Rami urang di pasa simpang

Mambaok dagang ka nan banyak…

Kami rang mudo jolong gadang

Nak bacarito ka dunsanak..

(minjam dari “Riak Rang Mudo” UKM-ITB, 5 April 2003..=P)

 

 

D.A.F.T.A.R  I.S.I

(silahkan di KLIK di artikel yang ingin dibaca)

1)      RASA SAYANG ITU (artikel majalah saksi)        

2)      Istri Payah Suami Tabah

3)      bimbingan pra nikah

4)      KETIKA SUAMI MENCUCI

5)      SAKINAH MAWADDAH WARAHMAH

6)      "MENGAPA MENUNDA PERNIKAHAN?"

7)      RUMAH TANGGA ISLAMI

8)      PETUA-PETUA UNTUK SUAMI

9)      Tips Membangun Keluarga Islami

10)  RUMAHTANGGA MUSLIM MENJAMIN KELANGSUNGAN DA'WAH

11)  DILEMA RUMAH TANGGA DAN KARIR

12)  Jangan Jadi Suami Egois

13)  PENGANTIN SEDERHANA

14)  Sudahkan Kita (Suami kita) Menjadi Ayah Idaman?

15)  Istriku… Maafkan, Suamimu!

16)  IS YOUR HOME AN ISLAMIC HOME ?

17)  awal pernikahan, antara realitas dan ilusi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.    RASA SAYANG ITU (artikel majalah saksi)

 

Hari itu seorang rijal melintas di depan saya. Sosoknya mungil, sekitar 162 cm dengan berat badan yang mestinya perlu ditambah agar tampak berimbang. Wajahnya teduh, dengan sepasang mata tertutup lensa minus yang tertunduk. Jas lab putihnya sedikit melambai terkena angin Rumah Sakit Muwardi yang terkadang bandel. Hm, coass mungkin, begitu gumam saya. Tak ada yang istimewa dari sosok itu karena saya sama sekali tidak mengenalnya. Tampangnya memang lumayan jamil, tetapi saya sering bertemu dengan rijal yang relatif lebih jamil dari dia. Lagipula, apa sih arti tampang jamil jika batinnya ternyata penuh borok ?

Ya, saya tidak mengenalnya. Namun entah mengapa, tiba-tiba ada desir aneh yang hinggap di hati saya, membuat saya sejenak menyingkir ke tepi, terengah dan mengutuki hati. Adakah saya sedang jatuh cinta ? Ow, tidak ! Saya yakin seratus persen, bahwa desir itu bukan sejenis bentuk " naksir cowok " alias falling in love. Bukan ! Tetapi sejenis perasaan apa ? Saya tiba-tiba merasakan sebuah firasat : sosok tawadhu yang melintas barusan adalah calon suami saya. Nah, error bukan ?  

Ketika saya beranjak masuk ke ruang tempat seorang perempuan dhu'afa binaan LSM kami (PPAP Seroja) dirawat karena melahirkan bayi kelimanya bersamaan dengan TBC yang diderita, bayangan rijal itu masih melintas, membuat saya semakin heran. Keyakinan bahwa dia adalah calon suami saya semakin menguat. Padahal saya sama sekali tidak mengenal, dan tidak pernah bertemu sebelumnya. Alhamdulillah, Allah memberikan kemurahan kasih-Nya kepada saya begitu melimpah, sehingga hati saya selama ini lumayan terjaga dari segala pernak pernik "merah jambu". Namun sekarang ? Virus merah jambukah ? Allah, jika memang betul virus merah jambu, tolong selamatkan hati ini. 

Tetapi saya bersikeras : itu bukan virus merah jambu. ( Lantas apa dong ? Firasat kali yee ? ).  

Beberapa hari kemudian, pembimbing saya memanggil saya untuk menghadap. Tanpa prolog yang berbelit belit, ia memberikan sepucuk amplop berwarna coklat. Saya mahfum, Lajnah Munakahat DPD Partai Keadilan Sejahtera Surakarta kembali memfasilitasi seorang ikhwan yang bermaksud mengajukan proposal nikah. Saya mencoba tersenyum tenang, meski dada ini berdebar debar. Saya buka biodata perlahan. Ahmad Supriyanto, nama ikhwan itu. Saya memejamkan mata, mencoba mengorek memori, adakah disana file sosok bernama Ahmad Supriyanto ? Ternyata tidak ada. Nama itu sama sekali baru bagi saya. Akhirnya saya meraih foto yang menyertai, dan lutut saya mendadak terasa lemas. 

Rijal yang melintas di rumah sakit itu.

Sebuah firasatkah ? Untuk sebuah peristiwa besar, bukan sebuah hal yang aneah jika firasat diberikan kepada para seorang muslim. Dan nikah adalah sebuah peristiwa besar. Janji yang terucap adalah sebuah mitsaqon gholidho.... Ia adalah separuh dien.

Saya pun bersujud, tersuruk di depan Allah. Seandainya berjodoh dengannya adalah sebuah kebaikan untuk diri ini, untuk keluarga, untuk ummat, dan yang jelas : untuk kemenangan dakwah, maka mantapkan hati ini ya Allah.  

Tetapi saya belum mengenalnya. Biarlah ! Biar Allah yang kelak memberikan pengikat. Proses ta'aruf pun kami lalui dengan sangat singkat, sederhana. Hanya ada 2 pertanyaan yang sangat global dari dia, dan 3 pertanyaan prinsip dari saya. Selanjutnya, kami jarang sekali bertemu.  

Adik saya pernah bertanya kepada saya, " apa mbak ada perasaan cinta sama calon suami mbak " ? Saya tertawa pelan. Alhamdulillah saya ada dalam kondisi kepasrahan yang tinggi, Ramadhan semakin mendukung kepasrahan itu. Kecenderungan ? Ah, biasa aja tuh ! Saya bahkan pernah nyaris lupa bahwa saya sebentar lagi akan berybah status menjadi seorang istri.  

Jadi saya menikah tanpa cinta. Hanya prasangka baik, serta ketsiqohan, bahwa jika ia adalah jodoh yang terbaik untuk saya, maka cinta itu akan datang dengan sendirinya. Sampai sehari menjelang akad nikah, saya masih tenang tenang saja. Begitu juga pada saat hari H tiba. Bahkan jam 7 saya baru mandi, padahal akad nikah berlangsung jam 08.00 ( he..he, ini mah bolot ). 

Namun ketika sighot nikah dibacakan, saya ambruk dan luruh dalam tangis keharuan. Hanya dengan beberapa kecap kata, status saya sudah berubah. Subhanallah ! 

Saya pun resmi menjadi seorang istri.  

Menakjubkan !  

Akhirnya hari hari yang sama sekali lain dengan hari yang biasa kulalui ( dan mungkin juga dia lalui ) membentang pada detak detak waktu kami. Surprise, tanpa sadar perasaan rahmah menghinggapi kami, membuat semacam ikatan tersendiri. Puncaknya adalah " I love you " dalam versi kami yang jelas jauh dari hentakan " love " gaya ABG. Irama kasih kami begitu perlahan, seperti aliran sungai kecil di pegunungan, pelan, namun terus menerus..... Kami percaya, itulah wujud dari barokah Allah, seperti yang didoakan oleh begitu banyak orang orang beriman.  

Proses itu sungguh menakjubkan. Apa yang kami alami adalah sebuah bukti kebenaran firman Allah : " Dan diantara tanda tanda kekuasaan-Nya ialah, Dia menciptakan untukmu istri istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnys pada yang demikian itu terdapat tanda tanda bagi kaum yang berpikir. " ( Ar Ruum : 21 )  

Jadi kecenderungan, rasa tentram serta kasih sayang akan diberikan sebagai hadiah Allah kepada sepasang pengantin yang meniatkan pernikahan itu sebagai upaya penggenapan separuh dien. Hadiah itu akan diberikan setelah pernikahan itu berlangsung. ( Ingat, bukan sebelum pernikahan, apalagi dengan mekanisme pacaran ). Jadi jangan khawatir, jika kita memang telah dimantapkan Allah untuk menerima calon pasangan hidup kita lewat istikharah kita, maka cinta itu akan datang setelah ayah kita mengucapkan : " Yaa fulan, ankahtuka fulanah bintii bimahrihaa....haalan, " dan dibalas dengan ucapan : " qobiltu " oleh lelaki yang kemudian menjadi suami kita.  

Jika tidak percaya, buktikan sendiri.  

Surakarta, 26 Desember 2003

 

      Catatan sepasang pengantin baru.

Balik ke Daftar Isi

 

2.    Istri Payah Suami Tabah

 

Kisah  isteri  setia merawat  suami sakit bukan barang baru.   Ini ciri perempuan yang dapat kita temui dimana mana. Istri dituntut tetap setia bagaimana pun keadaan suami. Baik ketika  suami mengalami  sakit fisik yang menahun atau karena suami pengangguran, malas bekerja  dan  memilih di rumah saja. Bahkan tidak sedikit kisah istri bekerja keras membanting tulang sampai ke negeri orang sementara suami ongkang-ongkang kaki menikmati hasilnya. Lantas, bagaimana jika si istri bermasalah? Akhir cerita tentu jadi lain.

 

Asweri, misalnya. Perempuan berusia tigapuluhan ini seringkali menangis tersedu  mengadukan nasibnya. Suaminya kerapkali mengancam akan menceraikan atau menikah lagi disebabkan  soal ‘remeh’ semisal masakan yang belum tersedia, pelayanan yang kurang memuaskan atau suasana rumah yang ribut dengan  suara anak-anak. Suaminya menuduh Asweri tidak becus mengurus rumah tangga. Asweri bukan tidak  mau berusaha tampil sempurna, tapi kesehatannya -ia mengidap maag kronis-seringkali tidak mengizinkan.

 

Nilamsari (29) juga mengalami perlakuan tidak menyenangkan. Suaminya menceraikannya dengan alasan fisik. Ia dianggap tidak memenuhi kriteria istri idaman. Padahal apa yang kurang dari Nilamsari? Sabar, lembut, dewasa, pintar dan sholihah. Ya, semata-mata soal fisik, lebih detail lagi soal ukuran!!

 

Suami Penakut Membawa Kemalangan

Ternyata banyak  suami  bernyali ciut. Menurut Sartono Mukadis yang dihubungi UMMI per telepon, pada dasarnya di alam bawah sadar laki-laki (suami, red.) ada semacam kompleks rendah diri terhadap istri. “Jadi kalau dibilang suami kuat, atau apa, sebetulnya tidak terlalu tepat. Sebenarnya laki-laki sangat tergantung pada istrinya. Dia melihat istrinya lebih kuat, tapi tidak mau mengakuinya. Dia melihat istrinya itu kuat, kuat sekali. Bisa masak, bisa nyuci, bisa ini itu, bisa segala macam yang mungkin engga bisa ia kerjakan sendiri Jadi kalau suami melihat istri sakit, ia menganggap bisa sembuh sendiri, kok,” paparnya lebih lanjut.

 

Psikolog yang sudah dikenal luas ini menuturkan hal diatas sebagai alasan mengapa laki-laki (baca: suami) cenderung memilih menikah lagi, cerai atau tak mau memberikan perhatian dan pelayanan saat istri sakit atau bermasalah. “Suami kalau ditinggal istri itu paling lama dua tahun ia sudah kawin lagi.Tapi kalau istri ditinggal suami, dia bisa survive betul.”

 

Dalam perspektif yang sedikit berbeda, Erna Karim, M.A. mengatakan karena kedudukan suami yang dianggap lebih tinggi, ia mudah sekali meninggalkan istrinya. Jadi, menurut dia, umumnya suami-suami di Indonesia cenderung menjadikan keadaan istri yang sakit atau bermasalah  sebagai alasan untuk meninggalkan atau mencari istri lain yang lebih sempurna. “Dunia kita dunia patriaki, dunia laki-laki.Nilai untuk laki-laki lebih tinggi dari wanita, gitu, lho. Begitu ada kelemahan sedikit, itu menjadi alasan laki-laki untuk melepaskan keinginannya.”

 

Alasan lain, masih menurut Erna, secara sosiologis memang ada nilai yang diajarkan turun temurun:  istri sebisa mungkin melayani suami, dan bukan  suami yang melayani istri. Nilai ini begitu kuat ditanamkan pada kaum perempuan lewat saran-saran perkawinan oleh para tetua. “Menjelang akad nikah di Padang ada yang namanya malam Bainai, malam persiapan  wanita meninggalkan kelajangannya. Itu selalu ada saran-saran dari kaum ibu untuk melayani suami dengan baik. Dan kalau suami berlaku engga baik, dipukulin atau bagaimana, jangan sampai orang lain tahu karena itu aib. Nah, disitu terlihat si wanita atau kaum saya ini diharuskan mengalah terus. Jadi ada nilai yang diajarkan secara teoritis dan ada nilai yang disosialisasikan dari generasi ke generasi.”

Selain soal nilai dan budaya, soal motivasi menikah juga bisa jadi pemicu.  Erna mengatakan pilihan laki-laki kepada wanita lebih kepada daya tarik, sementara  wanita memperhatikan  pertimbangan faktor sosial budaya. “ Kalau seorang wanita tidak begitu senang pada laki-laki, tapi sana sini, depan belakang  mendesak: ayo kawin, kawin, ya kawin juga dia . Disitu pengorbanannya luar biasa. Dalam masyarakat Jawa kan biasa begitu, sudah, nduk, lama-lama juga cinta,” jelas staf pengajar FISIP-UI ini.

 

Dalam praktiknya pola hubungan suami-istri yang berangkat dari situasi tinggi sebelah akan menjurus pada pola  owner property yaitu pola hubungan semisal pemilik dengan barang yang dimilikinya. Suami merasa istri adalah

miliknya yang dapat diperlakukan sekehendaknya. “Mau digebukin, dipekerjakan, diapain gitu, terserah suami saja,” papar wanita berjilbab yang ramah ini.

 

Pola seperti itu pada akhirnya akan melahirkan kesengsaraan dan penderitaan pada kaum wanita. Laki-laki akan berbuat sewenang-wenang. Bukan saja dicaci dan dipukul, bahkan dijadikan tenaga perahan.

Dan ketika istri sakit -fisik atau psikis- suami cenderung  mencampakkan.

Menurut  Erna, jarang sekali ada suami yang bisa bersabar dalam menghadapi kelakuan istri. Sebagai seorang sosiolog yang banyak mengkaji kultur sosial masyarakat, Erna merasa belum pernah bertemu dengan budaya ‘suami melayani istri’  “dari perjalanan saya ke daerah-daerah, dan literatur yang saya baca belum ketemu, tuh! Malah banyak saya temui si istri yang melayani, bekerja cari nafkah sementara suami leha-leha di rumah. Misalnya di Bali, Jawa dan beberapa tempat lainnya.”

 

Qowwam bukan Otoriter!

Menurut Dr. Setiawan Budi Utomo,  dalam rumah tangga ada fungsi-fungsi yang harus ditegakkan, antara lain fungsi suami sebagai pemimpin, qowwam (secara bahasa berarti menyelenggarakan, mengurusi, menyelesaikan). “Tapi bukan berarti otomatis dia  otoriter. Sebab di situ berlaku musyawarah. Jadi tidak boleh diktator.”

 

Pada bagian lain Setiawan mengatakan  posisi istri dihadapan suami ada bermacam-macam. Pertama, istri adalah amanah, berdasarkan hadits nabi  hunna amanah. Sebab  pada waktu akad istri itu diambil dengan kalimat Allah. Karena itu, menurutnya, istri adalah mad’u (obyek dakwah) yang harus dididik, dibina,  dan dibimbing.  Dalam hadits dikatakan wanita itu tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. “Disinilah posisi qowwamah sebenarnya. Dia harus memiliki nilai lebih dalam keteladanan. Dia harus memiliki kelebihan intelektualitas,” papar ustadz yang tinggal di bilangan Rawa Bunga ini.

 

Kedua, istri dikatakan juga sebagai ziinah (perhiasan) atau mata’ (kenikmatan). Hadits Rasulullah mengatakan dunia ini kenikmatan dan sebaik-baik kenikmatan adalah wanita shalihah.. Kenikmatan disini artinya anugerah, bukan dalam pengertian yang sudah dieksploitir sebagai objek yang dinikmati.

 

Ketiga, istri disebut sebagai sakinah, tempat ditemukannya kedamaian hati. Firman Allah dalam Arrum 21 menyebutkan litaskunu ilaha (agar kamu merasa cenderung kepadanya/istrimu). Hampir sama dengan artinya dengan sakinah adalah qurrota a’yun. Istri diharapkan menjadi penghibur atau pelipur lara bagi suami.

 

Keempat, posisi istri sebagainya saqoik (saudara kandung). Artinya, setelah diperistri wanita adalah saudara kandung suami. Selain itu, “Suami istri itu tidak ada yang di bawah dan di atas. Maksud saya, bawahan atau atasan. Tapi yang adalah a’wan, partner atau penolong. Istri itu sebagai penolong suaminya,” tandas doktor yang memiliki perhatian besar pada persoalan wanita ini.

 

Dengan memahami posisi istri, diharapkan suami dapat menjalankan fungsi kepemimpinan dengan sebaik-baiknya. Sejalan dengan pendapat di atas,  Hj. Lutfiah Sunkar, pengisi siaran agama Islam di Indosiar, mengibaratkan rumah tangga seperti  biduk yang ada bagian-bagiannya, sehingga penting dibangun musyawarah untuk memutuskan sesuatu. “Iya, pemimpinnya suami. Tapi yang dibelakangnya ini turut menentukan. Bukan aku mau ke kanan, kamu harus ikut ke kanan. Apa salahnya kalau perahu mau belok, berunding dulu dengan muatannya. Bicarakan dengan kalimat yang baik.”

