|
Sejarah Kota Medan
[2]
4. Penjajahan Belanda
di Tanah Deli
Belanda yang menjajah Nusantara kurang
lebih setengah abad namun untuk menguasai Tanah Deli mereka sangat banyak
mengalami tantangan yang tidak sedikit. Mereka mengalami perang di Jawa dengan
pangeran Diponegoro sekitar tahun 1825-1830. Belanda sangat banyak mengalami
kerugian sedangkan untuk menguasai Sumatera, Belanda juga berperang melawan
Aceh, Minangkabau, dan Sisingamangaraja di daerah Tapanuli.
Jadi untuk menguasai Tanah
Deli Belanda hanya kurang lebih 78 tahun mulai dari tahun 1864 sampai 1942.
Setelah perang Jawa berakhir barulah Gubernur Jenderal Belanda J.Van den Bosch
mengerahkan pasukannya ke Sumatera dan dia memperkirakan untuk menguasai
Sumatera secara keseluruhan diperlukan waktu 25 tahun. Penaklukan Belanda atas
Sumatera ini terhenti ditengah jalan karena Menteri Jajahan Belanda waktu itu
J.C.Baud menyuruh mundur pasukan Belanda di Sumatera walaupun mereka telah
mengalahkan Minangkabau yang dikenal dengan nama perang Paderi ( 1821-1837 ).
Sultan Ismail yang berkuasa di Riau secara tiba-tiba diserang oleh gerombolan
Inggeris dengan pimpinannya bernama Adam Wilson. Berhubung pada waktu itu
kekuatannya terbatas maka Sultan Ismail meminta perlindungan pada Belanda. Sejak
saat itu terbukalah kesempatan bagi Belanda untuk menguasai Kerajaan Siak Sri
Indrapura yang rajanya adalah Sultan Ismail. Pada tanggal 1 Februari 1858
Belanda mendesak Sultan Ismail untuk menandatangani perjanjian agar daerah
taklukan kerajaan Siak Sri Indrapura termasuk Deli, Langkat dan Serdang di
Sumatera Timur masuk kekuasaan Belanda. Karena daerah Deli telah masuk kekuasaan
Belanda otomatislah Kampung Medan menjadi jajahan Belanda, tapi kehadiran
Belanda belum secara fisik menguasai Tanah Deli.
Pada tahun 1858 juga Elisa Netscher diangkat menjadi Residen Wilayah Riau dan
sejak itu pula dia mengangkat dirinya menjadi pembela Sultan Ismail yang
berkuasa di kerajaan Siak. Tujuan Netscher itu adalah dengan duduknya dia
sebagai pembela Sultan Ismail secara politis tentunya akan mudah bagi Netscher
menguasai daerah taklukan kerajaan Siak yakni Deli yang di dalamnya termasuk
Kampung Medan Putri.
Perkembangan Medan Putri menjadi pusat perdagangan telah mendorongnya menjadi
pusat pemerintahan. Tahun 1879, Ibukota Asisten Residen Deli dipindahkan dari
Labuhan ke Medan, 1 Maret 1887,Ibukota Residen Sumatera Timur dipindahkan pula
dari Bengkalis ke Medan, Istana Kesultanan Deli yang semula berada di Kampung
Bahari (Labuhan) juga pindah dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada
tanggal 18 Mei 1891, dan dengan demikian Ibukota Deli telah resmi pindah ke
Medan.
Pada tahun 1915 Residensi Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi
Gubernemen. Pada tahun 1918 Kota Medan resmi menjadi Gemeente (Kota Praja)
dengan Walikota Baron Daniel Mac Kay. Berdasarkan "Acte van Schenking" (Akte
Hibah) Nomor 97 Notaris J.M. de-Hondt Junior, tanggal 30 Nopember 1918, Sultan
Deli menyerahkan tanah kota Medan kepada Gemeente Medan, sehingga resmi menjadi
wilayah di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda. Pada masa awal Kotapraja
ini, Medan masih terdiri dari 4 kampung, yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sungai
Rengas, Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir.
Pada tahun 1918 penduduk
Medan tercatat sebanyak 43.826 jiwa yang terdiri dari Eropa 409 orang, Indonesia
35.009 orang, Cina 8.269 orang dan Timur Asing lainnya 139 orang.
