| LIRIK IWAN FALS | ||||||||
| 1910 Apakabar kereta yang terkapar di senin pagi Di gerbongmu ratusan orang yang mati Hancurkan mimpi bawa kisah Air mata . . . . . . . . . . . air mata . . . . . . . . . . . . . . Belum usai peluit belum habis putaran roda Aku dengar jerit dari Bintaro Satu lagi catatan sejarah Air mata . . . . . . . . . . . air mata . . . . . . . . . . . . . . Berdarahkan tuan yang duduk di belakang meja Atau cukup hanya ucapkan belasungkawa aku bosan Lalu terangkat semua beban dipundak Semudah itukah luka-luka terobati . . . . . . . . . Nusantara . . . . . . . . . . . . . . tangismu terdengar lagi Nusantara . . . . . . . . . . . . . . derita bila terhenti Bilakah . . . . . . . . . . . . . bilakah . . . . . . . . . . . . . Sembilan belas oktober tanah Jakarta berwarna merah Meninggalkan tanya yang tak terjawab Bangkai kereta lemparkan amarah Air mata . . . . . . . . . . . air mata . . . . . . . . . . . . . . O o o o o o o o o . . . . . . . . . . Nusantara langitmu saksi kelabu Nusantara terdengar lagi tangismu Ho . . . . ho . . . . . ho . . . . Nusantara kau simpan kisah kereta Nusantara kabarkan marah sang duka Saudaraku pergilah dengan tenang Sebab luka sudah tak lagi panjang Ada LAgi Yang Mati Aku lihat orang yang mati Diantara tumpukkan sampah Lehernya berdarah membeku Bekas pisau lawannya tadi malam Depan pasar dekat terminal Pagi itu orang berkerumun Melihat mayat yang membusuk Tutup hidung sesekali meludah Aku lihat orang menangis Disela gaduhnya suasana Segera aku menghampiri Dengan bimbang ku bertanya padanya Rupanya yang mati sang teman Teman hitam hidup sepaham Hanya kisah yang dilewati Ia berdua ikat tali saudara Sementara surya mulai tinggi Panas terasa bakar kepala Sisa darah orang yang mati Disimpannya didalam hati Lalu dia seperti batu Sampai malam sampai semuanya pergi Depan pasar dekat terminal Ada lagi orang yang mati Lehernya berdarah membeku Bekas pisau lawannya tadi malam Sementara surya mulai tinggi Panas terasa bakar kepala Dendam ada dimana-mana Dijantungku dijantungmu Dijantung hari-hari ... Dendam ada dimana-mana ... Aku Bosan Papiku belum pulang Mamiku belum pulang Kakakku belum pulang Katanya cari uang Hanya ada pembantu Mengurusi hidupku Hanya ada televisi Menemani hariku Aku bosan . . . aku bosan . . . aku bosan . . . Bosan . . . bosan . . . bosan . . . bosan . . . Aku bosan . . . aku bosan . . . aku bosan . . . Bosan . . . bosan . . . bosan . . . bosan . . . Ketika papi pulang Mukanya sangat tegang Ketika mami pulang Menyapa hallo sayang Ketika kakak pulang Jalanya sudah goyang Katanya cari uang . . . . . . . Katanya cari uang . . . . . . . Aku bosan . . . aku bosan . . . aku bosan . . . Bosan . . . bosan . . . bosan . . . bosan . . . Aku bosan . . . aku bosan . . . aku bosan . . . Bosan . . . bosan . . . bosan . . . bosan . . . Aku Disini Mengantuk perempuan setengah baya Di bak terbuka mobil sayuran Jam tiga pagi itu Tangannya terangkat saat sorot lampu Mobilku menyilaukan matanya Aku ingat ibuku . . . . . . . Aku ingat istri dan anak perempuanku Separo jalan menuju rumah Sa'at lampu menyala merah Di depan terminal bis kota Yang masih sepi Aku melihat seorang pelacur Tertidur mungkin letih atau mabuk Aku ingat ibuku . . . . . . . . Aku ingat istri dan anak perempuanku Di bawah temaram sinar merkuri Bocah telanjang dada bermain bola Oh . . . . . . . . . . pagi yang gelap Kau sudutkan aku Suara kaset dalam mobil aku matikan Jendela kubuka Angin pagi dan nyanyian sekelompok Anak muda mengusik