LIRIK IWAN FALS
1910
Apakabar kereta yang terkapar di senin pagi
Di gerbongmu ratusan orang yang mati
Hancurkan mimpi bawa kisah
Air mata . . . . . . . . . . . air mata . . . . . . . . . . . . . .

Belum usai peluit belum habis putaran roda
Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi catatan sejarah
Air mata . . . . . . . . . . . air mata . . . . . . . . . . . . . .

Berdarahkan tuan yang duduk di belakang meja
Atau cukup hanya ucapkan belasungkawa aku bosan
Lalu terangkat semua beban dipundak
Semudah itukah luka-luka terobati . . . . . . . . .

Nusantara . . . . . . . . . . . . . . tangismu terdengar lagi
Nusantara . . . . . . . . . . . . . . derita bila terhenti
Bilakah . . . . . . . . . . . . . bilakah . . . . . . . . . . . . .

Sembilan belas oktober tanah Jakarta berwarna merah
Meninggalkan tanya yang tak terjawab
Bangkai kereta lemparkan amarah
Air mata . . . . . . . . . . . air mata . . . . . . . . . . . . . .
O o o o o o o o o . . . . . . . . . .

Nusantara langitmu saksi kelabu
Nusantara terdengar lagi tangismu
Ho . . . . ho . . . . . ho . . . .
Nusantara kau simpan kisah kereta
Nusantara kabarkan marah sang duka

Saudaraku pergilah dengan tenang
Sebab luka sudah tak lagi panjang

Ada LAgi Yang Mati
Aku lihat orang yang mati
Diantara tumpukkan sampah
Lehernya berdarah membeku
Bekas pisau lawannya tadi malam

Depan pasar dekat terminal
Pagi itu orang berkerumun
Melihat mayat yang membusuk
Tutup hidung sesekali meludah

Aku lihat orang menangis
Disela gaduhnya suasana
Segera aku menghampiri
Dengan bimbang ku bertanya padanya

Rupanya yang mati sang teman
Teman hitam hidup sepaham
Hanya kisah yang dilewati
Ia berdua ikat tali saudara

Sementara surya mulai tinggi
Panas terasa bakar kepala

Sisa darah orang yang mati
Disimpannya didalam hati
Lalu dia seperti batu
Sampai malam sampai semuanya pergi

Depan pasar dekat terminal
Ada lagi orang yang mati
Lehernya berdarah membeku
Bekas pisau lawannya tadi malam

Sementara surya mulai tinggi
Panas terasa bakar kepala

Dendam ada dimana-mana
Dijantungku dijantungmu
Dijantung hari-hari ...
Dendam ada dimana-mana ...

Aku Bosan
Papiku belum pulang
Mamiku belum pulang
Kakakku belum pulang
Katanya cari uang

Hanya ada pembantu
Mengurusi hidupku
Hanya ada televisi
Menemani hariku

Aku bosan . . . aku bosan . . . aku bosan . . .
Bosan . . . bosan . . . bosan . . . bosan . . .
Aku bosan . . . aku bosan . . . aku bosan . . .
Bosan . . . bosan . . . bosan . . . bosan . . .

Ketika papi pulang
Mukanya sangat tegang
Ketika mami pulang
Menyapa hallo sayang
Ketika kakak pulang
Jalanya sudah goyang
Katanya cari uang . . . . . . .
Katanya cari uang . . . . . . .

Aku bosan . . . aku bosan . . . aku bosan . . .
Bosan . . . bosan . . . bosan . . . bosan . . .
Aku bosan . . . aku bosan . . . aku bosan . . .
Bosan . . . bosan . . . bosan . . . bosan . . .

Aku Disini
Mengantuk perempuan setengah baya
Di bak terbuka mobil sayuran
Jam tiga pagi itu

Tangannya terangkat saat sorot lampu
Mobilku menyilaukan matanya
Aku ingat ibuku . . . . . . .

Aku ingat istri dan anak perempuanku
Separo jalan menuju rumah
Sa'at lampu menyala merah
Di depan terminal bis kota
Yang masih sepi

Aku melihat seorang pelacur
Tertidur mungkin letih atau mabuk
Aku ingat ibuku . . . . . . . .

