PAHLAWANKU IRINGI SUKSESKU


            Nama saya Radna Safitri. Teman-teman saya biasa memanggil saya Radna. Saya lahir pada tanggal 29 april 1996. Saat ini saya duduk dikelas XI, tepatnya kelas XI IPA 2. Saya biasanya mengisi waktu luang saya untuk browsing, menyanyi atau sekedar menyalurkan bakat saya melalui menulis.

Masa terindah saya di Sekolah Menengah Pertama telah usai. Kini saya menapakkan kaki dengan sejuta harapan untuk masa depan saya kelak di sebuah sekolah impian yang sangat saya dambakan sejak saya masih berseragam putih-biru. SMA Negeri Sumatera Selatan (Sampoerna Academy), itulah nama sekolah saya. Sekolah ini begitu istimewa bagi saya karena sampai saat ini saya menemukan banyak hal istimewa disini. Sebelumnya saya tidak pernah menyangka jika saya dapat melanjutkan pendidikan saya di SMA Negeri Sumatera Selatan (Sampoerna Academy), karena sekolah ini hanya mengambil siswa-siswa pilihan yang ada diseluruh Indonesia yang berasal dari keluarga kalangan menengah kebawah. Persaingan yang ketat untuk memperebutkan tiket masuk sekolah ini tidak mudah, karena itulah saya sangat bersyukur bisa diterima disekolah ini.

 Dengan diterimanya saya disekolah ini berarti saya telah membantu orang tua saya untuk membiayai sekolah saya. Sejak awal saya begitu tertarik dengan program beasiswa yang ditawarkan sekoah ini. Betapa tidak, biaya selama pendidikan SMA diberikan dalam bentuk beasiswa. Dengan mendapatkan beasiswa pendidikan tersebut saya dapat meringankan beban orang tua saya untuk membiayai pendidikan saya selama tingkat SMA ini. Uang pendidikan, uang makan, dan biaya tempat tinggal sudah tersedia lengkap melalui beasisa tersebut. Alangkah sayang jika kesempatan ini tidak saya pergunakan untuk menuntut ilmu dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya.

Selain menyediakan program beasiswa, SMA Negeri Sumatera Selatan (Sampoerna Academy) juga merupakan salah satu boarding school yang ada di daerah Sumatera Selatan. Boarding school atau yang lebih dikenal dengan sekolah berasrama merupakan sekolah yang menerapkan sistem sekolah berasrama. Oleh sebab itu, semua siswa yang diterima di SMA Negeri Sumatera Selatan diharuskan tinggal di asrama selama kurun waktu tiga tahun lamanya. Bertempat tinggal di asrama berarti kita tinggal jauh dari kediaman orang tua. Hal itulah yang dulu pernah menghalangi saya untuk bersekolah disini, namun akhirnya saya memantapkan diri untuk mengambil program beasiswa tersebut.

Sebagian orang tua mungkin tak mengizinkan anaknya untuk tinggal jauh dari mereka. Hal itulah yang dialami oleh ibu saya. Ketika mendengar kabar bahwa saya lulus seleksi pemilihan siswa SMA Negeri Sumatera Selatan (Sampoerna Academy), ibu saya melarang saya untuk mengambil program beasiswa tersebut karena menurutnya saya masih terlalu belia untuk jauh dari orang tua saya. Namun saya berhasil memberikan penjelasan kepada ibu saya mengenai keinginan saya untuk tetap meneruskan niat saya mengambil beasiswa itu, hingga akhirnya dengan bantuan nasehat dari ayah saya akhirnya ibu mulai mengizinkan saya untuk berada jauh darinya walaupun sebenarnya hal tersebut susah dilakukannya.

Sebelumnya, saya tak pernah berfikir untuk berada jauh dari orang tua saya. Demi cita-cita dan masa depan saya harus membuat suatu keputusan yang terbaik. Memang benar setiap keputusan yang kita ambil pasti memiliki konskuensi dan ada hal yang harus dikorbankan. Dengan keyakinan yang besar itu saya memantapkan diri saya untuk mengambil program beasiswa tersebut. Itulah pilihan saya dan saya tidak pernah menyesal dengan keputusan yang saya buat itu.

Hari pertama saya menginjakkan kaki di SMA Negeri Sumatera Selatan sangatlah berbeda dengan keadaan sewaktu saya masih SMP dulu. Bertemu dengan orang-orang baru, melakukan aktivitas baru dan hal yang paling susah adalah tinggal jauh dari orang tua. Mingu pertama disekolah ini adalah saat tersulit bagi saya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru saya ini. Atmosfer yang berbeda membuat saya lemah dan semakin merasa homesick.

