Golongan

Kembali kita mendengar ceritera akhir jaman yang salah-satunya adalah ummat islam akan terbagi menjadi tujuh puluh tiga golongan, lalu golongan manakah yang benar?.


Bila kita mengamati suatu negara, tentu didalamnya akan kita temukan dari mulai presiden atau pemimpin dari negara tersebut yang hanya satu orang sehingga pemulung bahkan hingga pengemis.

 

Begitu pula kiranya struktur suatu ummat, khususnya umat islam yang telah diramalkan akan menjadi tujuh puluh tiga golongan tersebut, lalu kembali lagi pertanyaannya, mana yang benar?, rasanya bisa saja semuanya benar dan juga semuanya tidak ada yang sempurna, bahkan mungkin haruslah saling mengisi serta saling mendukung.

 

Sebagaimana kita ketahui dalam suatu negara tidaklah mungkin menjadi presiden semuanya ataupun tidak mungkin pula menjadi tukang sampah semuanya, semuanya haruslah mengisi tempatnya masing-masing agar negara tersebut dapat berjalan dengan baik.

 

Golongan yang banyak didalam struktur ummat pun seharusnya mirip dengan struktur negara, tidak mungkin semua menjadi ustadz ataupun ulama, tidaklah mungkin semua dapat berfikiran sama, harus ada golongan yang melaksanakan kegiatan di setiap sisi kehidupan, haruslah ada yang menjalankan kehidupan umum yang menjadikan berputarnya roda kehidupan, namun sebaliknya bila tidak ada ustadz atau ulamapun, maka roda kehidupan akan berputar tanpa aturan ataupun arahan yang sesuai dengan syariat yang telah ditentukan, antar golonganpun seharusnya saling mengerti fungsi masing-masing golongan tersebut, bahkan bila kelihatan sangat aneh sekalipun, yang pasti selama bertuhankan Allah yang Maha Esa, serta meng Esa kan Nya, juga tidak melakukan pelanggaran besar dalam aturan islam, tentulah golongan tersebut masihlah golongan islam sesama saudara.

 

Dari masa ke masa, bidang politik adalah bidang yang sangat keras, tega dan bisa dibilang kotor, lalu bagaimana bisa bidang tersebut dapat diisi oleh golongan tertentu dengan benar, tentunya akan sangat-sangat sulit sekali, tetapi biar bagaimanapun tentu saja harus ada yang mengisinya, walaupun akhirnya kita akan menjadi aneh melihat tingkah laku mereka dalam menyesuaikan diri kedalam kehidupan politik, kita harus lebih memaklumi keadaan serta kesulitannya, paling tidak orang yang masuk tempat kotor dengan berbekal ilmu bersih, akan berbeda dengan orang yang masuk ketempat kotor dengan bekal ilmu yang kotor pula.

 

Juga dalam hal perdagangan serta hal-hal lainnya tentunya akan terjadi banyak improvisasi serta manuver golongan dalam penyesuaian bentuk, apalagi di jaman era globalisasi yang terjadi kebebasan atau mungkin dapat dikatakan lebih mendekati kepada kebobolan paksa, dalam segala bidang, termasuk ideologi atau isme import yang datang bagaikan gelombang samudra, tentunya islam yang diturunkan teruji di jaman jahiliyah akan dapat bertahan menghadapi perubahan jaman seperti apapun juga, asal saja kompak serta menjalin silaturahmi dengan lebih baik serta lebih banyak pengertian antar golongan saja.

 

Sekarang ini masih banyak sekali orang-orang terutama kaum muda, yang mengikuti baik partai maupun golongan, namun mereka sama sekali tidak tahu apa serta bagaiman partai ataupun golongan yang ia ikuti tersebut, alias hanya ikut-ikutan saja, hal tersebut menujukan kelemahan yang sangat besar dari partai maupun golongan tersebut dalam membina ataupun mengarahkan anggautanya, hal tersebut dapat menjadikan kelemahan kelompok tersebut dikarenakan beranggotakan orang-orang yang tidak jelas bahkan mungkin tidak satu tujuan sesuai dengan tujuan kelompok tersebut, bahkan mungkin saja anggotanya hanya sebagai pengisi jumlah saja, alias manipulasi suara yang mungkin memang dimanfaatkan sebagai pendukung banyaknya saja, yang akhirnya hanya menjadikan kebenaran yang dikarenakan banyaknya saja, yang hanya menguntungkan beberapa gelintir orang saja yang pandai memanipulasi massa, serta tidak pernah menjadi suatu kelompok yang benar-benar solid serta tahan uji.

 

Seharusnya setiap golongan mempunyai perhatian kepada anggota serta calon anggotanya, ditanya maksud serta tujuan calon anggota tersebut, apakah satu tujuan serta satu pemikiran, apakah perlu diberikan pengarahan, namun jika ternyata calon tersebut berbeda maksud, lebih baik di arahkan ke golongan lain yang lebih sehati dengan orang tersebut, dengan demikian tentunya tidak akan terjadi manipulasi hak sesorang demi kepentingan beberapa gelintir orang saja yang demi mencapai ambisinya tega memanipulasi hak kepentingan orang lain.

 

Dengan cara yang tertib serta benar seharusnya dapat diwujudkan banyak golongan berkualitas yang saling pengertian serta saling menghargai dengan golongan lainnya, sehingga terwujudlah ummat yang berkualitas serta tangguh, bukannya ummat yang terus diperbodoh agar mudah untuk dimanipulasi serta di adu dombakan.

 

-=*=-

Hosted by www.Geocities.ws

1