ANGKASA N0.7 APRIL 2001 TAHUN XI  

Toulouse Geser Seattle Sebagai Pusat Dirgantara

Dari ETOPS ke LROPS

Operasi Militer Tergantung Presiden

Mir, Beristirahatlah dengan Tenang di Pasifik

Kronologi Satu Riwayat Besar

Musik Kokpit Radio A

  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kokpit
Kolom
Kisah Nyata
Liputan Khusus
Lobi
Lukisan Dirgantara
Militer
Notam
Origami
Ordirga
Opini
Profil
Pesawat Model
Penerbangan Sipil
Siapa-siapa
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
LAIN-LAIN  

Berbahayakah
Alat Elektronik Portable pada Penerbangan?

Elektronik dalam penerbangan

Pada setiap penerbangan komersial, awak pesawat akan memberitahu penumpang untuk tidak menggunakan atau mematikan alat elektronik portable seperti handphone, tape/CD player, komputer laptop, dan game-boy, terutama selama take-off dan landing. Anjuran ini dibuat karena ada dugaan bahwa alat elektronik portable tersebut dapat membahayakan keselamatan penerbangan. Bagaimana alat-alat elektronik tersebut dapat berpengaruh pada keselamatan penerbangan?

Hal ini berkaitan dengan yang disebut sebagai interferensi elektromagnetik. Interferensi elektromagnetik di sini berarti terganggunya kerja suatu alat elektronik lain. Sebagai contoh, jika handphone yang sedang bekerja kita dekatkan pada elektronik, karena pengaruh dari medan elektromagnet yang dikeluarkan oleh alat sistem audio, seperti speaker radio atau telepon, maka mungkin dapat mengakibatkan speaker tadi mengeluarkan bunyi (tergantung dari jenis handphone dan peralatan audionya). Hal ini dikarenakan peralatan audio tadi mendapatkan interferensi dari gelombang elektromagnetik oleh handphone. Interferensi ini bisa terjadi karena frekuensi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkannya yang dipancarkan/digunakan oleh alat tersebut berdekatan. Jika bukan terkena interferensi oleh frekuensi utama yang dipancarkannya mungkin oleh harmonisanya, yakni frekuensi sampingan yang timbul.

Trend yang berkembang pesat pada sistem pesawat terbang saat ini adalah makin banyak digunakan peralatan elektronik. Hal ini terutama terjadi pada sistem kontrol mesin, kontrol pesawat dan navigasi. Bahkan kini telah banyak pesawat yang menggunakan sistem "fly-by-wire", di mana sistem penyampaian informasi dari kokpit ke sayap dan ekor pesawat tidak lagi menggunakan sambungan mekanis, namun menggunakan kabel listrik atau optik.

Peralatan elektronik yang dipasang pada pesawat terbang kesemuanya telah didesain dengan spesifikasi yang ketat, agar terbukti keandalannya, termasuk untuk tidak mudah terinterferensi ataupun menginterferensi peralatan elektronik lain. Contohnya pada pengaturan frekuensi. ADF (Automatic Directional Finder) menggunakan frekuensi 190-1.750 KHz, VHF communication menggunakan frekuensi 275-399 MHz, GPS menggunakan frekuensi 1.575 MHz, sedangkan ILS (Instrument Landing System) menggunakan frekuensi 5.03-5.09 GHz. Demikian juga dengan lokasi peralatan tersebut telah diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi interferensi.

Namun demikian, berbagai macam dan jenis dari peralatan elektronik portable yang ada sulit untuk dipantau frekuensi utamanya, apalagi harmonisasinya. Hal inilah yang menjadi perhatian dari para ahli keselamatan penerbangan. Sebab kendati kekuatan signal yang dikeluarkan sebagai harmonisasinya ini kecil, bentuk dan bahan struktur pesawat yang biasanya berongga dan terbuat dari almunium dapat berfungsi sebagai resonator dan memperbesar kekuatan signal ini. Sehingga pada tanggal 16 September 1988, Radio Technical Communication Aeronautics (RTCA) merekomendasikan dilarangnya penggunaan peralatan elektronik portable pada saat take-off dan landing.

Kendati demikian seberapa bahaya sebenarnya peralatan elektronik portable ini bagi keselamatan penerbangan, masih merupakan perdebatan. Berbagai riset mengenai hal ini masih terus dilakukan oleh para pembuat pesawat dan lembaga penelitian independen. Statistik yang dibuat oleh NASA mengenai kecelakaan pesawat dari bulan Januari 1986 hingga Juni 1996 menunjukan bahwa hanya 0,08 persen dari kecelakaan pesawat disebabkan oleh interferensi dari peralatan elektronik portable. Sebuah kecelakaan yang cukup besar, yakni jatuhnya pesawat Swissair di Nova Scotia ditenggarai disebabkan oleh interferensi elektromagnetis dari sistem multimedia. Namun hal inipun masih menjadi perdebatan para ahli.

Sehingga kesimpulannya, peralatan elektronik portable mempunyai potensi untuk membahayakan keselamatan penerbangan. Namun seberapa besar bahayanya, hingga kini masih dipelajari. Yang jelas, semua operator penerbangan pasti tidak ingin mengambil risiko sekecil apapun demi keselamatan penerbangan, hingga ada larangan untuk menggunakan peralatan elektronik portable ini, terutama saat take-off dan landing. Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan pertimbangan ketika Anda terbang. (R. Heru Triharjanto/Air Safety Investigation pada Komite Nasional Keselamatan Transportasi)



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kokpit | Kolom | Kisah Nyata | Liputan Khusus | Lobi | Lukisan Dirgantara | Militer | Notam | Origami | Ordirga | Opini | Profil | Pesawat Model | Penerbangan Sipil | Siapa-siapa | Wawancara |

Copyright � 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media


Hosted by www.Geocities.ws

1