Koleksi Mailing List LSAI Tentang Cirebon
NO ENGLISH VERSION

Salinan di bawah ini diedit pada bagian-bagian yang tidak perlu tanpa merubah isi dari diskusi di Mailing List LSAI. Sengaja alamat mailing list tidak disajikan, ini hak prerogatifnya kondektur. Demikian juga alamat-alamat pada signature dipotong semua, karena ini tempat umum. Yang protes, usul boleh suratin saya, alamatnya di bagian bawah. Kesalahan eja atau ketik yang ada adalah asli dari sumbernya.


Subject: Apa Guna Bangunan Tua
Date: Tue, 27 Aug 1996 11:51:08 -0700
From:[email protected] (Sutrisno Murtiyoso)

Hari Sabtu yang lalu, IAI Jabar bersama IAI DKI mengadakan Temu Wisata Arsitek di Cirebon. Kota tuek yang paling sering disepelekan. Semua orang pasti (merasa) tahu akan Cirebon karena semua orang pasti pernah, bahkan berkali-kali lewat Cirebon. Tidak ada yang menjawab tidak tahu kalau ditanya mengenai Cirebon. Hanya kalau dikatakan Cirebon itu penting bagi Sejarah Arsitektur Indonesia, baru orang akan geleng-geleng tanpa nelan ecstasy. "Mana mungkin?" Eh, kenapa nggak mungkin?

Buat saya (subyektif yo ben), monumen paling penting dan berharga di Cirebon (sebenarnya banyak sih, tapi agar dramatis gitu lho) adalah Dalem Agung Pakungwati. Nama nggak penting laaa, tapi bahwa barang ini merupakan satu-satunya sisa (karena memang sudah menjadi reruntuhan) keraton Jawa pada masa kejayaan Pasisiran (abad 15-16) baru akan menyentak kita. Menurut pakar nan pakar Ardi Pardiman (sayang beliau belum ke'setrum' langsung. Tapi sodara di GAMA mohon dapat menyampaikan tulisan ini kepadanya. TXB), Dalem ini menampakkan kedekatan dengan Puri di Bali. Nah lu!

Kembali ke TWA-IAI di CRB tadi; ternyata bangunan tua yang cantik itu tengah diperkosa dengan brutal. Bukan hanya sodomi dan bedah perut a la Robot Gedek, tetapi malah diobrak-abrik sampai wujudnya berobah sama sekali. Dari dewi Uma yang ayu (walaupun tua) sedang dipermak menjadi Durga oleh Siwa. Kalau dewi Uma dipermak karena ngenyek duluan, maka DAP tanpa salah, digenjot hanya karena Pemda dan Deparpostel mau mengadakan Festival Keraton Nusantara 1997! Jadi buat jospri yang diajak ke CRB mundur-mundur terus, tidak akan pernah menemui dewi Uma lagi. Kecuali ada Sadewa yang mampu meruwatnya!!!

Begini, bagian yang paling parah adalah bagian pusatnya. Dalem Arum, (pelataran tengah dalam pola nawasanga), yang sebenarnya dulu memang ada bangunan-bangunan kayunya, sekarang dibangun dengan gaya 'tradisional' yang mencerminkan 'nilai-nilai luhur nenek moyang kita' (see Pemberton). Bagian Barat dan Utara yang ditinggikan, dengan bekas-bekas batur bata, sudah dikurung dengan batur bata baru yang lebih tinggi dan nampaknya akan diplester, mungkin pake Essenza. Di sudut Barat daya, dekat sumur (keramat, biasa) dulu ada batu yang dipuja (klenik?) dekat hiasan sudut tembok (wah lupa namanya!) yang telah runtuh, sekarang sudah bersih. Paling tidak empat bangunan kayu baru telah berdiri dengan megah.

Dinding yang mengelilingi pelataran ini, dirapikan dengan bahan baru, sehingga menjadi rata dan mengkilap. Padahal dulu di sisi Barat, Selatan dan Utara ada bekas pembukaan yang (di masa kemudian) ditutup (ditableg), tapi buat kita arsitek masih kelihatan jelas susunan batanya yang berbeda. Sekarang lenyap semua, malah pintu masuk dari timur (yang meragukan apakah dulu memang di situ atau di buat kemudian) dilengkapi dengan gapura 'khas' Cirebon.