ingatanku Aku ingat mimpiku Aku ingat harapan yang semakin hari Semakin panjang tak berujung Perempuan setengah baya Pelacur yang tertidur Bocah-bocah bermain bola Anak muda yang bernyanyi Sebentar lagi ayam jantan kabarkan pagi Hari-harimu menagih janji Aku disini . . . . . . ya . . . aku disini Ingat ibu istri dan anak- anaku Balada Orang-orang Pedalaman He . . . . . ya y a ya he ya ho . . . . . . He . . . . . ya y a ya ho ya he . . . . . . Balada orang-orang pedalaman He . . . . . ya y a ya he ya ho . . . . . . He . . . . . ya y a ya ho ya he . . . . . . Di hutan di gunung dan di pesisir He . . . . . ya y a ya he ya ho . . . . . . Manusia yang datang dari kota Tega bodohi mereka Lihat tatapannya yang kosong Tak mengerti apa yang terjadi He . . . . . ya y a ya he ya ho . . . . . . Tak tajam lagi tombak panah dan parang He . . . . . ya y a ya he ya ho . . . . . . He . . . . . ya y a ya ho ya he . . . . . . Tak ampuh lagi mata dari sang pawang Dimana lagi cari hewan buruan Yang pergi karena senapan Dimana mencari ranting pohon Kalau sang pohon tak ada lagi . . . . . . Pada siapa mereka tanyakan hewannya Ya . . . . . pada siapa tanyakan pohonnya Saudaraku di pedalaman menanti Sebuah jawaban yang tersimpan dihati Lewatmu . . . . . . . . . pembeli Pada orang-orang pedalaman Yang menari dan menyanyi Dihalau bising ribuan deru gergaji Belum Ada Judul Pernah kita sama-sama susah Terperangkap di dingin malam Terjerumus dalam lubang jalanan Di gilas kaki sang waktu yang sombong Terjerat mimpi yang indah . . . . . lelap Pernah kita sama-sama rasakan Panasnya mentari hanguskan hati Sampai sa'at kita nyaris tak percaya Bahwa roda nasib memang berputar Sahabat masih ingatkah . . . . . . . kau Sementara hari terus berganti Engkau pergi dengan dendam membara . . . Di hati . . . . . . Cukup lama aku jalan sendiri Tanpa teman yang sanggup mengerti Hingga sa'at kita jumpa hari ini Tajamnya matamu tikam jiwaku Kau tampar bangkitkan aku sobat Besar DAn Kecil Kau seperti bis kota atau truk gandengan Mentang-mentang paling besar klakson sembarangan Aku seperti bemo atau sendal jepit Tubuhku kecil mungil biasa terjepit Pada siapa ku mengadu? Pada siapa kubertanya? Kau seperti buaya atau dinosaurus Mentang-mentang menakutkan makan sembarangan Aku seperti cicak atau kadal buntung Tubuhku kecil merenghil sulit dapat untung Pada siapa ku mengadu? Pada siapa ku bertanya? Mengapa besar selalu menang? Bebas berbuat sewenang-wenang Mengapa kecil s'lalu tersingkir? Harus mengalah dan menyingkir Apa bedanya besar dan kecil? Semua itu hanya sebutan Ya ... walau didalam kehidupan Kenyataannya harus ada besar dan kecil Bidadari Senja Kala Wajah langit senja hari Ada kelelawar melayang Laut yang bergolak didepanku ... yaa ... haa Wajah itu datang lagi Mendatangiku memanggilku Wajah yang berduka Aku memelukmu mencium keningmu Tatap matamu membara Membakar hidupku Suaramu bergairah Menenangkanku Membara ... membara Pandanganku membara Tubuhmu yang hangat Menghangatkan tubuhku Lagu ini untukmu Mimpi ini untukmu Duka datang dan pergi Datangnya silih berganti Oh ... oh ... oh ... Sering aku tak mampu bicara Terdiam s'perti patung bernyawa Sering aku tak mampu menjawab Aku tak tahu harus bagaimana Bidadari senja kala Menari untukku ... untukku Masih ada cahaya di wajahmu ... di wajahmu Nyanyian di senja hari membuatku rindu Jangan berhenti memandang jangan berpaling Jangan berhenti mencintai jangan berhenti Aku tahu apa artinya senyum di bibirmu Mereka Ada di Jalan Pukul tiga sore