 |
FENOMENA WEBSITE |
| Something phenomenon about technology and our universe |
U F O
DARI berbagai teka-teki yang ada dalam kehidupan manusia,
teka-teki tentang kedatangan makhluk dari planet lain ke planet
Bumi hingga saat ini belum terjawab. Meskipun telah berbagai upaya dilakukan
untuk mengungkapkannya, tiadanya bukti nyata membuat keberadaan makhluk yang kemudian
digeneralisasikan sebagai ET (extra terrestrial being) dan UFO (unidentified flying object)
itu terus menjadi teka-teki.
Misteri inilah yang menarik industri film untuk membuat penafsiran masing-masing tentang
ET dan UFO tersebut. Sejak tahun 1955 sampai akhir abad ke-20, sudah ratusan film maupun
film seri bertemakan fenomena UFO dibuat dalam berbagai judul. Ada This Island Earth (1955),
War of the World (1953), dan terakhir adalah film sukses Independent Day (1996) serta
serial X-Files di televisi.
Apa yang menarik dari pembuatan film-film tersebut? Jika disimak sejak dari
This Island Earth sampai Independent Day pendekatan cerita terhadap fenomena UFO ternyata
nyaris sama, yaitu didasarkan pada kekhawatiran manusia di planet Bumi terhadap makhluk-makhluk
asing dari planet lain.
Pada tahun 1950-an sampai 1970-an, penggambaran makh-luk ET dan UFO bahkan terbilang sangat
mengerikan.
Makhluk-makhluk ET itu dalam War of The World, misalnya, digambarkan bisa masuk dan menguasai
tubuh manusia seperti halnya roh yang masuk ke tubuh manusia. Mereka bisa sembuh dengan
cepat sekali jika dilukai, bahkan ada yang digambarkan tidak mempan ditembak. Penggambaran
fisik mereka pun tak ubahnya gambaran setan yang mengerikan. Misalnya, mempunyai semacam
tanduk di kepala yang bisa melilit seperti dalam film Species, atau kepalanya tampak seperti
bentuk otak manusia.
Penggambaran mengerikan tersebut terjadi karena pada masa-masa itu memang pemahaman
manusia mengenai UFO dan ET belum banyak. Pengalaman beberapa nara sumber yang
merasa dirinya diculik makhluk ET, diterjemahkan menjadi gambaran makhluk ET yang jahat.
Bagaimana dengan gambaran sekarang?
Beruntunglah insan-insan perfilman sekarang ini karena sudah cukup banyak organisasi
yang secara khusus berusaha memahami fenomena ET dan UFO tersebut. Jumlah pengakuan
saksi yang semakin banyak, penggambaran yang semakin beragam, mulai mengarah pada suatu
gambaran yang lebih baik tentang fenomena ET dan UFO. Steven Spielberg barangkali bukan
sineas pertama yang mau mendengarkan nara sumber dalam fenomena tersebut secara mendalam.
Akan tetapi Spielberglah yang dengan sangat berhasil menampilkan sosok ET yang bersahabat
dengan manusia.
Pendekatan ET yang lebih bersahabat itu cukup berpengaruh terhadap cara pandang
sineas-sineas lain terhadap fenomena UFO dan ET. Meskipun demikian, penggambaran sebagai
makhluk jahat memang tetap dominan, antara lain karena unsur konflik dan aksi menjadi
modal utama banyak pembuat film untuk menarik pemirsa. Film Alien dan The Abyss,
misalnya, cukup sukses mempertegas citra makhluk ET yang jahat dan bermaksud menguasai bumi.
Akan tetapi unsur penyeimbang yang memperlihatkan pendekatan seperti Spielberg pun mulai
bermunculan, misalnya film Coneheads, Fire in The Sky dan Alien Nation.
***