Istri yang Bercerai dan Mempelai Wanita:
Sebuah Narasi Alkitab
Ishak Natan
Okt 225
Kitab Suci menyajikan
kisah yang mendalam tentang pernikahan
ilahi, ketidaksetiaan, perceraian, dan pernikahan kembali. Narasi ini
membentang dari para nabi hingga para rasul, mengungkapkan hubungan
Allah dengan Israel di bawah Perjanjian Lama dan persatuan-Nya dengan
Gereja melalui Kristus di bawah Perjanjian Baru.
Pada zaman dahulu, Tuhan Allah, Yahweh (Jehovah), dalam peragaan kasih
yang tak layak diterima, mengadakan perjanjian kudus dengan bangsa
Israel. Ia memanggilnya keluar dari perbudakan Mesir dan
mempertunangkannya dengan diri-Nya di padang gurun, mengukuhkan
persatuan itu di Gunung Sinai. "Aku teringat akan kasihmu pada masa
mudamu, akan cintamu waktu engkau menjadi pengantin, waktu engkau
mengikuti Aku di padang gurun, di tanah yang tidak ditaburi" (Jeremia
2:2). Israel adalah istri pilihan-Nya, yang secara unik diistimewakan
dan dipisahkan.
Bagian I: Pernikahan dengan
Israel
Ikatan Perjanjian
Ketika Yehuwa membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, Dia memasuki
sebuah hubungan perjanjian yang sering digambarkan dalam istilah
pernikahan. Tuhan mengambil Israel sebagai mempelai-Nya, memberinya
hukum-Nya di Sinai dan berjanji untuk menjadi Allahnya sebagaimana ia
akan menjadi umat-Nya.
"Bertobatlah, hai anak-anak yang murtad, firman TUHAN, sebab Aku telah
menjadi istrimu" (Jeremia 3:14).
Perzinahan Israel
Namun Israel terbukti tidak setia. Kitab Hosea memberikan gambaran
paling gamblang tentang perzinahan rohani ini. Allah memerintahkan nabi
Hosea untuk menikahi Gomer, seorang perempuan sundal, sebagai ilustrasi
nyata ketidaksetiaan Israel.
"Berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: 'Pergilah, ambillah bagimu seorang
isteri sundal dan anak-anak sundal, sebab negeri ini telah berbuat
sundal yang besar, karena mereka telah menjauh dari TUHAN'" (Hosea 1:2).
Dosa Israel bukan sekadar ketidaktaatan, melainkan perzinahan rohani.
Ia mengejar allah-allah lain—para Baal Kanaan—meninggalkan suami
perjanjiannya. Ia menghubungkan berkat-berkatnya kepada allah-allah
palsu, alih-alih kepada Yehuwa yang telah menyediakan segala sesuatu.
"Sebab ia tidak insaf bahwa Akulah yang memberinya gandum, anggur, dan
minyak, dan melipatgandakan baginya perak dan emas, yang telah mereka
persiapkan untuk Baal" (Hosea 2:8).
Permohonan dan Peringatan
Melalui Hosea, Allah memohon kepada istri-Nya yang bandel.
Kata-kata-Nya menyingkapkan hati yang terpecah antara amarah yang kudus
dan kasih yang tak berkesudahan:
"Berdoalah kepada ibumu, berdoalah, sebab ia bukan istri-Ku dan Aku
juga bukan suaminya. Sebab itu hendaklah ia menyingkirkan sundalnya
dari hadapannya, dan perzinahannya dari antara buah dadanya" (Hosea
2:2).
Peringatannya jelas: perzinahan yang terus-menerus akan mengakibatkan
penghakiman. Allah akan mencabut berkat-berkatnya, menyingkapkan
aibnya, dan membiarkannya terlantar.
Surat Cerai
Meskipun Allah telah lama menderita, Israel tetap berkeras dalam
penyembahan berhala. Kerajaan utara jatuh ke tangan Asyur, dan Yehuda
pun ditawan di Babel. Allah menyatakan melalui para nabi bahwa Dia
telah memberikan surat cerai kepada Israel:
"Dan Aku melihat, ketika karena segala sebab yang menyebabkan Israel
yang murtad itu berzinah, Aku telah menceraikan dia dan memberikan
kepadanya surat cerai" (Jeremia 3:8).
Perceraian ini bukanlah perceraian yang sembarangan, melainkan sesuai
dengan hukum yang telah ditetapkan Allah sendiri: "Apabila seorang
laki-laki mengambil seorang istri dan mengawininya, dan perempuan itu
tidak disukainya lagi, karena ia mendapati sesuatu kenajisannya padanya, maka haruslah ia menulis surat cerai kepadanya,
memberikannya kepada perempuan itu, dan menyuruhnya pergi dari
rumahnya" (Ulangan Deut 24:1).
Perzinaan rohani Israel yang terus-menerus merupakan alasan yang sah
untuk perceraian di bawah hukum Musa.
