 |
FENOMENA WEBSITE |
| Something phenomenon about technology and our universe |
Teleportasi, Mungkinkah?
Abad 21 kemungkinan akan jadi gerbang penemuan teknologi-teknologi yang mencengangkan.
Ketika kapasitas komputer telah membesar, kecepatan pengiriman sinyal informasi meninggi,
dan cetak biru manusia telah terpetakan, teleportasi pun tak menjadi sesuatu yang mustahil.
Akan tetapi tunggu dulu, sebelumnya apa yang dimaksud dengan teleportasi itu sendiri?
Bagi sebagian besar kita, 'benda' yang satu ini memang pasti belum familiar. Maklum,
selain perancangannya belum final, rangkaian peralatannya hanya ada di laboratorium khusus
yang biasa digunakan untuk menguji masalah-masalah fisika kuantum di sebuah universitas di
Amerika, yakni di Universitas Innsbruck.
Sesuai dengan susunan suku-katanya, benda yang satu ini memang tak lain dari sebuah konsep
moda transportasi jarak jauh. Akan tetapi berbeda dengan moda transportasi jarak jauh konvensional
seperti jet komersial long-haul Boeing 747, Airbus A340, atau B777 sekalipun; ajaibnya moda
transportasi ini tak bermedium. Lalu? Kedengarannya memang mengada-ada: dia tak perlu lagi
medium karena benda atau orang yang diantarnya akan lebih dulu dilebur hingga
tingkat atomik/kuanta untuk kemudian 'dikirim' lewat sinyal elektromagnetik, dan segera dibentuk
kembali sesuai ujud semula berikut sifat-sifat aslinya di tempat tujuan dengan teknik yang
tak kalah canggih. Itulah sebabnya, jangan kaget bila peralatan ini bisa mengantar muatannya
dalam waktu yang begitu singkat. Kabarnya, untuk jarak hingga 40.000 kilometer, dia bisa
menuntaskannya hanya dalam beberapa detik!
Sama sekali tak ada yang menyalahkan jika untuk sementara ini Anda mungkin hanya
tersenyum tak percaya karena gambarannya yang begitu absurd. Namun yang jelas di Innsbruck,
moda transportasi yang sarat peralatan canggih dan sepenuhnya tergantung fenomena alam
ini masih terus-menerus disempurnakan enam ilmuwan pilihan yang direkrut dari sejumlah
institusi yang juga pilihan. Sebaliknya, mereka nampak begitu optimis karena semua prinsip
teknologi yang akan digunakan untuk membangun moda transportasi ajaib ini telah berhasil
ditemukan.
Diantaranya adalah: komputer kapasitas tinggi yang paling tidak telah sanggup merekam
seluruh detil tiga dimensi tubuh manusia (seluruhnya mencakup 10 Gigabytes atau setara
dengan 10 CD ROM); teknik pemecahan sandi (enkriptografi); peralatan NMR (nuclear magnetic
resonance) dan ESR (electron spin resonance) yang bisa digunakan untuk menscan sebagian
besar atom atau nukleus dari tubuh manusia; transmiter via satelit yang sanggup mengirim
ribuan Gigabytes data hingga ke tempat terpencil seperti yang kini bisa kita saksikan
dalam teknologi internet; dan lebih spesifik lagi berkat jasa
Albert Einstein-Boris Podolsky-Nathan Rosen pada tahun 1930-an dunia telah berhasil
mengetahui jeroan setiap zat atau benda lewat teori mekanika kuantum.
(Teori ini menjelaskan perilaku unit-unit zat yang paling kecil, yakni kuantum energi
berikut partikel-partikel sub-atomnya seperti elektron, proton, dan quark.
Pemahaman atas perilaku partikel-partikel yang sangat kecil ini serta-merta membuka
cakrawala pandang baru ke dalam hukum-hukum fisika atom.)
Keenam ilmuwan yang tengah mempertaruhkan reputasinya itu, adalah Charles Bennett
dari Pusat Riset IBM, New York; Gilles Brassard dari Universitas Montreal; Claude
Crepeau dari Laboratorium Informatika de l'Ecole Normale Superieure, Paris; Richard
Jozsa dari Universitas Montreal; Asher Peres dari Institut Teknologi Haifa, Israel; dan
William K. Wootters dari Williams College, Massachusetts.
Begitu pun, ditengah segala kesan kecanggihannya, ide perancangan sang teleportasi
ternyata luar biasa sederhana. Seperti diungkap Samuel L. Braunstein dalam situs
schmuel @tangelo.phys. unm.edu, idenya hanya berangkat dari peralatan kantor yang
begitu sederhana yakni mesin faksimili dan peralatan transporter dari sekuel
fiksi-ilmiah Star Trek.
