================================================================
.....it may be that you dislike a thing which is good for you
and like a thing which is bad for you. Allah knows, but you do
not.
( QS. Al Baqoroh : 216 )
================================================================
Bunda. Satu kata yang bisa
mengubah dunia. Begitu kata orang-orang. Ah,
sudahlah. Sekarang aku
hanya akan menceritakan bagaimana Bundaku di mataku.Sebenarnya aku tidak suka
mengekspos kehidupan pribadi ke orang-orang. Tapi kalau itu Insya Allah bisa
bermanfaat, why not..?
Bundaku terlahir di dalam
keluarga yang masih setia dengan segala protokoler adat istiadatnya. Kelak, aku
dan saudara perempuan yang lain juga tidak terbebas dari semua itu. Bagi
keluarga besar kami, anak perempuan adalah asset keluarga yang mesti tetap
terjaga dengan baik sebelum dipersunting jadi 'permaisuri' oleh seorang
laki-laki yang baik. Kami tidak mengenal istilah pacaran dan sebagian besar
menikah dalam usia belia. Digodain cowok berarti pelecehan dan saudara
laki-laki kami akan langsung 'turun tangan'. "Nikahi saudari kami atau
menyingkir jauh-jauh", begitu motto mereka (huuu..siapa berani..??).
Begitulah deskripsi keluarga kami yang dari luar terkesan sangat menyeramkan. Tapi
menurutku, keluargaku adalah tempat yang paling aman, nyaman, dan segar (ups!
Jadi kayak iklan biro perjalanan aje...)
Bunda menikah dengan Ayahku
yang masih terhitung saudara jauh pada usia 21 tahun. Setelah punya anak,
Bundaku yang enerjik dan cerdas meninggalkan pekerjaan dan memilih tinggal di
rumah untuk mengasuh jundi-jundi yang sedang bandel-bandelnya, sembari membantu
usaha keluarga besar. Sungguh pengorbanan yang luar biasa, Subhanallah!!
Pada suatu pagi ketika aku
berumur 6 tahun, orangtuaku berangkat ke luar kota. Belakangan aku tahu kalau
sebenarnya mereka pergi ke rumah sakit di kota lain untuk merawat Bunda.
Ternyata, Bunda menderita luka pada salah satu saluran paru-paru. Jika asmanya
kambuh, kadang-kadang bisa keluar darah. Suatu hari, aku dan adikku diajak
nenek mengunjungi Bunda. Karena masih di bawah umur, kami tidak diijinkan
masuk. Akhirnya Bunda-lah yang keluar menemui kami. Seperti layaknya di penjara
penjahat kelas kakap, Bunda hanya bisa memeluk kami dari balik terali besi.
Adikku menangis meraung-raung karena kecewa. Aku dan nenekku hanya menangis
sesegukan. Subhanallah, Bundaku tetap tersenyum walaupun aku tau kalau hatinya
jauh lebih pedih dari yang kami rasakan. Setelah itu aku pun harus menerima
kenyataan bahwa penyakit Bunda tidak bisa disembuhkan. Jika dioperasi,
kemungkinan hidup hanya 50-50. Kalau hidup pun, hanya maksimal 5 tahun. Bundaku
hanya pasrah dan percaya bahwa ajal itu kehendak Allah. Beliau memilih tidak
dioperasi, dan alhamdulillah keadaan baik-baik saja. Sejak itu, aku bertekad
tidak akan melewatkan satu pun senyum Bunda pada sisa umurnya yang singkat
dengan cara apapun selagi masih ada kesempatan. Kenapa mesti senyumnya? Karena
senyumnya yang membuat hatiku tenang dan nyaman.
Ketika berumur 11 tahun,
mimpi buruk itu terulang lagi. Bundaku diopname di rumah sakit setempat. Aku
menyangka itu akhir dari semuanya. Tapi alhamdulillah, Bundaku masih diijinkan
hidup dan pulang ke rumah dengan senyum yang lebar.
Ketika
berumur 15 tahun, aku tidak mendapat rangking 1 untuk pertama kalinya. Aku
pulang ke rumah dengan was-was. Takut kehilangan senyum Bundaku. Ternyata
Bundaku tersenyum dan berkata, " Alhamdulillah, ini tentu hasil yang
terbaik karena kamu sudah berusaha demikian kerasnya. Bunda sama sekali tidak
meminta deretan piala ataupun predikat juara kelas. Kamu menjadi anak shaleh
saja Bunda sudah senang'. Aku pun memeluknya erat-erat sebelum ada terali besi lagi ataupun penghalang lain di antara
kami!!
Di usiaku yang ke-17, aku tersentak dari tidurku karena bunyi rolling door garasi. Aku mendengar Bundaku terbatuk-batuk tidak seperti biasanya. Aku berlari keluar kamar dan menyaksikan pemandangan yang paling mengerikan dan jadi trauma sepanjang hidupku. Bundaku muntah darah seperti yang biasa dilihat di film-film. Bunda tidak sadarkan diri. Malam itu juga setelah mengantar Bunda ke rumah sakit, aku dan adikku mengepel lantai ruang tengah yang penuh dengan darah Bunda. Sesekali, kami saling berpandangan seraya menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah kami akan melihat senyumnya esok hari, atau paling tidak desah nafasnya....
