Ratap

Ratap, meratap, meratapi, rasanya hal ratap-meratap tersebut menggambarkan suatu unjuk rasa yang memang oleh islam dilarang bagi kita untuk melakukannya.


Meratap tentunya memang suatu gambaran unjuk rasa ketidak setujuan bahkan mungkin menjadi ketidak puasan atas keputusan takdir yang telah Allah tentukan, hal tersebut tentunya sama saja artinya dengan menuduh Allah tidak menghitung dengan benar saat merencanakan ataupun membuat serta menjalankan takdir tersebut.

 

Tidak pernah ada sisi baiknya dari apa yang dinamakan ratapan tersebut, hal tersebut hanya menunjukan bahwa orang tersebut tidak pernah ataupun tidak mau belajar cara menghadapi kenyataan hidup, meratapi keadaan sama saja dengan tidak puas atas pemberian Allah, meratapi diri sendiri juga sama saja dengan tidak puas terhadap dirinya sebagai ciptaan Allah, islam tidak mengajari ummatnya untuk menyesali, yang diajarkan islam adalah menyadari lalu memperbaikinya, takdir Allah adalah pasti, kehidupan tidak dapat diubah, yang dapat diubah adalah cara dalam menghadapinya.

 

Namun dalam hal ratap-meratap tersebut ada suatu kaum yang malah mempunyai ritual bahkan tempat khusus untuk meratap, entah meratapi apa, yang pasti meratap adalah unjuk rasa, demo, tidak puas kepada Pencipta segala sesuatu bahkan kepada Pencipta dirinya sendiri pun, meratap yang disadari bahkan dengan disengaja barangkali akan lebih tepat lagi bila diartikan sebagai tidak menghargai atau merendahkan serta membangkang.

 

Oleh karena hal-hal yang negatif dari meratap tersebutlah kiranya menjadi sangat tidak disarankannya bagi para wanita mengikuti jenazah keluarganya hingga ke pemakaman.

 

Pada masa reformasi terjadi kebebasan pers yang membuat media-media massa terlalu bebas menyuguhkan apa saja yang seringkali melampaui batas kepantasan yang dapat diterima, bahkan sering terjadi melanggar hak prifasi sesorang, dengan bongkar-bongkaran aib orang, yang dapat menjadikan kehacuran suatu perkawinan yang dapat menjadi berita perceraian yang lebih menguntungkan lagi perusahaan media tersebut, padahal ilmu apapun yang dipergunakan untuk mencerai beraikan suatu perkawinan, sangat beratlah hukumannya, mungkin banyak orang mengira bahwa ilmu tersebut adalah ilmu guna-guna, padahal sebenarnya adalah ilmu apapun, walaupun itu hanya ilmu berbicara..

 

Bencana alam yang beritanya disajikan media massa pun, seringkali menampilkan gambar-gambar yang kurang pantas, sosok mayat yang sudah bengkak, hangus, terpotong-potong, keluarga yang terkena bencana dalam keadaan meratap-ratap  serta lain sebagainya hal yang sangat tidak baik untuk dilihat oleh anak-anak, bahkan orang yang sudah dewasa pun merasa ngeri, bagaimana pula jika kita melihatnya saat kita kebetulan sedang makan, tentunya akan menjadi mual serta kehilangan berkah makanan kita.

 

Kengerian yang menjadi reaksi kita adalah sangat wajar, sebab kehalusan hati kita membuat kita mudah terharu, ngeri kepada bencana, khawatir melihat ataupun mendengar suara petir, semua itu menjadi lebih mengingatkan kita kepada Allah yang Maha Kuasa.

 

Namun banyak media yang baik karena kebodohan, ataupun keteledoran bahkan mungkin saja merupakan suatu kesengajaan, menampilkan berbagai macam kekerasan, kejijikan, kejorokan hingga profokasi birahi, yang dapat menjadikan kita keras hati sehingga sulit tersentuh untuk mengingat Allah.

 

Jika kita sudah kehilangan rasa jijik, ngeri, malu serta kepantasan maka tanpa disadari kita telah terseret kepada kekerasan hati yang dapat membuat kita menjadi manusia yang kejam tanpa perasaan, egois serta lain sebagainya sifat buruk.

 

-=*=-

Hosted by www.Geocities.ws

1