Tradisi
Tradisi merupakan gambaran sikap dan perilaku manusia yang
telah berproses dalam waktu lama dan dilaksanakan secara turun-temurun dari
nenek moyang. Tradisi dipengaruhi oleh kecenderungan untuk berbuat sesuatu
dan mengulang sesuatu sehingga menjadi kebiasaan.
Tradisi merupakan gambaran sikap dan perilaku manusia yang
telah berproses dalam waktu lama dan dilaksanakan secara turun-temurun dari
nenek moyang. Tradisi dipengaruhi oleh kecenderungan untuk berbuat sesuatu
dan mengulang sesuatu sehingga menjadi kebiasaan.
Tradisi
di bali
1.Tradisi
Keunikan di Desa Trunyan
Keunikan tradisi pemakaman mayat di Desa Trunyan sampai sekarang ini masih mejadi
tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh warga setempat. Prosesi orang
meninggal di Bali, biasanya dikubur ataupun dibakar. Tapi kalau di desa Trunyan
tidak seperti itu, tubuh orang yang sudah meninggal melalui sebuah prosesi dan
akhirnya dibungkus dengan kain kapan, dan selanjutnya ditaruh di atas tanah
di bawah taru menyan, dikelilingi anyaman dari pohon bambu atau yang disebut
ancak saji. Unik bukan…yang cukup aneh juga mayat tidak mengeluarkan bau
sedikitpun. jadi kalu kebetulan anda wisata ke Bali dan mengunjungi tempat ini
tidak perlu takut dengan bau yang menyengat, karena mungkin bau tersebut sudah
diserap oleh Taru/ pohon Menyan yang tumbuh besar di areal pemakaman. Desa Trunyan
memang merupakan desa Tua di Bali, yang masih memegang teguh warisan dan tradisi
leluhur.
Jika anda melakukan perjalan tour ataupun wisata keliling Bali, kalau dari
Denpasar berjarak sekitar 65 km atau sekitar 2 jam perjalanan dengan kendaraan.
Sebelum sampai di Desa Trunyan, anda akan ketemu beberapa tempat-tempat menarik
yang mungkin bisa anda kunjungi, seperti Ubud, Goa gajah, tampaksiring dan
penelokan kintamani tempat menyaksikan keindahan panorama Danau Batur. Dari
penelokan anda turun menuju tepi danau batur tepatnya di Desa Kedisan, di
sini dibangun dermaga yang diperuntukkan untuk penyebrangan menuju Desa Trunyan.
Anda bisa menyewa boat, satu buah boat muat sekitar 7 penumpang, berwisata
mengelilingi danau Batur yang indah, kemudian melanjutkan penyebrangan mengunjungi
Desa Trunyan.
Trunyan sendiri diambil dari kata Taru dan Menyan, taru artinya pohon dan
menyan artinya harum, sehingga pohon yang berbau harum diyakini dapat menyerap
bau, sehingga mayat tidak mengeluarkan bau. Konon karena perintah raja, khawatir
dengan pohon menyan yang baunya harum dan menyengat hidung, membuat banyak
orang yang akan mencarinya, nah untuk menghindari hal ini, maka di bawah pohon
ditaruh jenazah-jenazah yang diharapkan mengeluarkan bau busuk, jenazah yang
diharapkan akan mengeluarkan bau busuk ternyata tidak mengeluarkan bau sama
sekali dan taru menyanpun tidak mengeluarkan bau harum lagi. Dan tradisi ini
masih berlangsung sampai sekarang.
Tapi tidak semua jenazah di biarkan di alam terbuka di bawah taru menyan,
tempat ini hanya diperuntukkan bagi yang meninggal sudah dewasa, meninggal
secara normal dan tidak cacat, untuk jenazah bayi di kubur seperti biasanya
di Sema Muda dan jenazah yang cacat, meninggal karena tidak normal karena
bunuh diri, dibunuh, kecelakaan dikuburkan di Sema bantas.


2.Tradisi
Mekotek
Gerebek Mekotek atau lebih dikenal dengan Mekotek merupakan salah satu tradisi
di Bali yang hanya ada di desa Munggu, kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.
