Istri

Seperti apakah istri yang baik?, tentunya sangat berbeda-beda pendapat mengenai hal istri ini, bahkan seringkali terjadi kekeliruan antara baik dengan cantik, baik itu cantik wajah maupun cantik tubuh.


Mengapa sering terjadi kekeliruan antara baik dengan cantik?.., rasanya bila kita amati lebih jauh kekeliruan ini terjadi, dikarenakan banyaknya expose atau pertunjukan kecantikan tubuh serta wajah wanita yang sebenarnya merupakan aurat wanita di berbagai media, baik itu sebagai iklan, model, filem ataupun pembawa acara yang menjadikan laki-laki terlalu banyak memandang aurat wanita, sehingga tuntutan birahinya tanpa disadari menjadikan atau membuat imajinasi sosok pasangan ataupun idola berdasarkan selera syahwatnya, dan bukannya berdasarkan akal sehatnya maupun syariatnya.

 

Begitu kekeliruan yang terjadi dengan munculnya sosok istri berdasarkan selera syahwat pada laki-laki, begitu pula akibatnya kepada para perempuan yang menjadi berlomba-lomba mempertontonkan auratnya kepada laki-laki sebagai tolok ukur pilihan laki-laki dalam mencari istri.

 

Padahal ukuran yang paling penting bagi seorang istri adalah yang ridho dengan suami yang dijodohkan oleh Allah, sehingga dapat berbakti sepenuhnya kepada suami dikarenakan pemberian Allah kepadanya.

 

Sosok seorang istri yang dicontohkan didalam islam, yang terutama adalah Siti Khadijah, yang dikatakan sebagai seorang istri yang ramah bagaikan seorang ibu sekaligus bergairah sebagai seorang istri.

 

Kombinasi ramah sekaligus bergairah ini tentu saja sangat sulit, sebab biasanya yang ramah keibuan tidaklah begitu bergairah, sedangkan yang bergairah biasanya tidak begitu keibuan, malah bisa saja menjadi tomboy.

 

Keramahan Siti Khadujah yang bagaikan seorang ibu tersebut dapat kita ketahui dari segala perhatiannya kepada Rasulullah, baik dalam perdagangan, saat banyak merenung di goa hira, membantu perjuangan syiar bahkan membantu dengan seluruh hartanya.

 

Sebagai istri yang tidak pernah mengganggu segala keputusan suami yang walaupun mungkin saja sama sekali tidak dapat dimengertinya bahkan mungkin tidak masuk diakalnya, tetapi Ia sangat percaya kepada Suaminya, biasanya seorang istri akan bertanya, mau kemana, mau apa disana, kalau tidak ada gunanya lebih baik dirumah saja lebih jelas menemani istrinya tersebut, hal tersebut sangat terlihat saat Suaminya banyak merenung di gua hira, tentunya istri biasa akan mempertanyakan gunanya ataupun hasilnya jika tidak jelas tentu akan sangat keberatan ditinggalkan sendirian dirumah.

 

Dukungan kepercayaan serta pengertian seorang istri sangatlah berpengaruh kepada keberhasilan atau kesuksesan yang akan diraih serta diyakini suaminya, jika terlalu diberati oleh istri, tentunya akan sukarlah bagi sang suami mendapatkan kesempatan untuk maju, apalagi jika si istri sudah digerogoti prasangka cemburu, akan makin sulitlah kesempatan maju tersebut datang, bahkan keramahan yang tulus pun akan menghilang dari sosok seorang istri yang ramah.

 

Padahal yang namanya datang hilangnya suami adalah jodoh yang menjadi hak mutlak Allah, tidak ada yang kuasa menolak ataupun mendatangkannya kecuali Allah saja, tetapi syaitan akan selalu menghembuskan was-was serta ragu yang akan menghancurkan ketentraman suatu pernikahan yang seharusnya sakinah dan mulia, menjadi pernikahan yang penuh prasangka dan hina.

 

Sedangkan masalah bergairah tentunya kita tidak dapat membahasnya terlalu jauh, sebab dapat menimbulkan cerita porno, yang pasti jika seorang RasulAllah mengatakan bergairah tentunya dalam arti bergairah yang seluas-luasnya sebagaimana yang dinginkan oleh seorang laki-laki pada umumnya, sebab seorang laki-laki didalam perjalanan pernikahannya akan melalui masa-masa pandangan hidup, pegangan hidup hingga akhirnya perjuangan hidup yang untuk menghidupkan berahinya saja dibutuhkan perjuangan yang berat, juga laki-laki walaupun sudah berat perjuangannya namun tetap mempunyai berahi hingga akhir hayatnya.

 

-=*=-

Hosted by www.Geocities.ws

1