Keesokan harinya, kami
mengunjungi Bunda yang sudah siuman di rumah sakit dan mohon doa restu buat
ujian cawu seperti yang biasa kami lakukan. Di sekolah, guru dan teman-temanku
pun sampai bingung kenapa aku menyelesaikan soal ujian dengan berurai air mata.
Aku hanya diam seribu bahasa. Aku tidak biasa membagi kesedihan dengan orang
lain. Bundaku pulang dari rumah sakit tepat pada hari terima rapor.
Alhamdulillah, hasil usahaku membuat senyum Bundaku makin lebar. Setelah itu,
Bundaku semakin rajin tersenyum, baik ketika aku lulus SMU, ketika aku mengepak
pakaian ketika lulus pilihan UMPTN di pulau seberang, atau ketika aku menangis
meninggalkan rumah pertama kali, dan momen-momen lainnya yang sangat panjang
untuk disebutkan satu persatu.
Sekarang Bundaku sudah
pergi untuk selama-lamanya menjelang usia 44 tahun dalam keadaan husnul
khatimah (wallahu a'lam!). Usia yang masih muda. Mungkin Allah sangat mencintai
Bundaku sehingga cepat-cepat memanggilnya. Aku tidak bisa lagi memeluknya
sewaktu sakit dan di kala hatiku sedang galau. Dan aku menyaksikan senyum
Bundaku untuk terakhir kalinya sebelum kain kafan menutup wajahnya. Senyum
wanita yang menjadi motivasi terbesar dalam hidupku tak bisa kulihat lagi
sebelum aku sempat berbuat banyak buat pemiliknya. Ini yang membuat aku sedih.
Tapi di sisi lain, aku juga lega karena Bunda sudah bebas dari penderitaan
fisiknya. Aku tidak akan menangis karena aku sudah diberi aba-aba bersiap sedia
mengikhlaskan kepergiannya sejak umur 6 tahun. Lagipula, itu kan bisa
mengganggu ketenangan Bunda di alam sana. Semoga kami sekeluarga nanti
dipertemukan dalam jannah yang abadi, Insya Allah!!
Sekarang, Bunda dikenang
sebagai salah satu wanita tertangguh dalam keluarga kami atas semua yang pernah
beliau lakukan. Bundaku memang sebaik-baik orang yang pernah aku temui. Bundaku
juga tidak sempat menyaksikan satupun acara wisuda dan pernikahan anak-anaknya.
Aku jadi ingat waktu aku masih duduk di TK. Tanpa ada angin ataupun hujan,
Bunda mendandani kami layaknya pengantin kecil, lalu memandangi kami sambil
tersenyum. Mungkin Bundaku sudah punya firasat waktu itu. Allahu a'lam.
Salah satu yang aku kagumi
dari Bundaku : tetap tersenyum dalam keadaan
buruk sekalipun. Apalagi
menangis. Aku cuma pernah melihat Bunda menangis sewaktu tahajjud di keheningan
malam dan ketika aku meraung-raung sewaktu luka di daguku menganga lebar minta
dijahit. Entah kapan aku bisa setangguh Bundaku?
O, iya, cerita di atas
bukan berarti aku melakukan sesuatu semata-mata karena Bunda tetapi karena Dia
yang mencintai Bundaku, cuma itu terlaksana karena cinta pada Bundaku juga.
Dibedakan yaa...!!
Demikianlah. Bagi yang
ibunya masih hidup, saatnya untuk KATAKAN CINTA,
bukan cinta picisan haram
kayak yang dieksloitasi di tipi, tapi cinta yang suci kepada wanita yang punya
jasa besar dalam hidupmu, katakan sekarang juga selagi masih ada KESEMPATAN.
Tidak perlu bertingkah aneh-aneh, just call your mom and tell her,"I LOVE
YOU, MOM!!" .Kehadiran ibu itu sangat berarti bagi anak-anaknya, dan itu
akan sangat terasa kalau ibumu sudah tiada. Just trust me...!!!
Buat yang ibunya sudah
tiada, marilah kita tambah bekal ibu dengan menjadi anak yang shaleh (doa anak yang shaleh termasuk
amalan yang tidak terputus,Insya
Allah..)
"Rabbigh firli wali wa
lidayya warhamhuma kamaa robbayaani shoghiro..."
Jazakillahu khoiron
katsiron, wa 'afwan jiddan, ya..Ummi...!! Jazakillahu ahsanal jaza'....
Maafkan aku, Bunda atas
semua kesalahanku. Dan penghargaan yang setinggi-tingginya buat Ayah yang
sangat setia menjaga Bundaku sampai akhir hayatnya....Jazakumullahu khoiron
katsiro.
"tak ada gading yang
tak retak"
Min yuuliyu, 'am alfaini wa
arba'ah.
-Cahaya
Malam di Bumi Allah-