Penjebab Banjir di Ibukota Jakarta
6 Feb 2002
Ibukota
negara Indonesia dilanda banjir yang luar
biasa.
Pemerintah konon merencanakan mengalokasikan 4trilliun
rupiah untuk
merehab
dan mengembalikan Jakarta seperti semula. Pimpinan MPR juga mengusulkan
krisis banjir sebagai Bencana Nasional. Belum pernah terjadi
sejak
Ibu Pertiwi bereksistensi. Apa gerangan yang menjadi penyebabnya?
Ada dua sebab utama.
Yang pertama dari faktor cuaca dan prilaku alam secara global yang
makin unpredictable. Disini manusia takluk dan hanya terima nasib, a
force majeure - ‘an act of God’ begitulah. Sebab yang kedua oleh karena
ulah sang manusia sendiri. Dan ini sebenarnya dapat di-manage asalkan
para pengelola negara memiliki ‘political will’ dan seluruh komponen
bangsa mau bersatu untuk action. Apa kira kira solusinya?
Mari kita urutkan sebab masalahnya dengan pendekatan bertanya mundur
sebagai orang bersahaja, warga yang sederhana pemikirannya. Seorang
netter Apakabar menulis bahwa luas daerah resapan air hujan yang masuk
ketanah telah mengecil dengan drastis oleh karena pembangunan
perkotaan. Kali, got, saluran pembuangan dan sungai telah padat sampah.
Daerah rawa rawa telah disulap menjadi permukiman. Mengapa?
Karena banyak orang pendatang dari seluruh penjuru tanah air mencari
nafkah di-ibukota/ dipulau Jawa. Urbanisasi berkelanjutan sejak
berdirinya negara RI.
Kita tanya lagi mengapa ke Jakarta?
Sebab faktanya memang lebih mudah mencari pekerjaan, memperoleh rejeki
dan mendapatkan proyek ketimbang bekerja didaerah dan mencari nafkah
di-pulau pulau lain. Belum lagi keputusan keputusan ekonomi strategis
dan taktis selalu diputuskan di Ibukota. Lha wong pusat
pemerintahan memang di Ibukota kok.
Konon sekitar 60-80 persen seluruh peredaran uang Republik Indonesia
berputar di kawasan Jabotabek. Dan sesuai pepatah; Dimana ada gula,
disitu berkerumun semut-semut. Lalu?
Ah sekarang kita sudah lebih mudah menemukan solusinya. Konsep dasarnya: Sebarkan 'gula' dimana mana.
Ciptakan kantong kantong ekonomi bertebaran diseluruh Nusantara
ditempat yang sudah mulai padat penduduknya. Kaitkan dengan program
terpadu Otonomi Regional dan pembinaan SDM secara berkesinambungan
ditiap tiap
Daerah daerah yang ber-Otonomi. Namun itu masih separuh pemecahan. Lho apa lagi?
Pusat pemerintahan negara dipindah keluar pulau Jawa, karena dari segi
lingkungan hidup pulau Jawa sudah melampaui ambang batas penampungan
penduduk. Banjir di Jakarta karena itu. Penduduk di sekitar Jabotabek
agar bisa tinggal perlu lokasi tanah, dimana sebelumnya tempat
tumbuhnya pohon/ tanaman yang mampu menyerap air hujan. Banjir kiriman
dari Bogor dan sekitarnya juga disebabkan kawasan hutan sudah berubah
menjadi tempat permukiman. Daerah resapan menciut drastis dan air
selalu mengalir ketempat yang lebih rendah. Belum lagi ditinjau dari
segi persyaratan habitat untuk manusia sehat jiwa dan raga. Beberapa
kantong dipulau Jawa juga sudah tidak layak hunian.
Dengan pindahnya pusat pemerintahan diharapkan terjadi arus balik
transmigrasi keluar sehingga berdampak PEMERATAAN diseluruh tanah air
dan pengurangan 'beban' di pulau Jawa.
Masih ingat konsep trilogi pembangunan yang lumayan bagus pada zaman orba?
Stabilitas Nasional yang Mantap, Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi dan Pemerataan Pembangunan beserta Hasil-hasilnya.
Trilogi pembangunan waktu itu seolah olah sebagai ‘anak panah’ yang
direntangkan dengan tali busur GBHN dan yang diikatkan pada busur UUD45
mengarah ke sasaran ‘masyarakat adil & makmur’. Sayang karena
masalah politik yang berlarut larut, pergumulan ekonomi belum
terselesaikan, datanglah banjir dan makin kalutlah manusia. Kasihan
bangsa kita.
Solusi diatas adalah mendasar, berjangka panjang dengan penekanan aspek
pemerataan penduduk. Ingat pulau Jawa itu miskin natural resourcenya
ketimbang pulau besar lain seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi,
Papua Barat dan pulau lainnya. Makin banyak warga memusat disatu titik
lokasi, makin sulit diatur. Makin sedikit orang, makin mudah menatanya.
Sama seperti mengatur sebuah keluarga. Keluarga besar pusing kepala,
keluarga mini, enteng kepala. Coba tenggok beberapa negara maju didunia
kebanyakan sudah memisahkan kota niaganya dengan kota pusat
pemerintahannya.
What do you think?