Tawadhu

Rendah hati dihadapan Allah, Tuhan yang Menciptakan kita, serta yang telah menundukan dan menaklukan kita dengan keagunganNya, dapat dikatakan sebagai tawadhu kepada Allah.


Seringkali rasa malu, gengsi, egois manusia dihadapan manusia lainnya, menjadikan orang tersebut tinggi hati, bahkan kepada Allah Tuhannya sekalipun, malu kepada orang lain yang tidak banyak tahunya, tetapi tidak malu kepada Allah yang Maha Tahu, yang mengetahui apa yang ada didasar qalbu, serta dari apa orang tersebut dibuat.

 

Juga ada yang begitu berani, ketika tidak dapat menjawab pertanyaan manusia tentang suatu kebenaran dari Allah, demi harga dirinya serta rasa malu juga takut dibilang bodoh, hingga berani mengarang sendiri jawabannya dengan mengatas namakan Allah, sungguh melampaui batas menjual nama Allah demi kepentingan egonya sendiri, yang dapat menjadi sumber celaka pula bagi si penanya.

 

Begitu pula orang-orang yang berdebat menang-kalah penuh emosi serta nafsu ingin meraih kemenangan, yang menjadikannya mampu menyalahkan kebenaran yang disampaikan lawan debatnya, serta bertahan pada kesalahan yang harus diterima lawannya sebagai kebenaran.

 

Seharunya setelah setiap hari tujuh belas kali ditundukan oleh Allah dengan keMaha Agungannya, serta tujuh belas kali pula berserah sepenuh jiwanya kepada Allah yang Maha Tinggi, yang telah menundukannya tersebut, menjadikannya sebagai orang yang berserah, taat, ridho serta ikhlas kepada Allah, sebab jika kehidupan kesehariannya tidaklah mencerminkan hasil dari shalatnya tersebut, tentunya di hari akhir nanti akan digulungkan shalatnya tersebut kemukanya.

 

Lagi kita mendapati bahwa prasangka baik kepada Allah akan sangat membantu kita dalam bertawadhu kepada Allah,  sebab Allah telah menyediakan segala sesuatu bagi seluruh manusia yang setiap orangnnya dibuat dari setetes air yang hina, dan tidak membutuhkan apapun dari manusia, hal tersebut seharusnya akan menyadarkan kita untuk tahu diri, serta merendah serendah-rendahnya dihadapan Allah.

 

Seharusnya manusia merasa malu kepada Allah, bila menyombongkan sesuatu pinjaman dari Allah yang dirasa sebagai miliknya, hal tersebut sama saja dengan mengambil hak Allah sebagai pemilik yang meminjamkannya, sebab kita tidak pernah dapat menciptakan apapun, kecuali hanya meminjam ciptaan Allah, bahkan untuk bernafaspun sebenarnya kita sangat mengandalkan rizki yang Allah pinjamkan.

 

Kita akan dapat lebih menghayati arti tawadhu, bila kita mau berprasangka baik kepada Allah tentang segala ketidak mampuan kita yang benar-benar sangat bergantung kepada segala keMahaan Allah.

 

Mengamati segala ciptaan Allah, serta  membacanya atau merenungkannya dengan nama Allah yang Menciptakan, akan membawa kita kembali kepada Penciptanya melalui tujuan serta guna ciptaanNya tersebut, hal tersebut akan menambah dalam penghayatan kita akan tawadhu.

 

Tawadhu dapat menjaga kita dari perbuatan berlebihan, yang dapat menjadikan kita manusia yang melampaui batas serta terkena hukuman yang sangat berat, senantiasa mengingat Allah dengan penuh kerendahan hati serta penuh kesabaran juga ridho, akan menjadikan kita bahagia dunia dan akhirat serta mulia.

 

-=*=-

Hosted by www.Geocities.ws

1