hari di jalan yang belum jadi Aku melihat anak-anak kecil telanjang dada telanjang kaki asyik mengejar bola Kuhampiri kudekati lalu duduk ditanah yang lebih tinggi Agar lebih jelas lihat dan rasakan Semangat mereka keringat mereka Dalam memenangkan permainan Ramang kecil Kadir kecil Menggiring bola dijalanan Ruly kecil Riky kecil Lika-liku jebolkan gawang Tiang gawang puing-puing Sisa bangunan yang tergusur Tanah lapang hanya tinggal cerita Yang nampak mata hanya para pembual saja Anak kota tak mampu beli sepatu Anak kota tak punya tanah lapang Sepak bola menjadi barang yang mahal Milik mereka yang punya uang saja Dan sementara kita disini Di jalan ini Bola kaki dari plastik Ditendang mampir ke langit Pecahlah sudah kaca jendela hati Sebab terkena bola tentu bukan salah mereka Rony kecil Hery kecil Gaya samba sodorkan bola Nobon kecil Juki kecil Jegal lawan amankan gawang Cipto kecil Iswadi kecil Tak tik tik tak terinjak paku Yudo kecil Paslah kecil Terkam bola jatuh menangis Mimpi Yang Terbeli Berjalan disitu dipusat pertokoan Melihat barang-barang yang jenisnya beraneka ragam Cari apa di sana pasti tersedia Asal uang dikantong cukup tentu tak ada soal Aku ingin membeli kamu ingin membeli Kita ingin membeli semua orang ingin membeli Apa yang dibeli mimpi yang terbeli Sebab harga barang tinggi tiada pilihan selain mencuri Sampai kapan mimpi-mimpi itu kita beli Sampai nanti sampai habis terjual harga diri Sampai kapan harga-harga itu melambung tinggi Sampai nanti sampai kita tak bisa bermimpi Segala produksi ada disini Menggoda kita untuk memilikki Hari-hari kita berisi hasutan Hingga kita tak tahu diri sendiri Melihat anak kecil mencuri mainan Yang harganya tak terjangkau oleh bapaknya yang maling Nak Nak dengarlah bicara bapakmu Yang kenyang akan hidup terang dan redup Letakkan dahulu mainan itu Duduk dekat bapak sabar mendengar Kau anak harapanku yang lahir di jaman gersang Segala sesuatu hanya ada karena uang Ya ... ya ... ya ... ya ... Kau anak dambaanku yang besar di kancah perang Kau harus kuat yakin pasti menang Sekolah biasa saja jangan pintar-pintar percuma Latihlah bibirmu agar pandai berkicau Sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel Pedulu titel didapat atau titel mu'jizat Ya ... ya ... ya ... ya ... Sekolah buatmu hanya perlu untuk gengsi Agar mudah bergaul tentu banyak relasi Jadi penjilat yang paling tepat Karirmu cepat uang tentu dapat Jadilah Dorna jangan jadi Bima Sebab seorang Dorna punya lidah sejuta O . . . . o . . . . o . . . . . o . . . . Hidup sudah susah jangan dibikin susah Cari saja senang walau banyak hutang Munafik sedikit jangan terlalu jujur Sebab orang jujur hanya ada di komik Pilihlah jalan yang mulus tak banyak batu Sebab batu-batu bikin jalanmu terhambat Ya ... ya ... ya ... ya ... Pilihlah jalan yang bagus tak ada paku Sebab paku itu sakit apalagi yang berkarat Jadilah kancil jangan buaya Sebab seekor kancil sadar akan bahaya Jadilah bandit berkedok jagoan Agar semua sangka engkau seorang pahlawan Jadilah bunglon jangan sapi Sebab seekor bunglon pandai baca situasi Jadilah karet jangan besi Sebab yang namanya karet tahan kondisi Anakku aku nyanyikan lagu Waktu ayah tak tahan lagi menahan murka Panggilan DAri GUnung Panggilan dari gunung Turun ke lembah-lembah Kenapa nadamu murung Langkah kaki gelisah Matamu separuh katup Lihat kolam seperti danau Kau bawa persoalan Cerita duka melulu Disini menunggu Cerita yang lain Berapa lama diam Cermin katakan bangkit Pohon-pohon terkurung Kura-kura terbius Ancur namamu slalu kubisikan, dalam tidurku dalam mimpiku, setiap malam, hangat tubuhmu melekat dikulitku, beribu peluk beribu cium kita lalui Reff: tapi kau kabur Dengan duda anak 3 pilihan ibumu hatiku hancur berserakan, berhamburan kayak jeroannya binatang *ya....... sudah kumenangis seadanya sekuat tenaga ya... suda...hla....h **kau memang setan alas nggak punya perasaan ***Ancu....r doaku diakad nikahmu smoga siduda diracun orang biar cepet mampus (Reff.....) (*.....