Partner of Primastoria Studio

Taman Alamanda Blok BB2/55-59,  Bekasi 17568, Indonesia. Tel: (021) 33035356.  Email.: [email protected] 

   

Melukis Poster Capres

UNTUK lukis poster SBY ini, saya setengah promosi. Kebetulan saya ngefans dengan Bapak SBY. Tapi, bukan berarti, sanggar Bambang SBY Art and Production ini sanggarnya Partai Demokrat atau SBY. Kebetulan saja, nama saya ada samanya.

Contoh lukisan poster karya Bambang Suroboyo. Ia  juga pernah menggarap lukisan pasangan Capres-Cawapres dari Partai Demokrat, SBY-JK, di Sanggar SBY Art dan Production, Jl Riau Palembang, Sabtu (5/6). Bambang mengaku sebagai pendukung berat SBY. Namun sebelumnya ia mengaku sebagai penggemar berat Megawati Soekarnoputri dan pernah membuat lukisan Mega berukuran besar ketika berada di Jakarta. (Sripo/sts)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BELUM banyak lukisan poster berukuran besar, dari sosok Capres-Cawapres, yang bisa dilihat di sudut Kota Palembang. Namun tidak berarti, pelukis kehilangan kesempatan untuk meraup rupiah. 
Sosok pelukis Bambang Suroboyo (Bambang), mungkin merupakan salah satu pelukis kanvas, yang kemudian mencoba beralih menjadi pelukis poster di atas tripleks, demi mendapatkan kesempatan tersebut. 
Dengan bermodal nekad, ia pun mencoba menawarkan diri untuk melukis poster dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada saat kampanye Pemilu Legislatif melalui Partai Demokrat. Ternyata karya lukis posternya mendapat perhatian, lalu mendapatkan kesempatan kembali untuk melukis poster wajah SBY. 
Kali ini, bukan sosok SBY bersama Caleg Partai Demokrat Sumsel atau Palembang lagi, tapi ia dipercaya untuk membuat poster wajah SBY bersama Jusuf Kalla yang merupakan pasangan calon wakil presiden dari SBY. Ukuran yang diminta pun bertambah, dari yang sebelumnya hanya seukuran selembar papan tripleks, kali ini dibutuhkan dua papan tripleks. Bak sebuah foto aslinya, mulai dari kerutan sampai tanda lahir seperti tahi lalat di atas alis mata kanannya pun dapat dilihat di berbagai kegiatan Partai Demokrat ataupun kegiatan untuk kampanye Pilpres. 
Kepada Sripo, koordinator sanggar lukis yang dinamakannya, SBY Art dan Production, Bambang mengakui, walaupun bentuknya lukisan sekadar poster tak begitu rumit dibanding melukis secara langsung, tapi ia berusaha untuk membuat lukisan poster yang terbaik mengunakan trik usapan kuas dan meracik berbagai bahan cat untuk mendekati kemiripan warna asli pasangan SBY-JK. 
Ditanya berapa biaya untuk satu lukisan poster berukuran dua papan tripleks, Bambang, menjelaskan relatif dan tidak sama dengan lukis poster pesanan lain. 
“Untuk lukis poster SBY ini, saya setengah promosi. Karena apa. Kebetulan, saya pun ngefans dengan Bapak SBY. Tapi, bukan berarti, sanggar Bambang SBY Art and Production ini merupakan sanggar Partai Demokrat atau SBY. Tapi, kebetulan saja, nama saya ada samanya,” ungkap Bambang, mengaku mengerjakan lima pesanan poster pasangan Capres SBY-JK, hanya dalam waktu kurang lebih satu minggu. Itu pun dikerjakan dia sendiri, untuk bagian yang sulit. Dalam berkarya Bambang dibantu anak binaannya yang biasa berkongkow di JL Riau No.4 Bukit Besar. 
 

Laker
Dalam berkarya, Bambang terus melakukan inovasi. Proses berkreasinya tak pernah berhenti. Kini ia sedang mengembangkan lukisan dengan menggunakan bahan laker.
Hasilnya, lukisan yang nampak berkilau-kilau. Jika dalam lukis modern warnanya menyerupai warna minuman air teh yang kental. Tak heran dari beberapa karya lukisannya, warna yang ditimbulkan sedikit menonjol bak penerangan di malam hari. 
Mungkin gaya lukis laker ini belum banyak dikenal oleh masyarakat seniman. Namun, bagi Bambang, laker sudah lama diakrabinya. Karena, gaya lukis laker merupakan gaya melukis menggunakan pernis untuk mengawetkan gambar menggunakan lak. Lak sendiri merupakan getah pohon kemalau, salah satu bahan dasar pernis.
“Untuk lukisan di atas kanvas bergaya neo klasik, saya berkeinginan mengembangkan bahan tradisional berbahan modern,” ungkap Bambang mengaku mengilhami gaya lukis laker karena ingin mempunyai gaya lukis yang berbeda dengan pelukis lain. Sebagai pelukis, ia ingin punya identitas sendiri bagi karya seninya. 
Bambang mengaku dirinya mulai tertarik setelah sempat belajar melakukan konservasi lukisan. Berbagai lukisan aset negara--kebanyakan peninggalan Presiden Soekarno--diakuinya, sudah banyak yang tersentuh oleh ayunan kuas dan berubah seperti bentuk lukisan asli.
Pelukis jaman dahulu, jelasnya. belum banyak mengetahui cara mengawetkan karya lukisannya.
”Dari sana, saya belajar bagaimana mengkonservasi lukisan yang mulai rusak dan menjadikan ke bentuk dan warna asli. Setelah mengetahui berbagai bahan campuran untuk mengawetkan lukisan, saya mencoba untuk membuat campuran bahan pengawet seperti pernis dari pohon kemalau,” jelas Bambang. (ono)

   

Sumber: Sriwijaya Post, 7 Juni 2004.

   

HOME

Hosted by www.Geocities.ws

1