Aku ingat istri dan anak perempuanku
Di bawah temaram sinar merkuri
Bocah telanjang dada bermain bola
Oh . . . . . . . . . . pagi yang gelap
Kau sudutkan aku
Suara kaset dalam mobil aku matikan
Jendela kubuka
Angin pagi dan nyanyian sekelompok
Anak muda mengusik ingatanku

Aku ingat mimpiku
Aku ingat harapan yang semakin hari
Semakin panjang tak berujung
Perempuan setengah baya
Pelacur yang tertidur
Bocah-bocah bermain bola
Anak muda yang bernyanyi
Sebentar lagi ayam jantan kabarkan pagi

Hari-harimu menagih janji
Aku disini . . . . . . ya . . . aku disini
Ingat ibu istri dan anak- anaku

Balada Orang-orang Pedalaman
He . . . . . ya y a ya he ya ho . . . . . .
He . . . . . ya y a ya ho ya he . . . . . .
Balada orang-orang pedalaman

He . . . . . ya y a ya he ya ho . . . . . .
He . . . . . ya y a ya ho ya he . . . . . .
Di hutan di gunung dan di pesisir

He . . . . . ya y a ya he ya ho . . . . . .
Manusia yang datang dari kota
Tega bodohi mereka
Lihat tatapannya yang kosong
Tak mengerti apa yang terjadi

He . . . . . ya y a ya he ya ho . . . . . .
Tak tajam lagi tombak panah dan parang

He . . . . . ya y a ya he ya ho . . . . . .
He . . . . . ya y a ya ho ya he . . . . . .
Tak ampuh lagi mata dari sang pawang
Dimana lagi cari hewan buruan
Yang pergi karena senapan
Dimana mencari ranting pohon
Kalau sang pohon tak ada lagi . . . . . .

Pada siapa mereka tanyakan hewannya
Ya . . . . . pada siapa tanyakan pohonnya
Saudaraku di pedalaman menanti
Sebuah jawaban yang tersimpan dihati
Lewatmu . . . . . . . . . pembeli

Pada orang-orang pedalaman
Yang menari dan menyanyi
Dihalau bising ribuan deru gergaji


Belum Ada Judul
Pernah kita sama-sama susah
Terperangkap di dingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Di gilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah . . . . . lelap

Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai sa'at kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masih ingatkah . . . . . . . kau

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara . . .
Di hati . . . . . .

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga sa'at kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat

Besar DAn Kecil
Kau seperti bis kota atau truk gandengan
Mentang-mentang paling besar klakson sembarangan
Aku seperti bemo atau sendal jepit
Tubuhku kecil mungil biasa terjepit
Pada siapa ku mengadu?
Pada siapa kubertanya?

Kau seperti buaya atau dinosaurus
Mentang-mentang menakutkan makan sembarangan
Aku seperti cicak atau kadal buntung
Tubuhku kecil merenghil sulit dapat untung
Pada siapa ku mengadu?
Pada siapa ku bertanya?

Mengapa besar selalu menang?
Bebas berbuat sewenang-wenang
Mengapa kecil s'lalu tersingkir?
Harus mengalah dan menyingkir
Apa bedanya besar dan kecil?
Semua itu hanya sebutan
Ya ... walau didalam kehidupan
Kenyataannya harus ada besar dan kecil

Bidadari Senja Kala

Wajah langit senja hari
Ada kelelawar melayang
Laut yang bergolak didepanku ... yaa ... haa
Wajah itu datang lagi
Mendatangiku memanggilku
Wajah yang berduka
Aku memelukmu mencium keningmu
Tatap matamu membara
Membakar hidupku
Suaramu bergairah
Menenangkanku
Membara ... membara
Pandanganku membara
Tubuhmu yang hangat
Menghangatkan tubuhku
Lagu ini untukmu
Mimpi ini untukmu
Duka datang dan pergi
Datangnya silih berganti
Oh ... oh ... oh ...
Sering aku tak mampu bicara
Terdiam s'perti patung bernyawa
Sering aku tak mampu menjawab
Aku tak tahu harus bagaimana
Bidadari senja kala
Menari untukku ... untukku
Masih ada cahaya di wajahmu ... di wajahmu
Nyanyian di senja hari membuatku rindu
Jangan berhenti memandang jangan berpaling
Jangan berhenti mencintai jangan berhenti
Aku tahu apa artinya senyum di bibirmu


Mereka Ada di Jalan
Pukul tiga sore hari
di jalan yang belum jadi
Aku melihat anak-anak kecil
telanjang dada telanjang kaki
asyik mengejar bola

