manusia 'hybrid'. Itulah sebabnya pada zaman Noah nenek moyang manusia
hybrid
(raksasa-raksasa) dimusnakan melalui air bah; "Pada waktu itu
orang-orang raksasa ada di bumi, dan
juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri
anak-anak
perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi
mereka;
inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang
yang
kenamaan." Genesis 6:4
Penelitian lebih lanjut
>
en.wikipedia.org/wiki/Nephilim
www.answersingenesis.org/articles/aid/v2/n1/who-were-the-nephilim
· Di abad pertengahan gereja membaptis prajurit di bawah bendera sebelum berangkat berperang menghabisi umat Muslim. Puji Tuhan zaman sekarang umat Kristen tidak lagi berperang atas nama Tuhan.
· Makanan haram: udang, babi, swikee, belut, dll adalah makanan haram di PL dan masih dipraktikkan Petrus di Perjanjian Baru.
· Tapi sekarang kita menikmati makanan-makanan lezat itu. Yum!
· Hari Sabat: Dipraktikkan dengan ketat di PL, dikacaubalaukan oleh Yesus, tidak dipraktikkan oleh kebanyakan gereja saat ini, namun ada saudara kita gereja Advent yang masih menjaga hari Sabat.
Betul. Tapi jangan lupa bahwa perjanjian mengkuduskan hari Sabat dibuat dengan umat Yahudi (Israel), dan bukan dengan Jemaat Tuhan yang sudah dimateraikan oleh Roh Allah;
Maka haruslah orang
Israel memelihara
hari Sabat, dengan merayakan sabat, turun-temurun, menjadi perjanjian
kekal. Exodus
31:16
Setiap hari Sabat ia harus tetap
mengaturnya di hadapan TUHAN; itulah dari pihak orang Israel suatu
kewajiban
perjanjian untuk selama-lamanya. Leviticus 24:8
Dan orang-orang asing yang menggabungkan
diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan
untuk
menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak
menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, Isaiah 56:6
· Berjualan di gereja: Yesus luar biasa marah pada orang-orang yang berjualan di Bait Allah. Tapi sekarang kita malah senang kalo ada tukang bakso yang nangkring di depan gereja.
· Perpuluhan: Diajarkan di PL, tidak pernah disinggung di PB, saat ini masih dipraktikkan di banyak gereja dengan kaku (jika tidak memberi 10% ke gereja dianggap mencuri uang Tuhan), namun di gereja kita St Andrews tidak (tidak dianggap mencuri karena prinsip memberi adalah dengan sikap bersyukur, patokannya bukan 10% tapi kerelaan).
· Perceraian: Diijinkan oleh Musa, dipraktikkan di PB oleh bangsa Israel, tapi kemudian ditentang oleh Yesus, saat ini pendapat gereja bervariasi: dari yang menolak mentah-mentah, me-nol-kan pernikahan, hingga mengijinkan perceraian. Gereja St Andrews? ‘Case by case’ kata Om Kiki.
· Homoseksualitas: wah ini panjang perdebatannya. Nanti akan saya bahas di kesempatan lain.. Yang pasti ada gereja yang menerima (seperti gereja Anglikan), ada yang menolak (seperti kebanyakan gereja Presbyterian).
Mitos
Agensi Tekstual
Mengapa bisa begitu ya? Mengapa dari Alkitab yang sama bisa muncul banyak sekali pendapat yang berbeda antar gereja, juga antar zaman? Jawabannya, karena Alkitab sebenarnya tidak pernah ‘berbicara’ secara langsung pada kita. Atau istilah kerennya ‘the myth of textual agency’ (konsep ini dicetuskan seorang teolog yang bernama Dale B. Martin, 2006)
Ya dan tidak . . .
Misalkan PL tidak ditujukan kepada kita langsung, melainkan kepada umat Israel sebagai pelajaran untuk Jemaat Tuhan (Ekklesia). PBaru khususnya kitab para Rasul 'bicara langsung' untuk jemaat Tuhan milikNya dimasa kini (abad 21);
Coba kita letakkan Alkitab di tengah ruangan, lalu kita katakan: “Berbicaralah.” Dan kita tunggu dalam kesunyian hingga ia berbicara. Sampai setahun juga Alkitab tersebut tidak akan berbicara. Agar Alkitab ‘berbicara’ pada kita, kita harus membukanya, membacanya, menginterpretasinya, memahaminya, merenungkannya, mendiskusikannya, dan menerapkannya. Teks tidak punya agensi (kemampuan untuk mengambil inisiatif, memilih, mengambil putusan, dst). Manusia lah yang memiliki agensi. Kita lah yang membuat Alkitab ‘berbicara’.
