Yang terhormat MANAJEMEN BLUE BIRD GROUP VOUCHER TAXI BLUE BIRD TIDAK LAKU Bangga Dengan Blue Bird Saya warga Jakarta untuk mobilitas saya selalu fanatik menggunakan Taxi Blue Bird, karena armadanya banyak dan mobilnya terawat. Blue Bird perusahaan jasa transportasi salah satunya yang terbesar di Indonesia dengan manajemen yang baik sekali dengan menggalang kerjasama antar mitra bisnis maupun pelayanan terhadap custommer individu perorangan markertingnyapun jago, sehingga perusahaan itu menjadi besar dan besar terus besar, dan jaringannya dengan mitra bisnis termasuk ADIRA yang bermaksud memberikan pelayanan yang terbaik untuk nasabahnya. Tapi setelah besar lupa hanya bisa mencari custommer tapi tidak dapat memeliharanya dan mengelolanya. Kronologgis Memiliki Voucher Banjir Pebruari 2007 banyak meminta korban jiwa maupun harta, termasuk yang komplain menjadi korban sehingga mobil harus di derek untuk di bawa ke bengkel, untung menggunakan jasa Asuransi ADIRA menjembut menderek untuk diperbaiki, tapi sampai sekarang sudah sebulan lebih belum jadi. Menurut ADIRA dengan suratnya yang PERTAMA tertanggal 20 Pebruari 2007 yang bermaksud memberikan tambahan layanan khusus kepada custommer-nya berupa pemberian VOUCHER TAXI BLUE BIRD senilai Rp. 250.000, ini sangat membantu bisa digunakan sekaligus dari Bogor ke Jakarta. Surat yang KEDUA tertanggal 8 Maret 2007 dengan maksud sama dengan surat yang PERTAMA memberikan tambahan layanan khusus VOUCHER TAXI BLUE BIRD senilai Rp.500.000,-, dalam hati wah baik juga ini ADIRA yah gumamnya. Voucher Taxi Blue Bird Tidak Laku Yang pertama sudah habis dipergunakan sekali gus, nah ini yang kedua banyak masalah. Voucher Taxi Blue Bird diterima tanggal 8 Maret 2007, tanggal 10 Maret 2007 hari Sabtu kurang lebih jam 17.00 naik dari samping Hotel Indonesia (Jl. Teluk Betung menuju Sunter), argo menunjukan Rp.45.000, sopir tadinya ngga mau harus ini harus itu akhirnya saya jelaskan panjang lebar mau, saya lega. Tanggal 12 Maret 2007 hari Senin, saya naik dari Sunter Mall balik dulu ke rumah untuk ambil komputer terus jalan menuju ke Jl. Alydrus setelah sampai argo menunjukan Rp.45.000 saya sodorkan dua lembar Voucher Taxi Blue Bird, sopir begitu juga ngga mau harus ini harus itu setelah saya jelaskan panjang lebar akhirnya mau. Yang ketiga tanggal 12 Maret 2007 hari Senin ini fatal, padahal waktu naik sudah saya tanyakan karena pengalaman yang sudah-sudah voucher mau dijawab mau saya naik menuju Jl. Anggrek Nely Murni argo menunjukan Rp.26.350, saya bayar dengan voucher yang nominal Rp.30.000 yang sudah sya bubuhi nama dan tanda tangan, nah minta nama PT alamat PT lah, saya ngga punya PT dan tidak bekerja di PT ini voucher perorangan saya jelaskan panjang lebar ngga mau ngotot oleh karena sudah bikin totonan orang dan macet saya bayar kontan, untung masih ada duit, kalau mencari dulu ATM jauh kan bikin susah orang. Nomor Pintu PT 371, nama pengemudi yang tertera di dashboard Romadhon. Terus saya komplain ke Blue Bird Group jam pertama 10.00 kedua jam 11.00 dan ketiga jam 15.00, dengan merdu di seberang sana seorang custommer service menjawab bisa dibantu dan saya tanya namanya Dedes padahal komplain 1, 2 sudah saya jelaskan koq masih tanya lagi dari awal sudah saya sebut nama no. telepon, sampai tempat tinggal, rupanya juga tidak sinkron dan tidak ada jawaban yang memuaskan cuma ya ya saja. Yang dari HI dan yang dari Sunter Mall sih ngga apa barangkali belum tahu, tapi ini sudah keterlaluan jadi saya komplain karena bikin malu di depan umum dan jalan umum yah apa boleh buat. Oleh karena dengan peristiwa tersebut saya dipermalukan di depan umum maka saya putuskan : TIDAK AKAN MENGGUNAKAN VOUCHER TAXI BLUE BIRD dan TIDAK AKAN NAIK TAKSI BLUE BIRD walaupun tadinya fanatik akhirnya naik yang lain banyak, sebetulnya sih sudah sering dikecewakan tapi kalau masih wajar ngga apa-apa karena menyangkut perut orang, walaupun voucher masih Rp.400.000 hal tersebut sudah saya laporkan ke ADIRA,padahal mobilitas saya cukup tinggi bisa Rp.200.000 sehari. Ini kasusnya individu/perorangan sih ngga apa biasa namanya custommer di Indonesia walaupun katanya raja omong kosong ngga ada yang membela, tapi efeknya ke mitra bisnis Blue Bird seperti ADIRA saya untuk memperpanjang polis rada mikir-mikir merasa dikibulin semuanya ini sudah saya laporkan. Padahal nasabah ADIRA banyak depan rumah saya masih utuh voucher Rp.750.000,-bagaimana jika voucher tersebut misalnya saya kasihkan untuk menolong orang kan saya malu kalau setiap sopir taksi demikian, apalagi koq boleh nemu atau di kasih. Apakah demikian kinerja Blue Bird? Jadi saya pertanyakan kinerja manajemen di Blue Bird apakah demikian dengan web site yang megah dengan penampilan para custommer service yang cantik-cantik di pajang di dasboard depan, bagaimana denga manajemen level atas?, manajemen level menengah?, apalagi level bawah yang operasional? Seolah-olah sosialisasi tidak ada dan kontrol/kendali bagaimana? Buktinya antara custommer service yang satu dengan yang lainnya ngga bisa sinkron padahal hanya durasi jam saja seharusnya kan sudah masuk di agenda, ini menyangkut pelayanan seuai dengan MISI dan VISI BLUE BIRD GROUP yang begitu indah, tapi dinodai oleh segelintir orang, yang akhirnya membuat custommer antipati dan berang merasa dipermalukan dan dibohongi. Tapi yah itulah di Indonesia tercinta, apa mau dikata ada pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu pasti mengganggapnya demikian kan banyak penumpang yang lain. Jika penumpang individu/perorangan ngga apa-apa sah-sah saja mau diterlantarkan di jalan ke mau sasarin ke, tapi ingat mitra bisnis anda banyak. Dan ini sudah saatnya persaingan bebas jika. BANGGA DENGAN MENDAPAT VOUHER BLUE BIRD Wah lumayan juga Rp.500.000 ya bisa di pakai dua atau tiga hari naik taksi keren gratis lagi. Tapi dengan peristiwa tanggal 12 Maret 2007 hari Senin sirna sudah itu voucher mau diapain, yah paling dibuang karena voucher bohong kali jadi ngga laku sama sopirnya, kalau ada orang Blue Bird mau ambil silahkan saya kasihkan!! SOSIALISASIKAN YANG TEPAT Hal ini terjadi mungkin karena kurangnya sosialisasi, tentang produk-produk layanan yang unggulan, karena tidak semua perusahaan taksi mengeluarkan voucher, kalau tidak punya mitra bisnis yang banyak ngga akan bisa, nyari duit susah lho,nyari custommer, nyari mitra bisnis juga sulit sekali kepercayaan ternodai itulah saatnya bisnis apapun akan ambruk kalau hanya membual sana-sini, konsumen adalah raja, itu hanya impian konsumen di siang hari bolong, yang nyatanya konsumen sebagai sapi perahan. Itulah sistem transportasi di negeri yang kita Indonesia tercinta. KESIMPULAN VOUCHER MEMBUAT ORANG TIDAK NYAMAN Jadi ini saya simpulkan, menggunakan voucher tidak nyaman terganggu privasinya, dianggap ngga punya duit ingin naik taksi gratis, karena anggapan boleh nemu, atau pengasih orang. Hentikan produk layanan tersebut memancing orang untuk ribut, antara penumpang dan sopir yang akhirnya VISI MISI LUHUR BLUE BIRD KANDAS. Coba voucher Alfa, Carefoor, dan lain-lain ngga ada masalah, lancar. Kalau masih mau diteruskan yah di sosialisasikan dengan mantap tepat dan mengena TEMPEL PENGUMUMAN di tempat yang mudah dibaca. Sekian dan terima kasih atas pelayanannya dan ini merupakan pelajaran yang berharga. Hormat saya, Tumar, Ir., M.Kom