Perubahan Paradigma Pendidikan di Indonesia
Siswoyo dkk.
Makalah disampaikan dalam Seminar Bulanan PPI Fukuoka Jepang 21 Juli 2000
A. Pendahuluan
       Begitu banyak masalah-masalah pendidikan yang muncul yaitu antara lain rendahnya mutu lulusan/NEM; terbatasnya lahan pendidikan, dualisme pengelolaan SD (dikelola bersama oleh dua departemen yaitu depdikbud dan depdagri), manajemen pendidikan yang sudah usang, campur tangan birokrasi terlalu jauh, pembelajaran yang terlalu terpusat pada guru; merosotnya moral siswa dan juga tenaga pendidik; komersialisasi pendidikan; ketidakjelasan kurikulum, kualitas dan sistem pendidikan guru.

       Melihat begitu banyak dan rumit masalah pendidikan di Indonesia dan saling terkaitnya antara masalah satu dengan masalah yang lain, sehingga sulit untuk memulai pembahasan masalah pendidikan tersebut. Untuk itu titik tolak pembahasan dimulai dari penilaian terhadap pelaksanakan kurikulum yang sedang berlaku. Implementasi dari kurikulum yang diterapkan tertuntunya berdampak pada munculnya masalah-masalah seperti yang telah disebutkan di atas. Maka dalam forum diskusi kali ini Tim Pendidikan akan mengangkat masalah pendidikan ditinjau dari segi pelaksanakan kurikulum dengan mengangkat tema: Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia untuk memperbaiki mutu pendidikan.

B. Definisi Kurikulum dan Pendidikan
Untuk membahas masalah tersebut, sebaiknya kita mendefinisikan dahulu istilah kurikulum dan istilah pendidikan: Kurikulum dalam arti luas mencakup (1) sasaran dan tujuan (2) materi subjek atau isi; (3) aktivitas belajar; (4) Evaluasi. Dalam arti sempit kurikulum  berarti kumpulan mata pelajaran yang disusun berdasarkan pokok bahasan dan urutan penyajian.  Sedang pendidikan dalam UU No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi perannya di masa yang akan datang. 
Definisi di atas tampak bahwa masalah-masalah yang muncul banyak terkait dengan kurikulum dalam arti luas. Rendahnya mutu lulusan terkait dengan materi apa yang dipelajari siswa disekolah, bagaimana siswa memperoleh pendidikan di sekolah, bagaimana cara guru menyampaikan materi yang ada dalam kurikulum. Sedang istilah pendidikan dalam definisi di atas merupakan kegiatan yang tidak hanya pengajar melainkan bentuk usaha-usaha lain yang tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi juga oleh pihak-pihak terkait dengan tujuan mempersiapkan peserta didik untuk mempersiapkan diri memegang perannnya dimasa depan.

C. Beberapa perubahan paradigma pendidikan di Indonesia yang perlu dilakukan.
Untuk memperbaiki kondisi pendidikan di Indonesia, sedikitnya ada lima paradigma yang harus diubah. Kelima paradigma berikut merupakan titik tolak penyelesaian masalah-masalah pendidikan di Indonesia yang dibahas dalam makalah ini.
1. Perubahan paradigma pendidikan dari yang cenderung berorientasi pada pengajaran (teaching), menuju paradigma baru yang berorientasi pada pembelajaran (learning). 
 Kebanyakan guru yang mengajar di sekolah lebih menekankan pada aspek mengajar. Mereka menganggap bahwa tugas utama guru adalah mengajar. Mengajar yang dimaksud oleh guru adalah menyempaikan materi pelajaran dengan berbagai cara kepada siswa di depan kelas. Target mereka adalah bagaimana menyampaikan pelajaran sesuai dengan urutan materi yang ada di kurikulum. Dalam kasus ini banyak guru tidak sadar bahwa bila guru mengajar belum tentu siswa belajar. Paradigma ini perlu diubah dengan menggeser fungsi guru yang selama ini menjadi sosok yang selalu memberikan materi (nara sumber) kepada siswa, menjadi seorang fasilitator yang memberikan kesempatan kepada siswa belajar sesuai dengan yang mereka ingin pelajari dalam kurikulum. 
 Berdasarkan paradigma baru ini yang penting bukan guru yang mengajar tetapi yang penting adalah murid yang belajar. Bila dalam setiap proses belajar mengajar kualitas belajar siswa sudah tercapai maka secara otomatis dapat dikatakan bahwa guru telah menjadi fasilitator yang baik. Bila setiap hari prinsip ini dilaksanakan maka dampaknya tentu pada peningkatan kemampuan belajar siswa. Implikasi dari perubahan paradigma ini adalah tugas guru menjadi lebih dinamis, tidak hanya menyampaikan materi tetapi juga belajar dari siswa tentang pengalaman yang belum tentu meraka dapat sebelumnya untuk memperbaiki pengajaran berikutnya. 
 Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang bersifat reproduktif. Seorang yang ingin menyampaikan suatu informasi kepada pihak lain maka ia harus mampu menyampaikan informasi tersebut sama seperti informasi yang ia miliki. Tetapi belajar yang baik tidak dapat menggunakan prinsip reproduksi dalam belajar. Seorang ilmuwan tidak bisa menyiapkan ilmuwan juniornya untuk menjadi ilmuwan seperti dirinya. Sebab manusia adalah mahluk yang unik dan holistik dan integral. Tidak ada dua manusia yang sama di dunia ini, meskipun dia kembar identik.
Paradigma ini sesuai dengan pendekatan yang sedang populer yaitu pendekatan “constuctivisme”. Dalam pendekatan ini diharapkan siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya (siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri), bukan guru yang memaksakan gagasannya untuk diterima oleh siswa sebagai pengetahuan yang baku dan kaku. 
 


 

Copyright@siswoyo web site
update 15 November 2000
[email protected]

Hosted by www.Geocities.ws

1