Salam

Selamat pagi, siang, sore, malam adalah sapaan yang biasa kita ucapkan kepada orang yang kita temui, sapaan tersebut sebenarnya bila kita amati adalah do'a, sebab selamat pagi berarti semoga anda berada dalam keselamatan dipagi hari ini, hanya saja tidak jelas dalam perlindungan keselamatan dari siapa.


Sapaan tersebut saja seringkali kita melupakannya bahwa sebenarnya merupakan sebuah do'a, sehingga dengan begitu ringannya kita mengucapkan selamat pagi, tanpa menghayati harapan agar orang tersebut mendapatkan keselamatan, bahkan akhirnya selamat nya sendiri pun berubah menjadi kata met, met pagi, jangan-jangan met nya menjadi mumet bukannya slamet.

 

Didalam islam ucapan pertemuan serta perpisahan, bukan lagi sapaan, melainkan harus salam, yang benar-benar do'a agar diberi perlindungan oleh Allah, walaupun dalam kenyataannya sangat banyak yang hanya mengucapkannya saja tanpa menyadarinya lagi.

 

Kehilangan kesadaran terhadap sesuatu yang dilakukan tersebut, merupakan suatu kelalaian yang disebabkan oleh ketergesaan didalam kehidupan sehari-hari, sedangkan ketergesa-gesaan adalah perbuatan syaitan.

 

Yang seharusnya menjadi perhatian kita adalah, mengapa begitu banyak orang hidupnya dalam ketergesa-gesaan?, apakah ini suatu gejala umum yang normal, ataukah ada sesuatu yang mempengaruhinya dengan suatu kesengajaan ataupun maksud?.

 

Syaitan sudahlah pasti terkait dalam hal ketergesaan ini, akan tetapi setan itu sendiri banyak bentuk ataupun modelnya, mulai dari penyakit, sistem, jin serta manusia, bahkan yang dalam bentuk manusia saja tentu termasuk diri kita sendiri juga sebagai manusia ada syaitan didalamnya.

 

Lalu bagaimana dengan syaitan yang berbentuk sistem?, banyak sekali sistem yang dapat menyeret kita kedalam keburukan, sistem inilah yang jarang sekali diperhatikan oleh orang pada umumnya yang sebenarnya mempunyai andil cukup atau mungkin sangat besar dalam pembawa keburukan bahkan kehancuran.

 

Banyaknya pergantian sistem dengan sistem baru yang entah datang dari mana dengan tujuan apa, tidak dapat lagi terkontrol ataupun terkendali penerapan serta akibatnya.

 

Secara teori memang mengurangi jam kerja dengan libur dua hari akan menjadikan efisiensi kerja lebih tinggi serta waktu istirahat liburan lebih banyak, tetapi secara kenyataannya dengan berkurangnya jam kerja akan menjadikan kita kerja terburu-buru, Allah yang Menciptakan manusia tidak memberikan libur shalat lima waktu, sebab manusia jika diberi waktu luang sering mempergunakannya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, bagi ummat muslim sebenarnya hari jum'at pun bukan hari libur, tetapi menjadi hari wajib belajar serta keutamaan urusan akhirat dengan mengurangi banyak kegiatan duniawi dibandingkan hari-hari lainnya.

 

Dengan melatih serta meningkatkan kesabaran kita, kiranya akan dapat mengurangi dampak lingkungan terhadap kesadaran kita, sehingga terhindar dari kelalaian yang dapat membuat waktu kita menjadi terbuang dengan sia-sia.

 

-=*=-

Hosted by www.Geocities.ws

1