UNTUK lukis poster SBY ini, saya setengah promosi. Kebetulan saya ngefans dengan
Bapak SBY. Tapi, bukan berarti, sanggar Bambang SBY Art and Production ini
sanggarnya Partai Demokrat atau SBY. Kebetulan saja, nama saya ada samanya.
|
|
|
Contoh lukisan poster karya Bambang Suroboyo. Ia juga pernah
menggarap lukisan pasangan Capres-Cawapres
dari Partai Demokrat, SBY-JK, di Sanggar SBY Art dan Production, Jl
Riau Palembang, Sabtu (5/6). Bambang mengaku sebagai pendukung berat
SBY. Namun sebelumnya ia mengaku sebagai penggemar berat Megawati
Soekarnoputri dan pernah membuat lukisan Mega berukuran besar ketika
berada di Jakarta. (Sripo/sts)
|
BELUM banyak lukisan poster
berukuran besar, dari sosok Capres-Cawapres, yang bisa dilihat di sudut
Kota Palembang. Namun tidak berarti, pelukis kehilangan kesempatan untuk
meraup rupiah.
Sosok pelukis Bambang Suroboyo (Bambang), mungkin merupakan salah satu
pelukis kanvas, yang kemudian mencoba beralih menjadi pelukis poster di
atas tripleks, demi mendapatkan kesempatan tersebut.
Dengan bermodal nekad, ia pun mencoba menawarkan diri untuk melukis poster
dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada saat kampanye Pemilu Legislatif
melalui Partai Demokrat. Ternyata karya lukis posternya mendapat
perhatian, lalu mendapatkan kesempatan kembali untuk melukis poster wajah
SBY.
Kali ini, bukan sosok SBY bersama Caleg Partai Demokrat Sumsel atau
Palembang lagi, tapi ia dipercaya untuk membuat poster wajah SBY bersama
Jusuf Kalla yang merupakan pasangan calon wakil presiden dari SBY. Ukuran
yang diminta pun bertambah, dari yang sebelumnya hanya seukuran selembar
papan tripleks, kali ini dibutuhkan dua papan tripleks. Bak sebuah foto
aslinya, mulai dari kerutan sampai tanda lahir seperti tahi lalat di atas
alis mata kanannya pun dapat dilihat di berbagai kegiatan Partai Demokrat
ataupun kegiatan untuk kampanye Pilpres.
Kepada Sripo, koordinator sanggar lukis yang dinamakannya, SBY Art dan
Production, Bambang mengakui, walaupun bentuknya lukisan sekadar poster
tak begitu rumit dibanding melukis secara langsung, tapi ia berusaha untuk
membuat lukisan poster yang terbaik mengunakan trik usapan kuas dan
meracik berbagai bahan cat untuk mendekati kemiripan warna asli pasangan
SBY-JK.
Ditanya berapa biaya untuk satu lukisan poster berukuran dua papan
tripleks, Bambang, menjelaskan relatif dan tidak sama dengan lukis poster
pesanan lain.
“Untuk lukis poster SBY ini, saya setengah promosi. Karena apa. Kebetulan,
saya pun ngefans dengan Bapak SBY. Tapi, bukan berarti, sanggar Bambang
SBY Art and Production ini merupakan sanggar Partai Demokrat atau SBY.
Tapi, kebetulan saja, nama saya ada samanya,” ungkap Bambang, mengaku
mengerjakan lima pesanan poster pasangan Capres SBY-JK, hanya dalam waktu
kurang lebih satu minggu. Itu pun dikerjakan dia sendiri, untuk bagian
yang sulit. Dalam berkarya Bambang dibantu anak binaannya yang biasa
berkongkow di JL Riau No.4 Bukit Besar.
Laker
Dalam berkarya, Bambang terus melakukan inovasi. Proses berkreasinya tak
pernah berhenti. Kini ia sedang mengembangkan lukisan dengan menggunakan
bahan laker.
Hasilnya, lukisan yang nampak berkilau-kilau. Jika dalam lukis modern
warnanya menyerupai warna minuman air teh yang kental. Tak heran dari
beberapa karya lukisannya, warna yang ditimbulkan sedikit menonjol bak
penerangan di malam hari.
Mungkin gaya lukis laker ini belum banyak dikenal oleh masyarakat seniman.
Namun, bagi Bambang, laker sudah lama diakrabinya. Karena, gaya lukis
laker merupakan gaya melukis menggunakan pernis untuk mengawetkan gambar
menggunakan lak. Lak sendiri merupakan getah pohon kemalau, salah satu
bahan dasar pernis.
“Untuk lukisan di atas kanvas bergaya neo klasik, saya berkeinginan
mengembangkan bahan tradisional berbahan modern,” ungkap Bambang mengaku
mengilhami gaya lukis laker karena ingin mempunyai gaya lukis yang berbeda
dengan pelukis lain. Sebagai pelukis, ia ingin punya identitas sendiri
bagi karya seninya.
Bambang mengaku dirinya mulai tertarik setelah sempat belajar melakukan
konservasi lukisan. Berbagai lukisan aset negara--kebanyakan peninggalan
Presiden Soekarno--diakuinya, sudah banyak yang tersentuh oleh ayunan kuas
dan berubah seperti bentuk lukisan asli.
Pelukis jaman dahulu, jelasnya. belum banyak mengetahui cara mengawetkan
karya lukisannya.
”Dari sana, saya belajar bagaimana mengkonservasi lukisan yang mulai rusak
dan menjadikan ke bentuk dan warna asli. Setelah mengetahui berbagai bahan
campuran untuk mengawetkan lukisan, saya mencoba untuk membuat campuran
bahan pengawet seperti pernis dari pohon kemalau,” jelas Bambang. (ono)