PURA

Pura adalah istilah untuk tempat ibadah agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu.Kata "Pura" sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sanskerta (-pur, -puri, -pura, -puram, -pore), yang artinya adalah kota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangan pemakaiannya di Pulau Bali, istilah "Pura" menjadi khusus untuk tempat ibadah; sedangkan istilah "Puri" menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan

YANG Pertama Adalah Pura besakih

Pura Besakih sudah termasyhur di seluruh dunia. Ratusan artikel dalam berbagai bahasa sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia melalui berbagai media komunikasi. Ada yang menyebut, Pura Besakih sebagai”Ibu-nya semua pura”. Sampai abad 21 ini, Pura Besakih memang yang terbesar. Siapa yang meletakkan batu pertama dalam pembangunan pura ini ? Ternyata beliau adalah seorang tokoh spiritual India yang lama hidup di Jawa. Namanya Markandeya. Ada yang menambah kata Resi di depan namanya. Ada pula yang memberikan julukan Bhatara Giri Rawang.
Pura Besakih adalah gugusan 86 buah pura. Kompleks Pura Besakih terdiri atas 18 buah pura umum, 4 pura Catur Lawa, 11 pura pedharman, 6 pura non-pedharman, 29 pura dadia, 7 pura berkaitan dengan pura dadia dan 11 pura lainnya.
Sebelum Pura Besakih berdiri megah seperti sekarang, dahulu kawasan itu berupa hutan belantara. Binatang buas masih banyak hidup di sana. Ketika itu juga belum ada Selat Bali yang kini dikenal dengan nama Segara Rupek. Daratan Bali dan Jawa dahulu kala konon masih menjadi satu, belum terpisahkan laut. Itulah sebabnya, daratan ini (Bali dan Jawa) sering disebut Pulau Dawa. Nama itu diberikan mungkin lantaran daratan ini panjang. Sebagaimana kita ketahui, kata “dawa” berarti panjangIni

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto pura besakih

Yang Ke-2 Yaitu Pura Batur

Sejarah Pura Batur
Sebelum letusan Gunung Batur yang dasyat pada tahun 1917, Pura Batur semula terletak di kaki gunung itu dekat tepi barat daya danau Batur yang merusakkan 65.000 rumah, 2.500 pura dan lebih dari ribuan kehidupan. Tetapi keajaiban menghentikannya pada kaki Pura. Orang-orang melihat semua ini sebagai pertanda baik dan melanjutkan untuk tetap tinggal disana. Pada tahun 1926 letusan baru menutupi seluruh pura kecuali “pelinggih” yang tertinggi, temapt pemujaan kepada Tuhan dalam perwujudan Dewi Danu, Dewi air danau. Kemudian warga desa bersikeras untuk menempatkannya di tempat yang lebih tinggi dan memulai tusag mereka untuk membangun kembali pura. Mereka membawa pelinggih yang masih utuh dan membangun kembali Pura Batur.
Beberapa lontar suci Bali kuno menceritakan asal mula Pura Batur yang merupakan bagian dari “sad kahyangan“, enam kelompok pura yang ada di Bali yang tercatat dalam lontar Widhi Sastra, lontar Raja Purana dan Babad Pasek Kayu Selem. Pura Batur juga dinyatakan sebagai pura “Kayangan Jagat” yang disungsung oleh masyarakat umum.
Sejarah Pura Batur merupakan persembahan untuk Dewi kesuburan, Dewi Danu. Dia adalah Dewi dari air danau. Air yang kaya akan mineral mengalir dari Danau Batur, mengalir dari satu petak sawah ke petak sawah yang lainnya, lambat laun turun ke bumi. Dalam lontar Usaha Bali, salah satu sastra suci yang ditempatkan di pura itu, ada legenda kuno yang melukiskan susunan dari tahta Dewi Danu.
Legenda tersebut diceritakan sebagai berikut :
Pada suatu malam di awal bulan kelima Margasari Dewa Pasupati (Siwa) memindahkan puncak Gunung Mahameru di India dan membaginya menjadi dua bagian. Dibawanya satu bagian dengan tangan kirinya dan yang satunya dengan tangan kanannya. Kedua belahan itu dibawa menjadi tahta. Belahan yang dibawa dengan tangan kanannya menjadi Gunung Agung tahta untuk anaknya, Dewa Putranjaya (mahadewa Siwa) dan yang dibawanya dengan tangan kiri menjadi Gunung Batur tahta dari Dewi Danu, Dewi Air Danau. Legenda ini menjadikan Gunung terbesar di Bali dan dua elemen simbolis “laki-laki dan perempuan” (Purasa dan Pradana) atau dua asal mula manifestasi dari sumber; Tuhan (Ida Sang Hyang Wishi Wasa).

Ini Foto pura batur

Yang ke-3 Pura Tanah Lot

Pura ini terletak di pantai selatan Pulau Bali yaitu di Desa Braban. Kecamatan Kediri, Tabanan atau sekitar 30 km dari Kota Denpasar. Pura ini menampilkan pesona alam yang sangat indah dan sempurna. Selain karena keindahan alamnya, pura yang merupakan Dang Kahyangan ini juga diyakini sebagai sumber kemakmuran jagat. Pura yang juga dijadikan objek wisata ini ramai dikunjungi tamu mancanegara maupun nusantara. Bagaimana sejarah berdirinya pura ini?
Cikal bakal berdirinya pura ini sangat erat kaitannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha. Orang suci yang juga bernama Danghyang Dwijendra itu berkeliling di Pulau Bali pada tahun Içaka 1411 atau tahun 1489 M. Beliau datang dari Blambangan pada abad ke-15.
Seperti dituturkan dalam kitab Dwijendra Tattwa, setelah berada di Pura Rambut Siwi untuk beberapa lama, beliau yang juga dikenal dengan julukan Pedanda Sakti Wawu Rawuh ini meneruskan perjalanan menuju arah timur seusai melakukan sembahyang pagi, Surya Sewana (memuja Dewa Surya).
Di dalam perjalanan itu, beliau asyik menikmati keindahan alam, sehingga tidak terasa, sore hari telah tiba di pantai selalan Pulau Bali ini. Di pantai ini terdapat sebuah pulau kecil yang berdiri di atas tanah parangan (tanah keras). Di situlah Danghyang Nirartha beristirahat. Tidak lama setelah beristirahat, datanglah para nelayan dengan membawa berbagai makanan untuk dipersembahkan kepada beliau.
Oleh karena hari sudah sore, para nelayan mohon agar beliau berkenan menginap di pondok mereka. Namun, permohonan itu ditotak karena beliau lebih senang bermalam di pulau kecil itu. Di samping karena udaranya yang segar, dari sana beliau dapat melepaskan pandangannya ke segala arah.

Foto pura Tanah lot