Air Mata Bangga Ibuku
“Ah tak usahlah kau pikirirkan ibumu ini, kejarlah cita-citamu, lagipula ada kakak mu yang membantu ku untuk membiayai kebutuhan hidup”kata ibuku yang berbaring ditempat tidurnya saat jam bergendang menujukkan waktu 12 malam. Aku menghela nafas, sambil menarik selimut untuk masuk kedalam dunia mimpi. Dalam hati yang mengacau dan otak yang mengusut sambil memutuskan sekolah mana yang harus kupilih.
...
“Hoammm” dunia telah menjelang fajar. Aku terbangun dari mimpiku lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membilas wajah yang kusut. Ditengah perjalanan kulihat wanita yang telah menyiapkan barang dagangannya ke dalam gerobak tua untuk dibawa kepasar. Ya, itu ibuku, ia sangat membanting tulang memenuhi kebutuhanku dan kakakku. Sedih rasanya membiarkan wanita separuh baya itu bangun tengah malam, menyalakan seunggun api, menyiapkan sarapan pagi, dan melakukannya seorang diri. Aku hanya bisa membantu sedikit tak lebih dari membersihkan rumah. Ya itulah aku, apa yang bisa aku lakukan, mencari uang? itu tentu belum bisa, hanya do’a supaya ibuku selalu sehat dan belajar supaya kelak menjadi orang sukses. “Nak, cuci mukamu supaya tidak ngantuk lagi, lalu ambilah air wudhu dan sholat subuh” kata ibuku ketika aku berjalan terkuntang kantung karena ngantuk.
...
“Teeeeeeeeeeeeeeetttt” suara bel berbunyi dan saatnya aku masuk ke kelas. Saat ditengah jam pelajaran yang kosong, tiba- tiba ada siswa-siswi yang akan bersosialisasi tentang SMAnya. Awalnya aku terkejut karena yang datang adalah siswa dari SMAN Sumatera Selatan (Sampoerna Academy), sekolah favorit berbeasiswa dengan standard Internasional di Sumatera Selatan yang mengualitaskan anak-anak berprestasi dari ekonomi kalangan bawah. Aku ingin sekali masuk ke SMA tersebut dengan melihat siswa-siswi tersebut semakin bertambah keinginanku bersekolah disana. Tapi, dalam hati berfikir, bagaimana nasib ibuku? Seorang diri hanya ditemani kakak ku. Memang, jika aku sekolah disana aku bisa mengurangi beban ibuku, karena biaya yang telah ditanggung oleh sekolah tersebut. Berfikir dan menghayati, Ayah tidak ada dan Ibuku sendirian, sedangkan gaji kakakku yang masih kecil. Memang, Ayah ku telah meninggal semenjak aku kelas 1 SMP. Kecelakaan itu membuat aku masih teringat dan mungkin tak terlupakan seumur hidup. “Huh” hembusan nafas tesendatku menambah keraguan yang membandingkan dua pilihan yang harus terjadi.
...
“Assalamualiakum, Assalamualaikum, Assalamualaikum” Ucapku sesampai dirumah sepulang sekolah. Tapi tak ku dengar suara sahutan tersebut, langsung saja kumasuk kedalam rumah. Ku lihat ibuku sudah terbaring ditempat tidur. Lelah, letih, pasti itu yang ibuku rasakan. Kulihat tudung merah dimeja makan, beberapa lauk pauk yang tertata cantik telah ibuku siapkan. Belum kusentuh lauk tersebut tapi malah kututup kembali, lekas mengambil setumpah air wudhu untuk sholat zuhur karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang dan jika ditunda akan terlambat untuk sholat. Dalam do’a kutumpahkan segala keluhan hati dan permintaan yang ingin di gapai, ‘curhat pada Tuhan’ itu solusi dari kedua orang tuaku. “Nak, lauk ada dimeja makan, ibu sudah siapkan untuk mu dan kakakmu” kata ibuku terbangun dari tidurnya. “Iya bu” sahutku setelah sholat. “Bagaimana belajar disekolah tadi?” tanya ibuku “Baik bu, di sekolah tadi seru lalu ada siswa dari SMAN Sumatera Selatan (Sampoerna Academy) yang bersosialisasi” jawabku “oh, bagus kalau begitu, keinginanmu pasti bertambahkan untuk masuk ke SMA itu?” tanya ibuku lagi, aku terdiam sejenak, lalu berkata “ Iya bu, aku sangat ingin masuk ke SMA itu tapi..” kata ku terpotong karena ibuku langsung menanggapi kata-kataku itu “karena kau tak mau meninggalkan ibumu ini sendirian kan?