**....***...) niar siduda diracun orang biar terus mampus Aku Bukan Pilihan G C Kini Ku mengungkap tanya, siapakah dirinya Em D Am Yang mengaku kekasihmu itu C D C D Aku tak bisa memahami G Ketika malam tiba C Ku rela kau berada Em D Am Dengan siapa kau melewatinya C D C D Aku tak bisa memahami Reff G C Aku lelaki tak mungkin menerima bila B7 Em Am D Ternyata kau mendua, membuatku terluka G C Tinggalkan saja diriku, yang tak mungkin menunggu B7 Em Am D Jangan pernah memilih, aku bukan pilihan G C Selalu terungkap tanya, benarkan kini ada Em D Wanita yang kukenal hatinya C D C D Aku tak bisa memahami C B7 Tak perlu memilihku Am D7 Aku lelaki, bukan tuk dipilih |
||||||||
| Buku Ini Aku Pinjam Dikantin depan kelasku disana kenal dirimu Yang kini tersimpan dihati jalani kisah sembunyi Di halte itu kutunggu senyum manismu kekasih Usai dentang bel sekolah kita nikmati yang ada Seperti hari yang lain Kau senyum tersipu malu Ketika ku sapa engkau Genggamlah jari ... Genggamlah hati ...ini Memang usia kita muda namun cinta soal hati Biar mereka bicara telinga kita terkunci Dia tahu ... dia rasa ... Maka tersenyumlah kasih ... Tetap langkah ... Jangan hentikan ... Cinta ini milik kita Buku ini aku pinjam kan kutulis sajak indah Hanya untukmu seorang Tentang mimpi-mimpi malam <strong>Coretan Dinding</strong> Coretan di dinding membuat resah Resah hati pencoret mungkin ingin tampil Tepi lebih resah pembaca coretannya Sebab coretan di dinding adalah pemberontakan Kucing hitam yang terpojok di tiap tempat sampah Ditiap kota Cakarnya siap dengan kuku-kuku tajam Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya Musuhnya adalah penindas Yang menganggap remeh coretan dinding kota Coretan dinding terpojok di tempat sampah Kucing hitam dan penindas sama-sama resah Dalbo Sejak dilahirkan aku tak tahu Siapa orang tuaku Aku berpindah dari satu kasih sayang Kesatu kasih sayang yang lain Aku hisap air susu Dari tetek banyak ibu Merpati terbang melintasi Membawaku pergi ke masa lalu Ohhoo ... Ohhoo ... Ohhoo ... Aku tak pernah bertanya Tentang siapa orang tuaku Walau aku memang merasakan Ada sesuatu yang hilang Sesuatu yang hilang Aku bukan anak haram Aku DALBO anak alam Aku DALBO anak wayang Di Mata Air Tidak Air Mata Memetik gitar dan bernyanyi Pada waktu tak bertepi Di atas langit di bawah tanah Di hembus angin terseret arus Untuk saudara tercinta Untuk Jiwa yang terluka Tengah lagu suaraku hilang Sebab hari semakin bising Hanya bunyi peluru di udara Gantikan denting gitarku Mengoyak paksa nurani Jauhkan jarak pandangku Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta Walau aku tahu tak terdengar Jariku menari tetap takkan berhenti Sampai wajah tak murung lagi Amarah sempat dalam dada Namun akalku menerkam Kubernyanyi di matahari Kupetik gitar di rembulan Di balik bening mata air Tak pernah ada air mata Engkau Tetap Sahabatku Dia adalah sahabatku bahkan lebih Dia adalah yang diburu datang padaku Sekedar lepas lelah dan sembunyi untuk berlari lagi Dia adalah yang terbuang