Star Trek
Jika Anda penggemar serial TV Star Trek, untuk memahami cara kerja atau kegunaan dari
teleportasi tentunya memang akan lebih mudah. Dalam serial karya Gene Roddenberry yang
dibangun dengan seting peradaban manusia pada abad 23 tersebut, peralatan ini biasa
digunakan para awak starship (kapal bintang) untuk berpindah tempat dari kapal mereka
ke tempat-tempat terpencil atau ke sesama kapal bintang. Jarak yang direngkuh biasanya
mencapai puluhanribu kilometer.
Cara kerjanya memang amat futuristik. Orang atau benda yang akan dipindah sebelumnya
diurai dahulu hingga ketingkat kuanta. Selanjutnya dengan transmiter khusus, kuanta-kuanta
ini dikirim dengan kecepatan cahaya menuju sebuah tempat yang posisi koordinatnya telah
direkam. Di tempat inilah orang atau benda yang dikirim tadi disusun kembali sesuai ujud
dan sifat semula. Seluruhnya dikendalikan dari mesin transporter di tempat pengiriman.
Alkisah, peralatan tersebut adalah hasil karya ahli teknik Montgomery Scott, awak kapal
ruang angkasa USS Enterprise NCC 1701D. Scott berhasil menuntaskannya pada tahun 2369.
Peralatan ini bisa memindahkan benda apapun selama dalam perjalanannya tidak menghadapi
perisai medan elektromagnetik. Dalam sekuel Star Trek yang lebih moderen, Lieutenant
Commander Data, melengkapinya dengan teleporter portabel yang dikenal sebagai Pattern
Enhancer.
Namun kini pertanyaannya: akankah alat seperti ini bisa jadi kenyataan? Untuk saat ini
memang belum ada seorangpun yang bisa memastikan. Namun dengan terkuaknya satu per satu
fenomena alam dengan segala kekuatannya, adanya revolusi di bidang rekayasa bioteknologi,
teknik informatika, serta kian dipahaminya prinsip-prinsip mekanika kuantum, paling tidak
telah menekan derajad 'kemustahilannya'. Bagi para ilmuwan sendiri, selama seluruh prinsip
pembangunnya logis dan ilmiah, tak ada sesuatu yang tak mungkin. Toh, teknologi laser
dan ponsel mungil yang sama-sama dikenalkan dalam serial ini, tanpa diduga kini telah
menjadi 'sesuatu' yang biasa-biasa saja.
Hingga sejauh ini, Bennett dan kawan-kawannya sendiri paling tidak telah mengantungi
sejumlah kesuksesan dalam eksperimennya. Diantara yang paling menakjubkan adalah lewat
uji coba teleportasi kuantum yang dilakukan tiga tahun lalu. Kala itu, di Innsbruck,
Bennett berhasil untuk pertama kalinya membuktikan bahwa moda teleportasi bukanlah
sesuatu yang mustahil. Dalam uji-coba ini, mereka berhasil 'mengirim' sebuah foton ke
suatu tempat. Dan, ditempat tujuan foton itu didapati dengan fisik dan sifat yang serupa.
Dalam eksperimen ini (lihat bagan 1), persisnya, sebuah stasiun yang diberi kode
nama 'Alice' ditugaskan mengirim 'sifat sebuah foton' ke stasiun yang diberi kode
nama 'Bob'. Sifat tersebut adalah polarisasi dengan sudut 45 derajad yang selanjutnya
diintepretasikan oleh mesin transporter. Ketika sifat berupa sudut itu dikirim, serentak
mesin pulsa foton menembakkan dua foton. Satu ditangkap detektor 1 untuk diterjemahkan,
sedang yang lainnya ditangkap detektor 2 untuk diisi sifat yang dikirim tadi.
Rancangan mesin (lihat foto 1) Bennett dan kawan-kawan ternyata berhasil menjalankan
misi inisial ini.
Meski sang foton tidak pindah secara fisik (hanya sifat dan perilakunya saja yang pindah),
salah seorang kolega Charles Bennett bernama Curtis Barrett mengatakan, dengan teleportasi kuantumnya,
keenam ilmuwan telah membuka pintu pengembangan ilmu dan teknologi masa depan.
Apa yang dicapainya semakin menggenapkan keingintahuan manusia akan alam dan jagad raya,
bahwa aplikasi yang terus-menerus dari fenomena fisika telah berkali-kali membuka
cakrawala baru.
(bma)