Lokasinya tidak begitu jauh dari objek wisata Tanah Lot. Perayaannya tepat
pada Hari Raya Kuningan atau 10 hari setelah Hari Raya Galunagn. Pelaksanaan
upacara Mekotek pada walnya diselenggarakan untuk menyambut armada perang
kerajaan Mengwi yang melintas di daerah Munggu yang akan berangkat ke medan
laga, juga dirayakan untuk menyambut pasukan saat mendapat kemenangan perang
dengan kerajaan Blambangan di Pulau Jawa. Dulu pada jaman kolonial Belanda
tradisi ini pernah ditiadakan, tapi kemudian terjadi bencana, tiba-tiba 11
orang meninggal di kalangan warga Munggu, kemudian melalui perundingan yang
alot dengan pihak kolonial, perayaan ini bisa kembali dirayakan sampai sekarang
ini.
Perayaan mekotek ini dulunya menggunakan tombak dari besi, yang memberikan
semangat pasukan ke atau dari medan perang, namun seiring perubahan waktu
dan untuk menghindari peserta terluka, maka tombak diganti dengan tongkat
dari pulet yang sudah dikuliti yang panjangnya sekitar 2 – 3.5 meter.
Perayaan di Hari raya Kuningan, peserta berpakaian pakaian adat madya, berkumpul
di Pura Dalem Munggu, hampir seluruh warga yang terdiri 15 banjar dari umur
12 – 60 tahun ikut merayakannya. Kemudian tongkat kayu diadu sehingga
menimbulkan bunyi “tek tek” di kimpulkan sehingga membentuk sebuah
kerucut/ piramid, bagi yang punya nyali ataupun yang mungkin punya kaul naik
kepuncuk kumpulan tongkat kayu dan berdiri diatasnya seperti komando yang
memberikan semangat bagi pasukannya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok yang lain, membentuk tongkat seperti
kerucut dan nantinya akan dipertemukan antara satu dengan yang lainnya. Komando
yang berdiri diatas kumpulan tongkat akan memebri komando layaknya panglima
perang dan menabrakkanya dengan kelompok lain, dengan diiring sebuah gamelan
sehingga memacu semangat peserta upacara. Walupun sedikit membahayakan tepi
memang cukup menyenangkan, tidak jarang yang terjatuh tidak bisa sampai puncak,
tapi semua gembira, senang, tidak ada amarah, inti lain yang dapat dipetik
dari tradisi Grebek Mekotek atau perang kayu, perang tak selalu menyebabkan
permusuhan dan korban jiwa


3.Tradis
Perang Keupat
Satu
lagi tradisi unik di Bali yaitu Perang Ketupat yang dirayakan satu tahun
sekali di desa Kapal, Kabupaten Badung. Tujuan diadakan prosesi ini sebagai
wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil
panen dan untuk doa keselamatan dan memohon kesejahteraan bagi umat manusia.
Lama prosesi perang ketupat atau Aci Rah Penganngon ini sekitar 30 menit di
jalan raya, sehingga arus lalu lintas sementara
dalam waktui 30 menit ditutup, upacara diikuti oleh warga desa kapal. Tradisi
ini memnag unik sehingga banyak disaksikan wisatawan.
Ada tradisi yang sama mengenai perang ketupat ini
di wilayah Indonesia di luar pulau Bali. Tradisi perang ketupat ini dirayakan
di Tempilang, Bangka Barat, Bangka Belitung, tujuan dari tradisi tersebut
menggambarkan perang terhadap makhluk-makhluk halus yang jahat, yang
sering mengganggu kehidupan masyarakat. Tujuannya berbeda dengan yang di Bali,
warisan budaya leluhur ini memang masih dirayakan secara turun-temurun.
