A. Pendahuluan
Begitu
banyak masalah-masalah pendidikan yang muncul yaitu antara lain rendahnya
mutu lulusan/NEM; terbatasnya lahan pendidikan, dualisme pengelolaan SD
(dikelola bersama oleh dua departemen yaitu depdikbud dan depdagri), manajemen
pendidikan yang sudah usang, campur tangan birokrasi terlalu jauh, pembelajaran
yang terlalu terpusat pada guru; merosotnya moral siswa dan juga tenaga
pendidik; komersialisasi pendidikan; ketidakjelasan kurikulum, kualitas
dan sistem pendidikan guru.
Melihat
begitu banyak dan rumit masalah pendidikan di Indonesia dan saling terkaitnya
antara masalah satu dengan masalah yang lain, sehingga sulit untuk memulai
pembahasan masalah pendidikan tersebut. Untuk itu titik tolak pembahasan
dimulai dari penilaian terhadap pelaksanakan kurikulum yang sedang berlaku.
Implementasi dari kurikulum yang diterapkan tertuntunya berdampak pada
munculnya masalah-masalah seperti yang telah disebutkan di atas. Maka dalam
forum diskusi kali ini Tim Pendidikan akan mengangkat masalah pendidikan
ditinjau dari segi pelaksanakan kurikulum dengan mengangkat tema: Perubahan
paradigma pendidikan di Indonesia untuk memperbaiki mutu pendidikan.
B. Definisi Kurikulum dan Pendidikan
Untuk membahas masalah tersebut, sebaiknya
kita mendefinisikan dahulu istilah kurikulum dan istilah pendidikan: Kurikulum
dalam arti luas mencakup (1) sasaran dan tujuan (2) materi subjek atau
isi; (3) aktivitas belajar; (4) Evaluasi. Dalam arti sempit kurikulum
berarti kumpulan mata pelajaran yang disusun berdasarkan pokok bahasan
dan urutan penyajian. Sedang pendidikan dalam UU No.2 tahun 1989
tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan sebagai usaha sadar untuk
menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau
latihan bagi perannya di masa yang akan datang.
Definisi di atas tampak bahwa masalah-masalah
yang muncul banyak terkait dengan kurikulum dalam arti luas. Rendahnya
mutu lulusan terkait dengan materi apa yang dipelajari siswa disekolah,
bagaimana siswa memperoleh pendidikan di sekolah, bagaimana cara guru menyampaikan
materi yang ada dalam kurikulum. Sedang istilah pendidikan dalam definisi
di atas merupakan kegiatan yang tidak hanya pengajar melainkan bentuk usaha-usaha
lain yang tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi juga oleh pihak-pihak
terkait dengan tujuan mempersiapkan peserta didik untuk mempersiapkan diri
memegang perannnya dimasa depan.
C. Beberapa perubahan paradigma pendidikan
di Indonesia yang perlu dilakukan.
Untuk memperbaiki kondisi pendidikan di Indonesia,
sedikitnya ada lima paradigma yang harus diubah. Kelima paradigma berikut
merupakan titik tolak penyelesaian masalah-masalah pendidikan di Indonesia
yang dibahas dalam makalah ini.
1. Perubahan paradigma pendidikan dari yang
cenderung berorientasi pada pengajaran (teaching), menuju paradigma baru
yang berorientasi pada pembelajaran (learning).
Kebanyakan guru yang mengajar di sekolah
lebih menekankan pada aspek mengajar. Mereka menganggap bahwa tugas utama
guru adalah mengajar. Mengajar yang dimaksud oleh guru adalah menyempaikan
materi pelajaran dengan berbagai cara kepada siswa di depan kelas. Target
mereka adalah bagaimana menyampaikan pelajaran sesuai dengan urutan materi
yang ada di kurikulum. Dalam kasus ini banyak guru tidak sadar bahwa bila
guru mengajar belum tentu siswa belajar. Paradigma ini perlu diubah dengan
menggeser fungsi guru yang selama ini menjadi sosok yang selalu memberikan
materi (nara sumber) kepada siswa, menjadi seorang fasilitator yang memberikan
kesempatan kepada siswa belajar sesuai dengan yang mereka ingin pelajari
dalam kurikulum.
Berdasarkan paradigma baru ini yang penting
bukan guru yang mengajar tetapi yang penting adalah murid yang belajar.
Bila dalam setiap proses belajar mengajar kualitas belajar siswa sudah
tercapai maka secara otomatis dapat dikatakan bahwa guru telah menjadi
fasilitator yang baik. Bila setiap hari prinsip ini dilaksanakan maka dampaknya
tentu pada peningkatan kemampuan belajar siswa. Implikasi dari perubahan
paradigma ini adalah tugas guru menjadi lebih dinamis, tidak hanya menyampaikan
materi tetapi juga belajar dari siswa tentang pengalaman yang belum tentu
meraka dapat sebelumnya untuk memperbaiki pengajaran berikutnya.
Komunikasi yang baik adalah komunikasi
yang bersifat reproduktif. Seorang yang ingin menyampaikan suatu informasi
kepada pihak lain maka ia harus mampu menyampaikan informasi tersebut sama
seperti informasi yang ia miliki. Tetapi belajar yang baik tidak dapat
menggunakan prinsip reproduksi dalam belajar. Seorang ilmuwan tidak bisa
menyiapkan ilmuwan juniornya untuk menjadi ilmuwan seperti dirinya. Sebab
manusia adalah mahluk yang unik dan holistik dan integral. Tidak ada dua
manusia yang sama di dunia ini, meskipun dia kembar identik.
Paradigma ini sesuai dengan pendekatan yang
sedang populer yaitu pendekatan “constuctivisme”. Dalam pendekatan ini
diharapkan siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya (siswa mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri), bukan guru yang memaksakan gagasannya untuk diterima
oleh siswa sebagai pengetahuan yang baku dan kaku.
|