- Pada saat R. A. Kartini dalam pingitan dan tidak boleh keluar, ia menghabiskan waktunya dengan membaca sehingga membaca baginya menjadi kegemaran dan hobi. dari sanalah ia kemudian berpikir untuk memajukan perempuan Indonesia. Bisa baca tulis dan berpikiran maju serta memiliki ilmu seperti pada pada umumnya yang dimiliki perempuanperempuan eropa saat itu.
- Untuk mewujudkan impiannya itu kemudian kartini mengumpulka teman-teman wanitanya, kerabat, tetangga, dll. untuk diajarkan baca tulis dan sejak iyu ia mulai memiliki aktivitas dan kesibukan sebagai pengajar. Meski demikian Kartini tetap selalu membaca dan juga menulis untuk menambah wawasan dan pengetahuannya termasuk ia menulis surat kepada Mr. J. H. Abendanon yang berisi permohonan beasiswa untuk belajar di negara Belanda.
- Namun beasiswa yang diterima Kartini tidak sempat ia manfaatkan karena ia harus menikahi laki-laki sesuai keinginan orang tuanya tepatnya pada tanggal 12 November 1903 (usia 24 tahun) dengan K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat seorang bupati Rembang yang sebelumnya pernah memiliki 3 orang istri.
kartini bersama suaminya
- Meski sudah menikah Kartini tetap memperoleh kebebasan dan mendapat dukungan dari suaminya untuk meneruskan cita-citanya memajukan perempuan Indonesia dengan mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
- Dari pernikahannya itu R. A. Kartini dikaruniai putra bernama Raden Mas Soesalit yang lahir pada tanggal 13 September 1904 dan beberapa hari kemuddian tepatnya tangal 17 September 1904 R. A. Kartini meninggal dunia pada usianya yang ke-25 dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
makam R. A. Kartini di Bulu
[kembali ke menu utama]