Sebelum prosesi ini digelar, peserta yang hanya melibatkan kaum pria ini melakukan
persembahyangan bersama. Seperti namanya perang ketupat, tentu peluru yang digunakan
adalah sebuah ketupat, yang dikumpulkan dari warga kapal, dan warga dipisah
menjadi 2 kelompok yang nantinya saling serang dengan ketupat, saat perang dimulai
semua saling serang satu-sama lainnya. Dan setelah perang ketupat usai, mereka
saling berjabat tangan, bercerita satu sama yang lain, tidak ada permusuhan
diantara mereka, hanya berupa ungkapan syukur atas karunia yang mereka peroleh


4.Tradisi
Omed-Omedan
Tradisi
omed-omedan ataupun med-medan yang berarti tarik-menarik dalam bahasa Indonesia,
ini diikuti oleh pemuda dan pemudi yang belum menikah, berumur antara 17-30
tahun, med-medan atau tarik-menarik diikuti adegan berciuman antara satu pemuda
dan pemudi.Tradisi ini memang tergolong sangat unik dan membuat kita penasaran,
prosesi ini hanya dirayakan sehari setelah upacara Nyepi atau pada hari Ngembak
Geni, tanggal 1 pada tahun Baru Caka kalender Bali. Tradisi unik ini dirayakan
di desa Sesetan, Denpasar Selatan, Denpasar. Prosesi omed-omedan ini di mulai
dari acara persembahyangan bersama, kemudian dibagi menjadi 2 kelompok pemuda
dan pemudi yang saling berhadapan, saling tarik-menarik, berpelukan dan berciuman
ditonton oleh ribuan warga, bagi yang tidak berhasil mencium pasangannya dihadiahi
siraman air sehingga menambah keriuhan suasana. Jika anda sedang wisata ataupun
liburan ke Bali, coba saja saksikan tradisi unik ini, hanya sekitar 15 menit
dengan kendaraan dari bandara.
Sesuatu yang unik tentunya ada kisah yang melatarbelakanginya. Konon pada saat
itu, ada sebuah kerajaan kecil di wilayah Denpasar Selatan, namanya Puri Oka,
digelar permainan med-medan atau terik menarik antara pemuda dan pemudi, karena
saking gembira dan serunya permainan, acara tarik menarik berubah menjadi rangkul
merangkul, sehingga situasi menjadi gaduh. Raja yang kala itu sakit mendengar
kebisingan ini menjadi marah, dengan kondisi yang lemah raja keluar melihat
warganya,namun melihat adegan seperti ini, amarah raja hilang dan sakitnya hilang
dan pulih seperti sedia kala, maka dari itu raja mengeluarkan titah, agar upacara
ini dilaksanakan setiap tahunnya yaitu pada hari ngembak geni.
Di tengah kehidupan Kota Denpasar yang sudah modern, tradisi unik warisan leluhur
ini yang diwariskan sekitar tahun 1900-an masih juga dirayakan sampai sekarang
ini. Sesuai dengan adat Timur yang masih memegang etika, tentunya tidak semua
masyarakat Bali bahkan warga Sesetan yang setuju dengan tradisi ini, tradisi
ini pernah dihentikan, namun Namun, tak lama kemudian, terjadi perkelahian 2
ekor babi di pelataran Pura, yang amat seru dan anehnya keduanya menghilang
begitu saja di tengah perkelahian.Oleh warga setempat, peristiwa itu dianggap
sebagai pertanda buruk. Maka, omed-medan pun kembali dilangsungkan.


5.Tradisi
Perang Pandan
Salah
satu desa Bali Aga yang masih mempertahankan pola hidup secara tradisional ada
di kabupaten paling Timur pulau Bali, yaitu Karangasem, memiliki tradisi dan
prosesi unik perang pandan yang juga dikenal dengan nama mekare-kare atau mageret
pandan. Tradisi ini dirayakan di Desa Tenganan Dauh Tukad, lokasinya sekitar
10 km dari objek wisata Candidasa, 78 km dari Kota Denpasar, bisa ditempuh sekitar
90 menit dengan kendaraan bermotor ke arah timur laut dari Ibu Kota Bali.Sebelum
prosesi perang pandan dimulai, warga Tenganan melakukan ritual berkeliling desa.
Selain tradisi unik perang pandan yang merupakan warisan budaya leluhur, Desa
Tenganan mempunyai hasil karya seni yang sangat cantik dan indah yaitu kain
tenun gringsing yang proses pembuatanya sangat rumit, dibuat dengan memakan
waktu yang cukup lama dan warna alami dari tumbuhan. Memang Tenganan sampai
sekarang masih mempertahankan tradisi-tradisi yang diwariskan, seperti tata
cara kawin harus sesama warga setempat, besar, bentuk dan letak bangunan serta
pekarangan, juga letak pura dibuat dengan mengikuti aturan adat yang secara
turun-temurun dipertahankan, sehingga Tenganan akan mejadi objek untuk pengembangan
desa wisata.
Prosesi perang pandan atau mekare-kare di Tenganan merupakan upacara persembahan
untuk menghormati para leluhur dan juga Dewa Indra yang merupakan Dewa Perang,
yang bertempur melawan Maya Denawa seorang raja keturunan raksasa yang sakti
dan sewenag-wenang, yang melarang rakyatnya menyembah Tuhan. Keyakinan beragama
di Tenganan berbeda dengan Agama Hindhu lainnya di bali, tidak mengenal kasta
dan meyakini Dewa Indra sebagai dewa Perang dan dewa dari segala Dewa. Untuk
menhormati Dewa Indra mereka melakukan upacara perang Pandan.
