Masjid
Darul Irfan SMU Negeri 8, Jl.
Taman Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan
|
|
Ma'rifatullah Fondasi Kehidupan Secara
fitrah, manusia memiliki kebutuhan standar. Dalam salah satu bukunya, Imam Al-Ghazali
mengatakan bahwa manusia memiliki kecenderunagn untuk mencintai dirinya,
mencintai kesempurnaannya, serta mencintai eksistensinya. Dan sebaliknya,
manusia cenderung memberi hala-hal yang dapat menghancurkan, meniadakan,
mengurangi atau menghancurkan kesempurnaan itu. Orang
besar tekenal banyak dipuji-puji, memiliki pengaruh dan kekayaan yang melimpah,
pengikutnya beribu-ribu, akan takut setengah mati jika takdir mendadak
merubahnya menjadi miskin, lemah, bangkrut, terasing atau ditinggalkan manusia.
Begitulah tabiat manusia. Padahal, kecintaan kita kepada selain Allah sampai
begitu banyak, maka cinta itu pasti akan musnah. Seharusnya
kebutuhan kita akan kebahagiaan duniawi, membuat kita berpikir bahwa Allahlah
satu-satunya yang memiliki semua itu. Adapun kekhawatiran tentang standar
kebutuhan kita, mestinya membuat kita berlindung dan berharap kepada Allah
dengan mengamalkan apa-apa yang disukainya. Jadi, kebutuhan pada diri kita itu
seharusnya menjadi jalan supaya kita mencintai Allah. Seorang
muslim selayaknya memahami, bahwa keindahan cinta yang paling hakiki adalah kita
mencintai Allah SWT. Dan pondasi utama yang harus dibangun oleh seorang muslim
untuk menggapai keindahan cinta tersebut adalah dengan mengenal Allah (ma'rifatullah).
Bagi seorang muslim ma'rifatullah adalah bekal untuk meraih prestasi
hidup setinggi-tingginya. Sebaliknya, tanpa ma'rifatullah seorang muslim
memiliki keyakinana dan keteguhan hidup. Ma'rifatullah
adalah pengarah yang akan meluruskan orientasi hidup seorang muslim. Dari
sinilah dia menyadari bahwa hidupnya bukan untuk siapa pun kecuali hanya untuk
Allah SWT. Jika seorang hidup dengan menegakkan prinsip-prinsip ma'rifatullah
ini, maka insya Allah, alam semesta ini akan Allah tundukkan untuk melayaninya.
Dengan fasilitas itulah, dia kemudian akan memperoleh kemudahan dalam setiap
urusan yang dihadapinya. Maka
berbahagialah orang yang senantiasa berusaha mengenal Allah, sehingga
kedekatannya dengan Allah senantiasa dipisah oleh tabir yang semakin tipis. Bagi
orang yang dekat dengan Allah, dia akan dianugrahi ru'yah shadiqah (penglihatan
hati yang benar). Di
sisi lain, ma'rifatullah juga menjadi sangat penting dalan merevolusi
pribadi seseorang untuk berubah ke arah kebaikan. Dengan kata lain, perubahan
yang dahsyat dan hakiki itu bisa terjadi ketika seseorang mempunyai keyakinan
pribadi yang sangat kuat kepada sang Khalik. Dengan
kekuatan iman, seorang pengecut seketika berubah menjadi seorang pemberani.
Seorang pemalas tiba-tiba berubah menjadi bersemangat. Sehingga siapa pun yang
menginginkan perubahan positif yang cepat dalam dirinya kuncinya adalah
membangun kayakinan yang kuat kepada Allah SWT. Banyak contoh berbicara tentang
betapa kuatnya peran keyakinan dalam merubah pribadi seseorang. Umar
bin Khatab ra. yang sebelumnya begitu pemarah dan berwatak keras, bahkan anaknya
sendiri dikubur hidup-hidup. Namun berkat tumbuhnya tauhid dalam dirinya, beliau
berubah menjadi begitu bermurah hati dan penyantun. Bukan hanya individu,
Kisah
lain dapat disebut, yaitu kisah seorang shahabiyah yang bernama Khansa.