Sejak itu Kota Medan berkembang semakin pesat. Berbagai fasilitas dibangun.
Beberapa diantaranya adalah Kantor Stasiun Percobaan AVROS di Kampung Baru
(1919), sekarang RISPA, hubungan Kereta Api Pangkalan Brandan - Besitang (1919),
Konsulat Amerika (1919), Sekolah Guru Indonesia di Jl. H.M. Yamin sekarang
(1923), Mingguan Soematra (1924), Perkumpulan Renang Medan (1924), Pusat Pasar,
R.S. Elizabeth, Klinik Sakit Mata dan Lapangan Olah Raga Kebun Bunga (1929).
Secara historis perkembangan Kota Medan, sejak awal telah memposisikan menjadi
pusat perdagangan (ekspor-impor) sejak masa lalu. sedang dijadikannya medan
sebagai ibukota deli juga telah menjadikannya Kota Medan berkembang menjadi
pusat pemerintah. sampai saat ini disamping merupakan salah satu daerah kota,
juga sekaligus sebagai ibukota Propinsi Sumatera Utara.
4. Kota Medan Masa Penjajahan Jepang
Tahun 1942 penjajahan Belanda berakhir di Sumatera yang ketika itu Jepang
mendarat dibeberapa wilayah seperti Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan khusus di
Sumatera Jepang mendarat di Sumatera Timur.
Tentara Jepang yang mendarat di Sumatera adalah tentara XXV yang
berpangkalan di Shonanto yang lebih dikenal dengan nama Singapore, tepatnya
mereka mendarat tanggal 11 malam 12 Maret 1942. Pasukan ini terdiri dari Divisi
Garda Kemaharajaan ke-2 ditambah dengan Divisi ke-18 dipimpin langsung oleh
Letjend. Nishimura. Ada empat tempat pendaratan mereka ini yakni Sabang, Ulele,
Kuala Bugak (dekat Peurlak Aceh Timur sekarang) dan Tanjung Tiram (kawasan
Batubara sekarang).
Pasukan tentara Jepang yang mendarat di kawasan Tanjung Tiram inilah yang masuk
ke Kota Medan, mereka menaiki sepeda yang mereka beli dari rakyat disekitarnya
secara barter. Mereka bersemboyan bahwa mereka membantu orang Asia karena mereka
adalah saudara Tua orang-orang Asia sehingga mereka dieluelukan menyambut
kedatangannya.
Ketika peralihan kekuasaan Belanda kepada Jepang Kota Medan kacau balau, orang
pribumi mempergunakan kesempatan ini membalas dendam terhadap orang Belanda.
Keadaan ini segera ditertibkan oleh tentara Jepang dengan mengerahkan pasukannya
yang bernama � Kempetai � (Polisi Militer Jepang). Dengan masuknya Jepang di
Kota Medan keadaan segera berubah terutama pemerintahan sipilnya yang zaman
Belanda disebut �Gemeente Bestuur � oleh Jepang dirobah menjadi �Medan Sico�
(Pemerintahan Kotapraja). Yang menjabat pemerintahan sipil di tingkat Kotapraja
Kota Medan ketika itu hingga berakhirnya kekuasaan Jepang bernama Hoyasakhi.
Untuk tingkat keresidenan di Sumatera Timur karena masyarakatnya heterogen
disebut Syucokan yang ketika itu dijabat oleh T.Nakashima, pembantu Residen
disebut dengan Gunseibu.
Penguasaan Jepang semakin merajalela di Kota Medan mereka membuat masyarakat
semakin papa, karena dengan kondisi demikianlah menurut mereka semakin mudah
menguasai seluruh Nusantara, semboyan saudara Tua hanyalah semboyan saja.
Disebelah Timur Kota Medan yakni Marindal sekarang dibangun Kengrohositai
sejenis pertanian kolektif. Dikawasan Titi Kuning Medan Johor sekarang tidak
jauh dari lapangan terbang Polonia sekarang mereka membangun landasan pesawat
tempur Jepang.