Upacara perang pandan ini, memakai senjata pandan berduri yang perlambang sebuah
gada yang dipakai berperang, perang berhadapan satu lawan satu dan diikuti oleh
para lelaki baik itu anak-anak, dewasa maupun orang tua. Upacara perang pandan
dirayakan pada bulan ke 5 kalender bali, selama 2 hari, setiap pertarungan berjalan
singkat sekitar 1 menit dilakukan bergilir selama 3 jam, walaupun akhirnya mereka
sampai mengeluarkan darah karena tertancap duri pandan, setelah perang usai
mereka bersama-sama membantu satu dan lainnya mencabuti duri pandan dan meberi
obat berupa daun sirih dan kunyit, sama sekali tidak meninggalkan kesan permusuhan


6.TradisiGebug
Ende di Seraya – Karangasem
Ada
banyak budaya dan tradisi unik warisan leluhur
di Bali, dan beberapa ada di Kabupaten karangasem seperti tradisi megibung,
kain geringsing di Tenganan dan yang satu ini adalah Gebug Ende atau Gebug Seraya.
Seperti namanya tradisi ini berasal dari Desa Seraya, sedangkan Gebug berarti
memukul dengan sekuat tenaga dengan tongkat rotan (penyalin) sepanjang 1,5 –
2 meter dan Ende berarti tameng yang digunakan untuk menangkis pukulan. Gebug
Ende ini ada unsur seni, seperti seni tari yang dipadukan dengan ketangkasan
para penarinya memainkan tongkat dan tameng, dimana saat atraksi ini dilakukan,
diiringi dengan iringan musik gamelan, yang memacu semangat para penari untuk
saling memukul, menhindar dan menangkis. Desa Seraya terletak sekitar 15 km
dari objek wisata Candidasa, atau sekitar 2,5 jam perjalanan dengan kendaraan
dari bandara Ngurah Rai.
Saat Gebug Ende berlangsung bukan hanya untuk memperlihatkan
ketangkasan saja, tapi ada nilai-nilai sakralnya yang dikeramatkan penduduk
setempat, tarian Gebug merupakan kesenian klasik yang
digelar setiap musim kemarau dengan tujuan untuk mengundang turunnya
hujan, ritual ini yang diyakini dapat menurunkan hujan, dimainkan oleh dua orang
lelaki baik dewasa maupun anak-anak yang sama-sama membawa ende dan penyalin.
Sebelum Gebug Ende berlangsung terlebih dahulu diadakan ritual dengan banten
atau sesaji, agar permohoanan terkabul. Setelah siap dua pemain yang dilakukan
oleh anak-anak maupun lelaki dewasa, dengan pakaian adat Bali tanpa memakai
baju, akan saling serang yang dipimpin oleh wasit (saye), antara dua penari
di tengah-tengah di batasi oleh tongkat rotan. Sebelumnya wasit memberi petunjuk
dan ketentuan daerah mana saja yang bisa diserang.
Tradisi Gebug Ende merupakan warisan budaya leluhur yang memang diyakini dapat
menurunkan hujan. Menurut kepercayaan setempat, hujan akan turun apabila pertandingan
mampu memercikan darah. Semakin banyak maka akan semakin cepat hujan akan turun.
Tidak ada waktu tertentu dalam permainan tersebut. Yang jelas permainan akan
berakhir bila salah satu permainan telah terdesak. Tidak ada kata dendam setelah
itu. Tradis ini memang sudah cukup terkenal, kalau anda mau wisata di Bali dan
ingin menyaksikannya anda coba berkunjung ke daerah karangasem, belahan Timur
pulau Bali.


