Subject FW:CERITA 11

Dicerita oleh sebahagian orang salih:

Pekerjaan ku adalah sebagai penolak rakit disungai, yakni aku memindahkan penumpang dari satu tebing ketebingnya yang lain. Hal itu sudah ku lakukan sejak bertahun tahun lamanya.

Pada sautu hari , datanglah seorang lelaki tua yang sangat bersinar sinar wajahnya, ia mendekati ku lalu memberi salam. Aku pun membalas salamnya dengan baik. Tuan! Berkata orang tua itu kepada ku. Bolehkah tuan menyeberangkan ku ketebing sebelah sana secara iklas lillahi ta'ala ! Boleh jawab ku. Aku boleh membawa mu kesana dengan iklas, tampa bayaran !

Lelaki tua tu pun menaiki rakit ku dan aku pun menjalankan rakit itu menuju ketebing yang sebelah. Saat tiba ditebing sana , orang itu berkata lagi : Tuan , aku akan menitipkan sesuatu kepada tuan, bolehkah tuan menjaganya ? Apakah itu ? Tanya ku kepadanya.

Hanya suatu bungkusan dan sebilah tongkat. Apabila datang hari besok hampir waktu Zohor, tuan akan menemukan diri ku mati dibawah pohon itu, dia berkata begitu sambil memunjukkan pohoh yang dimaksudkan. Kemudian dia menyambung pesanannya lagi :

Maka mandikan dan bungkuslah aku dengan kain yang ada dibawah kepala ku, kemudian shalatkanlah aku dan tanamlah aku dibawah pohon itu. Setelah itu ambillah bungkusan ini serta tongkat nya lalu simpanlah dia baik baik. Sewaktu waktu kalau ada orang yang memintanya berikanlah kepadanya. pesannya dengan sungguh sungguh.

Itu saja pesanan mu ?! Tanya ku lagi, dia mengangguk anggukkan kepalanya. Baiklah , kata ku dengan penuh kehairanan. Malam itu aku tak dapat tidur kerana terus memikirkan keadaan orang itu. Betulkah dia akan mati, seperti yang dia katakan ? kalau tidak, buat apa aku memikul bebanan amanat ini !

Begitu pagi mulai muncul, aku segera pergi ketempat rakit ku untuk bekerja, sambil menunggu waktu yang ditetap kannya itu. Apabila menjelang waktu Zohor , aku pun duduk termanggu manggu dan hati ku bedebar debar. Tiba tiba aku terlena dan terus tertidur, dan baru bangun ketika waktu menjelang Asar. Aku teringat akan janji ku kepada lelaki tua itu, dan aku cepat cepat menuju kebawah pohon yang ditunjukkan kepada ku semalam, dan ternyata benar lelaki itu telah meninggal dunia disana, dan wajahnya semakin bersinar sinar.

Inna Lillaahi Wa Innaa Illaihi Raji'uun ! lisan ku mengucap. Aku pun segera menyelenggarakan mayatnya, memandikanya dan membungkuskanya dengan kain yang diletakkan dibawah kepalanya yang baunya sangat harum sekali. Kemudian menshalatinya dan menggali kubur dibawah pohon, dan ternyata disana telah terdapat keburan yang terbuat dari batu yang sangat halus sekali buatanya. Aku memasukkan jasad itu kedalamnya, lalu menimbuni kubur itu dengan tanah, dan aku ambil bungkusan serta tongkat titipannya dan menyimpannya dirumah.

Hari itu , aku terpaksa bekerja sampai pagi untuk menggantikan masa aku gunakan untuk menyelenggarakan pengebumian mayat lelaki tua tadi. Apabila menjelang fajar, datanglah seorang pemuda kepada ku seraya memandang ku dengan pandangan yang tajam sekali. Setelah aku mengamat amatinya, aku mengenalinya. Ia adalah seorang pemuda yang biasa bermain sandiwara, dan biasa menyanyi dan menari. Ia memakai baju yang tipis, sementara jari jemarinya penuh dengan pacar.