mengetuk pintuku Penuh luka dipunggungnya merah hitam Dia menjadi terbuang setelah harapannya dibuang Bapaknya pegawai kecil kelas sendal jepit Yang kini didalam penjara sebab bela anaknya Untuk darah daging yang tercinta selesaikan sekolah Sahabatku gantikan bapaknya coba mencari kerja Namun yang didapat cemooh harga dirinya berontak Lalu dia tetapkan hati hancurkan sang pembuang Air putih aku hidangkan aku dipersimpangan Aku hitung semua lukanya seribu bahkan lebih sejuta lebih Pagi buta dia berangkat diam-diam Masih sempat selimuti aku yang tertidur Aku terharu do'aku untukmu Sebutir peluru yang tertinggal dibawah bantalnya Kuberi tali jadikan kalung lalu ku kenakan Sekedar mengingatmu kawan yang terus berlari Selamat jalan kawan selamat renangi air mata Hey sahabat yang terbuang engkau sahabatku tetap sahabatku Engkau sahabatku tetap sahabatku Hua Ha Ha Hua ha ha ha ha Hua ha ha ha ha Hua ha ha ha ha ha Hua ha ha ha Hua ha ha ha ha Hua ha ha ha ha Hua ha ha ha ha ha Bukalah mulut kamu Lantangkan saja suaramu Bebaskan jiwa kamu Tidak apa-apa dianggap gila Dari pada tak bisa tertawa Tertawa itu sehat Menipu itu jahat Hua ha ha ha ha Hua ha ha ha ha Hua ha ha ha ha ha Hua ha ha ha Hura Hura Huru Hara Apa jadinya jika mulut dilarang bicara Apa jadinya jika mata dilarang melihat Apa jadinya jika telinga dilarang mendengar Jadilah robot tanpa nyawa Yang hanya mengabdi pada perintah Apa jadinya jika saran berubah menjadi ancaman Apa jadinya jika lintah darat makin menghisap rakyat Apa jadinya jika keserakahan makin semena-mena Jadilah kepincangan keadilan Yang hanya melahirkan dendam Hura-hura huru-hara Lingkaran setan semakin seram bentuknya Hura-hura huru-hara Gelombang mara bahaya makin terasa Apa jadinya jika petani tak lagi punya sawah Apa jadinya jika cukong-cukong menguasai tanah Apa jadinya jika hukum sekedar bendera-bendera pajangan Jadilah penghisapan sesama manusia Yang hanya melahirkan drakula-drakula Ibu Ribuan kilo jalan yang kau tempuh Lewati rintang untuk aku anakmu Ibuku sayang masih terus berjalan Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah Seperti udara kasih yang engkau berikan Tak mampu ku membalas... Ibu Ibu Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku Dengan apa membalas... Ibu Ibu Ikrar Meniti hari meniti waktu Membelah langit belah samudra Ikhlaslah sayang kukirim kembang Tunggu aku, tunggu aku Rinduku dalam semakin dalam Perjalanan pasti kan sampai Penantianmu semangat hidupku Kau cintaku kau intanku Do'akanlah sayang Harapkanlah manis Suami segera kembali Suami ... suami yang baik Kutitipkan semua yang kutinggalkan Kau jagalah semua yang mesti kau jaga Permataku ... aku percaya padamu Ini Si Trendy Ini si trendy menari memuja diri Ini si trendy bergaya pasang aksi Hidupnya penuh basa-basi Ingin di anggap paling sexy Tiap hari maunya dipuji Ya-ya-ya ... ya-ya-ya ... Hidup diperbudak gengsi Ini si trendy menari gaya babi ngepet Ini si trendy menyanyi karaoke Suaranya mirip bebek Ya-ya-ya ... ya-ya-ya ... Matanya merem melek Ya-ya-ya ... ya-ya-ya ... Yang penting bisa di potret Ngetrend ... trendy ... trendy ... trendy ... Enggan ikut-ikut gengsi Kuno ... kuno ... kuno ... kuno ... Enggan ikut-ikut gengsi Kuno ... kuno ... kuno ... kuno ... Ini si trendy masih nari dan menyanyi Ini si trendy genitnya semakin jadi Orang-orang dianggap tuli Modernisasi salah kaprah Lantas menjadi latah Ngetrend ... trendy ... trendy ... trendy ... Karena Kau Bunda Kami Kami berdiri disini Mencoba menjaga hidupmu Bukan