Janji Belas Kasihan
Namun, bahkan dalam penghakiman, Allah menjanjikan pemulihan di masa
depan. Melalui Hosea, Dia menyatakan:
"Aku akan menjadikan engkau istri-Ku untuk selama-lamanya; Aku akan
menjadikan engkau istri-Ku dalam kebenaran, keadilan, kasih setia dan
belas kasihan. Aku akan menjadikan engkau istri-Ku dalam kesetiaan, dan
engkau akan mengenal TUHAN" (Hosea 2:19-20).
Janji ini menunjuk pada hari di masa depan ketika sisa Israel akan
dipulihkan, tetapi dengan syarat-syarat baru—sebuah Perjanjian Baru.
Ringkasan
Yahweh, Sang Suami yang setia, memperingatkannya berulang kali:
"Tuntutlah ibumu, tuntutlah, sebab ia bukan istri-Ku, dan Aku bukan
suaminya" (Hosea 2:2). Perzinaan rohaninya menyebabkan perpisahan yang
tragis, meskipun sementara. Karena penyembahan berhalanya yang
terus-menerus dan penolakannya untuk bertobat, Tuhan mengeluarkan surat
cerai, secara khusus terhadap Kerajaan Utara (Israel/Efraim),
mengirimnya ke dalam pembuangan: "Aku melihat, bahwa oleh karena segala
perzinaan yang dilakukan Israel, yang murtad itu, Aku telah
menceraikannya dan memberikan kepadanya surat cerai; namun Yehuda,
saudaranya perempuan yang tidak setia itu, tidak takut, melainkan ia
juga pergi dan berbuat zinah" (Jeremia 3:8).
Israel, Istri Pertama, dengan demikian dipisahkan—bukan dibuang
sepenuhnya, karena janji-janji Allah tidak dapat gagal, tetapi
ditempatkan dalam masa pengembaraan dan disiplin, menanti pemulihan
masa depan yang dijanjikan oleh Suami yang penuh kasih yang sama (Hosea
3:4-5).
Bagian II: Mempelai Wanita
Kristus
Sebuah Perjanjian Baru,
Seorang Mempelai Wanita Baru
Dengan kedatangan Mesias Yesus, sebuah fase baru dalam rencana
penebusan Allah terbentang. Perjanjian Baru ditetapkan bukan dengan
darah lembu jantan dan kambing, melainkan dengan darah Kristus yang
berharga. Dan dengan perjanjian ini datanglah seorang mempelai wanita
baru—Gereja, yang terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi yang percaya
kepada Yesus.
Rasul Paulus secara ekstensif mengembangkan tema ini dalam
surat-suratnya, khususnya dalam Efesus dan 2 Korintus.
Gereja sebagai Perawan Suci
Paulus menggambarkan Gereja dengan istilah yang sangat berbeda dari
perzinahan Israel. Gereja ditampilkan sebagai mempelai wanita yang
perawan, murni dan berbakti kepada satu suami:
"Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah
mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai
perawan suci kepada Kristus" (2 Cor11:2).
Di mana Israel berzina, Gereja dipanggil untuk pengabdian yang
eksklusif. Di mana hati Israel terjerumus kepada berhala, kasih sayang
Gereja harus tetap tertuju kepada Kristus saja.
Misteri Agung
Dalam Efesus 5, Paulus menyingkapkan apa yang disebutnya "misteri
agung"—hubungan antara Kristus dan Gereja mencerminkan ikatan suci
pernikahan:
"Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala
jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat
tunduk kepada Kristus, demikian pulalah isteri kepada suami dalam
segala hal. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah
mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya" (Eph
5:23-25).
Kasih Kristus kepada mempelai-Nya membawa-Nya ke kayu salib. Ia
menyerahkan diri-Nya untuk menguduskan dan menyucikan Gereja,
mempersembahkan Gereja kepada-Nya sebagai mempelai wanita yang mulia:
"Ia menguduskannya dan menyucikannya dengan memandikannya dengan air
dan firman, sehingga Ia dapat menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya
dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi
supaya jemaat itu kudus dan tidak bercela" (Eph 5:26-27).
Satu Daging dengan Kristus
Paulus dengan berani menerapkan bahasa Kitab Kejadian pada persatuan
antara Kristus dan Gereja-Nya:
"Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu
dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Rahasia ini
besar, tetapi yang kumaksudkan ialah Kristus dan jemaat" (Eph
5:31-32).
Orang percaya bukan sekadar hamba atau sahabat, tetapi secara mistik
dipersatukan dengan Kristus seperti mempelai wanita dengan suaminya.
Kita adalah anggota tubuh-Nya, daging-Nya, dan tulang-Nya (Eph 5:30).