7.Tradisi
ngaben
Ngaben
adalah upacara Pitra Yadnya, rangkain upacara Ngaben salah satunya prosesi pembakaran
mayat yang bertujuan untuk menyucikan roh leluhur orang sudah meninggal. Tradisi
ini masih dilakukan secara turun-temurun oleh hampir semua masyarakat Hindhu
di Bali. Menurut Agama Hindhu terutama di Bali, tubuh manusia terdiri dari badan
halus dan badan kasar juga karma. Badan kasar terdiri dari 5 unsur yaitu zat
padat, cair, panas, angin dan ruang hampa, lima elemen ini disebut Panca Maha
Bhuta, pada saat meninggal lima elemen ini akan menyatu kembali ke asalnya,
dan badan halus yang berupa roh yang meninggalkan badan kasar akan disucikan
pada saat upacara Ngaben. Dan karma/ hasil perbuatan yang dilakukan selama hidup,
akan selalu melekat dan akan berpengaruh kepada kehidupan selanjutnya dan saat
reinkarnasi.
Berikut beberapa gambar yang diambil tanggal 28 Juli 2012 saat upacara Ngaben
di Dadia Dalem Prajurit desa Culik, Abang, Kabupaten Karangasem.
Kata Ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal dan ngabu yang berarti
abu, untuk membuat sesuatu menjadi abu diperlukan api, dan dalam ajaran agama
Hindhu yang mempunyai kekuatan sebagai dewa Api adalah Brahma. Jadi upacara
Ngaben sendiri adalah proses penyucian roh dengan cara dibakar menggunakan api
agar bisa dapat kembali ke sang pencipta, api penjelmaan dari Dewa Brahma bisa
membakar semua kekotoran yang melekat pada jasad dan roh orang yang telah meningggal.
upacara ngaben dianggap sebagai simbolis pengantar atma/ jiwa ke alam pitra
atau baka. Proses pengantaran atma ke alam pitra merupakan prinsip utama yang
slalu dituangkan melalui symbol berupa upacara yang disebut Ngaben, proses ini
merupakan prinsip pertama dalam ontologi upacara ngaben.
Upacara ngaben dilaksanakan beberapa hari setelah orang tersebut meninggal,
upacara ini bisa dilakukan secara perorangan, sesama satu keluarga besar,
satu banjar ataupun satu desa ini sesuai dengan tingkat kemampuan ekonomi
seseorang, adat dan tradisi desa setempat di mana orang tersebut meninggal,
sehingga tubuh orang yang meninggal harus dikubur terkebih dahulu menunggu
beberapa tahun berikutnya dan menentukan hari baik yang telah ditentukan oleh
Pendeta yang akan memimpin upacara,.Upacara ini biasanya dilakukan dengan
semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa kita
tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu dapat menghambat
perjalanan sang arwah menuju tempatnya.
Jika anda kebetulan Liburan ataupun wisata di Bali, anda bisa melihat prosesi
ini terutama di hari baik menurut agama Hindu, pada penanggalan masehi yaitu
pada bulan Juli dan Agustus.


8.Tradisi
Megibung Di karangasem
Selain
memiliki tempat wisata yang indah, Bali juga kaya dengan budaya dan tradisi
unik, salah satunya megibung, adalah merupakan salah satu tradisi warisan leluhur,
dimana merupakan tradisi makan bersama dalam satu wadah. Selain makan bisa sampai
puas tanpa rasa sungkan, megibung penuh nilai kebersamaan, bisa sambil bertukar
pikiran, bersenda gurau, bahkan bisa saling mengenal atau lebih mempererat persahabatan
sesama warga. Makan bersama atau megibung ini, dalam setiap satu wadah terdiri
dari 5-8 orang, memang merupakan wujud kebersamaan tidak ada perbedaan antara
laki dan perempuan juga perbedaan kasta ataupun warn, semua duduk berbaur dan
makan bersama, tapi pada perkembangan berikutnya antara laki dan perempuan dipisahkan,
tapi kalu masih dalam satu keluarga ataupun tetangga, mereka memilih bergabung.Tradisi
ini masih tertanam kuat di daerah Karangasem Bali.
Tradisi megibung ini dikenalkan oleh Raja Karangasem
yaitu I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1614 Caka atau 1692
Masehi. Ketika pada saat itu, Karangasem dalam ekspedisinya
menaklukkan Raja-raja yang ada di tanah Lombok. Ketika istirahat dari peperangan,
raja menganjurkan semua prajuritnya untuk makan bersama dalam posisi melingkar
yang belakangan dikenal dengan nama Megibung. Bahkan,
raja sendiri konon ikut makan bersama dengan prajuritnya.