hanya sekedar mencintai Bukan sekedar melindungi Karena kau bunda kami Kami minum air susumu Dihidupi tanahmu Dimandikan oleh airmu kami berdo'a Karena kau bunda kami Hem ... hem ... Hem ... hem ... Lihatlah fajar pagi telah menyingsing Dengarkan do'a kami Karena kau bunda kami Biar keadilan sulit terpenuhi Biar kedamaian sulit terpenuhi Kami berdiri menjaga dirimu Karena kau bunda kami Mencatak Sawah Kubaca koran pagi sambil ngopi Ada kabar menarik hati Konglomerat akan mencetak sawah Di atas tanah milik siapa Aku jadi berfikir Untuk apa berupaya membuat sawah Sebab tanah ini tak lagi berkah Tak lagi ... ramah Semua kan sia-sia Karena kami tak lagi makan nasi Dari bumi pertiwi ini Dari keringat pak tani Tanah-tanah suburmu sudah menjadi ranjang industri Menjadi ayunan ambisi-ambisi Demi gengsi demi aksi Untuk apa sawah-sawah Pak taniku sudah pergi Menjadi pejalan kaki Yang ... sepi POtret Melihat anak-anak kecil berlari-larian Di perempatan jalan kota-kota besar Mengejar hari yang belum dimengerti Sambil bernyanyi riang menyambut resiko Melihat anak-anak sekolah berkelahi Di pusat keramaian kota-kota besar Karena apa tak ada yang mengetahui Sementara darah yang keluar bertambah banyak Melihat anak-anak muda di ujung gang Berkelompok tak ada yang dikerjakan Selain mengeluh dan memanjakan diri Hari esok bagaimana besok Mendengar orang-orang pandai berdiskusi Tentang kesempatan yang semakin sempit Tentang kemunafikkan yang kian membelit Tetapi tetap saja tinggal omongan Merasa birokrat bersilat lidah S'perti tukang obat di jalanan Mencoba meyakinkan rakyat Bahwa di sini seperti di surga Tak adakah jalan keluar? Semoga Saja Kau Benar Berbondong-bondong orang cumbui angan dibibir pelabuhan Tinggalkan tanah lahir desa tercinta menuju pulau surga Selamat tinggal semua bukan aku tak cinta Tiada lagi tersisa bahkan mimpi kubawa Isak tangisan bayi dalam gendongan tak goyahkan lamunan Raung sirine kapal jangkar diangkat segeralah berlayar Selamat tinggal semua bukan aku tak cinta Tiada lagi tersisa bahkan mimpi kubawa Perlahan-lahan kapal jauhi tepi malas mengangkut mimpi Mercusuar dermaga dan burung camar mengusap air mata Selamat jalan kawan bukan aku tak cinta Mungkin saja kau benar semoga saja kau benar Selamat jalan kawan s'moga kau benar Selamat jalan selamat jalan Ya Atau Tidak Bicaralah nona, jangan membisu Walau s'patah kata tentu kudengar Tambah senyum sedikit apa sih susahnya Malah semakin manis semanis tebu Engkau tau isi hatiku Semuanya sudah aku katakan Ganti kamu jawab tanyaku Ya atau tidak itu saja Bila hanya diam aku tak tahu Batu juga diam, kamu kan bukan batu Aku tak cinta pada batu Yang aku cinta hanya kamu Jawab nona dengan bibirmu Ya atau tidak itu saja Tak aku pungkiri aku suka wanita Sebab aku laki-laki masa suka pria Kau kuraslah isi dadaku Aku yakin ada kamu di situ Jangan diam bicaralah Ya atau tidak itu saja Yang Terlupakan denting piano kala jemari menari nada merambat pelan di kesunyian malam saat datang rintik hujan bersama sebuah bayang yang pernah terlupakan hati kecil berbisik untuk kembali padanya seribu kata menggoda seribu sesal di depan mata seperti menjelma waktu aku tertawa kala memberimu dosa oh maafkanlah oh maafkanlah oh maafkanlah rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi haruskah aku lari dari kenyataan ini pernah kumencoba tuk sembunyi namun senyummu tetap mengikuti Sarjana Muda Berjalan seorang pria muda dengan jaket lusuh di pundaknya Di sela bibir tampak mengering terselip sebatang rumput