Pompa
Pompa merupakan alat pendukung yang sangat penting dalam dunia Industri. Pompa adalah alat yang berfungsi mengalirkan cairan ketempat yang memiliki tekanan atau perbedaan posisi tertentu,sehingga tidak dimungkinkannya cairan tersebut mengalir dengan secara alami..Selain itu pompa juga bertugas memberikan tekanan tertentu terhadap cairan,untuk maksud-maksud tertentu dalam suatu proses.
Seringkali dalam perancangan, seorang insinyur mengklasifikasikan pompa dalam dua jenis berdasarkan cara bekerjanya, yaitu pompa Centrifugal (menggunakan impeller/sudu) dan pompa Reciproacting atau pompa piston. Pompa centrifugal lebih dititikberatkan pada zat-zat cair yang memiliki angka kekentalan rendah (encer) dan dengan tekanan rendah sampai medium.Sebaliknya,pompa recripoacting digunakan untuk mengalirkan dan menekan cairan dengan kekentalan tinggi,atau tekanan tinggi.Umumnya pompa Centrifugal lebih banyak digunakan dalam suatu proses pengaliran zat cair,karena biasanya cairan dalam proses-proses industri masih memenuhi syarat-syarat kekentalan yang dapat ditangani pompa centrifugal. Sedangkan pompa Recripoacting,sering digunakan pada proses pembuangan limbah minyak bekas di kilang-kilang minyak.
Dalam hal ini kita akan sama-sama memfokuskan pada perancangan pompa centrifugal.
Pompa centrifugal, bekerja dengan memakai gaya centrifugal yang dihasilkan oleh alat ini terhadap cairan yang akan dialirkan. Cairan akan masuk ke tengah impeller/baling-baling, untuk selanjutnya baling-baling akan melemparkannya dengan kekuatan/tekanan tertentu, sesuai yang kita inginkan.
Tidak banyak perhitungan-perhitungan untuk mengetahui kondisi pompa yang diinginkan. Namun disini perlu diperhatikan adanya beberapa-kondisi perhitungan yang didasarkan pada letak dan posisi pompa. Pada dasarnya hanya ada dua letak kondisi pompa yang penting, yaitu pompa yang pada bagian penghisapnya (Selanjutnya ditulis Suction) berada diatas permukaan air yang dihisap (sejenis pompa sumur ) dan pompa yang bagian pipa penghisapnya berada di bawah cairan yang dihisapnya (sejenis pompa yang mengalirkan cairan ke tanki penampung). Pada intinya yang akan terpengaruh oleh kondisi ini adalah kemampuan pompanya (Head), prinsipnya head pompa akan mempunyai nilai yang lebih besar jika terjadi kondisi seperti pompa pertama. Head inilah yang akan mempengaruhi langsung besarnya daya pompa.
Apa prinsip-prinsip perhitungan dalam pompa?
Saudara, ada hal pokok yang sebenarnya perlu kita ketahui dalam design pompa. Yaitu "Berapa besarnya tekanan yang dihasilkan oleh pompa (di discharge pompa)?".Tekanan ini disebut sebagai Pressure Discharge (Pdisch).
Perlu dibedakan antara tekanan yang keluar di mulut pompa dan di mulut pipa (nozzle pipe).
|
|
Tekanan di mulut pompa = Tekanan di mulut pipa – Pressure drop di sepanjang pipa keluar. |
Jika kita telah menetapkan tekanan yang ingin keluar di ujung pipa keluar,misalnya sebesar 1,75 atm dengan pressure drop di pipa keluar 0,25, maka, tekanan yang harus keluar di mulut pompa (P disch) = 1,75 + 0,25 = 2 atm
Demikianlah hal-hal yang perlu kita ketahui disepanjang pipa keluar.
Kini kita melakukan tinjauan dari pipa masuk ke pompa. Tinjauan inipun dapat untuk menentukan besarnya tekanan discharge pompa. Begini caranya:
Pada bagian pipa masuk ke pompa (Suction part), yang perlu diperhatikan adalah:
Formula menghitung Suction Pressure (baik max/min) :
|
P suction.= Tekanan Hidrostatik dari tanki – Pressure drop pipa bagian Suction |
|
differential pressure (atm) = differential head (m)/10 x Spesific Grafity. |
Differntial pressure = pressure drop total.
|
|
Total Pressure drop = pressure drop in Suction + pressure drop in discharge |
Press.Drop in suction =pressure drop karena friksi) + pressure drop krn pipa
vertikal (statik pressure drop)….semuanya di line suction
Press.drop in disch. =pressure drop karena friksi + pressure drop krn pipa
vertikal (statik pressure drop)….semuanya di line discharge
Pressure drop karena friksi inilah yang berhubungan dengan L dan Le (Length of Equivalent),dan dikerjakan dengan Darcy Formula (general equation), Fanning Equation (Oil Equation) atau Hazen-Williams (Water Equation).