Betul. Oleh karena itu tidak percuma Petrus menulis supaya jemaat Tuhan pro-active;
Repotnya, cara kita membaca Alkitab tidak pernah bisa langsung, selalu dimediasi/memakai perantara interpretasi, yaitu bahasa, budaya, dan ideologi. Kita harus menguasai bahasa dahulu, barulah bisa membaca Alkitab. Masalahnya sebuah bahasa tidak pernah bisa 100% menangkap makna persis seperti dalam bahasa lain (coba saja jelaskan konsep ‘jayus’ atau ‘ilfil’ ke English speakers, tidak mungkin bisa ditangkap persis 100% seperti kita memahaminya).
Wah, beta sendiri kagak ngerti apa itu ‘jayus’ atau ‘ilfil’?
Kita juga lahir ke bumi dalam budaya tertentu. Orang dari budaya yang berbeda tidak bisa sepenuhnya menangkap realita sosial di budaya lain. Mengapa kita tidak terkejut ketika diceritakan ayah dari anak yang hilang BERLARI mendapati anaknya, sementara bagi audiens Yesus di zamannya, itu adalah hal yang jaw-dropping?
Bukan jaw dropping-lah.
Konteksnya di Lukas 15; Yesus menjawab kritikan dari para agamawam Yahudi dengan tiga perumpamaan, yang salah satunya 'Anak yang Mati/Hilang';
Bisakah kita mengerti koq bisa-bisanya Lot menawarkan anak gadisnya untuk diperkosa demi melindungi tamu? Sulit.. karena kita tidak bisa membayangkan budaya hospitality di zaman itu.
Betul, beta juga kagak ngerti, karena memang Alkitab memaparkan apa adanya dan tidak ditutup tutupi . . .
Kita juga selalu hidup dalam ragam ideologi tertentu, yang selalu menjadi ‘kacamata’ ketika kita membaca teks. Pertanyaan tentang ‘jaminan keselamatan’ misalnya, baru muncul ketika dimana ideologi modern mulai berkembang. Sebelumnya, tidak pernah ada yang menanyakan ‘jaminan keselamatan’ dalam Tuhan, karena di zaman kerajaan-kerajaan hak asasi individu untuk hidup tidak diakui. Kalau raja bilang bunuh ya bunuh. Selesai. Tidak ada jaminan.
Dale Martin juga mengkritik pendekatan historical criticism, yaitu pendekatan tafsir Alkitab yang ngotot membuktikan bahwa kebenaran mutlak bisa kita temukan kalau kita bisa mengungkap historical meaning nya dengan akurat, seperti: apa maksud sesungguhnya si penulis, apa situasi sejarah saat itu, bagaimana kriteria interpretasi yang benar/eksegesis, dst.
Dale Martin barangkali lupa tentang ayat ayat ini;
Sanctify them through thy truth: thy word is truth. John 17:17
Kuduskanlah mereka itu di dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran. John 17:17
Segala
tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk
menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik
orang dalam
kebenaran. 2 Timothy 3:16
Dale menunjukkan bahwa pada pakar sejarah tidak pernah saling setuju tentang satu peristiwa sejarah. Juga para pakar hermeneutika tidak pernah saling sepakat kriteria eksegesis yang sama. Contohnya, sebelum reformasi hanya magisterium Roma Katolik yang boleh melakukan interpretasi terhadap Alkitab. Martin Luther dan kita gereja protestan jelas menentang ide ini. Kita semua boleh membaca dan menginterpretasi Alkitab tanpa perlu menjadi pakar hermeneutika. Dale lalu menyimpulkan bahwa “history … cannot serve as the epistemological foundation for theology.”
Ini
beta setuju. Kita semua boleh membaca dan menginterpretasi Alkitab
tanpa
perlu menjadi pakar hermeneutika. Alkitab, khususnya
Perjanjian Baru tidak susah koq untuk
dimengerti kalau sebelumnya berdoa
meminta pencerahan dari Roh Kudus.
Makanya, meskipun kita selalu mengakui bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang sempurna, akses kita ke Firman Allah yang sempurna itu itu tidak pernah sempurna. Interpretasi kita selalu dimediasi hal-hal lain. Kita selalu memakai ‘kacamata’ ketika membaca. Apa boleh buat, toh tidak ada jalan lain. Mau tidak mau kita harus mengakses Firman Tuhan lewat interpretasi yang tidak sempurna itu. Makanya bisa ada banyak perbedaan pendapat antar gereja.