liar Jelas menatap awan berarak wajah murung s'makin terlihat Dengan langkah gontai tak terarah keringat bercampur debu jalanan engkau sarjana muda, resah mencari kerja mengandalkan ijasahmu empat tahun lamanya, bergelut dengan buku tuk jaminan masa depan langkah kakimu terhenti di depan halaman sebuah jalanan Berjalan lesu engkau melangkah dari pintu kantor yang diharapkan terngiang kata tiada lowongan untuk kerja yang didambakan tak perduli berusaha lagi namun kata sama kau dapatkan jelas menatap awan berarak wajah murung s'makin terlihat engkau sarjana muda, resah tak dapat kerja tak berguna ijasahmu empat tahun lamanya, bergelut dengan buku sia-sia semuanya *setengah putus asa ia berucap, maaf .. ibu ..* Ujung Aspal Pondok Gede Di kamar ini aku dilahirkan Di bale bambu buah tangan bapakku Di rumah ini aku dibesarkan Dibelai mesra lentik jari ibu Nama dusunku Ujung Aspal Pondok Gede Rimbun dan anggun ramah senyum penghuni dusun Kambing sembilan motor tiga bapak punya Ladang yang luas habis sudah sebagai gantinya Sampai saat tanah moyangku Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota Terlihat murung wajah pribumi Terdengar langkah hewan bernyanyi Di depan mesjid samping rumah wakil pak Lurah Tempat dulu kami bermain mengisi cerahnya hari Namun sebentar lagi angkuh tembok pabrik berdiri Satu persatu sahabat pergi dan tak kan pernah kembali Bung Hatta Tuhan terlalu cepat semua Kau panggil satu-satunya yang tersisa proklamator tercinta jujur lugu dan bijaksana mengerti apa yang terlintas dalam jiwa rakyat Indonesia hujan air mata dari pelosok negeri saat melepas engkau pergi berjuta kepala tertunduk haru terlintas nama seorang sahabat yang tak lepas dari nam terbayang baktimu terbayang jasamu terbayang jelas jiwa sederhanamu bernisan bangga berkafan doa dari kami yang merindukan orang sepertimu Senandung Lirih Kau wanita terindah yang pernah kutaklukan Kau .. kenapa kau pergi kenapa kau pergi Kau wanita terhebat yang pernah memelukku Kau .. kenapa kau pergi kenapa kau pergi Helai udara di sekitarku senandung lirih namamu Tiap sudut kota yang kudatangi senandung lirih namamu Kau wanita termegah yang pernah kudapatkan Kau .. kemana kau pergi kemana kau pergi S'moga kau temukan apa yang kau cari yang tak kau dapatkan dari aku S'moga kau temukan apa yang kau cari yang tak kau dapatkan dari aku Helai udara di sekitarku senandung lirih namamu Kemana pun kau akan melangkah aku yang s'lalu mengenangmu Kemana pun kau akan melangkah aku yang s'lalu mengenangmu Pesawat Tempurku Waktu kau lewat aku sedang mainkan gitar Sebuah lagu yang kunyanyikan tentang dirimu Seperti kemarin kamu hanya lemparkan senyum Lalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur Hey kau yang manis singgahlah dan ikut bernyanyi Sebentar saja nona sebentar saja hanya sebentar Rayuan mautku tak membuat kau jadi galak Bagai seorang diplomat ulung engkau mengelak Kalau saja aku bukanlah penganggur sudah kupacari kau Jangan bilang tidak biang saja iya Iya lebih baik daripada kau menangis Penguasa! Penguasa! berilah hambamu uang Beri hamba uang! beri hamba uang! Oh ya andaikata dunia tak punya tentara Tentu tak ada perang yang banyak makan biaya Oh ya andaikata dana perang buat diriku Tantu kau mau singgah bukan cuma tersenyum Kalau hanya senyum yang engkau berikan Westerling pun tersenyum Oh singgahlah sayang pesawat tempurku Mendarat mulus didalam sanubariku Penguasa! Penguasa! berilah hambamu uang Beri hamba uang! beri hamba uang! |
||||||||
| Back | ||||||||