 

Dalam berdoa kita memohon agar diberikan istri dan keturunan yang baik, dan menjadi pemimpin bagi orang-orang bertaqwa.Robbana hablana min azawajina wa zurriyatina qurrata a’yun waj ‘alna lil muttaqina imama……

 

Dalam konteks ini  Setiawan menegaskan, “Muttaqin disini istri, anak dalam skala keluarga. Kemudian masyarakat, bangsa dalam skala sosial. Imam itu sebagai pemimpin, teladan, pegangan hidup, penunjuk jalan yang diikuti. Jadi maknanya bukan semacam otoritas yang otoriter, tidak, tapi sebagai imam. Dan imam berhak ditegur oleh makmum, kan. Imam juga harus tahu kondisi makmumnya: kapan harus lama bacaannya , kapan harus pelan.”

 

Dengan memahami posisinya sebagai imam dan istri sebagai makmum, seorang suami dapat bersikap bijaksana kala menghadapi istri yang sakit atau bermasalah.  Ia tidak sekadar memperturutkan hawa nafsunya saja dalam menyelesaikan persoalan. Ia akan mempertimbangkan masak-masak setiap langkah yang diambil. Menurut Lutfiah, seorang suami yang bersabar dalam menghadapi istri akan diangkat dosa-dosanya dan dijamin pahalanya. “Kalau ada hal-hal yang di luar keinginan manusia, itu urusannya dengan Allah. Kalau istrinya punya kelainan jiwa atau ada sesuatu yang engga normal, balikin sama Allah.”

 

 

Ketika istri sakit, menurut Setiawan, suami hendaknya kembali pada jiwa rahmahnya, kembali pada kesadaran akan  fungsinya sebagai pengemban amanah.  Dengan begitu suami akan mau  merawat dan membimbing istri yang sakit tsb.  “Bisa perawatan medis, bisa perawatan psikis, bisa juga perawatan sosiologis. Jangan sampai istri merasa tidak berguna, tidak berdaya. Itu perawatan psikologis dan sosiologis. Jangan sampai keluarganya mengucilkan dia. “Apa nih, perempuan, engga berguna”. Itu tetap perlu ya, tetaplah istri diaktualisasikan dalam kondisi kekurangannya. Nah itu terapi,” jelas Setiawan.

 

Apa yang dilakukan suami merupakan kesabaran di atas kesabaran yang berpahala besar. Dihadapan Allah, sikap tsb mencerminkan jiwa kasih sayang yang bernilai tinggi yang tidak dimiliki semua orang. Bernilai tinggi karena dengan begitu ia telah mengorbankan kesenangan dirinya demi kesembuhan istri. Dari sudut pandang sosiologi, seorang suami yang tekun, telaten dan sabar dalam merawat atau membimbing istri yang sakit akan memberikan dampak positif terhadap nilai-nilai sosial yang berkembang di masyarakat. “Hakikatnya suami istri itu kan seorang ayah dan seorang ibu. Mereka mensosialisasikan nilai. Nilai kasih sayang dan nilai untuk menghormati sesama. Kalau suami istri tidak saling sayang, tidak saling hormat, tidak peduli maka akan berdampak pada pertumbuhan anak. Tapi kalau si Bapak  ini tekun merawat, meladeni istri sampai bertahun-tahun, itu adalah sosialisasi nilai yang sangat baik sekali bagi generasi kita,” papar Erna Karim.

 

Namun,  tentu saja semua itu harus dilakukan dengan ikhlas. Tanpa ini, sia-sialah semua yang dikorbankan suami. “Rugi dunia akhirat.  Di dunia dia repot, di akhirat tidak mendapat pahala. Seharusnya suami melakukan itu dengan rela, sebagai amal kebaikan, ibadah. Jika dilaksanakan separuh hati atau dengan berat hati, tidak akan berpahala. Jadi makanya laa ikraha fiddiin…., tidak ada paksaan dalam beragama dan amal saleh,” kata Setiawan lagi.

 

Dengan keikhlasan, seseorang akan sanggup melakukan hal-hal yang bagi orang lain tampak sulit. Sebabmotivasi amalnya semata-mata karena Allah. Ia yakin Allah pasti membalasi amalnya. Untuk itu, menurut Lutfiah, loyalitas seseorang itu diukur dengan imannya. Akhlak itulah tampilan imannya. Dia sanggup begitu karena ia beriman. Semakin tinggi beriman, semakin mampu memberi pada orang lain. “Itu kualitas muttaqin. Mampu memberi baik dalam keadaan longgar mau pun sempit. Walau pun ia sudah disakiti ia mampu memberi. Masih mampu berbuat baik sama istrinya walaupun sudah disakiti.”

 

Balik ke Daftar Isi

 

3.    Bimbingan Pra Nikah

 

HIKMAH NIKAH  

1.       Pernikahan adalah ajaran yang sesuai, selaras, dan sejalan dengan fitrah manusia. Dengan menikah seseorang berarti menunaikan hak-hak kemanusiaannya secara benar dengan menjaga dirinya dari perbuatan yang tercela. Menikah merupakan cara paling baik untuk pemenuhan kebutuhan biologis yang sesuai dengan kehormatan manusia yang diberikan Allah. Disana memungkinkan terrealisasinya sebuah keluarga yang penuh ketenangan, ketentraman, dan saling menyayangi. 

      "Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia ciptakan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu hidup tenang bersamanya dan bercinta kasih sesama kamu. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang berpikir."(QS. Ar-Ruum:21).

2.       Nikah merupakan cara terbaik dan terkuat untuk membentengi diri. Dalam surat An-Nuur:4, wanita yang sudah menikah disebut Al-Muhshanaat yang berarti benteng. Surat Al-Baqarah:187, Allah menyebut bahwa istri adalah pakaian bagi suaminya dan begitu pula sebaliknya.

3.       Selamat dari berbagai penyakit yang berbahaya.

4.       Terjaganya kehormatan seorang manusia dengan mempunyai keturunan yang jelas.

5.       Fitrah kebapakan dan keibuan tumbuh dengan baik melalui pernikahan.

6.       Meningkatkan produktivitas. Tanggung jawab yang semakin berat menimbulkan sikap yang sungguh-sungguh dalam bekerja dan memperkuat bakat dan pembawaan seseorang.

7.       Mengukuhkan tali silaturahiim dan mempererat hubungan kemasyarakatan.

8.       Menyelamatkan kelangsungan hidup manusia keturunan yang diperoleh dari pernikahan. Konferensi kependudukan di Cairo 1995 menyebutkan bahwa di beberapanegara Eropa akan kehabisan penduduk karena rendahnya angka kelahiran akibat enggannya orang untuk berkeluarga dan mempunyai anak. Pertambahan populasi penduduk dari tahun 1995- 2015, menurut dokumen acara konferensi tersebut, negara maju seperti Eropa dan Amerika hanya akan mengalami pertambahan penduduk sekitar 120 juta jiwa,
sedangkan di negara berkembang mencapai 1727 juta jiwa. Para pemuda di Jerman beranggapan bahwa menikah adalah neraka. Dari 80 juta penduduknya (tahun 1992) sekitar 35.3 juta orang lebih suka hidup membujang.

9.       Melahirkan penerus da'wah Islam. Nabi Zakaria menganggap lahirnya seorang anak itu sangat penting bagi kelanjutan urusannya, hingga ia berdoa:"Ya, Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, rambutku telah memutih, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, sungguh aku khawatir terhadap mawali (orang yang akan melanjutkan urusanku), sedangkan istriku seorang  yang mandul, maka anugrahkanlah kepadaku dari sisi
Engkau, seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya'qub dan jadikanlah ia wahai Tuhanku seorang yang diridhoi."(QS Maryam:4-6).

 

MEMILIH PASANGAN

Lelaki Pilihan Aisyah ra. Berkata: "Kawin berarti perbudakan". Karenanya hendaklah
seseorang memperhatikan di tempat mana ia lepaskan anak perempuannya. Saat seorang perempuan menikah dengan seorang lelaki, perwalian berpindah dari ayah ke suaminya. Ridho Allah kepada wanita itu tergantung keridhoan suami terhadapnya. Rasul sendiri pernah mengatakan bahwa seandainya manusia boleh bersujud atas manusia lain, maka ia akan menyuruh istri bersujud kepada suaminya. Dengan posisi suami yang begitu sentral dalam keluarga, adalah mengerikan kalau seorang wanita hidup dengan pria yang sewenang-wenang. Oleh karenanya harus diperhatikan kriteria lelaki pilihan:

1.       Bertaqwa kepada Allah SWT. Ketika Hasan bin Ali ditanya oleh seorang ayah tentang siapa yang patut menjadi suami untuk anak perempuannya, ia  menjawab: "Seorang lelaki yang bertaqwa kepada Allah. Jika ia senang ia akan memuliakannya dan jika ia sedang marah ia tak suka berbuat zhalim.

2.       Mempunyai akhlaq sebagai pemimpin.  "Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita"  Mempunyai akhlaqsebagai pelindung " Allah telah melebihkan mereka atas sebagian yang lain" Berakhlaq sebagai pemberi nafkah "karena mereka ( lelaki) telah menafkahkan sebagian harta mereka"  Berakhalaq sebagai pendidik "Istri-istri yang kalian khawatiri nusyuznya, nasehatilah mereka, jika masih tidak peduli pindahlah dari tempat tidur mereka,setelah itu pukullah mereka dengan tidak menyakitkan. Kemudian jika mereka mentaatimu maka janganlah kami mencari-cari jalan untuk menyusahkannya."(QS An-Nisaa:34).

3.       Agama dan akhlaqnya baik. Apabila datang kepadamu lelaki yang kamu sukai agama dan akhlaqnya (untuk meminang), maka hendaklah kamu nikahi ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan bencana besar di atas bumi. (HR Tirmidzi).

4.       Tidak kikir atau berlebihan  "Orang-orang  yang jika membelanjakan harta mereka tidak berlebihan dan tidak kikir, tapi ditengah-tengah yang demikian."(QS. Al-Furqaan:67).

5.       Sabar Sabda Nabi:"Seseorang yang mampu menanggung ketidakenakkan yang ditimbulkan oleh istrinya dengan penuh kesabaran akan memperoleh pahala sebesar yang diterima oleh Nabi Ayyub as. Atas kesabarannya menanggung ujian yang menimpanya." (HR. Bukhari-Muslim)

6.       Tidak bertingkah seperti wanita.  "Allah melaknat laki-laki yang meniru wanita."(HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah).

7.       Baik ."Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap istrinya, aku adalah yang terbaik diantara kamu terhadap istri. Tidaklah  menghormati wanita kecuali laki-laki yang mulia dan tidaklah ia menghinakannya kecuali laki-laki yang hina." (HR. Ibnu Asakir).

8.       Berhati-hati terhadap perceraian. ".pergaulilah mereka secara patut. Jika kamu tak menyukai mereka,(maka bersabarlah) mungkin kamu tak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikkan yang banyak."(QS An-Nisaa:19). "Janganlah seorang mukmin membenci istrinya yang beriman, jika ia tidak menyukai suatu perilaku darinya, mungkin ia menyukai perilaku yang lainnya."(HR. Muslim).

9.       Pandai menjaga rahasia "Sesungguhnya orang yang mendapatkan kedudukan paling buruk dihari kiamat adalah lelaki yang melakukan hubungan dengan istrinya, lalu menyebarkan rahasianya."(HR.Muslim).

Wanita Idaman

"Pilihlah tempat nutfah kalian dan nikahilah orang yang sekufu (setara), serta nikahkanlah mereka."(HR. Ibnu Majah). Sekufu disini maksudnya diutamakan kufu dalam agama. Umar ra. Ketika ditanya
tentang kewajiban orang tua kepada anaknya, menjawab: memilihkan istri yang baik bagi anaknya, mendidiknya dengan pendidikan terbaik,memilihkan nama yang baik. "Wanita adalah ladang tempat kamu bercocok tanam."(QS: Al-Baqarah:223).

Cara penanaman yang baik sangat penting untuk menghasilkan buah yang baik dan berkualitas. Maksudnya adalah tata cara pernikahan mulai dariproses perkenalan hingga aqad dan seterusnya tidak boleh bertentangandengan syariah islam.

Kriteria memilih wanita idaman:

1.       Beragama yang baik (Zaatud diin) "Janganlah menikahi wanita karena kecantikannya, barangkalikecantikannya akan membuat terhina. Janganlah menikahi wanita karena hartanya, barangkali hartanya itu akan membuatnya melampaui batas. Tetapi nikahilah wanita atas dasar agama, sungguh seorang budak yang terpotong hidungnya, sobek telinganya, hitam kulitnya, tapi memiliki agama itu lebih utama.(HR. Ibnu Majah). "Seorang wanita yang penuh barkah dan mendapat anugrah Allah SWT adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya dan akhlaqnya mulia. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya dan buruk akhlaqnya." (HR. Ahmad)

 

2.       Memiliki kecantikan (Zaatul jamaal) Tak salah bagi lelaki untuk mempertimbangkan kecantikan dalammemilih wanita. Dalam hadits pun ada isyarat bolehnya mempertimbangkan kecantikan. Yang dilarang adalah jika masalah kecantikan dijadikan pertimbangan nomor satu. Sebagian ulama mengatakan kalau orang akan menikah hendaklah yang pertama ditanyakan adalah kecantikkannya, kalau cocok tanyakan tentang agamanya. Jika cocok nikahlah dengannya, jika tidak mundurlah. Pertimbangan mundur disini ialah karean agamanya bukan kecantikannya.

3.       Gadis (Al-bikru) "Nikahilah perawan, karena mereka lebih enak bicaranya, lebih subur rahimnya dan lebih menerima sesuatu yang sedikit."(HR. Ibnu Majah). Seorang gadis yang belum berpengalaman menikah dengan pria, pengabdiannya pada suami nantinya akan lebih murni dan lebih qanaah. Baik juga untuk memilih janda(stayyibaat), karena janda tidak memiliki orang yang menanggung hidupnya, tujuannya adalah untuk menjaga dan memeliharanya.

4.       Perempuan yang pencinta dan subur (Al Waduud wa al Waluud) Sabda Rasulullah: "Nikahlah dengan perempuan pencinta lagi banyak anak, biar nanti bisa saya banggakan jumlah kalian ihadapan ummat yang lain pada hari kiamat."(HR. At Turmidzi).

5.       Keturunan yang baik (Al Hasiibah) Yang baik disini maksudnya adalah berasal dari keluarga yang ke-Islamannya baik, karena nanti akan mendidik anak-anaknya sesuai dengan pendidikan yang ia dapatkan.

6.       Sayang anak, pandai menjaga suami dan hartanya. (Ahnaahi alal walad wa Ar'aahu alal zauji wa zaati yadihi) Ketika Rasul meminang Ummu Hani, ia keberatan karena mempunyai banyak anak. Rasul lalu bersabda: "Sebaik-baik  wanita yang menunggang unta adalah wanita shalihah dari Quraisy Karena pandai menyayangi anak semasa kecil dan pandai mengurus harta suami."

7.       Pilih wanita dari lingkungan yang baik (Min bi'atil shalihah)

8.       Wanita yang jauh bukan dari kerabat dekat. Sebenarnya jauh atau dekat kerabatnya tidak menjadi masalah, tergantung maslahatnya. Kalau maksudnya untuk memperkuat persaudaraan, mengikat persatuan dan saling mengenal, nikah dengan orang yang jauh lebih baik.

9.       Mempunyai ciri wanita muslimat yang baik. Mukminat (beriman) yang taat (Qaanitaat), gemar bertaubat (Taa'ibaat), rajin beribadah (Aabidaat), kerap berpuasa (Saa'ihaat)(QS. At-Tahrim:5).
 

Balik ke Daftar Isi

 

4.    KETIKA SUAMI MENCUCI

Ketika ibu-ibu sedang memasak bersama untuk sebuah acara. Seperti biasa, lidah-lidah tak bertulang menguntai cerita. Saya yang dianggap masih anak kemarin sore, cuma disuruh jadi kambing ‘congek’.

“Eh, Ibu Dian mau cerai lho?” ccetus seorang ibu.

“Dari mana Jeng tahu?” suara lain menimpali.

“Pengajuan resminya sudah dibuat kok. Sumbernya dapat dipercaya”.

Selanjutnya merekapun saling bersahutan, memberi komentar dan penilaian. Entah benar atau tidak, saya tidak tahu. Maklum, paling-paling mereka jualan “katanya” atau kalaupun melihat hanya dari luar “pagar”.

Diam-diam saya tertarik dengan perbincangan itu. Bukan pada asyiknya membicarakan orang lain, tetapi lebih pada substansi pembicaraan mereka. Simak aja!

“Mana ada lelaki yang kuat. Tiap hari harus mencuci seluruh pakaian keluarga. Mentang-mentang dia pegawai negri dan suaminya hanya jualan kecil-kecilan. Masa, celana dalam istri suaminya yang nyuci. Benar-benar pelecehan” seorang ibu bicara dengan sinis.

“Persi tetangga kita itu lho Bu, sok~” timpal ibu yang lain.

“Terus, terus, yang Bu Dian itu tadi bagaimana?”

“Sekarang kan suaminya sudah kaya, malah jadi Lurah. Ya ngga’  mau toh diperlakukan kaya’ babu seperti dulu. Mendingan juga cerai”.

O, jadi mereka mau cerai gara-gara cucian . . . ., pikirku geli.

Semakin siang, dapur semakin ramai dengan tema cuci mencuci. Kadang tawa mereka berderai-derai menertawakan bapak-bapak yang mencuci popok belepotan ee’ atau ompol anak-anak mereka.

Saya jadi teringat saat SMA dulu. Saat liburan saya main ke rumah teman sebangku saya. Waktu itu saya terheran-heran melihat ‘pemandangan aneh’ yang belum pernah sayalihat sekalipun di rumah saya ataupun di rumah kerabat dan tetangga saya.