Wanita mukminah yang hidup di zaman sahabat ini ketika kerabatnya wafat, emosi
kesedihannya begitu luar biasa. Dia menangis begitu pilu, meratap, merobek-robek
baju, memukul dada. Tapi sesudah mendapat hidayah, emosinya dapat terkontrol. Bahkan
dalam sebuah pertempuran, ia berseru pada keempat anak laki-lakinya. "Hai
anak-anakku, ini kesempatan besar. Kalau engkau mengalahkan mereka, engkau dapat
pahala di sisi Allah. Kalau engkau menjadi syuhada, engkau mendapat kemuliaan di
sisi Allah. Bertempurlah dengan semangat membara!" Lalu
anak-anaknya bertempur luar biasa, hingga satu persatu gugur menjadi syuhada.
Namun kala itu bukan ratapan yang ia berikan, malah ungkapan syukur. Padahal
dulu, hanya saudaranya saja yang meninggal dunia ratapannya sangat luar biasa,
sampai hendak bunuh diri karena putus asa. Namun di kemudian hari, dia malah
mengantar syahid anak-anaknya dengan penuh ketabahan dan keikhlasan. Oleh
karenanya, siapa pun yang tidak mempunyai pondasi ma'rifatullah dalam
dirinya, maka ia akan sulit untk memperoleh ketenangan, kedamaian, kabahagiaan,
dan kesuksesan hakiki. Jika kita makin mengenal siapa Allah, maka akan terasa
semakin kecil nilai makhluk. Ketika kita semakin mengerti penghargaan dari Allah
maka kian tidak berarti penghargaan yang kita terima dari makhluk. Di
saat kita merasakan betapa sempurnanya balasan dari Allah, maka betapapun
besarnya balasan dari makhluk tidak akan sebanding harganya dengan balasan
Allah. Makin detailnya penglihatan Allah, makin tidak penting pengawasan makhluk.
Siapapun yang mengenal Allah tidak akan pernah kecewa dengan perbuatan Allah. Hal-hal
seperti itulah yang lambat laun akan membina kita menjadi pribadi-pribadi ihklas.
Insan-insan yang hanya bergantung dan berharap kepada Allah SWT. Maka kekuatan
untuk bisa maju, mulia, dan bermartabat itu hanya bisa dicapai dengan keyakinan
kepada Allah SWT. Kekuatan keyakinan memang begitu dahsyat, sehingga atas izin
Allah setiap kebaikan yang diingini oleh seorang muwahid (orang yang
betauhid) akan dibayar oleh Allah di depan matanya. Maka
semua puncak ketenangan, kebahagiaan, perubahan, kedamaian, serta kesuksesan itu
berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kepada Allah Yang Maha Agung. Oleh
karena itu berapapun biaya, tenaga, waktu dan apapun yang kita korbankan untuk
mendekatkan diri kepada Allah seharusnya tidak perlu dirisaukan, sebab
pengornbanan itu tidak sebanding dengan maslahat yang akan kita terima. Dalam
ilmu mengenal Allah SWT, ada rambu-rambu supaya keyakinan itu berada pada rel
yang tepat, sehingga tidak menjadi alasan untuk kelemahan dan kemaksiatan.
Jangan sampai keyakinan ini menjadi tempat menyembunyikan diri kita dari
kemalasan dan kegigihan berikhtiar. Jangan
sampai keyakinan bahwa Allah Maha Kaya membuat kita tidak gigih menjemput rizki
kita. Keyakinan Allah Maha Pengampun malah membuat kita mengenteng-enteng
perbuatan dosa. Keyakinan bahwa Allah Maha Memberi, jangan sampai membuat kita
lalai dalam mencari nafkah. Selanjutnya
kita harus lebih profesional, karena ketika mengingat Allah kita terkadang
cenderung ingat kepada balasanNya, ingat pada keras siksaNya. Jika semua itu
memang mampu membuat kita takut dan menghindari perbuatan dosa, tentu sangatlah
bagus. Namun, kita juga harus ingat bahwa ampunan Allah itu ternyata demikian
dahsyat, Allah mendahulukan kasih sayangNya dibanding kemarahanNya. Mudah-mudahan uraian ringkas ini dapat memacu kita untuk semakin mengenal Allah Yang Maha Dekat, Yang Maha Menyayangi. Sehingga kita semakin merasakan kekuatan perubahan, dahsyatnya revolusi, baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat dengan tertancapnya pondasi ma'rifatullah, pondasi kekuatan keyakinan pada Allah SWT.
|
|
* mohon maaf apabila ada yang tidak tercantum karena kekurangan data, bagi yang berkenan menambahkan, membetulkan data, atau memberikan kesan/ saran silakan kirim email ke [email protected] . |