“ aku langsung menganggutkan kepala dan hanya bisa diam. “sudahlah aku tau kau ingin sekolah disana lagi pula aku merestuimu, kau bisa jadi orang sukses kelak, masa depanmu bakal cerah jika kau bisa sekolah disana” tegas ibuku tapi dengan penuh kelembutan. “ibu yakin jika sendirian disini dan cuma ada kakak?” tanyaku “Ibu sangat yakin, lagipula jika kamu sukses ibu juga yang bangga” kata ibuku yang sambil tersenyum cantik bagaikan bunga yang berseri. Ku balas senyuman itu dan berkata “aku akan berusaha untuk masuk ke SMA itu bu” jawabku dengan yakin dan lega karena jawaban ibuku yang sangat mendukung ku untuk masuk ke SMA tersebut. “Tinggal usahamu belajar dengan rajin dan jangan lupa untuk berdo’a supaya kamu bisa mendapatkan beasiswa tersebut” kata ibuku yang semakin menguatkan aku untuk masuk ke SMA tersebut. “iya bu, aku bakal berusaha” jawabku sambil melepas mukenah yang masih membalut tubuhku. “Sudah, makan lah nasi mu nanti kau jatuh sakit!” tegas ibuku lagi “baik bu” jawabku sambil menuju meja makan yang terletak disudut ruangan. Ditengah perbincanganku dan ibuku yang saat itu menemani makan siang, tiba-tiba “Assalamualiakum” terdengar suara kakakku, “wallaikumsalam” sahutku dan ibuku. Kakak ku baru saja pulang dari bekerja, wajahnya yang sangat terlihat lelah itu datang mengahampiri kami berdua. Salah satu yang kusenangi dari kakak ku ia selalu tersenyum dan tidak mau menampakkan kelelahannya itu didepan ibuku dan aku, padahal aku dan ibuku sangat tahu keadaannya yang bekerja sebagai pegawai pabrik harian yang berat dan cukup menguras tenaga. “basuhlah tanganmu lalu makan, ada ayam goreng kesukaan mu!” kata ibuku dengan lembutnya, “iya bu” jawab kakak ku dan sambil tersenyum. Makan siang pun lebih terasa nikmat karena ada kakakku. Kuceritakanlah segala keinginanan ku untuk SMA yang ingin kupilih sekaligus meminta pendapat darinya. Dan hasilnya pun sama kakak ku juga sangat mendukung jika aku mendaftar untuk masuk ke SMA tersebut.
...
Lembar demi lembar ku tuliskan biodata diri dan keluarga, amplop coklat besar membungkus berkas tersebut, kukirimkanlah berkas tersebut ke SMA itu beserta teman-teman ku yang ikut mendaftar. “huh, legah rasanya berkas itu sudah sampai ketangan panitia “ ucapku setelah mengantarkan berkas tersebut. Aku dan temanku terpukau, saat melihat bangunan sekolah megah menjulang tinggi , rasa dalam hati bertanya “inikah sekolahku nanti?”.
...
Hari demi hari kutunggu pengumuman tersebut, rasa penasaran dan lagi-lagi hati ini bertanya , apakah aku layak mengikuti tahap seleksi ke 2 untuk menjadi siswi SMAN SUMSEL?.“Riskaaaaa.....” renunganku tiba-tiba berenti, teriakan temanku yang mengagetkan seperti petasan yang meledak di sampingku. Aku terkejut melihat temanku yang terlihat seperti membawa kabar hebat, “ada apa sih?” tanyaku heran. “lihat pengumuman ini!” ucap temanku yang tersenyum dengan nafas yang terengah-engah dan sambil melihatkan telepon genggamnya. Aku terkejut saat kulihat namaku tercantum dalam siswa yang lulus untuk bisa mengikuti seleksi tahap ke 2. Teriak kegirangan, meloncat-loncat seperti kelinci yang ditaman,itulah reaksi ku disekolah. Padahal ini baru tahap 1 masih ada tahap ke 2 yang pastinya lebih sulit lagi tapi pengumuman itu membuatku seperti orang yang mendapatkan uang 1 tas dari langit. Kabar ini sangat membahagiakanku, ibu dan kakak ku yang mendengar kabar ini sangat bersyukur dan bahagia.