“Nik, bapakmu nyuci . . ?” tanyaku heran.

“Iya, memang kenapa?” kini ganti teman saya yang heran dengan pertanyaan saya.

“Ibumu?” tanya saya cepat.

“Bapak dan ibu saling membantu. Kadang bapak juga bantu-bantu ibu di dapur. Kalau ibu lagi repot, bapakku yang nyuci. Kadang-kadang beliau mencuci berdua. Mesra, kan? Emangnya bapakmu ngga’ pernah?.

Aku tersenyum. Bapakku adalah seorang laki-laki yang tugasnya mencari nafkah, titik. Yang lain-lain urusan ibu, ucapku dalam hati. Sungguh, saat itu aku begitu kagum pada kedua orang tua temanku yang kepala KUA dan guru itu. Namun waktu itu aku punya cita-cita kelak kalau aku bersuami, engga’ ah, kalau suami harus mencuci.

Masih soal mencuci, lain lagi cerita temanku, N. Ketika pulang ke kampung suaminya, para tetangga bergunjing. “Seperti apa sih istrinya. Apa kaya’ ratu? Wong ya seperti orang desa saja, masak yang nyuci suaminya”.

Ternyata soal mencuci menjadi bahan pergunjingan dan pembicaraan dimana-mana. Kenapa, ya? Apa karena mencuci dalam kehidupan rumah tangga identik dengan pekerjaan perempuan, sehingga tak layak dikerjakan laki-laki, bahkan ada anggapan cenderung sebagai pelecehan harga diri?

Saat ini saya sudah menikah dengan anak hampir tiga. Idealisme saya bahwa mencuci adalah bagian saya dan tak perlu campur tangan suami tak kesampaian. Bukan karena malas, bukan karena saya ingin nyuruh-nyuruh suami, bukan pula karena merasa superior dan ingin dihargai (ih, na’udzubillah). Keadaanlah yang memaksa. Bukan paksaan keadaan yang menyakitkan, menjengkelkan atau memuakkan, tapi justru paksaan keadaan yang indah untuk dinikmati.

Saat awal menikah dulu, kami belum saling mengenal kecuali lewat data yang sangat simple dan ta’aruf yang super kilat. Maklum, hari itu ta’aruf, hari itu dilamar, hari itu juga diterima. Tidak lama kemudian kami menikah. Acara cuci mencuci ternyata merupakan mediator yang indah bagi kami untuk makin kenal, makin akrab, juga  . . . . makin mesra (ehm). Saya dan suami lebih sering mencuci pakaian bersama daripada mencuci sendirian.

Hari terus berjalan. Ternyata saya harus menghadapi persoalan terkait dengan cuci mencuci ini. Tangan saya gatal-gatal jika kena  sabun. Bahkan saya pernah opname selama seminggu gara-gara gatal (walau yang ini bukan karena sabun, tapi saya makin sensitif terhadap sabun). Akhirnya situasi berubah, frekuensi mencuci lebih banyak diambil alih oleh suami, sementara saya sekedar membantu.

Sekarang ini, ketika saya hamil anak ke tiga (setiap kali hamil badan saya selalu gatal-gatal, sangat sensitif terhadap makanan tertentu dan sabun) saya sempat pendarahan cukup banyak. Jadilah urusan cuci-mencuci dikerjakan oleh suami. Total. Suatu saat saya berkata kepada suami saya, ‘Mas, . . . . ‘maaf ya, saya ngga’ bisa jadi istri yang baik. Setelah menikah seharusnya sayalah yang mencuci pakaian dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainya. Tapi sekarang Mas malah yang repot”.

“Emangnya punya istri mau dijadikan tukang cuci”, suamiku becanda. “Dik, . . . siapa bilang mencuci dan memasak itu kewajiban istri. Itu termasuk hal-hal yang dapat dimusyawarahkan dengan baik. Banyak hal yang memang perlu kerjasama di antara kita. Kita atur secara fleksible, kita bagi-bagi tugas dengan baik. Kalau semua harus dikerjakan istri, apalagi istri juga bantu-bantu mencari pendapatan keluarga, tentunya dengan ridho suami, kapan bisa dakwah, kapan bisa menambah tsaqafah, kapan bisa mengembangkan potensi, sementara khodimah belum ada. Masalah nafkah, keqowaman suami atau hal-hal lain yang secara jelas diatur oleh Allah adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar. Tapi soal cuci-mencuci, bersih-bersih rumah nyebokin anak dan lain-lain merupakan masalah yang bisa kita musyawarahkan dengan bingkai kasih sayang, tanpa ada niat menang-menangan”, jawab suamiku panjang lebar.

“Mas ngga’ papa? Ngga’ merasa dilecehkan?”

Suami tersenyum. “Bukan itu hakikat pelecehan, juga bukan merupakan sebuah simbol. Yang penting dik, kamu nurut, patuh, taat, menyenangkan bila dipandang, menjaga harga diri dan harta suami jika ditinggal”. “Paham, kan?”

Air mataku jatuh. “Lho kok malah nangis, tidak setuju?!”.

Aku tersenyum, terharu dan bersyukur atas hadirnya suami yang sholeh, yang sangat baik dalam hidupku, yang dikaruniakan Allah untukku.

“Sekarang, sebelum mas berangkat nyuci, Mas minta indomie rebus, dikasih merica dikit, ditambah sawi, dan jangan lupa telurnya”.

Kini pukulan kecil mendarat di pundak suamiku dan aku pun taat dengan membawa bunga-bunga cinta dan rasa syukur di dalam hatiku.  (Dipetik dariMAJALAHWANITA UMMI)

Balik ke Daftar Isi

 

 

5.    SAKINAH MAWADDAH WARAHMAH

 

INSYA ALLAH DAPAT MENAMBAH PENGETAHUAN KITA TENTANG ISTRI / SUAMI.

Bagi mereka yg mencari Mawaddah (kasih),Sakinah (ketentraman) dan Rahmah (sayang) dalam Keluarga.

 

Bismillahirrahmaanirahiim 

Dengan kerendahan hati mari kita simak pesan2  Al-qur'an tentang tujuan hidup yang sebenarnya

Nasehat ini untuk semuanya ...........

Untuk mereka yang sudah memiliki arah.........

Untuk mereka yang belum memiliki arah.........

dan untuk mereka yang tidak memiliki arah. nasehat ini untuk semuanya.......

Semua yang menginginkan kebaikan.

Nikah itu ibadah.......

Nikah itu suci...........ingat itu......

Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena kecantikan, bisa karena keturunan dan bisa karena agama.

Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan..... karena semua itu akan menyebabkan celaka.

Jadikan agama sebagai alasan.....Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.

Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta.... Namun......jika cinta engkau jadikan sbg landasan, maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.

Jadikanlah " ALLAH " sebagai landasan...... Niscaya engkau akan selamat, Tidak saja dunia, tapi juga akherat.......

Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan...... Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.

Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu"..... disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan.......

Jika ini kau lakukan "istanamu" tidak akan langgeng..

Lihatlah manusia ter-agung Muhammad saw.... tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan

sorban, karena sang istri tercinta tdk mendengar kedatangannya.

Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya ketika lapar........ Menjahit bajunya yang robek........

Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam "istanamu"..... Disayang, dimanja dan dilayani suami...... Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu....

Jika itu engkau lakukan "istanamu" akan menjadi neraka bagimu

Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu.........

Jangan engkau terlalu menuruti istrimu...... Jika itu engkau lakukan akan celaka.... Engkau tidak akan dapat

melihat yang hitam dan yang putih, tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah.....

Lihatlah bagaimana Allah menegur " Nabi "-mu tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena

menuruti kemauan sang istri.

Tegaslah terhadap istrimu.....Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah.......

Jangan biarkan dia dengan kehendaknya...... Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth..... Di bawah bimbingan

manusia pilihan,justru mereka menjadi penentang.....

Istrimu bisa menjadi musuhmu.... Didiklah istrimu...

Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.

Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya...... Jadikan dia sebagai

Khadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang suami Muhammad saw menerima tugas risalah.....

Istrimu adalah tanggung jawabmu.... Jangan kau larang mereka taat kepada Allah..... Biarkan mereka menjadi

waniata shalilah... Biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam....

Jangan kau belenggu mereka dengan egomu...

Jika engkau menjadi istri... Jangan engkau paksa suamimu menurutimu... Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah...... siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami..... Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya.... Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.

Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu....

Jangan kau usik suamimu dengan tangismu....

Jika itu kau lakukan.....

Kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka......jangan..........

Jika engaku menjadi Bapak......

Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim

Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim

Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad saw

Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah..........

Ajaklah mereka taat kepada Allah.......

Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti.......

Jadikan dia sebagai Ismail yang taat.......

Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan'an yang durhaka.

Mohonlah kepada Allah..........

Mintalah kepada Allah, agar mereka menjadi anak yang shalih.....

Anak yang bisa membawa kebahagiaan.

Jika engkau menjadi ibu....

Jadilah engaku ibu yang bijak, ibu yang teduh....

Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu....

Jadikanlah mereka mujahid.........

Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah.....

Jangan biarkan mereka bermanja-manja.....

Jangan biarkan mereka bermalas-malas..........

Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang shalih....

Hamba yang siap menegakkan Risalah Islam.

AMIN.

wassalam

alhamdulillah..............

Balik ke Daftar Isi

 

 

 

 

 

6.    "MENGAPA MENUNDA PERNIKAHAN?"

 

 Rosulullah pernah berkata kepada Ali ra:

 Hai Ali, ada 3 perkara yang jangan kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu

1.       Shalat apabila tiba waktunya,

2.       Jenazah apabila sudah siap penguburannya, dan

3.       wanita bila menemukan pria sepadan yang meminangnya (HR. Ahmad)

 

 Kalau kita tanya seseorang pemuda/pemudi, Mengapa belum menikah? Maka

 jawabanya antara lain:

 

 1.   Masih kuliah/menuntut ilmu.

       Dikhawatirkan bila menikah akan mempengaruhi prestasi belajar dan mempengaruhi persiapan masa depan. Hal ini sesungguhnya tergantung dari manajemen waktu, waktu yang biasanya dipakai untuk hura-hura setelah waktu kuliah, diganti dengan mencari nafkah atau bercengkrama dengan keluarga. Disisi lain, bisa menghemat sewa kamar (kost-kost an), dapat saling membantu mengerjakan tugas (kalau satu bidang studi) atau dapat memperluas wawasan diskusi interdisipliner misalnya suami studi ilmu komputer dan istri akutansi maka diskusi komputasi akutansi akan nyambung, atau biologi dengan kimia diskusi tentang biokimia.

 

 2.  Bila menikah akan terkekang tidak bisa bebas lagi, tidak bisa kongkow-kongkow di mal setelah pulang kuliah atau kerja, bertambah beban tanggung jawab untuk memberi nafkah istri dan anak. Sedangkan Rosul bersabda: "Bukan golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah" (HR Thabrani).

 

 3.Belum siap dalam hal materi/rezeki. Banyak yang beranggapan kalau mau menikah harus siap materi, yang berarti harus punya jabatan yang mapan, rumah minimal BTN, kendaraan dll, sehingga bila belum terpenuhi semua itu, takut untuk "maju". Sedangkan Allah menjamin akan memberikan rizki bagi yang menikah seperti dalam firmanNYA: Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32). Rasulullah SAW bersabda : "Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan> (dalam kehidupan berkeluarga)" (HR Imam Dailami dalam musnad Al Firdaus).

 

 4.Tidak ada/belum ada jodoh. Masalah memilih jodoh telah di jelaskan pada tazkiroh 2 pekan yang lalu,

 dibawah ini adalah pesan Rosul SAW: Imam Thabrani meriwayatkan dari Anas bin

 Malik r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa menikahi wanita karena kehormatannya (jabatan), maka Allah SWT hanya akan menambah kehinaan; Barang siapa menikah karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah kecuali kefakiran; Barang siapa menikahi wanita karena hasab (kemuliaannya), maka Allah hanya akan menambah kerendahan. Dan barang siapa yang menikahi wanita karena ingin menutupi (kehormatan) matanya, membentengi farji (kemaluan)nya, dan mempererat silaturahmi, maka Allah SWT akan memberi barakah-Nya kepada suami-istri tsb".Imam Abu Daud & At Tirmidzi meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (dari pada wanita kaya & cantik tapi tidak taat beragama)". Bukan berarti Rasulullah SAW mengabaikan penampilan fisik dari pasangan kita, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: "Kawinilah wanita yang subur rahimnya dan pecinta " (HR Abu Daud, An Nasai& Al Hakim).

 

"Tiga kunci kebahagiaan suami adalah: Istri yang solehah: yang jika dipandang membuat semakin sayang, jika kamu pergi membuat tenang karena bisa menjaga kehormatannya dan taat pada suami".

 

 5.Mungkin masih ada alasan lainya, yang tidak akan dibahas disini

misalnya:

 -Karena kakak (apalagi wanita) belum menikah

 -Karena orang tua terlalu selektif memilih calon mantu.

 

 Manfaat menikah di usia muda:

 

 1.Menjaga kesucian fajr (kemaluan) dari perzinaan serta menjaga pandangan mata. (QS 24: 30-31).

 2.Dapat melahirkan perasaan tentram (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) dalam hati.

 3.Segera mendapatkan keturunan, dimana anak akan menjadi Qurrata A'yunin (penyejuk mata, penyenang hati) (QS 25:74)

 Karena usia yang baik untuk melahirkan bagi wanita antara 20-30 tahun, diatas umur tsb akan beresiko baik bagi ibu maupun sang baby.

 4.Memperbanyak ummat Islam.

 Seperti yang dipesankan Rosul beliau akan membanggakan jumlah ummatnya yang

 banyak nanti di akhirat.

 

Kemuliaan menikah: "Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada

 Allah maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat.

 Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya." (HR Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Al-Khudzri r.a.)

 Juga dapat ditambahkan, bahwa Islam memberi nilai yang tinggi bagi siapa yang telah menikah, dengan menikah berarti seseorang telah melaksanakan SEPARUH dari agama Islam!, tinggal orang tsb berhati-hati melaksanakan yang separuhnya lagi agar tidak sesat.

 Rosul SAW bersabda: Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi (HR Al Hakim).

 Kehinaan melajang/membujang: "Orang yang paling buruk diantara kalian ialah

 yang melajang (membujang) dan seburuk-buruk mayat (diantara) kalian ialah yang melajang (membujang)" (HR Imam, diriwayatkan juga oleh Abu Ya'la dari Athiyyah bin Yasar).

Balik ke Daftar Isi

 

 

7.    RUMAH TANGGA ISLAMI

Rumah tangga macam apa yang akan atau sedang kita bangun? Orang yang berfikir sehat dan pintar akan memilih suatu kebaikan dan kebenaran untuk mencapai keselamatan yang hakiki sehingga dia dapat menyelamatkan dirinya, keluarganya dan masyarakatnya. Sering kali orang berada pada pilihan yang salah karena beberapa faktor seperti tidak mempunyai landasan yang teruji kebenarannya & kurangnya minat untuk mencari/mempelajari/mengetahui kebenaran itu sendiri. Ternyata setelah mengetahui suatu tatanan yang teruji kebenarannya pun tidaklah cukup tanpa dibarengi oleh komitmen untuk menegakkannya.

Islam melalui Quran dan Hadist telah meletakkan dasar, prinsip, sistim dan tatanan yang paling tepat dalam membangun kehidupan berumah tangga sehingga percobaan pencarian/ekspolarasi terhadap nilai atau isme lain selain Islam menjadi tidak perlu lagi.

Bagaimanakah bentuk keluarga yang akan kita pilih? berikut ini adalah beberapa contoh rumah tangga yang ada di sekitar kita:

 

1.   Rumah tangga “Bisnis” : Pada awal dibinanya rumah tangga ini telah dihitung-hitung berapa keuntungan materi yang akan diperoleh, bila aku menikah dengan si A,  berapa tabunganku akan bertambah saat menikah dan setelah menikah. Apa   pasanganku nanti dapat menambah hartaku atau malah akan mengurangi. Dan   bila kami nanti punya anak, berapa anak yang kira-kira dapat   menguntungkan usaha yang kami jalankan saat ini dst. Rumah tangga  seperti   ini banyak sekali ditemukan di negara Barat yang hanya berfikir pada   materi.   Allah telah berfirman:   "Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang   mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman   dan mengerjakan amal-amal saleh, merekalah itu yang memperoleh balasan   yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan  mereka   aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)." (QS. 34:37)

2.   Rumah tangga "Barak":   Yang terdengar dari rumah tangga ini hanya perintah-perintah atau   komando-komando layaknya jendral kepada kopralnya. Bila si kopral tidak   melaksanakan atau lalai menjalankan tugas, maka konsekwensinya adalah   hukuman, baik berupa umpatan atau bahkan pukulan. Di sini tidak ada   suasana dialogis yang mesra, anggota keluarga yang berperan sbg kopral,   selalu merasa tertekan dan takut bila ada sang jendral di rumah, dan   selalu berdoa dan berharap agar sang jendral segera berlalu keluar   rumah.

3.   Rumah tangga "Arena Tinju":   Bila suami dan istri merasa memiliki derajat, kekuatan dan posisi   yang setara serta pendapatnya lah yang benar dan harus terlaksana. Bila   ada perbedaan dan salah faham sedikit saja, maka digelarlah  "pertandingan"   yang dapat berupa, baku cekcok, baku hantam atau baku UFO (piring   terbang). Masing-masing berusaha membuat KO lawannya dengan berbagai   taktik.   Tidak ada kata damai sebelum salah satunya menyerah.  