Kini kita akan menghitung Tekanan Discharge yang dihasilkan pompa dengan tinjauan dari bagian belakang (Suction) dengan memakai prinsip-prinsip diatas:
|
|
P discharge = Tekanan minimal di Suction + Diff pressure |
Formula-Formula untuk menghitung Pressure Drop:
Fanning Equation:
|
|
Pdrop Line = f x 2 x (L+Le) x density x v2/ InsideDiameter |
Dimana, f = 0,079/(Re0,25).
Hazzen Williams Equation:
|
Pdrop Line = W x 264,172 x (L+Le) x(ID/0,0254)2,63)1/0,54(2 x 2,205 x 3,2808/{(SpGr x 997,9 x 60)x (0,442 x 100 x 2,542)} |
Dimana,
W = Flowrate = kg/jam
L,Le dan ID = dalam meter
Net Positive Suction Head (NPSH) :
|
|
NPSH = Ps/y – Pv/y (+/ - ) H – v2/(2g) Secara praktis : NPSH = Suction Press.- Tekanan uap cairan |
Dimana,
Ps = Tekanan diatas tanki yg dikuras (Jk tangki terbuka Ps = 1 x 104 kgf/m2abs)
Pv = Tekanan uap cairan (air = 0,0238 x 104), kgs/m2abs
y = Berat per unit Volume (air = 998,2),kgf/m3
H = meter, (+) jika permukaan cairan lebih tinggi daripada pompa, (-) jika
|
|
permukaan cairan lebih rendah daripada pompa |
v = Kecepatan alir m/dtk (air maksimal 3,8 m/dtk, minyak bumi 2,5 – 3 m/dtk)
g = 1000
Statik head dapat dicari hanya dengan mencari selisih antara tinggi aliran keluar dan tinggi aliran masuk ke pompa.
|
LINE |
||
|
Flowrate M3/jam |
113,5624 |
|
|
SpGr |
0,7233 |
|
|
Spec.Liquid |
Flowrate kg/jam |
82139,68 |
|
Viscosity CP |
0,506 |
|
|
Tekanan Uap kg/cm2 |
0,61 |
|
|
ID m |
0,255 |
|
|
Velocity m/dt |
0,617991 |
|
|
Reynold |
224768,7 |
|
|
L + Le |
420 |
|
|
Suction |
Press.Drop in Suction Line kg/cm2 |
0,032054 |
|
Ketinggian Minimal cairan yg dihisap m |
2 |
|
|
Ketinggian Miximal cairan yg dihisap m |
11 |
|
|
Suction Pressure (Minimal) kg/cm2 |
1,112606 |
|
|
Suction Pressure (Maximal) kg/cm2 |
13,06795 |
|
|
ID m |
0,154 |
|
|
Velocity |
1,69442 |
|
|
Discharge |
Reynold |
372181,9 |
|
L + Le |
295 |
|
|
Press. Drop in Discharge Line kg/cm2 |
0,247054 |
|
|
Ketinggian Maximal Tanki Hulu m |
11 |
|
|
Static head m |
9 |
|
|
Static Pressure kg/cm2A |
0,65097 |
|
|
Differential Pressure kg/cm2 |
0,930078 |
|
|
Output |
Differential Head m |
12,85882 |
|
NPSH m |
15,38236 |
|
|
Discharge Pressure in Pump kg/cm2 |
2,042684 |
|
|
Power kwh |
2,87016 |
Reynold number dihitung dengan
Re = 1000 x v(m/s) x D(mm)/ V(cSt)
Dengan : V(cSt) = 1,0022 x m (cP) /SG
Pressure Drop in Suction dan Pressure Drop in Discharge, (kg/cm2)
f = 0,079/ (Re0,25) , jk mau ekspress f = 0,018
D
P Suction = f x 2 x (L+Le)(m) x r (kg/m3) x v2(m2/dt2) / ID (m) …in suction LineD
P disch. = f x 2 x (L+Le)(m) x r (kg/m3) x v2(m2/dt2) / ID (m) …in discharge LineSuction Pressure (kg/cm2A)
Suction Press min. = (Level terendah cairan di Tanki Header /10 x SG) - D P Suction
Suction Press. max = Level tertinggi cairan di Tanki Header /10 x SG - D P Suction
Static Head (m) dan Static Press (kg/cm2A)
Static Head = Level max cairan di Tanki hulu – Level min cairan di Tanki hilir
Static Press = Static Head/10 x SG
Differential Pressure (kg/cm2)
Diff. Pressure = (Total Pressure Drop in a both Line) + Static Press + dll*
= (Press drop in Suction – Press Drop in Discharge) + Static Press + dll
* "dll" dapat diisi,misalnya dengan tekanan di nozzle pipa (jika diinginkan)
Differential Head (m)
Differential Head = 10 x Diff. Pressure / SG
NPSH (m)
NPSH = (Suction Pressure min. – Tekanan Uap) kg/cm2 x 10 / SG (meter)
Discharge Pressure in Pump (kg/cm2A)
Discharge Pressure in Pump = Differential Press + Suction Press
Power (kw)
Power = Diff.Head (m) x Flowrate (m3/jam) x SG / 368