Hari-hari saya disekolah ini begitu berwarna dan waktu terasa berputar sangat cepat. Setelah mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS) sekitar lima hari, akhirnya kami (siswa baru SMA Negeri Sumatera Selatan) dikukuhkan sebagai siswa di SMA ini dengan adanya acara Inagurasi. Diacara Inagurasi tersebut seluruh orang tua siswa beserta jajaran pemerintahan serta donatur beasiswa kami diundang untuk menghadiri acara inagurasi tersebut. Selain sebagai acara pengukuhan siswa baru, Inagurasi juga sebagai ajang istimewa karena inilah tahap awal orang tua menitipkan anak-anaknya ke sekolah ini.

Saat saya diinagurasi dan resmi menjadi siswa SMA Negeri Sumatera Selatan, saya merasa ada kesedihan terdalam dibalik senyum orang tua saya yang duduk dibarisan orang tua siswa. Ketika lagu melangkah lagi dari Gita Gutawa diputar seluruh siswa baru SMA Negeri Sumatera Selatan memberikan setangkai bunga mawar kepada orang tua mereka. Saya benar-benar tidak menyangka kalau air mata saya jatuh berlinang saat saya memberi bunga mawar tersebut kepada ayah dan ibu saya. Rasa bahagia, sedih, bangga dan haru bercampur jadi satu. Memeluk kedua orang tua adalah hal yang bisa saya lakukan untuk menenangkan perasaan saya saat itu. Meminta izin untuk sekolah di SMA Negeri Sumatera Selatan dengan kata-kata yang tersedu-sedu akibat isak tangis merupakan hal yang paling haru dan sulit saya lakukan.

Sejenak saya melihat air mata menetes dari mata-mata cantik kedua pahlawan saya, yakni ayah dan ibu saya. Hal itu membuat saya semakin lemah akan perasaan saya saat itu. Berpisah dengan mereka memang berat, tapi seiring waktu berlalu saya yakin saya bisa melalui hal itu. Sekarang, saya bisa membuktikan bahwa saya telah mampu mandiri dan berada jauh dari orang tua. Satu hal yang masih saya ingat sampai saat ini adalah pesan singkat dari sepupu saya yang sangat saya sayangi. Waktu itu saya pernah curhat melalui pesan singkat kepada sepupu saya mengenai keinginan saya untuk pulang dan bertemu orang tua saya saat lebaran Idul adha tiba. Namun, jarak rumah dengan asrama yang cukup jauh serta waktu libur yang sangat singkat, saya memutuskan untuk tidak pulang. Rasa kangen itu rupanya harus dipendam untuk waktu yang sedikit lebih lama, namun akhirnya perasaan saya bisa luluh saat saya membaca pesan singkat dari sepupu saya. Dia menasehati saya bahwa, “kalau jadi seorang cewek itu jangan cemen, dan belajarlah mandiri karena semua itu akan kamu hadapi saat kamu jauh dari kasih sayang orang tuamu.” Pesan singkat itu memberi dukungan dan motivasi yang begitu besar kepada saya.

Keluarga saya adalah cinta saya. Saya harus membuktikan kepada mereka kalau saya juga mampu hidup mandiri dan tidak boleh manja kepada mereka. Dukungan dan do’a dari keluarga saya adalah motivasi terbesar dalam hidup saya. Cinta mereka abadi dalam relung hati saya. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya juga. Saat saya melihat senyum yang merekah dari raut wajah mereka, sudah cukup bagi saya untuk ikut larut dalam suasana itu. Maka dari itu saat saya pulang kerumah, saya hanya ingin menghabiskan waktu liburan saya bersama mereka. Hal langka tersebut harus dimanfaatkan untuk berkumpul bersama mereka. Kadang obrolan ringan dan celotehan menghiasi waktu senggang kami. Ayah, ibu, adik dan keluarga besar saya sungguh anugerah terindah bagi saya. Saya rindu kalian pahlawan-pahlawan hebat dalam hidupku. J

 

Note : Homesick = Kangen rumah

 
 Flag Counter
 
Cuteki birthday card
 
Cuteki birthday card greeting
 

 

 Enjoy My World Guys
About Me
Home
Articles
Gallery
Dreams

Radna Safitri

 

Twitter

 

Wordpress


My YM