Jiwa

Orang sakit jiwa atau gila ataupun kehilangan ingatannya sementara, adalah orang yang jiwanya meninggalkan tubuh nya, baik sementara ataupun seterusnya, namun tubuhnya tetap hidup dikarenakan ruhnya masih tetap berada dalam tubuhnya tersebut.


Jadi bila kita boleh mengumpamakannya, jiwa adalah raja didalam tubuh kita, akal kita adalah perdana menterinya, sedangkan perasaan kita adalah permaisurinya, terkadang atau bahkan mungkin sering terjadi perdana menteri atau permaisuri berkhianat kepada raja, atau mungkin saja kedua-duanya bersekongkol mengianati raja.

 

Ritual sa'i didalam haji, mengajari kita bagaimana jiwa seharusnya berpegang teguh kepada Allah, sebab sering terjadi hal-hal yang menurut akal serta perasaan sehat kita tidaklah mungkin, namun bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tidak mungkin, begitulah sa'i pada awalnya menceritakan tentang ketidak mungkinannya mencapai mata air yang jauh yang menurut akal maupun perasaan akan menyuruh kita untuk diam saja menerima takdir kematian dikarenakan kehausan, namun dengan terus berusaha serta keyakinan kepada Allah, maka Allah menjadikan mata air zam-zam yang masih terus mengeluarkan airnya hingga sekarang, yang entah sudah berapa ribu tahun.

 

Allah memberikan kendaraan kepada jiwa berupa tubuh, agar tubuh mempunyai nyawa serta dapat bergerak maka Allah memberikan ruh kepada tubuh tersebut, seharusnya jiwa dapat mengendalikan tubuh serta ruhnya dengan baik serta sepenuh kendali, namun kenyataanya seringkali terjadi jiwa tidak berdaya dalam mengendalikan tubuh yang mempunyai dua macam syahwat yang menjadikan adanya naluri akan kebutuhan bertahan hidup serta berketurunan.

 

Jiwa kita seringkali kewalahan menghadapi naluri yang dibangkitkan oleh syahwat kita, sehingga kita menjadi tidak adil bahkan melupakan kebutuhan ruh kita yang suaranya didalam hati kecil kita kalah bawel oleh suara syahwat, cerewet serta bawelnya syahwat kita akan mudah kita melihatnya saat kita berpuasa, makin sore makin cerewetlah syahwat kita, sehingga kita menjadi sulit berfikir, jiwa kita hampir lumpuh dibuatnya.

 

Jika jiwa kita terlalu memanjakan tubuhnya serta mengabaikan ruhnya, tentunya akan berakibat buruk pada akhirnya nanti, sebab tubuh kita akan berakhir didunia ini sedangkan ruh kita akan mengantar kita ketempat tujuan terakhir kita di akhirat nanti, namun bila ruh kita sangat miskin dikarenakan tidak pernah mendapatkan bagiannya ataupun bahan bakarnya selama kita didunia ini, bagaimana mungkin ruh kita akan mampu untuk mengantar kita ketempat tujuan kita bila tidak mempunyai bekal ataupun bahan bakar.

 

Setidak-tidaknya saat kita didunia seharusnya kita adil terhadap ruh kita, agar ruh kita bisa sama-sama mempunyai bekal serta bahan bakar seperti tubuh kita, lebih baik lagi bila ruh mendapat lebih banyak, agar dalam perjalanan di akhirat nanti dapat lebih mudah serta cepat.

 

Makanan jiwa kita adalah ilmu yang bermanfaat, ada baiknya jika kita lebih menghayati do'a-do'a yang dapat menjadikan kita mendapatkan banyak ilmu serta dihindarkan dari ilmu yang tidak bermanfaat, agar akal serta perasaan kita dapat membantu jiwa dengan akal serta perasaan yang penuh manfaat bagi jiwa.

 

Akal serta perasaan kita banyak sekali belajar melalui panca indra kita, terutama mata serta telinga, oleh karena itu baik sekali jika mata serta telinga kita terjaga dari pandangan serta pendengaran yang tidak bermanfaat apalagi dari hal yang buruk-buruk.

 

-=*=-

 
 
Hosted by www.Geocities.ws

1