Kuhampiri kudekati
lalu duduk ditanah yang lebih tinggi
Agar lebih jelas lihat dan rasakan
Semangat mereka keringat mereka
Dalam memenangkan permainan

Ramang kecil Kadir kecil
Menggiring bola dijalanan
Ruly kecil Riky kecil
Lika-liku jebolkan gawang

Tiang gawang puing-puing
Sisa bangunan yang tergusur
Tanah lapang hanya tinggal cerita
Yang nampak mata hanya para pembual saja

Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja
Dan sementara kita disini
Di jalan ini

Bola kaki dari plastik
Ditendang mampir ke langit
Pecahlah sudah kaca jendela hati
Sebab terkena bola tentu bukan salah mereka

Rony kecil Hery kecil
Gaya samba sodorkan bola
Nobon kecil Juki kecil
Jegal lawan amankan gawang

Cipto kecil Iswadi kecil
Tak tik tik tak terinjak paku
Yudo kecil Paslah kecil
Terkam bola jatuh menangis

Mimpi Yang Terbeli
Berjalan disitu dipusat pertokoan
Melihat barang-barang yang jenisnya beraneka ragam
Cari apa di sana pasti tersedia
Asal uang dikantong cukup tentu tak ada soal

Aku ingin membeli
kamu ingin membeli
Kita ingin membeli
semua orang ingin membeli

Apa yang dibeli
mimpi yang terbeli
Sebab harga barang tinggi
tiada pilihan selain mencuri

Sampai kapan mimpi-mimpi itu kita beli
Sampai nanti sampai habis terjual harga diri
Sampai kapan harga-harga itu melambung tinggi
Sampai nanti sampai kita tak bisa bermimpi

Segala produksi ada disini
Menggoda kita untuk memilikki
Hari-hari kita berisi hasutan
Hingga kita tak tahu diri sendiri

Melihat anak kecil mencuri mainan
Yang harganya tak terjangkau oleh bapaknya yang maling

Nak
Nak dengarlah bicara bapakmu
Yang kenyang akan hidup terang dan redup
Letakkan dahulu mainan itu
Duduk dekat bapak sabar mendengar

Kau anak harapanku yang lahir di jaman gersang
Segala sesuatu hanya ada karena uang
Ya ... ya ... ya ... ya ...
Kau anak dambaanku yang besar di kancah perang
Kau harus kuat yakin pasti menang

Sekolah biasa saja jangan pintar-pintar percuma
Latihlah bibirmu agar pandai berkicau
Sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu
Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel
Pedulu titel didapat atau titel mu'jizat
Ya ... ya ... ya ... ya ...

Sekolah buatmu hanya perlu untuk gengsi
Agar mudah bergaul tentu banyak relasi
Jadi penjilat yang paling tepat
Karirmu cepat uang tentu dapat
Jadilah Dorna jangan jadi Bima
Sebab seorang Dorna punya lidah sejuta
O . . . . o . . . . o . . . . . o . . . .

Hidup sudah susah jangan dibikin susah
Cari saja senang walau banyak hutang
Munafik sedikit jangan terlalu jujur
Sebab orang jujur hanya ada di komik
Pilihlah jalan yang mulus tak banyak batu
Sebab batu-batu bikin jalanmu terhambat
Ya ... ya ... ya ... ya ...
Pilihlah jalan yang bagus tak ada paku
Sebab paku itu sakit apalagi yang berkarat

Jadilah kancil jangan buaya
Sebab seekor kancil sadar akan bahaya
Jadilah bandit berkedok jagoan
Agar semua sangka engkau seorang pahlawan
Jadilah bunglon jangan sapi
Sebab seekor bunglon pandai baca situasi
Jadilah karet jangan besi
Sebab yang namanya karet tahan kondisi

Anakku aku nyanyikan lagu
Waktu ayah tak tahan lagi menahan murka

Panggilan DAri GUnung
Panggilan dari gunung
Turun ke lembah-lembah
Kenapa nadamu murung
Langkah kaki gelisah

Matamu separuh katup
Lihat kolam seperti danau
Kau bawa persoalan
Cerita duka melulu

Disini menunggu
Cerita yang lain

Berapa lama diam
Cermin katakan bangkit
Pohon-pohon terkurung
Kura-kura terbius



Ancur
namamu slalu kubisikan, dalam tidurku
dalam mimpiku, setiap malam, hangat tubuhmu
melekat dikulitku, beribu peluk
beribu cium kita lalui