Megibung dimulai dari masak masakan khas traditional
Bali secara bersama-sama, baik itu nasi maupun lauknya. Setelah selesai memasak,
warga kemudian menyiapkan makanan itu untuk disantap. Nasi
putih diletakkan dalam satu wadah yang disebut gibungan, sedangkan lauk
dan sayur yang akan disantap disebut karangan. Tradisi megibung ini dilangsungkan
saat ada Upacara Adat dan Keagamaan di suatu tempat, terutama
di daerah Karangasem, misalnya dalam Upacara yadnya seperti pernikahan, odalan
di pura, ngaben, upacara tiga bulanan, dan hajatan lainnya. Pada kegiatan ini
biasanya yang punya acara memberikan undangan kepada kerabat serta sanak
saudaranya guna menyaksikan prosesi kegiatan upacara keagamaan tersebut. Sehingga
prosesi upacara dapat berlangsung seperti yang diharapkan.
Ada beberapa etika yang perlu diperhatikan saat acara
megibung, sebelum makan kita harus cuci tangan terlebuh dahulu, tidak menjatuhkan
remah/ sisa makanan dari suapan , tidak mengambil makanan disebelah kita, jika
salah satu sudah merasa puas dan kenyang dilarang meninggalkan temannya, walaupun
aturan ini tidak tertulis tapi masih diikuti peserta makan megibung.
Di Karangasem, makan megibung secara maraton pernah dilakukan ketika awal pemerintahan
Bupati Wayan Geredeg. Makan megibung yang dilakukan tanggal 26 Desember 2006
lalu ini digelar di Taman Sukasada ,Ujung dengan jumlah peserta tidak kurang
dari 20.520 orang


9.Tradisi Ngerebeg di Tegallalang
Natanews, Gianyar, Ada tradisi unik yang hingga kini masih dilaksanakan warga
Desa Adat Tegallalang, Gianyar, yakni ritual "Ngerebeg". Ritual ini
dilangsungkan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada "rahina budha kliwon
pegat uwakan", sehari sebelum puncak karya piodalan di Pura Duur Bingin,
Desa Adat Tegallalang yang jatuh setiap Wraspati, Umanis, Wuku Pahang.
Ritual "Ngerebeg" ini diikuti ribuan anak-anak hingga remaja setempat.
Yang menarik dari ritual ini, mereka menghiasi tubuh dan wajahnya menggunakan
cat air, hingga coreng-moreng. Ada yang berpenampilan seperti anak-anak punk,
ada pula menghiasi wajahnya layaknya hantu, setan bahkan pocong yang menyeramkan.
Semua itu sebagai simbol dari wong samar atau pun bhuta kala yang merupakan
"rerencangan" (pasukan) Ida Bhatara Ratu Gede Duur Bingin.
Ritual ini diawali dengan menghaturkan sesaji berupa pica gede dan pica alit
(makan siang)kepada seluruh peserta di halaman Pura Duur Bingin. Sekitar 12.15.
prosesi "Ngerebeg" pun dimulai. Para peserta lengkap membawa penjor
yang terbuat dari ujung pelepah daun enau dan dihiasi janur, lalu berjalan
kaki dari Jaba Pura Duur Bingin, kemudian mengelilingi desa dengan menempuh
jarak kurang lebih 2 – 3 km.
Sesuai dengan keyakinan dan penuturan tetua desa setempat, Ida Bhatara yang
berstana di Pura Duur Bingin memiliki panjak (pasukan) "wong samar"
yang menjaga setiap sudut wilayah desa. Untuk itulah, setiap menjelang piodalan,
para panjak "wong samar" ini harus diberikan sesaji melalui ritual
"Ngerebeg".
Pengempon Pura Duur Bingin sangat meyakini tradisi yang sudah diwariskan
sejak turun-temurun ini. Karena itu pula warga setempat tak berani tidak menggelar
ritual tersebut, sebab takut akan terjadi bencana melanda desa setempat. Menurut
penuturan Jero Mangku Pura Duur Bingin, ritual "Ngerebeg" ini diyakini
sebagai upaya untuk menetralisir sifat buruk manusia (Sad Ripu) menjelang
upacara Piodalan di Pura Duur Bingin.
Jero Mangku Pura Duur Bingin menjelaskan, ritual ini diikuti anak-anak dengan
keyakinan bahwa anak-anak memiliki tingkat kesucian yang tinggi dan sangat
disukai wong samar. Dengan mengikutkan anak-anak sebagai peserta, wong samar
sebagai panjak Ida Bhatara Pura Duur Bingin pun akan ikut berbaur untuk dipersembahkan
sesajen.
