| Simpul Yang Terlepas | |||||||
Akhirnya simpul itu lepas juga, meski harus jatuh karenanya, kemarin kau mengajakku membuat sebuah simpul agar dapat naek kesuatu ketinggian, tapi... saat kita belum mencapai sebuah titik, kau sudah melepaskan simpul itu, aku akhirnya sadar, simpul itu hanya hasil rekaan khayalku, meski aku tak pasti, apakah kamu juga menolongku membuat simpul itu, atau hanya khayalku saja yang menggambarkan kita bersama-sama membuat simpul, tapi aku akui aku mungkin tak pernah dapat mengartikan sikap dan tingkah laku kaummu, setiap kali aku coba mengartikan dengan fikirku, selalu saja aku salah, aku tidak pernah tahu bagaimana cara mengartikan keinginanmu, karena itulah aku kadang tidak pernah mau perduli pada kaummu, aku tidak ingin kembali terjerat pada perangkap yang serupa seperti kemarin yang telah aku buat sendiri. Akhirnya aku mengerti, meski aku tidak pernah yakin akan mengertiku, aku hanya bisa menggambarkan sebuah sketsa yang ingin kau gambarkan dalam hidupmu, dan itu tak pernah ada sosok suram dalamnya, aku senang saat mengetahui simpul itu akhirnya lepas pada awal perjalananku, karena tidak pernah aku bayangkan jika simpul itu lepas pada saat aku nyaris menggapai tujuan, aku tertawa saat menggambar semuanya itu di kepalaku, ternyata aku masih diberi kesempatan agar tidak kembali pada perangkapku yang dulu. Tapi yakinlah padaku, aku akan menolongmu merangkai sketsamu, karena seperti itulah kita, bersama-sama membuat sketsa yang tak pernah selesai, setidaknya salah satu dari kita dapat menyelesaikan sebuah sketsa yang akan menjadi kebahagian salah satu diantara kita. Sekarang aku dapat kembali bersikap normal seperti saat kemarin, membuat kekonyolan yang menciptakan tawa di antara kita, penantian konyol itu akhirnya aku selesaikan sebelum membuatku muak. 12 Sept '04 |
|||||||
| Home Corat Coret | |||||||