• Home
  • education
  • articles
  • photos
  • profile

 

 

 

 

 

                                D
      
Disinilah tempatku saat ini, tempat yang nyaman, dan penuh cerita, SMAN SUMSEL (Sampoerna Academy). Walaupun belum genap satu semester di SMA ini, sudah banyak cerita yang dapat diceritakan, yang mungkin kalau di ceritakan seluruh isi didalamnya itu tak akan tertampung oleh tumpukan si putih A4. Orientasi, inilah awal cerita dimana kami mengenal yang namanya kehidupan berasrama, kekeluargaan yang semakin hangat terasa. Yang mana dulunya teman adalah teman, namun saat ini teman merupakan keluarga kedua.
            Orientasi, �5 hari penuh cerita�, begitulah aku menyebutnya. Push up, itulah makanan kami untuk mengawali hari dengan kak Alvaro yang berwajah sedikit dingin, berbadan cukup tegap dan dengan tatapan yang tajam. Satu kalimat yang selalu ia ucapkan untuk mencari kesalahan kami, �is it family?� saat ada salah satu dari kami terlambat keluar dari gedung asrama, dan kamipun menjawab serentak �no� (dengan nada sedikit ragu-ragu). Lalu ia  meminta kami untuk push up semuanya, terkecuali untuk anak yang terlambat. Sempat terlintas di fikiran, �sebenarnya siapa disini yang membuat kesalahan, kami? Atau mereka yang terlambat?, aneh�. Dan akupun berfikir kembali �kenapa aku tidak terlambat saja? Kalau terlambat kan aku tidak perlu push up� dan aku pun mencobanya. Namun sialnya, di depan gedung A, B, dan C, siswa yang lain telah menunggu dengan raut wajah yang sama seperti kami (lelah), nah.. sekarang kesialan itu datang, kami semua pun disuruh push up, sama dengan sebelumnya, hanya kami yang terlambat sajalah yang push up. Lagi-lagi kak Alvaro berkata �is it family?�, mereka yang lain pun menjawab dengan jawaban �no� (dengan nada ragu-ragu�. Namun sekarang bukan hanya mereka saja yang push up, kami pun disuruh mengulangi bersama mereka. Begitulah kami mengawali hari di bawah matahari yang masih    bersembunyi.
            Cerita orientasi tak berakhir hanya di pagi hari saja, masih banyak hal yang cukup gila kami lakukan, �sudden wake up� adalah salah satunya, 3 hari dengan sudden wake up adalah hari yang melelahkan. Karena kami di paksa untuk bangun ditengah malam dan dikumpulkan ditengah lapangan futsal, inilah maksud dari sudden wake upk. Kali ini bukan kak Alvaro yang menjadi biangnya, melainkan kak Okta yang memiliki tatapan tajam seperti ingin menelan seseorang dan dengan badan yang sedikit tinggi tegap, yang saat sudden wake up selalu mendatangi kama kami dan berteriak sambil mengarahkan sebuah senter kearah mata kami dan sambil berteriak �wake up.. wake up..  wake up dek..� kamipun dengan tergesa-gesa menuju ke kamar mandi dan mencuci muka yang kala itu masih terdapat aliran sungai di sekitar bibir (apakah itu?). Yang tak bisa dilupakan adalah hari dimana akhir dari hari orientasi, yaitu kami menuliskan mimpi, tujuan, dan harapan kami untuk masa depan, tak heran air matapun mengalir saat itu, karena semangat kami dalam belajar adalah untuk membuktikan kepada semua bahwa kami bisa meraih apa yang telah kami tulis dan kami masukkan kedalam sebuah botol kecil dan koper dimalam itu. Dilanjutkan dengan menuliskan ketakutan kami diatas sebuah papan kecil yang kami patahkan dan dilempar kedalam kobaran simerah yang membara sambil berteriak �I can because I believe I can�. Keesokan harinya adalah final, inauguration, inilah saat dimana kami resmi menjadi siswa-siswi calon pemimpin bangsa di SMAN SUMSEL (Sampoerna Academy), orangtua kami pun menyaksikan dan dipuncak acara, hujan dari kelopak matapun mengalir lagi, dam kami memeluk orangtua masing-masing sambil membawa bunga sebagai bukti akan rasa sayang dan terima kasih kami kepada mereka. Terima kasih orangtuaku yang telah merawatku sampai saat ini, dan aku akan berusaha menjadi apa yang kalian inginkan.