4.   Rumah tangga islami:   Didalamnya ditegakkan adab-adab Islam, baik individu maupun seluruh   anggota. Mereka berkumpul dan mencintai karena Allah, saling menasehati   kejalan yang maruf dan mencegah dari kemunkaran. Setiap anggota betah   tinggal didalamnya karena kesejukan iman dan kekayaan ruhani. Rumah   tangga yang menjadi panutan dan dambaan ummat yang didalamnya selalu   ditemukan suasana sakinah, mawaddah dan rahmah.     Merupakan surga dunia, seperti yang sering kita dengar, Rasul pernah   bersabda: Baiti jannati! Rumahku adalah surgaku. Rumah yang dimaksud di   sini tentunya bukan bangunan fisiknya yang bak istana dengan taman yang   luas dan kolam renangnya, tapi rumah disini adalah rumah tangga "ruh"   dari rumah tsb.    

 

Apa ciri-ciri rumah tangga islami tsb: 

a.    Didirikan atas dasar ibadah. Rumah tangga didirikan dalam rangka ibadah kepada Allah, dari proses   pemilihan jodoh, pernikahan (akad nikah, walimah) sampai membina rumah   tangga jauh dari unsur kemaksiatan atau yang tidak islami. Sebagaimana   tugas kita di muka bumi ini yang hanya untuk mengabdi/beribadah kepada   Allah, maka pernikahan ini pun harus diniatkan dalam rangka tsb.

b.   Terjadi internalisasi nilai Islam secara kaffah (menyeluruh).   Dalam rumah tangga islami segala adab-adab islam dipelajari dan dipraktekan sebagai filter bagi penyakit moral di era globalisasi ini.   Suami bertanggung jawab terhadap perkembangan pengetahuan keislaman dari istri, dan bersama-sama menyusun program bagi pendidikan anak-anaknya.   Saling tolong-menolong dan saling mengingatkan untuk meningkatkan kefahaman dan praktek ibadah. Oleh sebab itu suami dan istri seharusnya memiliki pengetahuan yang cukup memadai tentang Islam.  

c.    Terdapat Qudwah (keteladanan) suami atau istri yang dapat dicontoh oleh anak-anak. Setiap hendak keluar atau masuk rumah anggota keluarga   membiasakan mengucapkan salam dan mencium tangan, merupakan contoh yang   akan membekas pada anak-anak sehingga mereka tidak canggung mengucapkan   salam ketika telah dewasa.   Bagaimana mungkin anak akan menegakkan sholat diawal waktu,   sementara orang tuanya asik melihat TV pada saat azan berkumandang (ini   contoh yang buruk).   Keluarga islami merupakan contoh teladan di lingkungannya, selalu   nilai-nilai positif saja yang terlontar dari para tetangganya bila   membicarakan rumah tangga ini. Hal ini bisa terjadi bila adanya   contoh-contoh yang islami dilakukan serta silaturahmi ke tetangga yang   intensif.  

d.   Adanya pembagian tugas yang sesuai dengan syariat.   Islam memberikan hak dan kewajiban masing-masing bagi anggota   keluarga secara tepat dan manusiawi. Seperti yang tercantumkan dalam   Firman Allah:   "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah   kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi   orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi   para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan  mohonlah   kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha  Mengetahui   segala sesuatu." (QS. 4:32).   Suami atau istri harus faham apa kewajiban dan haq nya, sehingga   tidak terjadi pertengkaran karena masing-masing hanya menuntut haknya   terpenuhi tanpa melakukan kewajibannya. Islam telah mengatur  keseimbangan   haq dan kewajiban ini, apa yang menjadi kewajiban suami adalah haq  istri,   dan begitu pula sebaliknya. Kewajiban suami tidak bisa dilakukan secara   optimal oleh istri, begitu pula sebaliknya.  

e.   Tercukupnya kebutuhan materi secara wajar. Suami harus membiayai   kelangsungan kebutuhan materi keluarganya, karena itu salah satu tugas utamanya. Seperti yang tercantum dalam Al Quran surat Al Baqarah   233:  Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu   dengan cara yang ma'ruf.  

f.    Berperan dalam pembinaan masyarakat.  Keluarga islami harus memberikan kontribusi yang cukup bagi perbaikan masyarakat sekitarnya: "Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih   mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. 16:125).   Kita tidak bisa hidup sendirian terpisah dari masyarakat. Betapapun   taatnya keluarga tsb terhadap norma-norma illahiyah, apabila sekitar   lingkungannya tidak mendukung, pelarutan nilai akan lebih mudah terjadi,   terutama pada anak-anak.     Oleh sebab itu setiap anggota keluarga islami diharuskan memiliki  semangat   berdawah yang tinggi, sesuai dengan profesi utama setiap muslim adalah   da’i. Suami harus dapat mengatur waktu yang seimbangan untuk Allah SWT   (ibadah ritual), untuk Keluarga (mendidik keluarga serta bercengkrama   bersama istri dan anak-anak), waktu untuk ummat (mengisi ceramah,   mendatangi pengajian, menjadi pengurus mesjid, panitia kegiatan   keislaman) dan waktu mencari nafkah. Begitu pula dengan istri harus  diberi   kesempatan untuk bekiprah di jalan dawah ini memperbaiki muslimah   disekitarnya.   Bila pemahaman keislaman antara suami dan istri sekufu (selevel), maka tenaga  untuk   melakukan manuver dakwah keluar akan lebih banyak, karena suami tidak   perlu menyediakan waktu yang terlalu banyak untuk mengajari istrinya.   Begitu pula istri mendukung dan memperlancar tugas suami dengan ikhlas.   "Dan orang-orang yang berkata: "Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami   isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami),  dan   jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. 25:74).

Balik ke Daftar Isi

 

 

 

8.    PETUA-PETUA UNTUK SUAMI

 

Petua menjaga hati isteri

1.       Tunjukkan rasa sayang terhadap isteri samada melalui kata-kata maupun perbuatan seperti pelukan.

2.       Jauhilah daripada ucapan yang menyinggung perasaan isteri sekalipun dalam keadaan marah.

3.       Apabila dalam keadaan marah yang amat sangat, berusahalah mengawal diri. Beristigfar dan   berselawat serta   berwuduk. Ingatlah semula segala kenangan manis dan memahami bahawa isteri memerlukan bimbingan isteri dan memahami bahawa tiada orang yang tidak melakukan kesilapan.

4.       Apabila timbul rasa bosan ataupun jemu terhadap isteri, cubalah ulangi kembali masa-masa manis ketika dulu atau ajaklah

5.       isteri keluar makan di tempat yang agak istimewa, ataupun melancung ke tempat-tempat yang indah.

6.       Janganlah merendah-rendahkan isteri di depan orang lain

7.       Janganlah memuji wanita lain di depan maupun belakang isteri.

8.       Hargailah dan berilah pujian kepada pengorbanan isteri.

9.       Bantulah isteri dalam kerja-kerja seperti memasak, mengemas dan sebagainya.

10.    Cubalah fahami keadaan dan masalah isteri dengan mengambil berat perasaan dan kesihatan isteri terutamanya ketika haid dan mengandung.

11.    Berilah bimbingan kepada isteri dalam melakukan sesuatu agar ia  bertambah semangat dan bermotivasi.

12.    Bantulah isteri dalam melakukan kebaikan dan ibadah

13.    Berdoalah agar hati dan perasaannya sentiasa patuh kepada Allah dan hormat pada suaminya.

 

Petua menjadi lelaki pilihan

        Ciri-ciri lelaki pilihan

        1. Taat kepada Allah dan Rsul-Nya

        2. Mempunyai ilmu pengetahuan agama

        3. Bekerja menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran

        4. Mempunyai sifat berjuang mencapai kecemerlangan dalam hidup

        5. Sentiasa membersihkan dirinya daripada sebarang kemungkaran

        6. Selalu bertaubat dan memperbanyakan amalan-amalan sunat

        7. Tidak mengharapkan balasan atau pujian apabila melakukansesuatu

        8. Tidak takut kepada cercaan orang yang suka mencela

        9. Mengetahui dan faham serta mengamalkan segala kewajipannyadengan baik

       10. Bersifat lapang dada, penyantun dan pemaaf

       11. Berhemah tinggi dan cermat

       12. Sentiasa tenang dan waspada

       13. Jika ia berkahwin, dia dapat melayan isteri dengan baik kerana sebaik-baik suami adalah suami yang paling baik terhadap isteri

 

        Lelaki pilihan wanita

        1. Bersifat pelindung dan bertanggungjawab

        2. Bersifat tegas tetapi lemah lembut dan penyayang

        3. Berpendirian teguh

        4. Bersikap terbuka dan matang

        5. Bertimbang rasa dan memahami jiwa wanita

        6. Mempunyai sifat kepemimpinan.

        7. Boleh berbincang dan berterus terang

        8. Penyabar

        9. Mempunyai perancangan dan matlamat hidup yang baik dan jelas

       10. Cerdik dan bijaksana

       11. Peramah dan mesra

       12. Kerjaya yang terjamin

       13. Berwawasan untuk kesejahteraan dunia dan akhirat.

 

Petua menghadapi pertengkaran

           Tiada orang yang tak pernah bertengkar seumur hidup. Jarang kita temui sesebuah rumahtangga yang tak pernah bertengkar sama sekali semenjak hidup bersama kera hidup yang tiada pertengkaran adalah hidup yang  sendirian.

 

        Hakikat Pertengkaran

        1. Hampir seluruh perkahwinan mengalami pertengkaran, meskipun ramai orang malu mengakuinya. Sebenarnya jika sebuah perkahwinan tanpa pertengkaran sama sekali membuktikan matinya emosi. Bukanlah bererti pertengkaran itu baik namun pertengkaran juga mendatangkan kebaikan dan keburukan.

        2. Jika terjadi pertengkaran kerana sesuatu yang tidak diingini berlaku dalam diri pasangan hidup. Tujuannya adalah agar sesuatu yang tidak baik itu hilang dari pasangannya, baik dalam bentuk peribadi maupun pekerjaannya.

        3. Sebenarnya pertengkaran itu sebagai petanda awal dari sebuah Perkahwinan. Di mana suami isteri mulai cuba untuk menyatukan selera, tujuan dan keperluan hidup mereka. Jika mereka takut berbincang kerana kuatir akan berlaku pertengkaran, akhirnya ia akan menimbulkan masalah yang lebih besar pada masa akan datang.

        4. Jika suami isteri bertengkar secara kecil-kecil tidak membawa kepada pergaduhan, akhirnya mereka akan dapat mengatasi perselisihan dan kemudiannya mereka akan merasa lebih akrab.

        5. Jika seorang suami merasa marah terhadap seseorang di tempat kerjanya, setelah pulang ke rumah, mungkin ia akan meluahkan rasa marahnya itu pada isterinya. Jika anda berpendapat suatu kemarahan

harus diluahkan, maka anda akan meluahkan pada isteri anda. Pada hal dalam Islam, kita disuruh bersabar.

        6. Jika pertengkaran tidak dapat dielakkan lagi kerana mungkin salah menyampaikan sesuatu ataupun pasangan kita tidak mahu menerima hakikat diri kita, maka usahakanlah agar pertengkaran itu tidak membawa bencara. Perhatikan keadaan persekitaran agar tiada pihak lain ikut sama atau menjadi tekanan perasaan.

 

        Petua-petua menghadapi Pertengkaran

        1. Jika terjadi pertengkaran, maka janganlah mencari kelemahanpasangan kita. Dan tidak wajar pertengkaran tersebut hanya ingin mencari kemenangan. Tetapi usahakanlah untuk menyelesaikan masalah secara bersama.

        2. Jika pertengkaran itu menyangkut tentang satu topik, janganlah masalah-masalah lain dimasukkan sama lerana ia akan menjadikan suatu pertengkaran yang besar yang boleh membawa bencana,

        3. Batasi kekasaran jika berlaku pertengkaran. Jangan bertindak menggunakan fizikal seperti memukul, melemparkan barang dan sebagainya. Cara ini tidak akan menyelesaikan masalah malah akan menimbulkan masalah yang lebih besar.

        4. Di dalam pertengkaran, gunakan bahasa yang sesuai agar pasangan tidak tertekan. Kata-kata yang menyakitkan hatinya seperti: "Ini semua salah kamu...!", "Engkau bodoh...!", " Engkau selalu melakukankesalahan...!" dan sebagainya. Sebaliknya gunakanlah perkataan yang lembut seperti, "Hati saya luka kerana perbuatan itu...", "Kamu tak sedar, betapa hancurnay hati saya..." dan lain-lain.

        5. Setelah bertengkar, jangan biasakan diri suka menyendiri, kemudian menjauhkan diri dari pasangan hidup. Jangan memisahkan diri kerana ia tiada nilainya sama sekali dalam perkahwinan. Bahkan ia merugikan hubungan suami isteri.

        6. Jangan cuba menggunakan seks atau wang untuk membalas pertengkaran kerana cara ini akan menyebabkan terjadinya pertengkaran yang lebih hebat.

        7. Jangan membiarkan pihak ketiga ikut serta dalam pertengkaran keluarga. Kehadiaran pihak ketiga misalnya mertua, ipar, adik beradik hanya akan menambahkan kecurigaan dan mungkin menambah

menyala api pertengkaran. selesaikan secara baik antara suami isteri.

        8. Jangan bertengkar di depan anak-anak kena inia akan menjadikan anak-anak bingung dan tertekan perasaan. Jika ini berlaku, akan ujud banyak lagi masalah lain.

 

 Petua memilih wanita idaman atau perempuan

           Tidak semua orang dapat memilih pasangan hidupnya sesuai dengan

keinginannya. Tetapi ramai juga yang pandai menyesuaikan diri

dengan pasangannya walaupun tidak menepati ciri-ciri wanita idamannya.

 

        Calon-calon isteri pilihan.

        1. Wanita yang solehah

        2. Wanita yang boleh melahirkan anak

        3. Wanita yang bukan keluarga terdekat

        4. Wanita yang berakal.

Balik ke Daftar Isi

 

 

9.    Tips Membangun Keluarga Islami

                        Drs. H. Ahmad Yani

 

Untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang islami, adabeberapa hal yang harus mendapat perhatian suami dan isteri sebagai berikut:

 

Memperkokoh Rasa Cinta.

Cinta merupakan perekat dalam kekokohan kehidupan rumah tangga, bila rasa cinta suami kepada isteri atau sebaliknya telah hilang dari hatinya, maka kehancuran rumah tangga sangat sulit dihindari. Oleh karena itu suasana cinta mencintai harus saling ditumbuh-suburkan atau diperkokoh, tidak hanya pada masa-masa awal kehidupan rumah tangga, tapi juga pada masa-masa selanjutnya hingga suami isteri mencapai masa tua dan menemui kematian.

Rasulullah Saw sebagai seorang suami berhasil membagi dan menumbuh-suburkan rasa cinta kepada semua isterinya sehingga isteri yang satu mengatakan dialah yang paling dicintai oleh Rasul, begitu juga dengan isteri yang lainnya.

 

Berumah tangga itu diumpamakan seperti orang yang sedang berlayar, ketika pelayaran baru dimulai, kondisi di kapal masih tenang karena disamping penumpangnya betul-betul ingin menikmati pelayaran itu, juga karena belum ada kesulitan, belum ada ombak dan angin kencang yang menerpa, tapi ketika kapal itu telah mencapai lautan yang jauh, barulah terasa ombak besar dan angin yang sangat kencang menerpa, dalam kondisi

seperti itu saling mengokohkan rasa cinta antara suami dengan isteri menjadi sesuatu yang sangat penting dalam menghadapi dan mengatasi terpaan badai kehidupan rumah tangga. Pernikahan dilangsungkan dengan maksud agar lelaki dan wanita yang mengikat hubungan suami isteri dapat memperoleh ketenangan dan rasa cinta.

 

Allah berfirman yang artinya: Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menjadikan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar menjadi tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS 30:21).

 

 

Saling Hormat Menghormati.

Saling cinta mencintai itu harus diperkokoh dengan saling hormat menghormati, suami hormat kepada isteri dengan memberikan penghargaan yang wajar terhadap hal-hal baik yang dilakukan isterinya, begitu juga dengan isteri terhadap suaminya dengan menerima apa-apa yang diberikan suami meskipun jumlahnya tidak banyak.

Awal-awal kehidupan rumah tangga selalu dengan masa romantis yang segalanya indah, bahkan adanya kelemahan dan kekurangan tidak terlalu dipersoalkan, romantisme memang membuat penilaian suami terhadap isteri dan isteri terhadap suaminya menjadi sangat subyektif. Tapi ketika rumah tangga berlangsung semakin lama mulailah muncul penilaian yang obyektif dalam arti suami menilai isteri atau isteri menilai suami apa adanya.

Dulu ketika masa romantis, kekurangan masing-masing sebenarnya sudah terlihat tapi tidak terlalu dipersoalkan, tapi sekarang kekurangan yang tidak prinsip saja dipersoalkan, dalam kondisi seperti itulah diperlukan konsolidasi hubungan antara suami dan isteri hingga masing-masing menyadari bahwa memang kekurangan itu ada tapi dia juga harus menyadari akan adanya kelebihan.

Dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah Saw, beliau telah mencontohkan kepada kita betapa beliau berlaku baik kepada keluarganya, dalam satu hadits beliau bersabda: Orang yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik dengan keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku (HR. Thabrani).

 

Saling Menutupi Kekurangan.

Suami dan isteri tentu saja memiliki banyak kekurangan, tidak hanya kekurangan dari segi fisik, tapi juga dari

sifat-sifat. Oleh karena itu suami isteri yang baik tentu saja menutupi kekurangan-kekurangan itu yang berarti tidak suka diceriterakan kepada orang lain, termasuk kepada orang tuanya sendiri.

Meskipun demikian dengan maksud untuk konsultasi dan perbaikan atas persoalan keluarga kepada orang yang sangat dipercaya, maka seseorang boleh saja mengungkapkan kekurangan sifat-sifat suami atau isteri.

 

Kerjasama Dalam Keluarga.