6. Kota Medan Menyambut Kemerdekaan Republik Indonesia
Dimana-mana diseluruh Indonesia menjelang tahun 1945 bergema persiapan
Proklamasi demikian juga di Kota Medan tidak ketinggalan para tokoh pemudanya
melakukan berbagai macam persiapan. Mereka mendengar bahwa bom atom telah jatuh
melanda Kota Hiroshima, berarti kekuatan Jepang sudah lumpuh. Sedangkan tentara
sekutu berhasrat kembali untuk menduduki Indonesia.
Khususnya di kawasan kota Medan dan sekitarnya, ketika penguasa Jepang menyadari
kekalahannya segera menghentikan segala kegiatannya, terutama yang berhubungan
dengan pembinaan dan pengerahan pemuda. Apa yang selama ini mereka lakukan untuk
merekrut massa pemuda seperti Heiho, Romusha, Gyu Gun dan Talapeta mereka
bubarkan atau kembali kepada masyarakat. Secara resmi kegiatan ini dibubarkan
pada tanggal 20 Agustus 1945 karena pada hari itu pula penguasa Jepang di
Sumatera Timur yang disebut Tetsuzo Nakashima mengumumkan kekalahan Jepang.
Beliau juga menyampaikan bahwa tugas pasukan mereka dibekas pendudukan untuk
menjaga status quo sebelum diserah terimakan pada pasukan sekutu. Sebagian besar
anggota pasukan bekas Heiho, Romusha, Talapeta dan latihan Gyu Gun merasa
bingung karena kehidupan mereka terhimpit dimana mereka hanya diberikan uang
saku yang terbatas, sehingga mereka kelihatan berlalu lalang dengan seragam
coklat di tengah kota.
Beberapa tokoh pemuda melihat hal demikian mengambil inisiatif untuk
menanggulanginya. Terutama bekas perwira Gyu Gun diantaranya Letnan Achmad Tahir
mendirikan suatu kepanitiaan untuk menanggulangi para bekas Heiho, Romusha yang
famili/saudaranya tidak ada di kota Medan. Panitia ini dinamai dengan �Panitia
Penolong Pengangguran Eks Gyu Gun� yang berkantor di Jl. Istana No.17 (Gedung
Pemuda sekarang).
Tanggal 17 Agustus 1945 gema kemerdekaan telah sampai ke kota Medan walupun
dengan agak tersendat-sendat karena keadaan komunikasi pada waktu itu sangat
sederhana sekali. Kantor Berita Jepang �Domei" sudah ada perwakilannya di Medan
namun mereka tidak mau menyiarkan berita kemerdekaan tersebut, akibatnya
masyarakat tambah bingung.
Sekelompok kecil tentara sekutu tepatnya tanggal 1 September 1945 yang dipimpin
Letnan I Pelaut Brondgeest tiba di kota Medan dan berkantor di Hotel De Boer
(sekarang Hotel Dharma Deli). Tugasnya adalah mempersiapkan pengambilalihan
kekuasaan dari Jepang. Pada ketika itu pula tentara Belanda yang dipimpin oleh
Westerling didampingi perwira penghubung sekutu bernama Mayor Yacobs dan Letnan
Brondgeest berhasil membentuk kepolisian Belanda untuk kawasan Sumatera Timur
yang anggotanya diambil dari eks KNIL dan Polisi Jepang yang pro Belanda.
Akhirnya dengan perjalanan yang berliku-liku para pemuda mengadakan berbagai
aksi agar bagaimanapun kemerdekaan harus ditegakkan di Indonesia demikian juga
di kota Medan yang menjadi bagiannya. Mereka itu adalah Achmad Tahir, Amir
Bachrum Nasution, Edisaputra, Rustam Efendy, Gazali Ibrahim, Roos Lila, A.malik
Munir, Bahrum Djamil, Marzuki Lubis dan Muhammad Kasim Jusni
Kembali
Sumber :
Situs www.pemkomedan.go.id
Buku Kota
Medan Pintu Gerbang (Bappeda)
Buku Monografi Kota Medan (Bappeda)
Buku Medan Selayang Pandang

Alumni Immanuel
Home
|
About Us
|
Features
|
Mailing List
|
Links |
Buku Tamu
| Database
|
Contact
HakCipta
� Immanuel77, 2003 |


Sponsor kita :


|