Bukan hanya itu, pintu masuk kompleks yang jelas-jelas hasil penjebolan jaman kemudian malah dipoles dan diberi gapura juga, sedangkan gapura sebenarnya, yang ditutup bata, mungkin akan diratakan juga. Jalan keliling (untuk wisatawan) diberi perkerasan, mungkin dibeton juga, saat itu baru dipasang batu sisi (kantsteen) nya. Belum bangunan kayu Paseban yang sedang ditelanjangi (dilepas semua sirapnya) nggak tahu mau disuruh nungging atau apa.

Saya tahu bahwa suasana hening yang bisa saya temui di cinta saya itu akan hilang. tidak mungkin lagi, jangankan jam 12 siang, subuh dan tengah malam mengelus lembut jiwa saya. Tetapi yang mengusik pemikiran saya adalah apakah memang demikian sikap kita kepada barang lama? Rasanya penjelasan Gunther Nitschke mengenai monumen di Timur, perbandingan dengan kuil Ise di Jepang sana, tidak kena. Ataukah memang perwujudannya di Jawa berbeda. Seperti keraton Mataram awal yang ber'jalan-jalan' dari Kutagede - Kerta - Plered - Kartasura - Surakarta/ Yogyakarta?

Tetapi DAP, yang konon kediaman Sunan Gunung Jati memang dengan sengaja ditinggalkan oleh Panembahan Ratu, cicit dan penggantinya, ke keraton yang sekarang, kira-kira 100 meter ke arah baratdaya. Mungkin karena alasan yang sama, kediaman pendahulu ditinggalkan karena 'petungan' penguasa baru tidak sama lagi. Hongsuinipun sampun telas. Atau karena 'generasi muda' tidak kuat menerima 'estafet' nilai-nilai luhur angkatan sebelumnya (= kalah awu?).

Kok ngelantur, wong ini kasusnya membangun kembali istana yang sudah ditinggalkan kok!

Ya kalau begitu hongsuinya cocok lagi dong! (untuk catatan saja, dengar-dengar konsultan pembangunan DAP ini adalah para linuwih, para normal, bukan arsitek, sejarawan, purbakalawan, tetapi kawankawan.)

Artinya ada tradisi baru? Tradisi Orde Baru? Tradisi menggalakkan ekspor non migas?

Ya, ekspor non-migas, tapi pendekatannya sama. Resource bersifat (dibuat) unrenewable. Sayang Joop sudah tua!


Subject: Fwd: Re: Apa Guna Bangunan Tua
Date: Wed, 28 Aug 1996 19:36:23 -0700
From:Sandjaja Kosasih ([email protected])

>At 11:51 AM 27/8/96 -0700, you wrote:
>>From:[email protected] (Sutrisno Murtiyoso)

>>Hari Sabtu yang lalu, IAI Jabar bersama IAI DKI mengadakan Temu Wisata
>>Arsitek di Cirebon. Kota tuek yang paling sering disepelekan. Semua orang
>>pasti (merasa) tahu akan Cirebon karena semua orang pasti pernah, bahkan
>>berkali-kali lewat Cirebon. Tidak ada yang menjawab tidak tahu kalau ditanya
>>mengenai Cirebon. Hanya kalau dikatakan Cirebon itu penting bagi Sejarah
>>Arsitektur Indonesia, baru orang akan geleng-geleng tanpa nelan ecstasy.
>>"Mana mungkin?" Eh, kenapa nggak mungkin?
>>
>>Buat saya (subyektif yo ben), monumen paling penting dan berharga di Cirebon
>>(sebenarnya banyak sih, tapi agar dramatis gitu lho) adalah Dalem Agung
>>Pakungwati. Nama nggak penting laaa, tapi bahwa barang ini merupakan
...dst...

Pada tahun 1986 (kalau tidak salah) pada waktu saya masih mahasiswa dan ditugaskan untuk mempelajari Sejarah Arsitektur dapat bagian Cirebon. Yang mana tugasnya adalah mempelajari dan membuat laporan tentang Keraton Kasepuhan dan Masjid Agung Cirebon. Berikut sedikit nostalgia saya di Cirebon.

Dalem Agung Pakungwati kalau tidak salah ada di Keraton Kasepuhan.

Setiba kami di Cirebon (tim mahasiswa 5 orang yang terdiri dari berbagai suku, Sunda, Jawa, Cina, Bali) kami memperluas cakupan dengan tambahan Keraton Kanoman, Keraton Kacirbonan, Keraton Kaprabonan, Makam Sunan Gunung Jati dan Taman Sunyaragi. Kesemuanya terkait dengan Keraton Kasepuhan. Keraton-keraton di Cirebon terpecah menjadi empat karena masalah keluarga dan divide et impera-nya Belanda.