Tiga hari mengikuti tes tertulis, wawancara dan bakatku telah kulalui. Kunjungan dari tim sekoalah tersebut yang datang kerumahku juga sudah selesai. Satu bulan lebih ku menunggu hasil tersebut, dan waktu terus berjalan.Ujian Nasional pun sudah kulalui, tapi Penundaan pengumuman yang sering terjadi kadang membuatku juga merasa kecewa dan semakin penasaran. Pukul 11 malam, disaat aku sedang membuka situs internet yaitu facebook, tiba-tiba salah satu teman SMP ku mengirimkan pesan “selamat ya Ris” kata-katanya membuat aku penasaran “selamat apa?” balasku “kamu lulus untuk menjadi siswi SMAN SumSel” balasnya lagi. Reaksi ku yang mendengar kabar tersebut sudah tidak terkontrol lagi, rasa gemetar yang ingin membuktikan dan melihat langsung pengumuman tersebut. Satu persatu nama kulihati dan ternyata terdapat namaku. “ibuuuuuuuu...” teriakku yang tanpa sadar ternyata tetangga sebelah rumah ku sampai terdengar. Lucu rasa nya melihat kejadian itu dan ibuku yang terkejut dan tiba-tiba terbangun karena teriakanku dan mengira aku melihat hantu. “Ada apa?” cemas ibuku. Langsung saja kupeluk erat ibuku dan mengatakan “aku lulus bu” sambil menangis haru dan rasa bahagia. “Kamu lulus masuk SMA Sampoerna?” tanya ibuku yang kaget. “iya bu” jawabku. Derai air mata ibuku menetes bahagia karena keinginanan ku selama ini tercapai dan do’anya yang dilantunkan itu pun dikabulkan. Kakak ku memeluk erat aku dan langsung memberikan pesan-pesan supaya aku harus lebih rajin lagi kalau sudah bersekolah disana. Sujud syukur yang tak lupa kulakuan, berdoa berterima kasih kepada Allah yang telah mengabulkan permintaanku.
Esok harinya ketika aku datang ke SMP ku, semua guru dan teman-teman mengucapakan selamat dan merasa bangga karena aku berhasil masuk ke SMA tersebut. Pengumuman hasil UN pun sudah menyatakan aku lulus. Dan tiba lah hari dimana aku besok sudah harus meninggalkan rumah dan memulai hari selama 3 tahun untuk tinggal di asrama. Baju-baju sudah kumasukkan kedalam koper yang besar, segala peralatan yang akan dibawa sudah kusiapkan. Ada rasa sedih untuk meninggalkan kampung halaman terutama ibu dan kakakku. Di hari itu aku tak berhenti jauh dari ibuku, dan tengah malam tak sengaja aku terbangun dari dunia mimpiku karena mendengar suara tangisan. Tangisan itu adala air mata ibuku, mungkin berat rasanya ia harus melepaskan anak putri satu-satunya berpisah dengan dirinya. Tapi aku langsung tidur kembali aku tak mau bahwa ibuku nanti tahu kalau aku melihatnya menangis.
...
Sampailah aku disekolah yang kudambakan ini. Kupeluk erat ibuku, kakakku dan keluarga yang mengantarku sampai kesekolah ku yang baru ini. Tetesan air mataku jatuh dan begitupula ibuku. Kulihat lambaian tangannya mengiring kepergianku masuk kesekolah itu. Satu minggu aku telah menjalani masa orientasi. Sabtu pagi dimana seluruh orang tua siswa datang untuk menghadiri acara inagurasi yaitu kami siswa baru diresmikan sebagai siswa SMAN Sumatera Selatan (Sampoerna Academy). Panggung besar dan megah tempatku berdiri, tata lampu menyoroti kami, aku melihat mutiara hatiku yaitu ibuku yang hadir tapi tanpa didampingi kakakku karena ia jatuh sakit. Senyuman bangga darinya terlukis indah kulihat dari atas panggung tersebut dan disaat semua siswa turun dari panggung, kuberikanlah ibuku setangkai bunga mawar merah dan kupeluk erat tubuhnya. Air mata kamipun berderai lagi, rasa haru sekaligus bangga menyelimuti hari itu. Dan rasa bangganya itupun juga pasti mewakilkan kebanggan dari seorang ayahku. Kata yang selalu ku ingat saat ibuku memeluk diriku adalah “Ibu bangga pada dirimu nak, kejarlah impianmu sampai kamu bisa menggapainya, belajarlah yang rajin dan jangan lupa sholat, ibu dan ayah bangga padamu”. Dalam hati kutekatkan “Perjalananku masih panjang, ini belum seberapa, tapi aku tak mau melihat orang tua ku kecewa apalagi ibuku, aku belum sempat membuat ayahku merasakan kesuksesanku nanti karena ia telah pergi, dan satu caranya yaitu tinggal aku harus membahagiakan ibuku”.
Karya : Riska Dwi P.