Dalam mengarungi kehidupan rumah tangga tentu saja banyak beban yang harus diatasi, misalnya beban ekonomi, dalam hal ini suami harus mencari nafkah dan isteri harus membelanjakannya dengan sebaik-baiknya dalam arti untuk membeli hal-hal yang baik dan tidak boros. Begitu juga dengan tanggung jawab terhadap pendidikan anak yang dalam kaitan ini diperlukan kerjasama yang baik antara suami dan isteri dalam menghasilkan anak-anak yang shaleh.

Kerjasama yang baik dalam mendidik anak itu antara lain dalam bentuk sama-sama meningkatkan keshalehan dirinya sebagai orang tua karena mendidik anak itu harus dengan keteladanan yang baik, juga tidak ada kontradiksi antara sikap bapak dengan ibu dalam mendidik anak dan sebagainya. Keharusan kita bekerjasama dalam hal-hal yang baik difirmankan Allah yang artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (QS 5:2).

 

Memfungsikan Rumah Tangga Secara Optimal.

Masa sesudah menikah juga harus dijalani dengan memfungsikan keluarga seoptimal mungkin sehingga rumah tangga itu tidak sekedar dijadikan seperti terminal dalam arti anggota keluarga menjadikan rumah sekedar untuk singgah sebagaimana terminal, tapi semestinya rumah tangga itu difungsikan sebagai tempat kembali guna menghilangkan rasa penat dan memperbaiki diri dari pengaruh yang tidak baik serta memperkokoh

hubungan dengan sesama anggota keluarga.

Oleh karena itu keluarga harus dioptimalkan fungsinya seperti masjid dalam arti rumah difungsikan juga sebagai tempat untuk mengokohkan hubungan dengan Allah Swt dan sesama anggota keluarga sehingga bisa dihindari sikap individual antar sesama anggota keluarga.

Disamping itu rumah juga harus difungsikan seperti madrasah yang anggota keluarganya harus memperoleh ilmu dan pembinaan karakter sehingga suami dan isteri diharapkan berfungsi seperti guru bagi anak-anaknya yang memberikan ilmu dan keteladanan yang baik.

Yang juga penting dalam kehidupan sekarang dan masa mendatang adalah memfungsikan keluarga seperti benteng pertahanan yang memberikan kekuatan pertahanan aqidah dan kepribadian dalam menghadapi godaan-godaan kehidupan yang semakin banyak menjerumuskan manusia ke lembah kehidupan yang bernilai maksiat dalam pandangan Allah dan rasul-Nya.

Mewujudkan rumah tangga yang Islami

merupakan sesuatu yang tidak mudah,banyak sekali kendala, baik internal maupun eksternal yang harus dihadapi. Namun harus diingat bahwa kendala yang besar dan banyak itu bukan berarti mewujudkan rumah tangga yang Islam tidak bisa, setiap kita harus yakin akan kemungkinan bisa membentuk rumah tangga yang Islami, kalau kita sudah yakin, maka kita dituntut membuktikan keyakinan itu dengan kesungguhan. Hal ini karena melaksanakan ajaran Islam memang sangat dituntut kesungguhan yang sangat.

Akhirnya untuk meraih kehidupan rumah tangga yang bahagia, ada baiknya kita telaah hadits Rasul saw berikut ini: "Empat perkara yang merupakan dari kebahagian seseorang, yaitu: mempunyai isteri yang shalehah, mempunyai anak yang berbakti, mempunyai teman yang shaleh dan mencari rizki di negerinya sendiri" (HR. Dailami dari Ali ra)"

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. 

Semoga bermanfaat

                       

Anda ingin beramal shaleh, tolong anda kirimkan artikel ini kepada sesama muslim, baik keluarga, sahabat dan siapapun yang anda kenal atau silakan cetak untuk bacaan keluarga di rumah. Terima kasih

                       

 

Sumber : milist Islam,  

Bismillah Walhamdulillah Was Salaatu Was Salaam 'ala Rasulillah.

Balik ke Daftar Isi

 

 

10. RUMAHTANGGA MUSLIM MENJAMIN KELANGSUNGAN DA'WAH

 

 

Sebelum kita meneruskan perbincangan mengenai tajuk ini, mari kita fahami pengertian rumahtangga atau keluarga Muslim.  Keluarga Muslim ialah keluarga yang meletakkan segala aktivitas  pembentukan keluarganya

sesuai dengan syari'at Islam.

 

Berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, terdapat beberapa tujuan penting pembentukan rumahtangga Muslim ini, yaitu:

(a) mendirikan syari'at Allah dalam segala urusan rumahtangga.

(b) mewujudkan ketenteraman dan ketenangan jiwa dan roh.

 

 "Dialah Yang Menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya." (al- A'raaf 189)

 

Di dalam surah ar-Rum ayat 21, Allah SWT telah berfirman yang artinya:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri daripada jenismu supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa mawaddah dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."

 

Al-Qurtubi telah mencatatkan komentar Ibn Abbas mengenai "mawaddah" yang dijelaskan sebagai 'cinta kasih seorang lelaki kepada isterinya dan "rahmah" pula bermaksud 'rahmatnya agar isterinya jangan sampai menderita atau mengalami kesusahan.' Di sini dapat disimpulkan bahawa pembentukan rumahtangga Muslim itu diasaskan di atas "mawaddah" dan "rahmah".

 

Suasana rumahtangga yang dibina di atas dasar cinta dan kasih sayang yang suci akan mententeramkan dan memberi ketenangan kepada jiwa dan roh dalam kehidupan penda'wah.  Dalam hal ini tiada contoh yang lebih baik dan tepat daripada rumahtangga Rasulullah SAW yang dibina bersama dengan Saidatina Khadijah, terutama ketika menghadapi cabaran dan pengalaman baru

yang memerlukan sokongan padu serta keyakinan tanpa sebarang keraguan si isteri.

 

Anak-anak yang dibentuk dalam suasana 'mawaddah' dan 'rahmah' akan menghasilkan peribadi yang bahagia, yakin diri, tenteram, kasih sayang serta jauh daripada kekacauan serta penyakit batin yang melemahkan peribadi.

 

(c) mewujudkan sunnah Rasulullah SAW dengan melahirkan anak-anak soleh sehingga umat manusia merasa bangga dengan kehadiran kita.

 

(d) memenuhi keperluan cinta kasih anak-anak.

Ketidakseimbangan atau ketandusan cinta kasih ini akan menyebabkan penyimpangan akhlak dan perilaku.

 

Di dalam perkahwinan dan pembentukan rumahtangga Muslim, Islam tidak menyempitkan tujuan perkahwinan kepada hanya untuk mendapatkan anak-anak soleh (walaupun ini adalah antara tujuan perkahwinan), untuk mengekang padangan dan menjaga kemaluan (walaupun ini juga menjadi matlamat perkahwinan) dan bukan juga bertujuan untuk menyalurkan nafsu secara syar'i

sahaja, sebaliknya Islam telah menentukan matlamat yang lebih tinggi, mulia dan jauh jangkauannya. Ia berkait rapat dengan matlamat  kemasyarakatan, jihad serta pelaksanaan amal Islam yang luas.

 

Walaupun matlamat terpenting dalam perbentukan rumahtangga Muslim ialah untuk menyediakan suasana dan persekitaran yang subur bagi mendidik anak-anak, Islam telah menentukan bahawa tuiuan utama kesinambungan zuriat mempunyai kaitan dengan matlamat da'wah dan jihad.

 

Tujuan ini dapat difahami menerusi beberapa ayat Al-Quran. Antaranya ayat yang menggambarkan doa Nabi Zakaria yang berhajat kepada anak bagi meneruskan kewajipan da'wah yang dipikulnya:

 

"Ya Rabbi, kurniakan aku seorang anak yang baik di sisi Engkau. Anugerahkan aku seorang putera, yang akan mewarisi sebahagian keluarga Yaaqub." (Maryam: 5-6)

 

Peristiwa yang dirakamkan di dalam al-Quran itu menunjukkan bahawa seorang penda'wah juga berhajatkan anak seperti manusia lain, tetapi hajatnya lebih mulia kerana ia menghendaki anaknya mewarisi tugas da'wah dan jihad yang dipikulnya. Aspek ini penting kerana perjalanan da'wah dan pertarungan dengan jahiliyah memerlukan masa yang panjang. Oleh itu, dengan adanya pewaris yang meneruskan perjuangan, dapatlah dipastikan, insyaAllah, perjuangan itu tidak mati di pertengahan jalan kerana pupusnya pendokong perjuangan tersebut.

 

Pelaksanaan pendidikan (tarbiyah) Islam dalam rumahtangga Muslim.

 

Salah satu ciri penting yang membezakan rumahtangga Muslim dengan rumahtangga bukan Muslim ialah pelaksanaan pendidikan (tarbiyah) Islam yang sebenar di dalamnya.  Para penda'wah dituntut supaya memberi perhatian serius mengenai perkara itu. Anggota keluarga yang tidak mendapat pendidikan (tarbiyah) Islam atau yang lebih parah lagi jika pendidikan mereka terus terabai, mereka bukan sahaja tidak mampu menyambung perjuangan Islam tetapi mungkin merencat dan menjadi penghalang perjuangan itu.

Pendidikan anggota keluarga dimulakan dengan pendidikan isteri. Pendidikan ini bermula dengan pemilihan yang dibuat di atas dasar keimanan dan keIslamannya. Pendidikan isteri sangat penting diberi perhatian kerana isteri memainkan peranan yang paling besar dalam pendidikan anak. Anak sulung pula merupakan tumpuan kedua selepas isteri kerana isteri dan anak sulung (bapa juga tidak terkecuali) merupakan qudwah (contoh teladan) kepada anak-anak yang lain. Seandainya pendidikan isteri dan anak sulung terabai mereka tidak mungkin mampu menjadi teladan yang baik kepada anggota yang lain di dalam keluarga.

 

Keseimbangan di dalam rumahtangga.

Berumahtangga bagi seorang Mukmin ialah untuk melaksanakan perhambaan kepada Allah, bukan menghalanginya daripada tugas utama itu. Bagaimanapun ada banyak ujian dan fitnah di dalam rumahtangga. Salah satu ciri penting yang perlu wujud dalam rumahtangga Islam adalah keseimbangan.

 

Golongan yang beriman perlu bersungguh-sungguh untuk melahirkan keseimbangan ini kerana telah ramai golongan yang gugur daripada jalan yang penuh keberkatan ini kerana gagal melahirkan keseimbangan ini dan mendidik isteri serta anak-anak menerima keseimbangan ini.

 

Secara fitrahnya manusia mempunyai pelbagai keinginan hidup. Antara keinginan itu ialah keinginan kepada harta, pasangan hidup, memiliki harta (seperti rumah dan kenderaan), hidup selesa, berehat serta bersenang.  Keinginan ini tidak salah selagi wujud keseimbangan dengan tuntutan Allah.

 

Suasana persekitaran akan merangsang keinginan ini ke satu tahap yang mungkin menyebabkan seseorang penda'wah mengabaikan tuntutan Islam atau terus mengetepikan hak-hak Allah dalam kehidupannya. Sebagai contoh, setiap orang mempunyai kecenderungan memiliki harta tetapi kecenderungan itu perlu diimbangi dengan tuntutan mengeluarkan infaq di jalan Allah. Begitu juga dengan kecenderungan untuk beristirahat di rumah bersama isteri dan anak-anak diimbangi dengan kekuatan tajarrud di dalam jiwa.

 

Rifa'i Sirur di dalam bukunya 'Baitul Da'wah' mendefinisikan 'tajarrud' sebagai 'memiliki sesuatu tetapi sanggup mengorbankannya atau bersabar dengan kehilangan.'

 

Da'wah terpancar daripada rumahtangga Muslim.

 

Dr Abdul Mufa'al Muhammad al-Jabari di dalam bukunya, 'Identiti Rumah Tangga Muslim' menulis, di antara ciri wujudnya identiti rumahtangga Muslim ialah kewajipan berda'wah mestilah terlaksana dalam rumahtangga itu. Ini bermaksud angota rumahtangga - suami, isteri dan anak-anak - menjalankan usaha da'wah kepada teman-teman, saudara mahupun tetangga.

 

Suami Muslim yang soleh perlu melalui proses pendidikan (tarbiyah) dan terus menerus mendidik dirinya sebagai penda'wah contoh

kepada angota keluarganya.  Kesibukan di dalam kehidupan sehariannya biarlah berhubung kait dengan da'wah yang telah menjadi darah dagingnya. Isteri dan anak-anak perlu dididik mengenai tanggungjawab da'wah.  Mereka hendaklah  disediakan untuk memikul tugas da'wah.

 

Banyak juga penda'wah yang sangat aktif di medan da'wah tetapi roh da'wah tidak wujud di dalam rumahtangganya sehingga bukan sahaja isteri dan anak tidak memberi sokongan kepada perjuangannya, bahkan mereka menjadi penghalang utama, mengusutkan fikiran dan menekan perasaan penda'wah sehingga akhirnya penda'wah berkenaan meninggalkan perjuangannya.

 

Atas sebab inilah da'wah dan pendidikan (tarbiyah) perlu dilaksanakan di dalam rumahtangga secara terancang dan berterusan.  Anak dan isteri perlu dibimbing peringkat demi peringkat dan tahap demi tahap untuk menjadikan da'wah Islam sebati dengan kehidupan mereka.

Balik ke Daftar Isi

 

 

11.                       DILEMA RUMAH TANGGA DAN KARIR

 

Kemajuan caman yang ditandai dengan berbagai kemajuan pesat dalam pembangunan fisik dan teknologi sangat mencengangkan. Dunia yang demikian luas terasa semakin mengecil. Mengecil dalam arti komunikasi berarti semakin dekat, sekat-saekat antar masyarakat dan bangsa semakin hilang, seperti kata Prof. Dr. Nurcholish Madjid ? ?dunia sudah menjadi suatu global village atau desa buana?. Apa yang terjadi di white house, washington dapat kita ketahui saat itu juga lewat media telivisi. Begitu pula yang terjadi di Bumi Lorosae secara langsung transparan tersebar ke seluruh dunia.

 

Untuk pertemuan atau seminar internasional, pembicara tidak harus terbang melintasi benua. Kini sudah ada fasilitas ? tele-conference? yang menampilkan pakar dari Oxford, berbicara dalam satu seminar bersama iklmiawan dari Tokyo, teknolog dari Jerman dan cendikiawan dari Indonesia ? tanpa harus meninggalkan tempat. Melalui internet setiap orang dapat mengakses berbagai sumber pengetahuan maupun data dari seluruh dunia secara langsung dari ruangan kamarnya. Kini fenomena ?virtual office? atau kantor maya sudah pula menggejala.

Orang tidak perlu lagi membuang waktu sekian lama untuk datang ke kantor, cukup dengan ruangan kecil di rumah dan piranti komputer untuk bekerja. Semua dijalankan secara elektronik melalui telepon , mesin fax, electronic-mail, atau internet.

 

Komunikasi yang serba cepat dan terbuka ini juga diikuti dengan perubahan pola kerja. Di berbagai kota besar di indonesia ? kota serasa tak pernah tidur. Berbagai perguruan tinggi dan kursus menyelenggarakan program pendidikan sampai malam. Toko swalayan dan hyper market menutup gerainya pukul 22.00. dunia hiburan menyajikan pertunjukan sampai dini hari.

 

Dengan semua kemajuan dan kecanggihan teknologi itu, apakah tugas ibu menjadi lebih mudah ?

 

Dalam hal kenyamanan, kecepatan dan kepraktisan jawabnya adalah  YA. Tetapi dengan berkembang dan makin meningkatnya tuntutan atau ?rising demands of expectation? ternyata tugas ibu tidak semakin ringan. Hari-hari masa kini merupakan hari-hari lebih panjang dan penuh tantangan.

 

Keluarga sebagai lingkungan masyarakat yang terkecil merupakan sumber lahirnya generasi penerus. Dan karena itu merupakan tiang pondasi yang kuat bagi pembangunan bangsa. Dalam hal ini wanita memainkan peranan yang sangat penting, baik sebagai ibu rumah tangga maupun wanita karir.

 

Alangkah banyaknya beban yang harus dipikul oleh seorang ibu. Di rumah menjadi ibu rumah tangga, pendidik utama bagi anak dan teman setia pendamping suami. Ia nyaris menjalankan tugasnya selama 24 jam sehari dimulai dari  ? matahari terbit sampai mata suami terpejam ?. Seperti kata orang dahulu ?tugas ibu adalah di dapur, sumur dan kasur?.

Pentingnya peran ibu sebagai pendidik utama di rumah sering terdengar dari komentar tetangga. Apabila seorang anak sukses dan membuat prestasi gemilang ? baik di sekolah, kampus atau masyarakat, maka yang ditanya orang adalah ?siapa sih bapaknya?? sebaliknya apabila anak tersebut bermasalah, siapa lagi yang disalahkan orang kalau bukan ibunya. Konstalasi demikian, menekankan tentang arti pentingnya sosok ibu dalam mendidik anak.

 

Di luar rumah seiring dengan peningkatan kesadaran dan kesempatan bagi wanita ? sering kita saksikan bahwa wanita memegang peran tidak kalah beratnya dari kaum laki-laki. Tidak sedikit wanita yang sudah mencapai gelar profesor di perguruan tinggi, menjadi diplomat atau pemimpin kantor dan mengelola perusahaan raksasa.

 

Semua ini menuntut wanita bersikap lebih mandiri, lebih ulet namun tetap mampu menciptakan keseimbangan dan tanggung jawab sebagai ibu. Wanita dengan posisi sebagai ibu rumah tangga juga dituntut untuk senatiasa meningkatkan pengetahuan, wawasan, ketrampilan serta ketahanan fisik maupun mental spiritual sebagai

sarana penunjang yang dapat digunakan sebagai penopang kemampuannya.