Pada waktu itu galaknya Pariwisata masih belum terasa, jadi yang dikunjungi wisatawan hanya Keraton Kasepuhan dan mungkin juga Keraton Kanoman yang tersembunyi di belakang pasar. Dua Keraton yang lain (entah sekarang masih ada atau tidak) terselip di dalam rumah-rumah dan toko-toko di Cirebon.

Karena waktu itu kita punya jalur khusus sehingga Sultan Kasepuhan yang bekerja (pegawai negeri?) di sebuah Bank dan keluarganya menjadi 'guide' kami. Juga adanya jalur khusus pula kita bisa membongkar arsip lama berupa gambar-gambar dari jaman Belanda (atau kemerdekaan) dengan bantuan lembaga-lembaga yang ada.

Karena waktu yang sempit (hanya satu minggu) kita memborong banyak gambar yang kita 'xerox' dan beberapa rol foto baik foto bangunan (7 objek di atas) maupun pribadi-pribadi baik itu juru kunci, sultan, dsb. Dan sebagian besar kita gambar ulang di Surabaya (meskipun nggak ada hubungannya dengan tulisan laporan).

Koleksi gambar saya kira seharusnya masih ada di instansi-instansi di Cirebon, juga di ITB, UGM, ITS, dll yang pernah meneliti disana. Koleksi foto yang mungkin berbeda dari waktu ke waktu. Koleksi foto tersebut moga-moga masih tersimpan dengan baik di perpustakaan kampus saya (tolong pak jospri dilihat-lihat masih baik nggak), kalau tidak salah ada dua copy waktu itu termasuk gambar-gambar keraton dalam bendel terpisah.

Moga-moga film negatif dari foto-foto tersebut ada di saya dan masih tersimpan dengan baik (tersimpan di Mojokerto, kota asal saya). Dan bisa mewujudkan cita-cita pendokumentasian Sejarah Arsitektur di cyberspace ini.

Sangat disayangkan jika bangunan yang cantik itu dirubah-rubah (bukan seperti Borobudur yang dicoba dikembalikan ke bentuk aslinya). Dari generasi ke generasi Sultan Kasepuhan Cirebon, bangunan bertambah, ada unsur dan bentukan Hindu, Islam, Cina, Belanda (entah apa saja) dalam keraton tersebut. Dari berbagai bahan sesuai tekonologi pada masanya (bata, keramik Cina, porselen, kayu, semen, dll.). Bahkan juga lanskap berupa Taman dan Kolam di bagian belakang keraton (masih ada nggak?). Apa generasi yang sekarang yang karena tidak dapat upeti dari rakyat lagi dan atas biaya dari pajak rakyat Indonesia dimana bukan sultan lagi yang punya mau tapi pemerintah mau menambahkan Arsitektur Indonesia Masa Kini? Dengan bahan masa kini pula (Esenza, genteng KIA, ...?). Bagaimana dengan masjidnya yang juga mengalami perluasan dari waktu ke waktu. Bahkan Taman Sunyaragi yang dijadikan pentas seni. Nasib Keraton Kanoman bagaimana lagi? Ini keraton kedua terbesar yang sangat kekurangan biaya pemeliharaan waktu itu (yang masuk daftar pemerintah mungkin hanya yang utama saja).

Bagaimana pula nasib keturunan sultan-sultan itu, pusaka-pusakanya, tradisi 1 Suro-nya, apa juga dipindah(kan)?


Subject: Fwd: Re: Apa Guna Bangunan Tua (jawab-jospri)
Date: Wed, 28 Aug 1996 19:37:16 -0700
From:[email protected] (josef prijotomo)

1. Lenyaplah gedung demi gedung; musnalah karya demi karya; kita sudah terlalu tertradisikan untuk meratapinya. Tradisi arsitek Indonesia hanyalah meratapi dan menangisi; dan sudah, sampai sebatas itu saja yang dilakukannya.

2. Bahwa pendidikan arsitektur telah hampir setengah abad usianya, tak banyak (kalau ada) yang telah diperbuatnya. Apa sih yang sudah diperbuat oleh pendidikan, ternyata ada, yakni kemampuan arsitek untuk meratapi dan menangisi itu. Terima kasihku untuk pendidikan arsitektur yang telah mengajari aku untuk meratap dan menangis

3. telah tradisi dalam sedu dan sedan arssitek indonesia, bahwa penghancuran itu pada akhirnya bermuara pada birokrasi dan investor. Mereka berdua adalah yang selalu dijadikan sumber dan pangkal pembongkarannya. Tak pernahkah terlintas dalam benak arsitek indonesia bahwa dia juga ikut andil dalam pembongkaran dan penghancuran bangunan tua itu? Kini, apa salah dan kekeliruan arsitek indonesia sehingga pembongkaran dan penghancuran itu berlangsung? Menyalahkan dan mnuduh pihak lain memang boleh dan baik, tapi akan lebih baik lagi bila mau melakukan pengakuan diri bahwa yang telah diperbuatnya hanyalah "tak berbuat".