Benar, karena itu jangan lupa bahwa ada tertulis;
Which things also we speak, not in the words which man's wisdom teaches, but which the Holy Spirit teaches; comparing spiritual things with spiritual. 1 Corinthians 2:13
Kita perlu rajin membandingkan antar ayat bersamaan dengan antar kitab. Bible software sekarang memiliki fungsi seperti itu.
But
the anointing which you have received of him abides in you, and you
need not
that any man teach you: but as the
same anointing teaches you of all things, and is truth, and
is no lie, and even as it has taught you, you shall abide in him. 1
John
2:27
Anarki
moral?
Lalu kalau begitu apakah ini berarti kita bisa sebebas-bebasnya menginterpretasi Alkitab sesuka hati kita? Toh tidak pernah ada satu interpretasi yang ‘murni’ dan ‘kekal’ sepanjang zaman?
Justru sebaliknya! Kita harus makin berhati-hati dan makin rajin menelaah Alkitab. Kita harus terus mengintrospeksi diri dan interpretasi kita, apakah interpretasi kita sesuai dengan kehendak Allah pada zaman ini. Apakah interpretasi kita makin hari makin membuat kita mengasihi Allah dan sesama? Tidak bisa lagi kita secara sederhana mengatakan “Inilah yang dikatakan Alkitab dan taatilah!”
Gampangnya begini;
Intisarinya PLama kepada umat pilihan TUHAN Allah :“Israel, are you going to obey me or not?”.
Sedangkan di
PBaru kepada segala bangsa
bangsa Kafir maupun orang-orang ras Yahudi: "Mankind,
are you going to believe me or not?"
Tidak perlu terkejut dengan hal ini, karena toh selama ini kita memang tidak pernah murni menaati apa yang Alkitab tulis koq. Kita selalu memilah dan memilih mana ayat yang kita anggap relevan, dan mana yang kita abaikan. Misalnya, mengapa kita tidak pernah melakukan perintah Yesus ‘jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu’, misalnya ketika jalan-jalan di mall dan tergoda belanja yang tidak perlu?
Konteksnya Yesus khotbah dari atas bukit;
28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Matthew 5:28-29
Intinya Tuhan Yesus datang mengenapi Hukum Taurat didalam diriNya demi menebus umat manusia berdosa melalui kematian dan KebangkitanNya. Manusia tidak mungkin untuk tidak berdosa dan impossisle hidup berdasarkan Hukum Taurat, karena upah dosa adalah maut. Makanya Yesus datang dan dijadikan DOSA ganti kita yang mau menerima anugrahNya.
Dia
yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi
dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. 2 Corinthians 5:21
Alkitab yang selalu direinterpretasi ini juga malah bikin iman Kristen selalu relevan. Ia jadi memiliki kemampuan untuk terus beradaptasi dan berhadapan dengan dosa-dosa baru yang tidak ada di Alkitab, seperti berjudi, narkoba, internet addiction, perusakan lingkungan, dll.
Sudah saatnya slogan ‘what would Jesus do?’, kita ganti dengan ‘what would Jesus want me to do in this cultural and historical situation?’ Kalau kita tetep mau melakukan persis apa yang Yesus lakukan, kita mestinya menggulingkan rombong tukang bakso di depan gereja, menyumpahi politikus munafik dengan kalimat ‘celakalah kamu…’, dan menyebut gubernur dengan istilah ‘si serigala itu’.
Kesimpulan yang menarik dan bisa diterima.
Pengenalan
akan TUHAN Allah dan
FirmanNya harus dibarengi dengan Common Sense, sehingga akan membuat kita mampu 'berdiri teguh'
dan 'bersuka-cita'
mengantisipasi masa Depan Cerah bagi
GerejaNya yang Kudus dan Am dan telah ditebus dengan darahNya.
23 Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang
bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat
bermegah
karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, 24
tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa
ia memahami dan mengenal
Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan
dan kebenaran
di bumi; sungguh,
semuanya
itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN." Jeremiah 9:23-24
Sementara itu kita yang sudah percaya melibatkan diri menapaki masa depan Dunia yang semakin ambur adul . . .
Bibliografi:
Martin, D. B. (2006). Sex and the single savior: Gender and sexuality in Biblical interpretation. Louisville, Ky.: Westminster John Knox Press.