Reff: tapi kau kabur
Dengan duda anak 3 pilihan ibumu
hatiku hancur
berserakan, berhamburan kayak jeroannya binatang

*ya....... sudah
kumenangis seadanya sekuat tenaga
ya... suda...hla....h

**kau memang setan alas nggak punya perasaan

***Ancu....r
doaku diakad nikahmu
smoga siduda diracun orang
biar cepet mampus
(Reff.....)
(*.....**....***...)

niar siduda diracun orang biar terus mampus

Aku Bukan Pilihan
G C
Kini Ku mengungkap tanya, siapakah dirinya
Em D Am
Yang mengaku kekasihmu itu
C D C D
Aku tak bisa memahami

G
Ketika malam tiba
C
Ku rela kau berada
Em D Am
Dengan siapa kau melewatinya
C D C D
Aku tak bisa memahami

Reff

G C
Aku lelaki tak mungkin menerima bila
B7 Em Am D
Ternyata kau mendua, membuatku terluka
G C
Tinggalkan saja diriku, yang tak mungkin menunggu
B7 Em Am D
Jangan pernah memilih, aku bukan pilihan

G C
Selalu terungkap tanya, benarkan kini ada
Em D
Wanita yang kukenal hatinya
C D C D
Aku tak bisa memahami

C B7
Tak perlu memilihku
Am D7

Aku lelaki, bukan tuk dipilih



Buku Ini Aku Pinjam
Dikantin depan kelasku
disana kenal dirimu
Yang kini tersimpan dihati
jalani kisah sembunyi

Di halte itu kutunggu
senyum manismu kekasih
Usai dentang bel sekolah
kita nikmati yang ada

Seperti hari yang lain
Kau senyum tersipu malu
Ketika ku sapa engkau
Genggamlah jari ...
Genggamlah hati ...ini

Memang usia kita muda
namun cinta soal hati
Biar mereka bicara
telinga kita terkunci

Dia tahu ... dia rasa ...
Maka tersenyumlah kasih ...
Tetap langkah ... Jangan hentikan ...
Cinta ini milik kita

Buku ini aku pinjam
kan kutulis sajak indah
Hanya untukmu seorang
Tentang mimpi-mimpi malam

<strong>Coretan Dinding</strong>
Coretan di dinding membuat resah
Resah hati pencoret mungkin ingin tampil
Tepi lebih resah pembaca coretannya
Sebab coretan di dinding adalah pemberontakan
Kucing hitam yang terpojok di tiap tempat sampah
Ditiap kota
Cakarnya siap dengan kuku-kuku tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindas
Yang menganggap remeh coretan dinding kota
Coretan dinding terpojok di tempat sampah
Kucing hitam dan penindas sama-sama resah

Dalbo
Sejak dilahirkan aku tak tahu
Siapa orang tuaku
Aku berpindah dari satu kasih sayang
Kesatu kasih sayang yang lain
Aku hisap air susu
Dari tetek banyak ibu
Merpati terbang melintasi
Membawaku pergi ke masa lalu
Ohhoo ...
Ohhoo ...
Ohhoo ...

Aku tak pernah bertanya
Tentang siapa orang tuaku
Walau aku memang merasakan
Ada sesuatu yang hilang
Sesuatu yang hilang
Aku bukan anak haram
Aku DALBO anak alam
Aku DALBO anak wayang

Di Mata Air Tidak Air Mata
Memetik gitar dan bernyanyi
Pada waktu tak bertepi
Di atas langit di bawah tanah
Di hembus angin terseret arus
Untuk saudara tercinta
Untuk Jiwa yang terluka
Tengah lagu suaraku hilang
Sebab hari semakin bising
Hanya bunyi peluru di udara
Gantikan denting gitarku
Mengoyak paksa nurani
Jauhkan jarak pandangku
Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta
Walau aku tahu tak terdengar
Jariku menari tetap takkan berhenti
Sampai wajah tak murung lagi
Amarah sempat dalam dada
Namun akalku menerkam
Kubernyanyi di matahari
Kupetik gitar di rembulan
Di balik bening mata air
Tak pernah ada air mata

Engkau Tetap Sahabatku
Dia adalah sahabatku bahkan lebih
Dia adalah yang diburu datang padaku
Sekedar lepas lelah dan sembunyi untuk berlari lagi
Dia adalah yang terbuang mengetuk pintuku
Penuh luka dipunggungnya merah hitam
Dia menjadi terbuang setelah harapannya dibuang