4. bahkan borobudur adalah bangunan hindu yang dirombak menjadi bangunan budha; bahkan arsitektur jawa yang ndeprok itu adalah hasil dari bongkar-membongkar yang akhirnya membuat begawan sumur kebingungan dalam melacak balik asal dan ususl dari arsitektur jawa. Tengok pula sejarah nusantara yang dalam suksesi dan kudeta (hampir selalu) dibarengi dengan penghapusan memori terdahulu, atau dengan menjelek dan menyalahkan pendahulunya. Kakek moyang kita juga punya tradisi melakukan pembongkaran dan penghancuran. Nah, kalau kita wajib memuliakan tradisi, ya tentunya kita juga mesti ikut memuliakan pembongkaran dan penghancuran.

5. apakah LSAI bermimpi untuk menjadi pembongkar dan penghapus tradisi kakek moyang kita? Terserah RR semua (semua? lha wong tak lebih dari sepuluh yang selalu mengoceh, padahal daftar anggotanya berderet, lho)

jospri


Subject: Re: Fwd: Re: Apa Guna Bangunan Tua (jawab-jospri)
Date: Thu, 29 Aug 1996 19:20:01 -0700
From:[email protected] (bambang supriyadi)

>>From:[email protected] (josef prijotomo)
>>Subject: Re: Apa Guna Bangunan Tua (jawab-jospri)
>>1. Lenyaplah gedung demi gedung; musnalah karya demi karya; kita sudah
>>terlalu tertradisikan untuk meratapinya. Tradisi arsitek Indonesia hanyalah
>>meratapi dan menangisi; dan sudah, sampai sebatas itu saja yang dilakukannya.
untuk itu.... mari kita tidak meratap tetapi tertawa....1..2...3..huahahahahahahaha mengapa harus tertawa?..........karena ternyata dan berdasarkan fakta yang meratap dan menangis itu cumak sedikit ... yang sedikit lagi cumak manggut-manggut...(nggak jelas karepnya),... dan yang lebih banyak lagi nangis ...nggak, tertawa juga nggak, komentar juga nggak, ...mari kita sambut dengan tertawa lagi..1..2..3...huahahaha
>>2. Bahwa pendidikan arsitektur telah hampir setengah abad usianya, tak
>>banyak (kalau ada) yang telah diperbuatnya. Apa sih yang sudah diperbuat
>>oleh pendidikan, ternyata ada, yakni kemampuan arsitek untuk meratapi dan
>>menangisi itu. Terima kasihku untuk pendidikan arsitektur yang telah
>>mengajari aku untuk meratap dan menangis
nah kalau yang ini, ternyata juga tidak tepat benar wong yang berhasil meratap juga cuma sedikit di antara ribuan produksi arsitek (eh..sekarang Sarjana Teknik/ST dhing dan yang pasti belum arsitek tetapi sudah "arsitek"..bingung lah aku)..berbahagialah tuan-tuan yang masih bisa meratap dan menangis...ini lebih lumayan dari pada "mbelo'on", tetapi saya juga kamsia lho pada pend.ars. nyang ngajari "mbelo'on" ini
>>
>>3. telah tradisi dalam sedu dan sedan arssitek indonesia, bahwa penghancuran
>>itu pada akhirnya bermuara pada birokrasi dan investor. Mereka berdua adalah
>>yang selalu dijadikan sumber dan pangkal pembongkarannya. Tak pernahkah
>>terlintas dalam benak arsitek indonesia bahwa dia juga ikut andil dalam
>>pembongkaran dan penghancuran bangunan tua itu? Kini, apa salah dan
>>kekeliruan arsitek indonesia sehingga pembongkaran dan penghancuran itu
>>berlangsung? Menyalahkan dan mnuduh pihak lain memang boleh dan baik, tapi
>>akan lebih baik lagi bila mau melakukan pengakuan diri bahwa yang telah
>>diperbuatnya hanyalah "tak berbuat".
nah ...kalau yang ini saya setuju saja
>>
>>4............ Tengok pula sejarah
>>nusantara yang dalam suksesi dan kudeta (hampir selalu) dibarengi dengan
>>penghapusan memori terdahulu, atau dengan menjelek dan menyalahkan
>>pendahulunya. Kakek moyang kita juga punya tradisi melakukan pembongkaran
>>dan penghancuran. Nah, kalau kita wajib memuliakan tradisi, ya tentunya kita
>>juga mesti ikut memuliakan pembongkaran dan penghancuran.
ini.....juga oke-oke saja..bila perlu tahun depan semua kota dan desa..pokoknya yang ada tempat untuk manusia diratakan dulu, orang-orangnya sementara ngungsi ke hutan.. lha terus baru kita bangun karya-karya mutakhir yang sangat "luar biasa" pasti shiiip (ini kata mas parno...maaf bagi sobat-sobat yang belum kenal sama mas parno.. , beliau adalah salah satu orang bijak yang masih tersisa sampai saat ini dan beliau ini sobat kentalnya tuan sumur),
>>
>>5. apakah LSAI bermimpi untuk menjadi pembongkar dan penghapus tradisi kakek
>>moyang kita? Terserah RR semua (semua? lha wong tak lebih dari sepuluh yang
>>selalu mengoceh, padahal daftar anggotanya berderet, lho)
iya..ya daftarnya puanjang banget..tapi cuma jadi pembaca setia termasuk saya...huahahahahaha bagaimana misalnya setiap ada yang tahu, melihat, bahkan melakukan " bongkar-muat" karya diberitakan, kan lumayan untuk acara tangis-tangisan tiap akhir minggu