Diakui, keyakinan ini memang selalu terbukti secara kasat mata. Terbukti,
saat disuguhkan paica berupa makanan dalam porsi besar kepada para peserta
yang didominasi anak-anak dan remaja, selalu habis disantap. Bahkan, tak jarang
mereka selalu minta tambahan. "Tak masuk akaljika porsi makanan sebanyak
itu dihabiskan oleh anak-anak. Karena itu, kami yakin saat itu wong samar
sudah ikut terlibat di dalamnya," terang Jero Mangku Pura Duur Bingin
didampingi Jero Mangku Pura Geriya dan Jero Mangku Dasaran Pura Duur Bingin.Iring-iringan
peserta "Ngerebeg" ini sempat menarik perhatian wisatawan yang kebetulan
melintas di jalur wisata menuju Ceking, Tegallalang. Berberapa wisman tampak
asyik membidikkan kameranya ke arah peserta yang berpenampilan serba menyeramkan
itu

10.Tradisi
Perang papah Biu
Masyarakat
Desa Pengotan, Kecamatan/Kabupaten Bangli, masih melestarikan tradisi Perang
"Papah Biu" menggunakan pelepah pisang yang jika di Kabupaten Karangasem
dikelan sebagai "Perang Pandan" yang alatnya menggunakan pandan berduri.
Sesuai namanya, dalam Perang "Papah Biu"
peserta dipersenjatai dengan pelepah pisang yang telah dipotong-potong sepanjang
setengah meter. "Tidak ada aturan yang baku dalam Perang Papah Biu yang
digelar oleh masyarakat setiap November ini. Para pemain bebas menggebuki
lawan dan memukul dengan senjatanya, yakni pelepah pisang. Karena itu, katanya,
banyak peserta yang terluka karenanya. Meskipun demikian, tidak ada rasa sakit
di tubuh korban yang terluka serta tidak ada dendam.
"Sebenarnya tradisi Perang Papah Biu
ini oleh masyarakat lebih dikenal sebagai Tari Baris Babuang, yang sakral
dan hanya ada satu-satunya di desa Pakraman Pengotan sebagai warisan ratusan
tahun silam," katanya.
Jro Wayan Kopok mengemukakan, sebelum penampilan
Perang Papah Biu oleh ratusan pemuda setempat, awalnya tarian ini dibawakan
oleh para paduluan (pemuka adat).
Para paduluan ini, kata dia, dibagi menjadi
empat kelompok. Masing-masing membawakan tari Baris Babuang, dengan gerakan
yang sangat khas.
Di bagian akhir dari tarian ini lah, katanya,
Perang Papah Biu mulai dilakukan. Para penari memukulkan senjata Papah Biunya
kepada penari lainnya.
Namun yang lebih menarik, jelas Jro Wayan
Kopok, adalah saat penampilan Tari Baris Babuang yang dibawakan secara massal
oleh ratusan pemuda Desa Pengotan.
"Semua pemuda yang ada di Pengotan wajib
ikut dalam Perang Papah Biu ini," katanya.
Dipimpin oleh salah seoarang "paduluan",
tarian Baris Babuang yang dibawakan ratusan pemuda ini pun mulai dilakukan
hingga tiga kali putaran.
"Seperti halnya penampilan para paduluan,
diakhir tarian baris ini, perang papah biu pun kembali pecah," katanya.
Layaknya sebuah tawuran massal, kata Jro Wayan
Kopok, para pemuda ini dengan beringas memukuli para penari yang lain.
Dia menjelaskan, selain sebagai bentuk persembahan
ke hadapan Tuhan, kegiatan itu juga bertujuan untuk mempererat kebersamaan
antarwarga.
Awalnya, Tari Baris Babuang, biasanya dilakukan
tepat pada tengah malam, pukul 00.00 wita. Namun kini, seiiring dengan perkembangan
umat, tarian ini sudah bisa dilakukan pada saat menjelang malam.
Sarana pelepah pisang ini, menurutnya, lantaran
terkait dengan keberadaan Pura Tuluk Biu, di Gunung Abang, Kintamani.
"Selama ini, memang tidak ada prasasti
yang bisa membuktikan itu. Namun, kami percaya dan yakin secara turun temurun,
ada ikatan yang kuat dengan keberadaan Pura Tuluk Biu, Gunung Abang,"
kata Jro Kopok.