 

HARAPAN YANG IDEAL

 

Dalam dunia persaingan yang terbuka seperti sekarang ini, wanita mempunyai peluang dan kesempatan yang semakin besar dengan syarat asal mampu memiliki pola sikap, pola pikir dan pola tindak yang tepat.

Kendala atau hambatan utama bagi pengembangan diri seorang wanita, umumnya terletak pada dirinya sendiri. Seorang wanita yang bijak akan mampu menyikapi bahwa setipa persoalan atau masalah pada hakekatnya menciptakan suatu peluang baru yang lebih baik?????? dalam hal pilihan menghadapi tugas sebagai ibu rumah tangga atau menjadi wanita karir

 

Sesungguhnya ktia dapat mengambil tamsil dari zaman Nabi Muhammad SAW. Istri beliau ? Siti Khodijah mempunyai dua peran istimewa yang dijalankan sekaligus.

Pertama menjadi istri nabi dalam suka dan duka, dalam perang dan damai, dalam keadaan sulit dan lapang. Beliau berhasil menjadi pendamping setia bahkan menjadi motivator pendorong semangat. Contohnya sekembali Nabi dari gua hira?, menerima wahyu yang pertama, badan beliau menggigil dalam kecemasan dan kegelisahan, menanggung beban amanat yang sangat berat. Ketika itulah Siti Khadijah ra yang mmahami perasaan sang suami langsung bertindak cepat menentramkan Nabi, seraya menyelimuti beliau. Disinilah awal turunnya surah AL Mudatsir. Yang dimulai dengan ayat: Yaa ayyuhal mudatsir Kum faandzir??.(hai orang yang berselimut bangunlah??)

 

Sampai akhir hayatnya, Nabi senantiasa menyebut nama Khadijah sebagai suri teladan, hingga menimbulkan kecemburuan Aisyah.

 

Diluar rumah, dalam karirnya Khadijah dikenal sebagai konglomerat pada zamannya. Ia memiliki kerajaan bisnis yang terbentang dari Iran sampai ke Abessinia. Dalam keadaan perang, Siti Khadijah pulalah yang menjadi salah seorang penyandang dana utama.

 

Siti Khadijah sangat berhasil memadukan sifat-sifat kodrati wanita tanpa harus mengalami ?split personality? atau kepribadian yang retak. Beliau berhasil memadukan keduanya.

 

Kiranya sebagai muslima, teladan tersebut dapat menjadi panutan bagi kita semua. Insya Allah.

 

Dalam situasi sulit seperti sekarang ini, hanya dengan bekal Aqidah yang kuat, sikap mental yang positif, wawasan yang luas, dan usaha yang ulet, kita dapat mengatasi semua masalah tersebut. Insya Allah.

 

Sebagai seorang Islam kita meyakini kebenaran janji Allah bahwa ? sesungguhnya, dibalik setiap kesulitan itu ada kemudahan ?

 

Catatan/pendapat pribadi

1.   suami adalah pemimpin rumah tangga, walaupun sekecil apapun penghasilan/kedudukannya

2.   meninggalkan rumah harus dengan izin suami, sesuai al quran /hadist

3.   mencari nafkah dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup keluarga adalah ibadah, jihad bila kita meninggal dalam perjalanan. Tetapi mengejar karir semata-mata untuk ambisa pribadi ?haram? hukumnya bila tidak direstui suami dan menelantarkan anak. Perlu ridha dan izin suami.

4.   Tidak setuju dnegan aliran feminisme dll

 

Balik ke Daftar Isi

 

 

 

 

 

12.                       Jangan Jadi Suami Egois

 

Sering terbayang di benak pikiran sebagian  suami, bahwa dia tidak sukses di dalam memilih istri ideal yang diidam-idamkannya. Entah wajah sang istri yang kurang cantiklah. Postur tubuhnya yang kurang menariklah. Atau sifat dan tabiat sang istri yang tidak berkenan di hati. Pikiran ini senantiasa menghantui hati sanubari sang suami sehingga berdampak pada perubahan sikap terhadap isterinya. Jika tadinya ia begitu menggebu-gebu mencintai isterinya maka kini berubah menjadimembencinya. Jika dulu jargonnya adalah "makan tak makan yang penting kumpul," "siap tinggal di gubuk derita beratap langit beralaskan koran" atau yang sejenisnya sebagai ungkapan keinginan untuk selalu bersama, seia sekata, bagaimanapun kondisinya, maka sekarang beda.

Jangankan kondisi tak (ada) makanan, sudah disiapkan oleh isteri makanan yang enak pun, terasa segan saja untuk menyentuhnya. Yang sangat menyedihkan, di antara mereka ini ada pula yang sampai memperlakukan isterinya dengan perlakuan yang kasar, "main tangan," tanpa sedikit pun ada perasaan belas kasihan!
Suami semacam ini tentunya lupa pada firman Allah yang menyebutkan: "Dan pergauilah isteri-isteri kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisaa 4:19). Begitupula sabda Nabi saw yang menyatakan: "orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi pekertinya, dan sebaik-baik kalian adalah orang paling baik perlakuannya terhadap isterinya.

"Jadi untuk menjadi manusia (atau suami) 'super' sebenarnya tidaklah sulit. Selain imannya bener, pinter, dan badannya seger, ia juga harus memperlakukan isterinya secara bener.

Dalam hadits lain, Nabi saw bersabda: "Janganlah seorang mukmin (suami) membenci isterinya berlebihan. Jika dia tidak menyukai sebagian sifat (tabiat, penampilan) isterinya, tapi dia menyukai sebagian sifat (tabiat, penampilan) yang lain.

"Hadits ini telah mengingatkan kita akan suatu hal yang sangat urgen. Yaitu hendaknya para suami (termasuk juga isteri) sadar, bahwa kesempurnaan (al kamal) hanyalah milik Allah semata. Karenanya, janganlah meminta kesempurnaan di jagat raya ini, tetapi mintalah yang terbaik dari yang ada. Kemudian bercermin dan bertanyalah: "Apakah diri kita bebas dari kekurangan baik dari segi fisik (jasadi) maupun non fisik (ma'nawi)?"

Sesungguhnya kita semua pasti memiliki kekurangan. Dan karena itu, jangan meminta orang lain untuk menjadi sempurna. Cukup sederhana tampaknya. Hanya saja, sebagian suami seringkali memanfaatkan posisinya sebagai "qawwam", kepala rumah tangga, untuk menempatkan isterinya sebagai "terdakwa". Termasuk dalam hal ini adalah 'kelemahan-kelemahan' istri yang dilihatnya tidak sempurna.

Tipe suami semacam ini bukan hanya sebuah cerita kosong yang berlebih-lebihan tetapi memang nyata adanya dan dapat menimbulkan kesengsaraan dalam kehidupan rumah tangga. Karena itulah, Ali bin Abi Thalib mewanti-wanti para ayah untuk selalu mencarikan hanya lelaki shaleh sebagai jodoh bagi anak perempuannya.
Ketika itu, seorang lelaki bertanya kepada Sayyidina 'Ali ra: "Saya mempunyai seorang putri, dengan siapa saya akan menikahkannya?" Beliau menjawab: "Nikahkan dia dengan orang yang bertaqwa kepada Allah. Sebab, jika dia mencintai (isteri)nya, dia akan memuliakannya. Tapi, jika dia membenci (istri)nya, dia tidak akan menzhaliminya."

Sesungguhnya suami yang mengidam-idamkan isterinya bebas dari berbagai kekurangan, di satu sisi dapat diibaratkan sebagai seorang zauj mitsaaliy, suami teladan, karena keinginan itu menunjukkan betapa si suami ingin isterinya sempurna. Tetapi pada saat yang bersamaan dia juga seorang lelaki anaaniy, egois, karena mengharapkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri saja. Mengapa? Karena sudah jelas, tidak ada seorang pun anak cucu Nabi Adam di dunia ini yang bebas dari 'aib dan kekurangan. Namun demikian, persoalan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai upaya meligitimasi dan mentolerir kekurangan isteri yang terkait dengan sifat, akhlak ataupun penampilan yang bisa jadi tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Seorang suami tak dapat meng-acuh-tak-acuh-kan kekurangan itu. Justru kita, para suamilah yang paling berkewajiban mengubahnya. Tetapi semua usaha mengarahkan, mengajak dan mengubah kekurangan istri ini tetap harus dilakukan dengan lembut dan lewat mu'amalah (perlakuan) yang baik. Bukan dengan cara yang kasar dan emosional.

Apalagi perlakuam lemah-lembut, baik dan adil terhadap isteri ini
diajarkan langsung oleh Rasulullah dan disebutkan sebagai sebuah kebaikan yang bermuara pada keridhoan Allah, seperti tampak pada dua hadits berikut ini.

Mu'awiyah bin 'Ubaidah bercerita: saya bertanya kepada Rasulullah saw: apa kewajiban suami terhadap isteri? Beliau saw menjawab: "Dia wajib memberi makan isterinya jika dia makan, dan memberinya pakaian jika dia memakai pakaian. Dan janganlah engkau memukul wajahnya, jangan mencacimakinya, dan jangan menghajar (meninggalkan)nya kecuali di dalam rumah." (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Beliau saw juga bersabda: "Al Muqsithun di hari kiamat berada pada
mimbar-mimbar dari nur (cahaya) dan pada Tangan Kanan ar Rahman (dan kedua Tangah Allah itu Kanan), yaitu orang-orang yang berbuat adil di dalam memutuskan hukuman (perkara), adil terhadap isteri-isteri mereka, dan adil terhadap tugas yang dibebankan kepadanya." (HR. Muslim).

Dalam praktek sehari-hari, para suami juga harus menyadari bahwa perlakuan yang tidak baik akan sangat berdampak negatif pada kinerja isteri di rumah. Padahal pada saat bersamaan, kita mengharapkan istri dapat menjadi madrasah, tempat tarbiyah, pembelajaran, serta pengasahan keshalehan dan intelektualitas anak-anak kita. Sebagaimana seorang penyair telah berkata: Al Ummu Madrasatun Idzaa A'dadataha, A'dadta Sya'banThayiba'l A'raaqi, yang berarti seorang Ibu (baca juga: isteri) adalah madrasah, apabila kamu mempersiapkannya dengan baik maka kamu sama dengan mempersiapkan bangsa yang unggul. "Untuk itu, mari kita coba mengikis habis keegoisan kita, para suami, agar dapat menjadi suami yang adil dan bijaksana dengan menghayati pernyataan seorang penyair: Wa Mandzalladzi Turdha Sajaayaahu Kulluhu, Kafaa'l Mar'u Nublaan An Tu'addu Ma'aayibuhu. Artinya, "Mana ada orang yang disenangi semua sifat-sifatnya (sempurna). Cukuplah seseorang itu mulia manakala ia dapat dihitung (diketahui) kekurangan-kekurangannya."

Balik ke Daftar Isi



13.                       PENGANTIN SEDERHANA

Syaefudin Simon

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim

 

Ketika Nabi Muhammad menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, beliau mengundang Abu Bakar, Umar, dan Usamah untuk membawakan "persiapan" Fatimah. Mereka bertanya-tanya, apa gerangan yang dipersiapkan Rasulullah untuk putri kinasih dan keponakan tersayangnya itu? Ternyata bekalnya cuma penggilingan gandum, kulit binatang yang disamak,kendi, dan sebuah piring.

 

Mengetahui hal itu, Abu Bakar menangis. "Ya Rasulullah. Inikah persiapan untuk Fatimah?" tanya Abu Bakar terguguk. Nabi Muhammad pun menenangkannya, "Wahai Abu Bakar. Ini sudah cukup bagi orang yang berada di dunia."

 

Fatimah, sang pengantin itu, kemudian keluar rumah dengan memakai pakaian yang cukup bagus, tapi ada 12 tambalannya. Tak ada perhiasan,apalagi pernik-pernik mahal.

 

Setelah menikah, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca Alquran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya, dan menangis dengan matanya.

 

Itulah sebagian kemuliaaan dari Fatimah. Ada ribuan atau jutaan Fatimah yang telah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dari mereka kelak lahir ulama-ulama ulung yang menjadi guru dan rujukan seluruh imam, termasuk Imam Maliki, Hanafi, Syafi'i, dan Hambali.

 

Bagaimana gadis sekarang? Mereka, memang tak lagi menggiling gandum, tapi menekan tuts-tuts komputer. Tapi bagaimana lidah, hati, dan matanya? Bulan lalu, ada seorang gadis di Bekasi, yang nyaris mati karena bunuh diri. Rupanya ia minta dinikahkan dengan pujaan hatinya dengan pesta meriah. Karena ayahnya tak mau, dia pun nekat bunuh diri dengan minum Baygon. Untung jiwanya terselamatkan. Seandainya saja tak terselamatkan, naudzubillah min dzalik! Allah mengharamkan surga untuk orang yang mati bunuh diri.

 

Si gadis tadi rupanya menjadikan kemewahan pernikahannya sebagai sebuah prinsip hidup yang tak bisa dilanggar. Sayang, gadis malang itu mungkin belum menghayati cara Rasulullah menikahkan putrinya. Pesta pernikahan putri Rasulullah itu menggambarkan kepada kita, betapa kesederhanaan telah menjadi "darah daging" kehidupan Nabi yang mulia. Bahkan ketika "pesta pernikahan" putrinya, yang selayaknya diadakan dengan meriah, Muhammad tetap menunjukkan kesederhanaan.

 

Bagi Rasulullah, membuat pesta besar untuk pernikahan putrinya bukanlah hal sulit. Tapi, sebagai manusia agung yang suci, "kemegahan" pesta pernikahan putrinya, bukan ditunjukkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Rasul justru menunjukkan "kemegahan" kesederhanaan dan "kemegahan" sifat qanaah, yang merupakan kekayaan hakiki. Rasululllah bersabda, "Kekayaan yang sejati adalah kekayaan iman, yang tecermin dalam sifat qanaah".

 

Iman, kesederhanaan, dan qanaah adalah suatu yang tak bisa dipisahkan. Seorang beriman, tecermin dari kesederhanaan hidupnya dan kesederhanaan itu tecermin dari sifatnya yang qanaah. Qanaah adalah sebuah sikap yang menerima ketentuan Allah dengan sabar; dan menarik diri dari kecintaan pada dunia. Rasulullah bersabda, "Qanaah adalah harta yang tak akan hilang dan tabungan yang tak akan lenyap."

 

Wallahu 'alam bish-shawab.

 

Balik ke Daftar Isi

 

14.                       Sudahkan Kita (Suami kita) Menjadi Ayah Idaman?

Seorang Ayah Idaman sudah semestinya memikirkan masa depan dengan melakukan investment -- bukan dengan stock portofolio, rumah ataupun saving account, tetapi dengan shodaqoh jariyah, menyebarkan ilmu yang bermanfaat dan membina anak yang sholeh/-ah. Ketiga aktivitas ini ternyata tercakup dalam proses pendidikan anak dan apalagi (Alhamdulillah!) banyak di antara kita yang telah dikaruniai anak, sehingga saya tergerak untuk merangkum 6 karakteristik kepribadian seorang ayah idaman.

1. Keteladanan

Suatu pagi, saya terperanjat ketika melihat cara putriku memakai sepatunya. Ia langsung memasukkan kakinya ke dalam sepatu tanpa melepas talinya. Rupanya selama ini ia memperhatikan bagaimana cara saya memakai sepatu. Karena malas membuka simpul tali sepatu, sering kali saya langsung memakainya tanpa membuka dan mengikat simpul tali sepatu. Saya berusaha melarangnya dengan memberikan penjelasan bahwa cara memakai sepatu seperti itu bisa mengakibatkan sepatu cepat rusak. Namun hasilnya nihil. Ini merupakan satu contoh nyata bahwa anak, terutama pada usia dini, mudah sekali mencontoh orangtuanya. Tidak peduli apakah itu benar atau salah. Nasehat kita tidak ada manfaatnya, jika kita tetap melakukan apa yang kita larang.

Apakah kita sudah memberikan teladan yang terbaik kepada anak-anak kita? Apakah kita lebih sering nonton TV dibandingkan membaca Al-Quran atau buku lain yang bermanfaat? Apakah kita lebih sering makan sambil jalan dan berdiri dibandingkan sambil duduk dengan membaca Basmallah? Apakah kita sholat terlambat dengan tergesa-gesa dibandingkan sholat tepat waktu? Apakah bacaan surat kita itu-itu saja?

Allah S.W.T berfirman dalam surat ash-Shaff 61:2-3: "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan."

Allah S.W.T juga mengingatkan untuk tidak bertingkah laku seperti Bani Israil dalam surat Al-Baqoroh 2:44 "Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?"

2. Kasih Sayang dan Cinta

Kehangatan, kelembutan dan kasih sayang yang tulus merupakan dasar penting bagi pendidikan anak. Anak-anak usia dini tidak tahu apa namanya, tapi dengan fitrahnya mereka bisa merasakannya. Lihatnya bagaimana riangnya sorot mata dan gerakan tangan serta kaki seorang bayi ketika ibunya akan mendekap dan menyusuinya dengan penuh kasih sayang. Bayi kecil pun sudah mampu menangkap raut wajah yang selalu memberikan kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang dengan tulus, apalagi mereka yang sudah lebih besar.

Rasulullah SAW pada banyak hadits digambarkan sebagai sosok ayah, paman, atau kakek yang menyayangi dan mengungkapkan kasih sayangnya yang tulus ikhlas kepada anak-anak. Sebuah kisah yang menarik yang diceritakan oleh al-Haitsami dalam Majma'uz Zawa'id dari Abu Laila.