pipi


Subject: Re: Fwd: Re: Apa Guna Bangunan Tua (jawab - SUMUR)
Date: Thu, 29 Aug 1996 20:41:18 -0700
From:[email protected] (Sutrisno Murtiyoso)

ReTanggap Kepada Tanggapan Sanko d'Samalo:

>>Dalem Agung Pakungwati kalau tidak salah ada di Keraton Kasepuhan.

Betul, seratussssss . . . ..

>>Setiba kami di Cirebon (tim mahasiswa 5 orang yang terdiri dari berbagai
>>suku, Sunda, Jawa, Cina, Bali) kami memperluas cakupan dengan tambahan
>>Keraton Kanoman, Keraton Kacirbonan, Keraton Kaprabonan, Makam Sunan Gunung
>>Jati dan Taman Sunyaragi. Kesemuanya terkait dengan Keraton Kasepuhan.
>>Keraton-keraton di Cirebon terpecah menjadi empat karena masalah keluarga
>>dan divide et impera-nya Belanda.

Mohon dicatat, divide et impera di Cirebon itu dimulai justru oleh Sultan Agung Tirtayasa dari Banten, yang bersama-sama Amangkurat I dari Mataram ingin mencaplok Cirebon tetapi saling tunggu saja. Akhirnya Cirebon yang terlanjur stress menjadi paranoid dan meloncat ke pangkuan Batavia di akhir abad 17. Jadi Belanda sebagai sesama manusia hanya mengidap penyakit yang sama. Ini menarik karena di dalamnya, kayaknya, ada perlawanan.Mungkin mirip seperti Surakarta di awal revolusi kemerdekaan dulu. Belum kompak tapi sudah ambil keputusan. Eh iya, itu memang tradisi kita kok, saya jadi ingat perjanjian Bungaya di Makassar itu juga sama. Kemarin ini di sini . . . . . .
>>Pada waktu itu galaknya Pariwisata masih belum terasa, jadi yang dikunjungi
>>wisatawan hanya Keraton Kasepuhan dan mungkin juga Keraton Kanoman yang
>>tersembunyi di belakang pasar. Dua Keraton yang lain (entah sekarang masih
>>ada atau tidak) terselip di dalam rumah-rumah dan toko-toko di Cirebon.

Sebenarnya bukan empat. Hanya tiga, Kasepuhan dan Kanoman (akhir abad 17) dan Kacerbonan (awal abad 19). Yang satunya lagi Keprabon, bukan istana, tetapi cuma ndalem kepangeranan saja.
>>
>>Karena waktu itu kita punya jalur khusus sehingga Sultan Kasepuhan yang
>>bekerja (pegawai negeri?) di sebuah Bank dan keluarganya menjadi 'guide'

Ya betul, tetapi sekarang sudah pensiun. Anaknya lebih jago dan agresif lagi. Prince of Wates inilah yang 'memajukan' keraton Cirebon. Beliau lulusan FE di Universitas pasundan. Ekonoom.
>>kami. Juga adanya jalur khusus pula kita bisa membongkar arsip lama berupa
>>gambar-gambar dari jaman Belanda (atau kemerdekaan) dengan bantuan
>>lembaga-lembaga yang ada.