***
            Awal kisahku yang sesungguhnya diasrama baru akan dimulai, 3 bulan pertama adalah bulaan-bulan yang mengasingkan bukan mengasikkan, karena disinilah kami tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga, semua alat komunikasi di tutup untuk kami, sebagaimana peraturan yang telah dibuat dimana 3 bulan pertama semua alat komunikasi dilarang bagi kami. Tapi ini melatih kami menjadi siwa yang mandiri (sedikit), walaupun kerinduan terhadap keluarga kerap kali menghampiri, homesick. Kurang dari 2 bulan kami telah di izinkan untuk pulang kerumah untuk libur hari raya, walaupun hanya beberapa hari, namun itu cukup untuk melepas kerinduan sesaat. Dalam jangka waktu kurang dari 2 bulan ini saja sudah banyak cerita yang kudapat, kehilanganlah salah satunya, beberapa lembar pakaianku melayang entah kemana, hilang. Aku pun bertanya kepada kakak tingkatku yang lainnya akan hal ini, mereka hanya menjawab �itu sudah biasa disini, bahkan bisa dikatakan sudah menjadi tradisi� (dengan nada mengejek sambil tertawa). Hari demi haripun berlalu, aku mulai terbiasa dengn kehidupan berasrama, hal lain yang membuatku selalu teringat ollehku dan ku anggap ini adalah hal yang cukup lucu, yaitu  saat dimana kami berlarian dari gedung kami, gedung D ke gedung E hanya untuk mandi, ini tidak hanya sekali atau dua kali, namun sudah cukup sering terjadi, terkang saat air habis dipagi hari kami terpaksa melakukan hal seperti biasa. Lucunya lagi saat itu sudah banyak siswa yang datang ke kelas untuk meletakkan tas mereka yang terlihat berat karena buku didalamnya dan saat itu kami baru selesai mandi, tepatnya aku baru selesai mandi, terpaksa akupun menunggu mereka pergi untuk makan ke kantin, karena layaknya baru selesai mandi dan hanya berbalut selembar handuk akupun berlari kembali menuju gedung asrama kami, D.
            Pengalaman lucu yang lain adalah dimana setiap malam-malam tertentu saat jam menunjukkan pukul 08.00 WIB, yang artinya jam study night dimulai. Study night, inilah bedanya sekolahku ini dengan sekolah-sekolah lainnya, karena kami mempunyai program belajar yang namanya study night. (Kembali ke cerita) Bunyi bel beserta hitungan mundur dari 10-1 pun mulai terdengar, itu adalah Pak Adi, salah satu coordinator asrama kami yang telah menghitung mundur untuk siswa yang belum keluar dari dalam kamar dan kamipun berlari sekencangnya seiring hitungan dari Pak Adi hamper habis (seru loh). Tapi berbeda lagi dengan yang satu ini, yang satu ini kami menyebutnya air suci, hampir setiap pagi buta saat matahari mulai mengintip perlahan beriringan dengan panggilan sholat berkumandang, Pak adu mulai mendatangi kamar satu persatu dengan membawa semprotan untuk menyemprot wajah kami yang belum terbangun, itulah yang kami sebut air suci. �bangun.. bangun..� kata pak Adi �kalau tidak, saya semprot ini, ayo bangun..� kalau tidak terbangun juga, air sucilah yang akan menghujani wajah kami dan membangunkan. Akupun telah merasakan air suci itu sebanyak 4 kali (lumayan sering bukan?).
            Gedung asrama kami adalah gedung yang paling sulit untuk mendapat nilai 8, ini adalah nilai standar kebersihan dan kerapian gedung asrama. Kalau nilai kamar tidak mencukupi standar, kami terpaksa tidak boleh keluar sebagai hukumannya, namun itu hal biasa, itu hukuman yang sama untuk setiap gedung. Yang berbeda adalah, jika Pak Adi menemukan sampah, sepatu di rak sandal diluar, ataupun sepatu yang tidak dimasukkan kedalam lemari, maka hukumannya semua siswa gedung kami terpaksa menjalani hukuman dengan tidak boleh keluar saat hari minggu (hanya untuk gedung D saja). Peraturan itu berlangsung sampai hari ini.
            Dan sampai pada titik inilah aku mulai mendapat inspirasi untuk menuliskan cerita ini, kuketik tombol-tombol keyboard dari laptop yang kupinjam �ktak.. ktek.. ktak..� beradu dengan musik yang timbul oleh tangisan awan. Kata demi kata hingga sampailah aku pada kata yang kuketik saat ini.
           
                                                        TAMAT


 

 Google+

© Copyright 2013. zulkarnain art site