Pemuda itu mendekati ku seraya memberi salam. Aku membalas salamnya. Ia bertanya : Benarkah tuan ini fulan bin fulan?Aku hairan bagaimana dia tahu nama ku. Betul, jawab ku. Jika demikian , dimanakah amanat itu Amanat apa ? Tanya ku kembali. Sebuah bungkusan dan sebilah tongkat, pemuda itu memberitahu ku. Siapakah yang memberitahu kan hal itu kepada mu ? Aku sendiri tak mengerti, jawabnya, tapi tadi malam aku sedang dirumah teman untuk mera'ikan pesta perkahwinan. Aku menari nari serta menyanyi sampai jauh malam dan aku tidur di sana.

Tiba tiba datang seorang yang tak ku kenal membangunkan ku seraya berkata : Wahai pemuda, bangunlah! Ketahuilah Allah s.w.t. telah mematikan walinya, dan menjadikan diri mu sebagai gantinya. Nah pergilah sekarang juga dan temui fulan bin fulan yang bekerja sebagai penolak rakit , danketahuilah bahwa sesungguhnya wali Allah yang mati itu meninggalkan amanah untuk mu, yaitu berupa sebuah bungkusan dan sebilah tongkat.

Aku benar benar kehairanan mendengar penuturan pemuda itu, dan aku pun menyerahkan kedua amanah itu kepadanya. Ia menerimanya lalu menanggalkan pakaiannya yang diatas badan, kemudian mandi dan berwudhuk, lalu membuka bungkusan itu yang ternyata didalamnya ada sepasang kain, lalu memakainya, dan memegang tongkat. Kemudian dia datang kepada ku seraya berkata : Terima kasih kerana kau sanggup menjaga amanat ini, semoga Tuhan saja yang membalas mu ! ?.kemudian pemuda itu pergi meninggalkan ku. Kemana dia pergi, aku pun tidak tahu.

Sepanjang panjang hari itu , aku terus memikirkan tentang pemuda itu, dan bagaimana dia dengan kehidupannya yang lalai dan sia sia boleh menerima amanat wali yang mati itu. Bila aku merasa penat, aku pun tidur. Dalam tidur ku itu aku mendengar suatu suara yang mengatakan :

Wahai hamba Allah ! Apakah engkau keberatan jika Allah berkenan melimpahkan kurnia Nya kepada hamba Nya yang selalu menbuat derhaka kepadaNya ? ketahuilah, bahwa Allah berhak penuh untuk memberikan kelebihan Nya kepada sesiapa pun, takdir Nya adalah menurut iradat Nya !...

Pada masa itulah, aku terkejut dari tidur ku, lalu bangun menangis sejadi jadinya. Dalam menangis itu aku bermohon :Ya Allah ! Berilah hamba Mu ini rahmat Mu, bersyukur atas segala nikmatMu, dan bersabar atas segala cubaan Mu ! Amin!.....

Wahai jiwa yang mengenal akan Tuhan dan Nabi mu?. biar pun sedikit akan pengetahuan mu?dekatkanlah hati mu itu?ingati Tuhan mu selalu?.sedikit kepayahan ianya amat menyenangkan mu?? Dia menegetahui harsrat mu?

Aku lihat dunia ini terus diperhatikan orang. Dikejar kesana kemari diminati bukan kepalang. Namun dunia itu tidak pernah kekal bagi yang mengejarnya Dan yang mengejar pula tiada selamanya kekal dengan dunianya. Bahkan maut yang kejam terus membuntuhi mangsanya. Laksana seekor kuda tangkas yang laju berlarinya. Wahai orang yang terharu dengan dunia, perlahan sebentar. Ambillah apa saja daripadanya ala kadar tapi mesti benar.

Layakkah aku kesyurga Mu dengan amal dan ibadah ku ?Sedangkan kelopak mata pun aku tak mampu gerakkan tampa rahmat Mu..Sungguh tak berdaya kerna aku diantara hamba yang sentiasa mengharap rahmat Mu?

kiriman: awin

Hosted by www.Geocities.ws

1