Wah ini yang bikin ngiler untuk ngutis . . . . Bagi-bagi dong.
>>
>>Karena waktu yang sempit (hanya satu minggu) kita memborong banyak gambar
>>yang kita 'xerox' dan beberapa rol foto baik foto bangunan (7 objek di atas)
>>maupun pribadi-pribadi baik itu juru kunci, sultan, dsb. Dan sebagian besar
>>kita gambar ulang di Surabaya (meskipun nggak ada hubungannya dengan tulisan
>>laporan).
>>Koleksi gambar saya kira seharusnya masih ada di instansi-instansi di
>>Cirebon, juga di ITB, UGM, ITS, dll yang pernah meneliti disana. Koleksi
>>foto yang mungkin berbeda dari waktu ke waktu. Koleksi foto tersebut
>>moga-moga masih tersimpan dengan baik di perpustakaan kampus saya (tolong
>>pak jospri dilihat-lihat masih baik nggak), kalau tidak salah ada dua copy
>>waktu itu termasuk gambar-gambar keraton dalam bendel terpisah.
>>
>>Moga-moga film negatif dari foto-foto tersebut ada di saya dan masih
>>tersimpan dengan baik (tersimpan di Mojokerto, kota asal saya). Dan bisa
>>mewujudkan cita-cita pendokumentasian Sejarah Arsitektur di cyberspace ini.

Wah saya berharap sekali untuk boleh mnerima the coffee dari situ . . .
>>Cina, porselen, kayu, semen, dll.). Bahkan juga lanskap berupa Taman dan
>>Kolam di bagian belakang keraton (masih ada nggak?).

Taman yang mana, keraton yang mana? Ada semua sih, tapi . . . . .
>>Apa generasi yang sekarang yang karena tidak dapat upeti dari rakyat lagi
>>dan atas biaya dari pajak rakyat Indonesia dimana bukan sultan lagi yang
>>punya mau tapi pemerintah mau menambahkan Arsitektur Indonesia Masa Kini?
>>Dengan bahan masa kini pula (Esenza, genteng KIA, ...?).
>>Bagaimana dengan masjidnya yang juga mengalami perluasan dari waktu ke
>>waktu. Bahkan Taman Sunyaragi yang dijadikan pentas seni. Nasib Keraton
>>Kanoman bagaimana lagi? Ini keraton kedua terbesar yang sangat kekurangan
>>biaya pemeliharaan waktu itu (yang masuk daftar pemerintah mungkin hanya
>>yang utama saja).

Semua baik-baik, tetap berdiri, berjaya bahkan semakin berminyak.
>>Bagaimana pula nasib keturunan sultan-sultan itu, pusaka-pusakanya, tradisi
>>1 Suro-nya, apa juga dipindah(kan)?

Maaf, bukan Suran, tetapi Muludan, upacara yang paling meriha dan spektakuler. Lain sama Yogya (walaupun semakin ke kini semakin mirip). Untuk yang tertarik harus buru-buru pesan tempat untuk nonton yang lama. kemungkinan besar tahun ini adalah terkahir dalam versi lama. Soalnya tahun depan sudah pasti dikemas untuk FESTIVAL KERATON NUSANTARA 1997. Jadi pasti dipoles dengan lebih canggih sehingga orang kecil nggak kebagian tempat lagi. Paling-paling di panggung ndangdutnya!

Terimakasih banyak sebanyaknya atas perhatian Sanko yang amat sangat menyejukkan hati (yang lagi kemropok ini). Mhon kerjasama lebih lanjutnya.

Salam. Jabat Tangan Erat Erat.


Subject: Re: Fwd: Re: Apa Guna Bangunan Tua (jawab - SUMUR)
Date: Sat, 31 Aug 1996 19:47:05 -0700
From:Endo Suanda ([email protected])