Kontras: Hukum versus Kasih Karunia
Perbedaan antara Israel di bawah Perjanjian Lama dan Gereja di bawah
Perjanjian Baru merupakan hal mendasar bagi teologi Paulus. Dalam Roma
7, Paulus menggunakan analogi pernikahan untuk menjelaskan hubungan
kita dengan hukum:
"Tidak tahukah kamu, saudara-saudara, --sebab aku berbicara kepada
mereka yang mengetahui hukum Taurat-- bahwa hukum Taurat berkuasa atas
seseorang selama ia hidup? Sebab seorang isteri yang bersuami terikat
oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Tetapi jika
suaminya telah mati, ia bebas dari hukum suaminya... Sebab itu,
saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh
Kristus, sehingga kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang
telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi
Allah" (Rom 7:1-2;4).
Israel telah menikah dengan hukum Taurat, terikat oleh tuntutannya, dan
dikutuk oleh kutukannya. Namun melalui kematian Kristus, orang percaya
telah mati bagi hukum Taurat dan kini menikah dengan Kristus, hidup di
bawah kasih karunia, bukan hukum Taurat, menghasilkan buah bagi Allah,
bukan maut.
Perjamuan Kawin yang Akan Datang
Pernikahan antara Kristus dan Gereja-Nya menanti penyempurnaannya. Visi
apokaliptik Yohanes dalam Kitab Wahyu menggambarkan pesta pernikahan
yang mulia itu:
"Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia!
Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah
siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus
yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah
kebenaran orang-orang kudus) (Wahyu Rev19:7-8).
Bagian III: Refleksi Teologis
Kesinambungan dan Diskontinuitas
Narasi ini mengungkapkan baik kesinambungan maupun diskontinuitas dalam
hubungan Allah dengan umat-Nya. Kesinambungan terletak pada karakter
Allah yang tidak berubah—kekudusan-Nya yang tidak menoleransi dosa,
keadilan-Nya yang harus menghukum pemberontakan, dan kasih-Nya yang
menghendaki rekonsiliasi. Ketidaksinambungan tersebut terletak pada
perubahan perjanjian—dari hukum Taurat menjadi kasih karunia, dari umat
berbangsa menjadi tubuh rohani, dari istri yang tidak setia menjadi
mempelai wanita yang disucikan.
Kedaulatan Allah
Perceraian Israel bukanlah kegagalan Allah, melainkan bagian dari
rencana kedaulatan-Nya. Paulus membahas hal ini dalam Roma 9-11,
menunjukkan bahwa kejatuhan Israel membuka pintu bagi keselamatan
orang-orang non-Yahudi, dan bahkan dalam penolakan mereka, Allah tidak
melupakan umat-Nya yang dahulu kala. Sisa-sisa tetap ada, dan seluruh
Israel pada akhirnya akan diselamatkan (Rom 11:26).
Panggilan untuk Setia
Bagi Gereja, narasi ini berfungsi sebagai penghiburan sekaligus
peringatan. Kita dikasihi dengan kasih yang kekal, dibeli dengan darah
yang berharga, ditakdirkan untuk kemuliaan. Namun kita juga dipanggil
untuk setia dan berjaga-jaga. Paulus memperingatkan jemaat Korintus:
"Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiranmu dirusak dari kesetiaanmu yang
sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa telah diperdaya oleh ular
dengan kelicikannya" (2 Cor 11:3). Gereja tidak boleh mengulangi
kesalahan Israel. Kita harus menjaga hati kita dari perzinahan
rohani—baik dalam bentuk doktrin palsu, kompromi duniawi, maupun kasih
sayang yang terbagi.
Indahnya Penebusan
Pada akhirnya, ini adalah kisah tentang kasih yang menebus. Allah tidak
meninggalkan tujuan-Nya ketika Israel gagal. Dia membangkitkan umat
baru, yang disucikan oleh darah Putra-Nya, didiami oleh Roh-Nya, dan
dijamin oleh janji-Nya. Mempelai Kristus berdiri sebagai kesaksian akan
kasih karunia yang menang atas dosa, kasih yang menaklukkan
penghakiman, dan kesetiaan ilahi yang melampaui kegagalan manusia.
Kesimpulan: Menantikan Sang
Mempelai Pria
Gereja kini hidup di antara pertunangan dan penyempurnaan. Kita telah
dipertunangkan dengan Kristus, dimeteraikan oleh Roh Kudus sebagai
jaminan warisan kita, menantikan hari ketika iman menjadi nyata dan
Sang Mempelai Pria kembali menjemput mempelai wanita-Nya. Seperti
gadis-gadis bijaksana dalam perumpamaan Kristus, kita menjaga pelita
kita tetap menyala, berjaga-jaga, dan siap sedia:
"Dan pada tengah malam terdengarlah suara orang berseru: 'Mempelai
datang! Keluarlah menyambutnya!'" (Mat25:6).
Semoga kita didapati setia, berhiaskan kebenaran, murni dalam
pengabdian, dengan penuh harap menantikan hari yang mulia itu ketika
kita akan bertemu muka dengan-Nya dan perjamuan kawin Anak Domba akan
dimulai dalam sukacita kekal.
"Datanglah, Tuhan Yesus!" (Wahyu Rev22:20).
Maranatha