Bapaknya pegawai kecil kelas sendal jepit
Yang kini didalam penjara sebab bela anaknya
Untuk darah daging yang tercinta selesaikan sekolah
Sahabatku gantikan bapaknya coba mencari kerja
Namun yang didapat cemooh harga dirinya berontak
Lalu dia tetapkan hati hancurkan sang pembuang

Air putih aku hidangkan aku dipersimpangan
Aku hitung semua lukanya seribu bahkan lebih sejuta lebih
Pagi buta dia berangkat diam-diam
Masih sempat selimuti aku yang tertidur
Aku terharu do'aku untukmu

Sebutir peluru yang tertinggal dibawah bantalnya
Kuberi tali jadikan kalung lalu ku kenakan
Sekedar mengingatmu kawan yang terus berlari
Selamat jalan kawan selamat renangi air mata
Hey sahabat yang terbuang engkau sahabatku tetap sahabatku
Engkau sahabatku tetap sahabatku

Hua Ha Ha
Hua ha ha ha ha
Hua ha ha ha ha
Hua ha ha ha ha ha
Hua ha ha ha
Hua ha ha ha ha
Hua ha ha ha ha
Hua ha ha ha ha ha

Bukalah mulut kamu
Lantangkan saja suaramu
Bebaskan jiwa kamu
Tidak apa-apa dianggap gila
Dari pada tak bisa tertawa
Tertawa itu sehat
Menipu itu jahat

Hua ha ha ha ha
Hua ha ha ha ha
Hua ha ha ha ha ha
Hua ha ha ha

Hura Hura Huru Hara
Apa jadinya jika mulut dilarang bicara
Apa jadinya jika mata dilarang melihat
Apa jadinya jika telinga dilarang mendengar
Jadilah robot tanpa nyawa
Yang hanya mengabdi pada perintah

Apa jadinya jika saran berubah menjadi ancaman
Apa jadinya jika lintah darat makin menghisap rakyat
Apa jadinya jika keserakahan makin semena-mena
Jadilah kepincangan keadilan
Yang hanya melahirkan dendam
Hura-hura huru-hara
Lingkaran setan semakin seram bentuknya
Hura-hura huru-hara
Gelombang mara bahaya makin terasa

Apa jadinya jika petani tak lagi punya sawah
Apa jadinya jika cukong-cukong menguasai tanah
Apa jadinya jika hukum sekedar bendera-bendera pajangan
Jadilah penghisapan sesama manusia
Yang hanya melahirkan drakula-drakula

Ibu
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...
Ibu
Ibu

Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu

Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...
Ibu
Ibu

Ikrar
Meniti hari meniti waktu
Membelah langit belah samudra
Ikhlaslah sayang kukirim kembang
Tunggu aku, tunggu aku

Rinduku dalam semakin dalam
Perjalanan pasti kan sampai
Penantianmu semangat hidupku
Kau cintaku kau intanku

Do'akanlah sayang
Harapkanlah manis
Suami segera kembali
Suami ... suami yang baik
Kutitipkan semua yang kutinggalkan
Kau jagalah semua yang mesti kau jaga
Permataku ... aku percaya padamu

Ini Si Trendy
Ini si trendy menari memuja diri
Ini si trendy bergaya pasang aksi
Hidupnya penuh basa-basi
Ingin di anggap paling sexy
Tiap hari maunya dipuji
Ya-ya-ya ... ya-ya-ya ...

Hidup diperbudak gengsi
Ini si trendy menari gaya babi ngepet
Ini si trendy menyanyi karaoke
Suaranya mirip bebek
Ya-ya-ya ... ya-ya-ya ...
Matanya merem melek
Ya-ya-ya ... ya-ya-ya ...
Yang penting bisa di potret

Ngetrend ... trendy ... trendy ... trendy ...
Enggan ikut-ikut gengsi
Kuno ... kuno ... kuno ... kuno ...
Enggan ikut-ikut gengsi
Kuno ... kuno ... kuno ... kuno ...

Ini si trendy masih nari dan menyanyi
Ini si trendy genitnya semakin jadi
Orang-orang dianggap tuli
Modernisasi salah kaprah
Lantas menjadi latah
Ngetrend ... trendy ... trendy ... trendy ...