Sengaja tulisan-tulisan sebelumnya tidka saya muat lagi di sini. Semua penting, tapi agar tak terlalu ruwet melihatnya lagi. Saya kira semua pembaca masih mengingatnya.
Dari tulisan-tulisan itu, kita bisa melihat bahwa ada dua macam ekspresi utama: kesedihan dan kemarahan: sedih (meratap, menangis), marah tapi tak bisa keluar, karena mau marahin siapa? Orang lain tak mengerti perasaan dan persepsi kita. Ini sama juga dengan kondisi politik di negeri kita ini loh! Persis seperti Goenawan Mohamad bilang pada saya.
Sedih dan marah, akibatnya frustrasi juga, karena kita tak bisa berbuat konkret membandingi kenyataan itu. Tapi ini kan bukan yang pertama terjadi. Lihat Candi Cetho. Tahun 70-an dipugar besar-besaran. Ini lebih dhsyat lagi, karena yang mugar bukan "si empunya." Siapa yang punya candi itu? Lain dengan kraton Kasepuhan, yang masih punya akhli-waris, yang secara hukum mereka yang berhak. Candi Cetho itu? Tak usah saya berkomentar panjang. Tapi, siapa yang pernah mengusut? Semua harus "nrima."

Kompleks Sunyaragi dipugar, jadi daerah wisata dan di "depan"-nya dibangun panggung pertunjukan terbuka yang besaaaar, untuk bisa mewadahi pertunjukan kolosaaal. Orang awam pun cepat bisa baca: "Niru Prambanan," agar Cirebon punya predikat budaya adiluhung, great tradition. Persepsi melihat ke pusat, ke modernisme, ke kraton, kan sudah familiar sejak mitos "puncak-puncak kebudayaan..." Dan ini bukan mitos, tapi dalam hal seperti ini diwujudkan dalam usaha konkret: Lihat pembangunan Mesjid Istiqlal, lihat Panggung Pesta Rakyat (pada perayaan 50 tahun Merdekkkk, Indonesia Mas, yang begitu megah, mewah, meriah, sama-sekali-tak-murah), Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (yang mengusir rakyat), Lapangan Golf, Lippo City, dll. jutaan lagi proyek semacam itu. Dengan demikian, kasus Cirebon tidak bisa kita lihat hanya dalam kasus itu, tapi melekat pada sistem dan falsasah pembangunan Orde Baru. Suatu kasus kecil (tapi penting) sebagai korban keganasan "pembangunan," seperti halnya pembangunan "untuk" orang Baduy dan Timika.

Tahun 1994(?) Sultan Kasepuhan (the father of the present one) punya hajat, mantu. Digembor-gemborkan bahwa pesta ini akan dibuat sebagai sebuah model "keaslian" atau "kelengkapan" upacara pengantenan puteri kraton Cirebon, yang sudah puluhan tahun tak pernah dilakukan (karena tak punya dana (yang ini saya tak tahu persis dananya datang dari mana, tapi jelas mereka dapat banyak sponsor, baik instansi pemerintah walaupun pribadi). Apa yang terjadi? Muka luar itulah yang penting. Sama sekali tidak mengacu pada keaslian, tapi pada kelihatan (artifisial) megah, baik dari pelaksanaan upacaranya itu sendiri, maupun dari penyediaan makanannya (persis bufet ala pesta-gedongan jaman sekarang yang bisa keliling minta/ngambil apa-apa: dair mulai empal sampai es puter).
Pengantin disambut dengan para "ponggawa kraton" (puluhan): anak-anak muda dari sanggar tari/teater, pakai pakaian panggung, lengkap dengan kumis palsunya, membawa tameng dan tombak (tiruan, terbuat dari kertas)--kita memang patut bertanya: Ini "pertunjukan-panggung" atau upacara mantenan kraton? Kemudian, dalam kaitan dengan upacara itu (jelas tidak mereka maksudkan untuk hiburan para tamu), disajikan tari semacam bedaya "adiluhung" yang hanya diiringi gambang saja. Saya sebagai penari, pengamat, pecandu, peneliti tari yang sudah puluhan tahun di Cirebon, sama sekali tidak merasa familiar dengan _gaya_ tari itu, sebagai tari Cirebon (kraton maupun desa). Saya yakin tak ada satu orang pun wong-Cirebon yang mampu menikmati (read: membaca seninya, menilai, meresapi) tarian itu. Saya tidak akan memberi komentar lebih jauh atau apalagi memberi jawaban tentang kasus perombakan bangunan kompleks kraton sekarang ini. Hanya bertanya pada kita semua (termasuk pada diri saya sendiri), dengan pertanyaan yang menurut Pak Eko Purwono "rakus, terlalu besar" (karena kita tidak bisa menjawabnya, tidak bisa ngomong lagi): "What can (should) we do?"----Who knows! I don't know! No one does!
Mungkin sekarang kita tidak punya jawaban, paling "tertawa" seperti yang dilakukan teman-teman itu. Tapi pertanyaan ini tetap saya simpan, saya elus-elus terus (dengan sedih dan marah), saya makan, tidur dan kerja bersamanya, dengan keyakinan dan harapan satu ketika kita harus bisa menjawab, betapapun kecilnya.
Salam mesra (dari salah-satu yang sedih dan marah), (Toewan-toewan, saya nimbrung lagi, agar tidak dipecat dari keanggotaan LSAI)
Endo Suanda