Dia berkata: "Aku sedang berada di dekat Rasulullah SAW. Pada saat itu aku melihat al-Hasan dan al-Husein sedang digendong beliau. Salah seorang diantara keduanya kencing di dada dan perut beliau. Air kencingnya mengucur, lalu aku mendekati beliau. Rasulullah SAW bersabda, 'Biarkan kedua anakku, jangan kau ganggu mereka sampai ia selesai melepaskan hajatnya.' Kemudian Rasulullah SAW membawakan air." Dalam riwayat lain dikatakan, 'Jangan membuatnya tergesa-gesa melepaskan hajatnya.'

Bagaimana dengan kita? Sudahkan kita ungkapkan kecintaan kita yang tulus kepada anak-anak kita hari ini?

3. Adil

Siapa yang belum pernah dengar kata sibling rivalry dan favoritism? Jika belum dengar, maka ketahuilah! Siapa tahu kita termasuk orang yang telah melakukannya. Seringkali kita terjebak oleh perasaan kita sehingga kita tidak berlaku adil, misalnya karena anak kita yang satu lebih penurut dibandingkan anak yang lain atau karena kita lebih suka anak laki-laki daripada anak perempuan, dll.

Rasulullah SAW bersabda: "Berlaku adillah kamu di antara anak-anakmu dalam pemberian." (HR Bukhari)

Masalah keadilan ini dikedepankan untuk mencegah timbulnya kedengkian diantara saudara. Para ahli peneliti pendidikan anak berkesimpulan bahwa faktor paling dominan yang menimbulkan rasa hasad/ dengki dalam diri anak adalah adanya pengutamaan saudara yang satu di antara saudara yang lainnya.

Anak sangat peka terhadap perubahan perilaku terhadap dirinya. Jika kita lepas kontrol, sesegera mungkin untuk memperbaiki, karena anak yang diperlakukan tidak adil bisa menempuh jalan permusuhan dengan saudaranya atau mengasingkan diri (menutup diri dan rendah diri).

 

 

4. Pergaulan dan Komunikasi

Seringkali kita berada dalam satu ruangan dengan anak-anak, tapi kita tidak bergaul dan berkomunikasi dengan mereka. Kita asyik membaca koran, mereka asyik main video game, atau nonton TV.

Banyak hadits yang menggambarkan bagaimana kedekatan pergaulan Rasulullah SAW dengan anak-anak dan remaja. Beliau bercanda dan bermain dengan mereka.
Bagaimana dengan kita yang sudah sibuk kuliah sambil bekerja plus aktif di organisasi? Mana ada waktu untuk bercengkrama dengan anak-anak?

Sebenarnya ada waktu, jika kita mengetahui strateginya. Misalnya, sewaktu menemani anak bermain CD pendidikan di komputer, kita bisa menjelaskan cara mengerjakan atau bermainnya, memberi contoh sebentar, lantas bisa kita tinggalkan. Begitu pula dengan buku bacaan dan permainan lainnya. Repotnya ada sebagian ayah yang tidak mau berkumpul dengan anak-anak, terutama yang menjelang dewasa karena takut kehilangan wibawa atau kharismanya. Ini pandangan yang keliru. Yang lebih tepat adalah kita jaga keseimbangan, artinya kita tidak boleh terlalu kaku dalam memegang kekuasaan dan kharisma, tetapi juga tidak boleh terlalu longgar.

5. Bijaksana dalam Membimbing

Rasulullah SAW bersabda: "... Binasalah orang-orang yang berlebihan ..." (HR Muslim). Jadi metoda yang paling bijaksana dalam mendidik dan mengarahkan anak adalah yang konsisten dan pertengahan atau seimbang, yakni tidak membebaskan anak sebebas-bebasnya dan tidak mengekangnya; jangan terlalu sering menyanjung, namun juga jangan terlalu sering mencelanya. Bila ayah memerintahkan sesuatu kepada anaknya, hendaknya ayah melakukannya dengan hikmah, penuh kasih sayang, dan tidak lupa membumbuinya dengan canda seperlunya. Jelaskan hikmah dan manfaatnya, sehingga anak termotivasi untuk melakukannya. Jangan lupa juga untuk memperhatikan kondisi anak dalam melaksanakan perintah atau aturan tersebut.

Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa melatih pribadi perlu kelembutan, tahapan dari kondisi yang satu ke kondisi yang lain, tidak menerapkan kekerasan, dan berpegang pada prinsip pencampuran antara rayuan dan ancaman.

6. Berdoa

Para nabi selalu berdoa dan memohon pertolongan Allah untuk kebaikan keturunannya. "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala." (Ibrahim:35)

"Segala puji bagi Allah yang telah menganugrahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (Ibrahim:39-40

 

________________________________________________________________________

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.  Semoga bermanfaat

FiqihMuamalah - Pernikahan

Balik ke Daftar Isi

 

 

15.                       Istriku Maafkan, Suamimu!

 

Permintaan maaf adalah kata yang selayaknya sering diucapkan untuk melanggengkan hubungan suami isteri, sehingga bahtera rumah tangga berhasil mencapai tujuan. "Duhai sayang, maafkan saya"... "Aku tiada bermaksud demikian"... "Aku telah salah dalam memberikan hakmu" ... adalah ungkapan-ungkapan yang sering kita gunakan tetapi memiliki satu makna, yaitu meminta maaf yang merupakan terminal yang pasti akan kita lalui dalam melanggengkan kehidupan suami istri dari keruntuhan dan kehancuran.

 

Sesungguhnya suami isteri secara bersama, masing-masing memiliki saham dalam keberhasilan dan kebaha-giaan keluarganya, lalu kenapa salah seorang di antara mereka berdua memunculkan kalimat "kebencian" pada saat muncul masalah!!! Andai salah seorang dari mereka berdua berbuat salah, lalu ia meminta maaf kepada pasangannya, apakah hal ini akan menghinakan dirinya? Jika seperti itu sikap suami isteri, tentulah kehi-dupan mereka akan mengalami satu dari dua hal: mungkin akan langgeng rumah tangganya tetapi kurang harmonis dan banyak perselisihan, dan mungkin juga akan berujung kepada hancurnya kehidupan suami isteri, cerai.

 

Kehidupan suami isteri itu ibarat sebuah kapal yang sedang berlayar, padanya ada nahkoda dan awak kapal. Semua yang ada di dalam kapal itu bahu-membahu berusaha menyelamat kan kapal yang mereka tumpangi pada saat saat kapal ditimpa badai agar semu anya selamat dan sampai ke "pulau idaman".

 

Demikian juga halnya suami, Allah menjadikannya sebagai pemimpin bahtera rumah tangga, pelindung, dan pengayom bagi keluarga, bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Kepe-mimpinan yang diembannya itu adalah tugas,bukan intimidasi atas kesewe-nang-wenangan. Maka suami yang baik adalah orang yang memahami kebutuhan dan perasaan isterinya, dan menjadikan tampuk kepemimpinannya penuh dengan kasih sayang, kesejukan dan kedewasaan, tidak mudah emosi, namun tetap tegas pada saat harus bersikap tegas !!!

 

Akan tetapi, sebagian suami yang meremehkan tugas ini memahami, bahwa meminta maaf kepada istri akan menghinakan dirinya sebagai laki-laki, bahkan ia berpendirian bahwa kemu-liaannya tidak membolehkan dirinya untuk mengucapkan kalimat "Istriku, maafkan aku, aku salah" kepada isteri-nya, bagaimanapun keadaannya. !!!

 

Maka, keegoannya terus ia pertahankan dan istri selalu diposisikan "bersalah", ia tidak pernah meminta maaf kepadanya, yang kemudian menyeretnya kepada kehancuran rumah tangga dan kalimat "cerai" pun tak terhindarkan, padahal sangat mungkin rumah tangga itu bisa dilang-gengkan dengan ucapan "maafkan suamimu, sayang".

 

Ketika "Rasa Gengsi" Ikut Campur

 

Seorang istri pernah menceritakan tentang pengalamannya: Dahulu, kehidupanku bersama suamiku demikian bahagia. Akan tetapi itu semua berubah ketika terjadi beberapa percekcokan tentang urusan rumah. Waktu itu aku tinggal bersama di rumah mertuaku, maka aku memutuskan untuk pindah dan keluar dari rumah mertuaku, walaupun sendirian. Suamiku menolak rencanaku dan menjelaskan, bahwa ia suatu hari nanti akan bisa memiliki rumah sendiri. Dan terkadang suamiku memberi alasan tidak bisa meninggalkan ibunya, dan lain-lain, sampai suatu hari, terjadilah perselisihan antara aku dengan suamiku. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah mertuaku dan kembali ke rumah orang tuaku, dan aku katakan, jangan menjenguk atau menjemputku sebelum engkau memiliki rumah sendiri. Maka, aku dan suamiku pun sama-sama bersikukuh dengan pendirian masing-masing.

 

Dan sungguh aku pun akhirnya menyesali perbuatanku. Akan tetapi aku ingin mengetahui sejauh mana kedudukanku di sisi suamiku. Ternyata, suamiku bersikukuh tidak mau memaafkanku dan tidak berusaha meredakan suasana. Ia mengatakan, "Bertobatlah kepada Allah, dan kembalilah ke rumah ini, jika kamu tidak mau tobat, maka cukup bagiku untuk menceraikanmu. Demikianlah kepribadian kebanyakan suami, dan sangat sedikit yang bersikap dewasa. Bahkan di antara mereka ada yang sampai tidak mau mengasihi dan menyayangi isterinya, walaupun hanya dengan satu kata yang dicintai isterinya apalagi sampai mau memaafkan isterinya tersebut.

 

Seorang istri lagi menuturkan: "Para suami kita, sangat disayangkan sekali, mereka sangat mudah meng-ungkapkan kata-katanya kepada kita, kecuali "ungkapan maaf", bagaimana pun keadaannya. Suamiku sangat temperamental, tabiatnya keras dalam mempergauliku. Ia selalu mengucapkan ungkapan-ungkapan kasar kepadaku, bahkan ia pun pernah memukulku. Dan aku tetap bersabar sekalipun aku dalam posisi yang benar. Tetapi suamiku tidak mau mengubah pendiriannya sampai akhirnya aku yang meminta maaf kepadanya, baik yang salah adalah aku ataupun sebaliknya. Dengan berlalunya waktu sekian tahun, sikap suamiku kepadaku bertambah jelek, hingga memupus kesabaranku. Setelah terjadi perselisihan antara aku dan suamiku, aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku. Aku menunggu, semoga suamiku mau datang dan meminta maaf atas perilakunya selama ini atau barangkali ia mau menelponku. Akan tetapi ia tidak melakukan itu semua, sampai aku mendengar tentang dirinya, ia merasa selama ini bersalah, kini menyesal atas perbuatannya yang telah menzhalimi aku. Akan tetapi, ia tidak mau meminta maaf kepadaku, karena keegoisan dan kegengsiannya serta merasa menjadi hina dengan hal itu. Hingga terjadilah cerai atas permintaanku.

 

Adapun kisah Abu Khalid, ia mengatakan, "Habis sudah kehidupan ku bersama isteriku, padahal aku men-cintainya, akan tetapi dengan sebab ketidakharmonisan, dan aku enggan meminta maaf kepadanya, hingga akhirnya aku menerlantarkan anak-anakku hidup tanpa ibu.

 

Masalahnya adalah, bahwa isteriku adalah karyawati. Maka, aku katakan padanya berkali-kali untuk meninggal kan pekerjaannya dan berkonsentrasi mengurus anak-anak. Akan tetapi isteriku menolak membicarakan masalah itu. Dan ketika aku larang dia berangkat ke kantor, terjadilah per-selisihan antara aku dengan dia. Dan aku terpeleset salah dalam berkata, aku mengatainya agak lama, maka ia pun pergi pulang ke rumah orang tuanya. Maka, ia pun mengingatkan agar aku meminta maaf dan mengetahui kesala-hanku ketika mengatai dirinya. Akan tetapi aku menjadi sombong dan aku pun menceraikannya hanya untuk mempertahankan harga diriku sebagai laki-laki. Kini aku benar-benar menye-sal dengan penuh penyesalan.

 

 

 

 

 

Terapi Jiwa Adalah Solusinya

 

Dr. Najwa Ibrahim, seorang Guru besar Psikologi menjelaskan, bahwa pendidikan dan latar belakang hidup seseorang bisa berdampak sangat penting dalam cepatnya dia meminta maaf atau tidak. Beliau berkata, di antara sebab-sebabnya adalah sebagai berikut:

 

Metode pendidikan yang telah memberi pengaruh kepadanya sehingga dia begitu sulit meminta maaf atau mengungkapkan kata "maaf"

 

Diantara metode ini adalah metode yang ditanamkan kepada kita ketika kecil dalam meminta maaf, baik suka atau tidak. Meminta maaf dikaitkan dengan emosi dan dari pihak yang kalah.

 

Pandangan atau keyakinan yang tidak rasional yang tertanam didalam fikiran kita dan begitu besar dampaknya adalah "bahwa laki-laki tidak boleh meminta maaf kepada perempuan";

 

Anggapan, orang yang meminta maaf itu lemah kepribadiannya.

 

Maka, sudah semestinya seorang suami atau isteri merasa, bahwa ketika perilakunya menimbulkan kemarahan atau melukai perasaan pasangannya, ungkapan "maaf" lah yang bisa menghilangkan "ketersinggungan hati dan mencairkan ketegangan". Meminta maaf pada saat yang tepat juga bisa menghilangkan banyak hal yang bisa merusak hubungan suami isteri, andai tidak segera dieliminir.

 

Meminta Maaf Adalah Sifat Jantan

 

Dr. Muhammad Musthafa, Guru Besar psikologi dan sosiologi Univ. Malik Su'ud, mengatakan bahwa meminta maaf adalah merupakan wujud sifat jantan dari seorang suami atau siapapun yang berbuat salah. Meminta maaf bukan sifat yang dimiliki oleh orang yang lemah, sebagaimana persangkaan sebagian orang, di mana mereka mengatakan:

 

Semua orang pernah berbuat salah, namun sedikit orang yang jantan meminta maaf dari kesalahannya kepada orang lain. Apalagi jika yang dimintai maaf itu adalah isterinya. Sebab, setiap suami berbeda-beda cara dan tabiatnya. Sebagian meminta maaf dengan cara tidak langsung akan tetapi mencapai tujuan dan sebagian meng-hindar dari masalah yang ia alami karena demi masa depan dan kejiwaan anak-anaknya yang akan hancur bila mereka berpisah. Ada sebahagian suami yang berlebih-lebihan, ia menolak meminta maaf karena gengsi dan egois, padahal para pakar psikososial menyatakan bahwa meminta maaf bukanlah hal yang jelek. Maka, meminta maaf adalah sesuatu yang mesti dilakukan, dan bagi orang yang bersalah lebih ditekankan lagi. Apabila seseorang berbuat salah, maka tidak ada yang layak baginya selain meminta maaf.

 

Orang yang bersikukuh menolak meminta maaf kepada pasangannya dengan alasan akan mengurangi kehormatannya, maka orang yang demikian terkena penyakit jiwa. Sebab, diantara sifat kemuliaan adalah meminta maaf ketika berbuat salah kepada orang lain.

 

Ada Apa Dengan Sifat Laki-Laki?

 

Sifat kejantanan mengarahkan seseorang untuk meminta maaf jika berbuat salah kepada isterinya atau kepada orang lain. Sebab jantan berarti jujur dan luhurnya budi pekerti. Di saat seorang suami meminta maaf, maka ia tidak jatuh di mata isterinya atau akan jatuh harga dirinya sebagaimana gambaran sebagian suami. Bahkan itu akan mengangkat kedudukannya di mata isterinya; sebab itu akan menjadi pelajaran dalam amanah dan keluhuran budi dan kehormatan itu sendiri. Maka, meminta maaf bukan merupakan kelemahan, bahkan kelemahan itu sendiri adalah seseorang menyembunyikan kesalahannya dan berlindung dibalik kesombongan dan bersikukuh dengannya.

Dan banyak problem suami isteri diawali dengan adanya kesombongan sang suami dan enggan untuk meminta maaf kepada isterinya ketika ia mema-rahi sang isteri. Maka, sudah semesti-nya para suami ingat, bahwa dengan ia meminta maaf atas kesalahan kepada isterinya, akan bisa mengembalikan "air" ke dalam alirannya, mengemba-likan perasaan romatis, merekahnya kecintaan di antara kalian berdua, walaupun sifat kelaki-lakianmu merasa enggan untuk itu.

Mintalah maaf kepada istrimu atas kesalahan dan kelalaianmu, wahai para suami! Walau tidak kau sampaikan secara langsung. Sebab dengan itu rumah tangga akan menjadi damai, sejahtera dan harmonis. Semoga!

 

Sumber: Majalah ad Dakwah, dengan beberapa pengurangan sub bab dan kalimat. (Abu Muhammad)

 

( Kamis, 25-12-03M / 02-11-1424H )

 

 

Balik ke Daftar Isi

 

16.                       IS YOUR HOME AN ISLAMIC HOME ?

             

 Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal.( An Nahl 80 )

 

 Pertanyaan diatas mungkin terasa aneh bagi kita, karena secara otomatis mungkin kita akan menjawab : "tentu saja rumah kami adalah rumah yang Islami. Kami adalah keluarga Muslim, maka tentu saja jadinya rumah kamipun rumah yang Islami".

Coba ikuti  paparan berikut ini. Buatlah cheklist untuk setiap pernyataan yg ada, insya Allah akan terlihat betulkan rumah kita sudah termasuk rumah yang Islami ?.

 

  1. Saya sudah memilih pasangan hidup yang baik.

 Begitu banyak hadist yang menunjukkan begitu pentingnya memilih pasangan hidup berdasarkan keimanannya.  Pasangan hidup yang sholeh lebih banyak mendatangkan kebahagiaan pada keluarga.  Mereka akan selalu mengajak, mengajarkan dan bersama-sama  dengan pasangannya untuk mengisi hidup dengan berlandaskan pada sendi-sendi Islam.