Karena Kau Bunda Kami

Kami berdiri disini
Mencoba menjaga hidupmu
Bukan hanya sekedar mencintai
Bukan sekedar melindungi
Karena kau bunda kami
Kami minum air susumu
Dihidupi tanahmu
Dimandikan oleh airmu kami berdo'a
Karena kau bunda kami
Hem ... hem ...
Hem ... hem ...
Lihatlah fajar pagi telah menyingsing
Dengarkan do'a kami
Karena kau bunda kami
Biar keadilan sulit terpenuhi
Biar kedamaian sulit terpenuhi
Kami berdiri menjaga dirimu
Karena kau bunda kami

Mencatak Sawah
Kubaca koran pagi sambil ngopi
Ada kabar menarik hati
Konglomerat akan mencetak sawah
Di atas tanah milik siapa

Aku jadi berfikir
Untuk apa berupaya membuat sawah
Sebab tanah ini tak lagi berkah
Tak lagi ... ramah

Semua kan sia-sia
Karena kami tak lagi makan nasi
Dari bumi pertiwi ini
Dari keringat pak tani
Tanah-tanah suburmu sudah menjadi ranjang industri
Menjadi ayunan ambisi-ambisi

Demi gengsi demi aksi
Untuk apa sawah-sawah
Pak taniku sudah pergi
Menjadi pejalan kaki
Yang ... sepi


POtret
Melihat anak-anak kecil berlari-larian
Di perempatan jalan kota-kota besar
Mengejar hari yang belum dimengerti
Sambil bernyanyi riang menyambut resiko

Melihat anak-anak sekolah berkelahi
Di pusat keramaian kota-kota besar
Karena apa tak ada yang mengetahui
Sementara darah yang keluar bertambah banyak

Melihat anak-anak muda di ujung gang
Berkelompok tak ada yang dikerjakan
Selain mengeluh dan memanjakan diri
Hari esok bagaimana besok

Mendengar orang-orang pandai berdiskusi
Tentang kesempatan yang semakin sempit
Tentang kemunafikkan yang kian membelit
Tetapi tetap saja tinggal omongan

Merasa birokrat bersilat lidah
S'perti tukang obat di jalanan
Mencoba meyakinkan rakyat
Bahwa di sini seperti di surga
Tak adakah jalan keluar?

Semoga Saja Kau Benar
Berbondong-bondong orang cumbui angan dibibir pelabuhan
Tinggalkan tanah lahir desa tercinta menuju pulau surga
Selamat tinggal semua bukan aku tak cinta
Tiada lagi tersisa bahkan mimpi kubawa

Isak tangisan bayi dalam gendongan tak goyahkan lamunan
Raung sirine kapal jangkar diangkat segeralah berlayar
Selamat tinggal semua bukan aku tak cinta
Tiada lagi tersisa bahkan mimpi kubawa

Perlahan-lahan kapal jauhi tepi malas mengangkut mimpi
Mercusuar dermaga dan burung camar mengusap air mata
Selamat jalan kawan bukan aku tak cinta
Mungkin saja kau benar semoga saja kau benar

Selamat jalan kawan s'moga kau benar
Selamat jalan selamat jalan

Ya Atau Tidak
Bicaralah nona, jangan membisu
Walau s'patah kata tentu kudengar
Tambah senyum sedikit apa sih susahnya
Malah semakin manis semanis tebu

Engkau tau isi hatiku
Semuanya sudah aku katakan
Ganti kamu jawab tanyaku
Ya atau tidak itu saja

Bila hanya diam aku tak tahu
Batu juga diam, kamu kan bukan batu

Aku tak cinta pada batu
Yang aku cinta hanya kamu
Jawab nona dengan bibirmu
Ya atau tidak itu saja

Tak aku pungkiri aku suka wanita
Sebab aku laki-laki masa suka pria

Kau kuraslah isi dadaku
Aku yakin ada kamu di situ
Jangan diam bicaralah
Ya atau tidak itu saja

Yang Terlupakan
denting piano kala jemari menari
nada merambat pelan di kesunyian malam
saat datang rintik hujan bersama sebuah bayang
yang pernah terlupakan

hati kecil berbisik untuk kembali padanya
seribu kata menggoda seribu sesal di depan mata
seperti menjelma waktu aku tertawa
kala memberimu dosa

oh maafkanlah
oh maafkanlah
oh maafkanlah

rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi
haruskah aku lari dari kenyataan ini
pernah kumencoba tuk sembunyi
namun senyummu tetap mengikuti