Subject: Re: Fwd: Re: Apa Guna Bangunan Tua (sanko-lagi, re:sumur)
Date: Mon, 2 Sep 1996 19:07:29 -0700
From:Sandjaja Kosasih ([email protected])

>>Sebenarnya bukan empat. Hanya tiga, Kasepuhan dan Kanoman (akhir abad 17)
>>dan Kacerbonan (awal abad 19). Yang satunya lagi Keprabon, bukan istana,
>>tetapi cuma ndalem kepangeranan saja.

Kamsia koreksinya, soalnya menggali ingatan 10 tahun yang lalu banyak lupanya juga, lagian dulu nggak 100% neliti itu saja.
>>>>kami. Juga adanya jalur khusus pula kita bisa membongkar arsip lama berupa
>>>>gambar-gambar dari jaman Belanda (atau kemerdekaan) dengan bantuan
>>>>lembaga-lembaga yang ada.
>>
>>Wah ini yang bikin ngiler untuk ngutis . . . .
>>Bagi-bagi dong.

Dokumen-dokumen berupa gambar itu kami dapatkan di suatu institusi (akademi?, PU?) yang ada pendidikan Arsitekturnya di Cirebon. Hasil 'xerox' disimpan oleh ketua tim waktu itu, nggak tahu sekarang dimana keberadaannya. Aslinya semoga masih disimpan ditempat yang layak di Cirebon. Sebagai gambaran dokumen gambar yang kami 'xerox' kertasnya sudah kekuningan, tulisannya latin dan miring-miring (bukan seperti gambar teknik sekarang yang pakai sablon). Lengkap dengan berbagai bangunan kota di sekitar keraton (mungkin semacam yang ada di BPN sekarang).
>>>>Cina, porselen, kayu, semen, dll.). Bahkan juga lanskap berupa Taman dan
>>>>Kolam di bagian belakang keraton (masih ada nggak?).
>>
>>Taman yang mana, keraton yang mana? Ada semua sih, tapi . . . . .

Di Keraton Kasepuhan di bagian belakang bangunan keraton (yang paling belakang) masih ada lagi tanah yang luas dengan kolam dan bangunan (sepertinya bangunan baru) di tengah (atau pinggirnya? saya lupa). Namun karena letaknya jauh di belakang tidak ada wisatawan yang ke belakang waktu itu mengingat melewati bagian bangunan keraton yang masih ditinggali oleh keluarga keraton.
>>>>Bagaimana pula nasib keturunan sultan-sultan itu, pusaka-pusakanya, tradisi
>>>>1 Suro-nya, apa juga dipindah(kan)?
>>
>>Maaf, bukan Suran, tetapi Muludan, upacara yang paling meriha dan
>>spektakuler. Lain sama Yogya (walaupun semakin ke kini semakin mirip). Untuk
>>yang tertarik harus buru-buru pesan tempat untuk nonton yang lama.
>>kemungkinan besar tahun ini adalah terkahir dalam versi lama. Soalnya tahun
>>depan sudah pasti dikemas untuk FESTIVAL KERATON NUSANTARA 1997. Jadi pasti
>>dipoles dengan lebih canggih sehingga orang kecil nggak kebagian tempat
>>lagi. Paling-paling di panggung ndangdutnya!

Ya dah, soalnya waktu penelitian memang cuma ditunjukin foto-foto koleksi mereka saja untuk acara ini. Waktu itu dijanjiin diundang, tapi kita nggak datang (maklum tugas mahasiswa banyak sih, ke Cirebon saja waktu itu mbolos kuliah yang lain, tapi hasilnya cukup membekas di hati juga).

sanko


Sampai sini diskusi tidak berlanjut lagi (kecuali ada surat yang nggak saya terima)

[Kembali ke Pagina Muka] [Sambungan Arsitektur]
[Ke Index Koleksi Foto Arsitektur][Ke Koleksi Foto Cirebon]

E-mail
[email protected]


This page hosted by Get your own Free Home Page


SanKoSanko 1996
Samarinda - Kalimantan Timur - Indonesia
2 Oktober 1996
sanko010, koreksi akhir 23 Oktober 1996
Hosted by www.Geocities.ws

1