 

  2. Saya bimbing suami / istri saya

 Masing-masing pihak menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai dengan aturan yang ada, dan memperlakukan masing-masing pihak dengan baik dan penuh kasih sayang.  Saling mengingatkan untuk melakukan ibadah dan saling mengoreksi bila dirasa perlu. Didalamnya termasuk anjuran untuk banyakmembaca dan mempelajari Al-Qur'an, saling mengingatkan untuk melakukan sholat malam, bersedekah, mempelajari dan membaca buku-buku Islam, banyak melakukan kebaikan dan menjauhi berbagai macam keburukan . Setiap pasangan harus menyadari bahwa keimanan seseorang itu ada saatnya naik dan mungkinpula akan turun, karenanya masing-masing pihak berusaha menjaga agar keimanan mereka terus bertambah.

 

  3. Rumah kami adalah tempat untuk mengingat Allah

 Mengingat Allah bisa dilakukan dengan hati, dengan ucapan lisan (dzikir), melalui sholat, mentadaburi Al-Qur'an, mendiskusikan hal-hal yg berkaitan dgn Islam, atau dengan membaca materi-materi Islami.  Hal itu perlu dilakukan secara terus menerus, sehingga insya Allah malaikat akan dating ke rumah kita membawa Rahmat Allah.  Nabi Muhammad s.a.w. berkata ; Perumpamaan dari rumah yang selalu mengingat Allah dengan rumah yang di dalamnya tidak ada kegiatan untuk mengingat Allah, perbedaannya adalah bagaikan kehidupan dan kematian (muslim)

 

  4. Rumah kami adalah tempat beribadah

 Setiap anggota keluarga dalam rumah tersebut selalu melakukan sholat pada waktunya. Mereka menyediakan suatu 'tempat" khusus untuk melaksanakan sholat, menjaga kebersihan dan keindahannya.  Untuk wanita lebih baik sholat di dalam rumah. Bagi laki-laki dianjurkan untuk sholat berjamaah di masjid.Tetapi dianjurkan bagi laki-laki untuk melakukan sholat sunat di rumahnya setelah melakukan sholat wajibnya di masjid. Rasulullah s.a.w. berkata : Melakukan sholat sunat dirumah adalah lebih baik daripada melakukannya secara berjamaah. Ini seperti sholat wajib bagi laki-laki lebih baik dilakukan secara berjamaah daripada sendirian (sahih al-Jaami).Hal ini dimaksudkan agar rumah dapat juga dijadikan sebagai tempat beribadah seperti halnya masjid.

 

 

  5. Ayat Al Qur'an senantiasa mengalun di rumah kami.

 Kami selalu membaca surat Al-Baqarah dan Ayat Kursi untuk mengusir syetan Nabi Muhammad s.a.w. berkata ; Bacalah surat Al-Baqarah di rumahmu. Syetan tidak akan masuk ke rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya (sahih al-Jaami).  Beliaupun berkata : Jika kamu akan tidur, bacalah ayat Kursi ; Allah tidak ada Tuhan selain Dia, Yang selalu hidup, Yang selalu menopang dan menjaga segala sesuatu yang hidup..sampai ayat akhirnya., untuk mengingatkanmu akan penjagaan Allah, dan syetan tidak akan dating kedekatmu sampai pagi (Bukhari).

 

  6. Rumah kami selalu diisi dengan kegiatan belajar dan mengajar.

 Kewajiban utama kepala rumah tangga adalah mendidik keluarganya untuk selalu berada pada jalan yang benar, bersama-sama melakukan kebaikan dan bersama-sama mencegah kemunkaran.  Memperdalam pengetahuan setiap anggaota keluarga tentang Islam adalah salah satu cara untuk mengokohkan iman mereka.

Kegiatan belajar mengajar ini harus selalu rutin dilakukan, misalnya setiap selesai sholat magrib, atau di saat-saat dimana semua anggota keluarga berkumpul.

 

 7. Kami memiliki perpusatakaan Islam dirumah kami

 Didalamnya mungkin termasuk buku-buku, caset dan CD.  Buku bisa berupa hadist, tafsir, atau buku-buku Islam lainnya. Kaset dan CD mungkin berisi kumpulan nasyid ( lagu tanpa instrument musik ) , bacaan Qur'an,khotbah-khotbah, kisah-kisah Nabi dan para Sahabat, dan juga  film-film yang menggambarkan Kebesaran Allah.

 

 8. Kami berusaha untuk memiliki akhlak dan moral seperti Nabi Muhammad s.a.w.

 Begitu banyak kebaikan yang dapat kita contoh dari Rasulullah s.a.w..Beliau selalu jujur, manis budi, halus dan ramah perkataannya. Perlakuannya pada keluargapun begitu mulia.  Beliau begitu menghormati istrinya dan selalu bercengkrama dengan istri dan anak-anaknya.  Beliaupun tidak segan untuk menolong mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, demi meringankan tugas istrinya.

 

  9. Kami tahu syariat Islam  berkenaan dengan rumah tangga

 Seperti menjaga kerahasiaan rumah tangga, tidak menceritakan hal-hal pribadi suami/istri pada orang lain, meminta ijin jika akan memasuki rumah, tidak melihat pada rumah orang lain (tidak membanding-bandingkan),tidak mengijinkan anak-anak untuk memasuki kamar tidur orang tuanya  pada saat-saat tertentu, dan tidak tinggal sendirian sepanjang malam.  Yang terakhir ini menjadi sangat menarik, karena saat ini begitu banyak suami yang terpaksa harus sering bepergian atau meninggalkan keluarganya karena urusan bisnis atau  sekolah.  Nabi Muhammad s.a.w, sebenarnya tidak menyukai hal ini.  Ibn Umar mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. melarang bersendirian (forbade being alone) dan berkata sebaiknya seorang laki-laki tidak tinggal sendirian sepanjang malam atau bepergian sendiri (Ahmad). Bukan hanya karena laki-laki itu akan kesepian, tapi lebih karena  istri dan anak-anaknya akan ditinggal sendirian di rumah tanpa penjagaan  dari sang suami.

 

 10. Kami undang orang-orang  alim yang berpengetahuan ke rumah kami

 Jika kita undang orang-orang seperti ini kerumah kita, insya Allah mereka akan mendatangkan  banyak kebaikan bagi kita. Yang mereka bincangkan bukanlah hal-hal duniawi semata, melainkan segala sesuatu yg berguna untuk menambah keimanan kita. Kita harus selalu berdo'a pada Allah untuk memudahkan kita mendapatkan teman-teman yg seperti ini.  Rasulullah s.a.w berkata ; Bertemanlah dengan orang-orang yang beriman, dan biarkan makananmu dimakan oleh orang-orang yang sholeh. ( Abu Dawud, Tirmithi)

 

  11.Tak ada 'kemungkaran' di rumah kami

 Televisi (kecuali untuk program-program pendidikan) dan musik-musik yang terlarang, tidak diijinkan diputar didalam rumah. Gambar dan lukisan di dinding tidak melukiskan sesuatu yang  bernyawa ; tidak ada patung atau sesuatupun yang menyerupai patung ; tidak memelihara anjing didalam rumah, tidak diijinkan merokok, dekorasi rumah  tetap cantik meskipun bersahaja dan tidak berlebihan; telepon tidak digunakan untuk bergunjing atau berbicara yg tidak perlu ; jika tamu datang berkunjung, laik-laki dan perempuan duduk terpisah, dsb.

 

  12. Rumah dibuat/dipilih untuk menunjang kehidupan beribadah.

 Sungguh baik jika kita bisa memiliki rumah yang berdekatan dengan masjid, sehingga memudahkan bagi kaum laki-laki yg ada di rumah tsb. Untuk menghadiri sholat berjamaah. Dan memudahkan bagi anggota keluarga lainnya untuk mengunjungi masjid, misalnya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan, atau pertemuan-pertemuan sosial. Dianjurkan juga untuk memilih tempat tinggal dimana banyak muslim lainnya tinggal disitu. Kalau bisa hindarilah lingkungan yg mayoritasnya non muslim dan immoral

 

 

              WHAT'S YOUR SCORE  ?

 

  10 - 12 checkmarks  : Alhamdulillah, anda telah memliki rumah yang Islami.

 

  7    -   9 checkmarks  : Lumayan , anda masih harus banyak memperbaikinya. Tapi dengan pertolongan Allah semuanya akan lebih mudah

 

  4    -   6  checkmarks : Poor, Anda dan keluarga anda perlu lebih memfokuskan pada banyak aspek di rumah anda, sehingga Allah lebih menyukainya

 

  0    -   3  checkmarks : Very Poor. Inilah saatnya merubah total seluruh kebiasaan rumah anda.

 

  Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar-kasar, tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan ( At  Tahrim ayat 6 )

 

  Disarikan dari Al Jumuah, vol 11 issue 8 1428 H

  Dengan judul asli  : Is your Home an Islamic Home ? By : Dr. Aisha Hamdan

 

  __________________________________oOo______________________________

                             Ayat Of The Day:

 

 "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan

 (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin

 kalau kiranya antara ia dengan hari

  itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya.

 Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya." (QS. Ali Imran: 30)

  __________________________________oOo ________________________

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.  Semoga bermanfaat

Balik ke Daftar Isi

 

 

 

17.                       Awal Pernikahan, Antara Realitas dan Ilusi

 

Publikasi: 21/12/2001 11:33

 

eramuslim - Semasa gadis, Atiqah (bukan nama sebenarnya), sering berharap untukbmenjadi seorangbisteri yang taat dan sering mengukir senyuman buat suaminya. Dia yakin, dengan menjadi isteri yang solehah dan menggembirakan suami, dia sudah dapat menempati salah satu tempat di surga. ¡§Tidak perlu susah-susah bagi seorang wanita mencari surga Allah,¡¨ begitu yang kerap terlintas dalam hatinya.

 

Harapan untuk menjadi isteri yang solehah dibina oleh Atiqah setelah dia menerima kesadaran Islam dan ketika pemahamannya mengenai Islam semakin jelas. Padahal sewaktu remaja, dan ketika agama hanya dilihat sekadar amalan rutin seperti yang ditekankan oleh sekolah dan keluarganya, dia tidak pernah mempunyai harapan dan impian begitu. Malah dia merasa agak janggal apabila memikirkan surga dan neraka Allah.

 

Berkat berteman dengan mereka yang berminat mendalami agama, Atiqah sering mengikuti pengajian. Dalam bacaannya, dia menemukan banyak tema tentang perkawinan. Dia juga banyak menemukan ayat Al-Quran yang menganjurkan berumahtangga. Dia pun ingin menjadi sebaik-baik perhiasan sebagaimana kata hadits, dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri solehah. Atiqah juga begitu senang dengan hadis yang pernah disebut Rasulullah, yaitu "Jika manusia boleh menyembah manusia selainnya, maka aku perintahkan isteri menyembah suaminya."(HR Abu Dawud,Tirmidzi,Ibnu Majah dan Ibnu Hibbin)

 

Berkat keinginan yang tinggi untuk menjadi isteri yang solehah sebagaimana dicontohkan oleh isteri-isteri Rasulullah, maka Allah akhirnya menemukan jodoh Atiqah dengan Mustafa (bukan nama sebenarnya). Mustafa, seorang jejaka yang tidak kurang solehnya. Akhirnya kedua-dua mereka melangkah ke gerbang pernikahan. Maka menagislah syaitan ketika kedua anak Adam diijabkabulkan.

 

Seperti Atiqah, Mustafa yang mengenali Islam sejak berada di kampus, sering bercita-cita untuk membentuk rumahtangga. Pilihannya, pasti seorang wanita solehah yang menyejukkan hati dan mata.

 

Dia pernah membayangkan, alangkah bahagianya menjadi seorang suami yang kuat pribadinya dan mampu membimbing orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya. Dia teringat akan pesan Rasulullah, bahwa "hanya lelaki yang mulia saja yang akan memuliakan wanita." Mustafa pernah bercita-cita mengikuti Rasulullah yang begitu sayang dan lemah lembut pada isterinya. Tidak merasa rendah diri apabila membantu isteri melakukan pekerjaan rumah.

 

Rumahtangga Mustafa-Atiqah terus berlalu; hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan...

 

Biarpun harapan dan cita-cita menghidupkan rumahtangga Muslim terus hidup, namun kenyataan pun harus mereka hadapi juga. Perbedaan kepribadian, perasaan, pembawaan, selera dan kegemaran yang selama ini terbina dari latar belakang keluarga dan pendidikan yang berbeda, ternyata tidak mudah untuk disatukan.

 

Jika sebelum perkawinan semua itu dikatakan mudah diselesaikan melalui pemahaman agama, ternyata lambat laun ada juga perselisihan. Perselisihan memang tidak dapat dielakkan dalam rumahtangga. Apalagi jika pasangan suami isteri tidak menyedari bahawa syaitan sentiasa berusaha untuk menjahanamkan anak Adam.

 

Dalam kisah Mustafa dan Atiqah, ternyata segala yang dibayangkan tidaklah seindah realitasnya. Mencontoh rumahtangga Rasulullah memang satu tuntutan. Namun sebagai seorang Islam, tantangan dan cobaan adalah peluang untuk mempertingkatkan diri dan semakin bergantung kepada Allah. Berbagai masalah dalam perkawinan dan rumahtangga harus dihadapi secara sabar dan realistik oleh pasangan suami isteri yang inginkan naungan Allah.

 

Ada isteri yang mengeluh karena cara suami menegur, dikatakan kasar dan memalukan. Ada pula suami mengeluh karena sikap isteri yang kurang cakap mengurus keluarga. Maklum saja, ada dikalangan isteri sebelumnya sibuk belajar dan berorganisasi sehingga sangat jarang ikut mengurus masalah dapur.

 

Mustafa pun mulai mengeluh.Ternyata isterinya tidak seperti dia impikan. Malah Atiqah juga mengeluh terhadap Mustafa karena dianggapnya terlalu dimanjakan oleh orang tuanya dahulu. Apalagi Mustafa terlalu berhati-hati berbelanja.

 

Atiqah juga mulai merasakan penyesalan di hati akibat tidak mau bekerja setelah kuliah, karena niat untuk menumpahkan perhatian sepenuhnya kepada suami dan rumahtangga, dan mencapai impian menjadi wanita solehah.

 

Kadang-kadang semangat seorang Muslimah solehah untuk keluar rumah mencari kesibukan di luar tidak diimbangi dengan peranannya dalam rumahtangga. Hal ini menyebabkan suami mengeluh karena dibebani dengan tugas-tugas rumahtangga. Ada juga di kalangan isteri terlalu banyak menceritakan kekurangan suaminya, dan sering lupa untuk melihat kebaikan dan kelebihan suaminya.

 

Ada suami yang sikapnya dingin, tidak pandai memuji dan bercanda dengan isterinya. Apabila melihat kebaikan pada isterinya dia diam saja, tetapi apabila melihat kelemahan, segera diungkit. Memang, banyak cobaan pada pasangan suami isteri dalam rumahtangga. Tidak semua yang indah-indah seperti diimpikan sebelum berumahtangga menjadi kenyataan. Sudah menjadi sunnah kehidupan, bahwa akan berlaku pergeseran kecil dan perbedaan, sepanjang menjadi suami isteri. Itu namanya asam garam rumahtangga.

 

Pasangan seperti Mustafa dan Atiqah mempunyai kelebihan menghadapi cobaan berumahtangga, karena mereka berbekal pemahaman agama dan rasa ketergantungan yang tinggi kepada Allah. Dengan kata lain, mereka mempunyai pemikiran yang mungkin tidak dirasai oleh pasangan yang jauh diri dari Islam.

 

Adakalanya kita memerlukan bantuan pihak ketiga dalam menyelesaikan masalah rumahtangga kita, kerana "kaca-mata" yang kita pakai sudah begitu kelabu sehingga gagal melihat semua kebaikan pasangan hidup kita. Mungkin pihak ketiga bisa membantu mencuci atau memperbaharui kacamata kita supaya pandangan kita kembali jelas dan wajar.

 

Pasangan yang bijak dan tinggi pemahaman agamanya,akan mampu untuk istiqamah dalam menjaga perkawinan mereka dan lebih mampu menghadapi badai melanda. Adalah penting sebelum kita mendirikan rumahtangga, mempunyai suatu tanggapan bahwa kita (bakal suami isteri) berjanji akan melengkapi antara satu sama lain, karena manusia bukanlah makhluk sempurna. Manusia tidak mungkin dapat menjadi isteri atau suami yang sempurna seperti bidadari atau malaikat.

 

Kita harus siap menerima pasangan hidup seadanya, termasuk segala kekurangannya, selama tidak melanggar syariat. Kita memang berasal dari latar belakang keluarga, kebiasaan dan watak yang berbeda, yang membentuk watakan dan persepsi hidup tersendiri. Apabila kita menerima keadaan ini, insya Allah kita akan berhasil menghindar dari menikah dalam illusi kita pada hari kita diijabkabulkan, tetapi sebaliknya kita sudah menikah dalam realitas kita.

 

Setiap pasangan Muslim, tidak boleh menjadikan rumahtangga sebagai tujuan. Ingat, ia hanya alat untuk kita meningkatkan diri dan ketakwaan kepada Allah. Menikah berarti kita mampu mengawal nafsu daripada langkah yang salah. Betapa indahnya Islam. Subhanallah..!!

 

 Balik ke Daftar Isi

 

 

 

 

 

 

 

Tambilang di rumpun lansek

Tasisiak di ateh lantai

Kami bilang sado nan dapek

Nan tingga untuak rang pandai….

 

Dedicated to our “FRIENDSHIP NEVER MADTAYY..!!

RemusH-NiJoel-UtiE-Upix-d3ti-5411-Xoe-Lazt-IszoeR

Bandung-Cilegon-Padang-Singapore-Surabaya

April 2004

Hosted by www.Geocities.ws

1