Sarjana Muda
Berjalan seorang pria muda
dengan jaket lusuh di pundaknya
Di sela bibir tampak mengering
terselip sebatang rumput liar

Jelas menatap awan berarak
wajah murung s'makin terlihat
Dengan langkah gontai tak terarah
keringat bercampur debu jalanan

engkau sarjana muda, resah mencari kerja
mengandalkan ijasahmu
empat tahun lamanya, bergelut dengan buku
tuk jaminan masa depan

langkah kakimu terhenti
di depan halaman sebuah jalanan

Berjalan lesu engkau melangkah
dari pintu kantor yang diharapkan
terngiang kata tiada lowongan
untuk kerja yang didambakan

tak perduli berusaha lagi
namun kata sama kau dapatkan
jelas menatap awan berarak
wajah murung s'makin terlihat

engkau sarjana muda, resah tak dapat kerja
tak berguna ijasahmu
empat tahun lamanya, bergelut dengan buku
sia-sia semuanya

*setengah putus asa ia berucap, maaf .. ibu ..*

Ujung Aspal Pondok Gede
Di kamar ini aku dilahirkan
Di bale bambu buah tangan bapakku
Di rumah ini aku dibesarkan
Dibelai mesra lentik jari ibu

Nama dusunku Ujung Aspal Pondok Gede
Rimbun dan anggun ramah senyum penghuni dusun

Kambing sembilan motor tiga bapak punya
Ladang yang luas habis sudah sebagai gantinya

Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi

Di depan mesjid samping rumah wakil pak Lurah
Tempat dulu kami bermain mengisi cerahnya hari
Namun sebentar lagi angkuh tembok pabrik berdiri
Satu persatu sahabat pergi dan tak kan pernah kembali

Bung Hatta
Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
proklamator tercinta

jujur lugu dan bijaksana
mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
rakyat Indonesia

hujan air mata dari pelosok negeri
saat melepas engkau pergi
berjuta kepala tertunduk haru
terlintas nama seorang sahabat
yang tak lepas dari nam

terbayang baktimu
terbayang jasamu
terbayang jelas jiwa
sederhanamu

bernisan bangga
berkafan doa
dari kami yang merindukan orang
sepertimu


Senandung Lirih

Kau wanita terindah
yang pernah kutaklukan
Kau .. kenapa kau pergi
kenapa kau pergi

Kau wanita terhebat
yang pernah memelukku
Kau .. kenapa kau pergi
kenapa kau pergi

Helai udara di sekitarku
senandung lirih namamu
Tiap sudut kota yang kudatangi
senandung lirih namamu

Kau wanita termegah
yang pernah kudapatkan
Kau .. kemana kau pergi
kemana kau pergi

S'moga kau temukan apa yang kau cari
yang tak kau dapatkan dari aku
S'moga kau temukan apa yang kau cari
yang tak kau dapatkan dari aku

Helai udara di sekitarku
senandung lirih namamu
Kemana pun kau akan melangkah
aku yang s'lalu mengenangmu
Kemana pun kau akan melangkah
aku yang s'lalu mengenangmu


Pesawat Tempurku
Waktu kau lewat aku sedang mainkan gitar
Sebuah lagu yang kunyanyikan tentang dirimu
Seperti kemarin kamu hanya lemparkan senyum
Lalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur

Hey kau yang manis singgahlah dan ikut bernyanyi
Sebentar saja nona sebentar saja hanya sebentar
Rayuan mautku tak membuat kau jadi galak
Bagai seorang diplomat ulung engkau mengelak

Kalau saja aku bukanlah penganggur sudah kupacari kau
Jangan bilang tidak biang saja iya
Iya lebih baik daripada kau menangis

Penguasa! Penguasa! berilah hambamu uang
Beri hamba uang! beri hamba uang!

Oh ya andaikata dunia tak punya tentara
Tentu tak ada perang yang banyak makan biaya
Oh ya andaikata dana perang buat diriku
Tantu kau mau singgah bukan cuma tersenyum

Kalau hanya senyum yang engkau berikan
Westerling pun tersenyum
Oh singgahlah sayang pesawat tempurku
Mendarat mulus didalam sanubariku

Penguasa! Penguasa! berilah hambamu uang
Beri hamba uang! beri hamba uang!
Back
Hosted by www.Geocities.ws

1