Seandainya
Aku Bisa Terbang
eramuslim - Teman, Aku ingin bercerita. Di salah satu dahan pohon
yang rindang, terdapat sebuah sarang dimana hidup sepasang burung bersama
seekor anak mereka yang baru menetas dari telur beberapa hari lalu. Sepasang
Ayah dan Ibu burung itu nampak berbahagia sekali dengan kehadiran si burung
kecil. Setiap pagi, sang ayah pergi mencari cacing untuk makan si burung kecil.
Setiap hari, sang ibu menemani si burung kecil di sarang, menghangatkan
tubuhnya dan melindunginya dari dinginnya desir angin yang kencang. Si burung
kecil pun merasa nyaman dalam dekapan ibunya. Kalau perut terasa lapar, ia
tinggal mencicit saja, semua dapat diperolehnya dengan mudah.
Hari berganti hari, tak terasa si burung kecil pun mulai
bertambah usianya. Bulu-bulu di sekujur tubuhnya mulai tumbuh, si burung kecil
sudah punya sepasang sayap mungil. Lalu, sang ayah berkata padanya : "Nak,
kini sudah saatnya engkau belajar terbang, mengepakkan sayap yang telah Tuhan
berikan padamu... Ayah dan Ibu akan mengajarimu terbang".
Tetapi si burung kecil nampak ketakutan, dia merasa belum
mampu untuk terbang dengan sayapnya sendiri. Beberapa pertanyaan berkecamuk
dalam pikirannya. Bagaimana nanti kalau sepasang sayapku ternyata tak bisa
dikepakkan? Aku takut jatuh dari ketinggian. Bagaimana nanti kalau aku lapar?
Aku harus mencari makanan kemana? Bagaimana...? Si burung kecil pun berkata
pada Ayah-Ibunya: "Ayah, Ibu, aku ingin tetap tinggal disarang saja, aku
tak mau terbang sendiri, aku takut...", ucap si burung kecil lirih.
Lalu, sang Ayah burung mendekap tubuh si burung kecil
dengan penuh kasih sayang, seraya berkata, "Nak, hilangkan semua
kekhawatiran dan ketakutan yang menghantui benakmu itu. Engkau mempunyai sayap
untuk terbang kemanapun engkau ingin pergi. Lihatlah dunia di luar sana Anakku,
engkau akan bertemu dengan burung-burung lain, engkau akan menjumpai banyak
pengalaman hidup yang akan memperkaya dirimu. Jangan pernah engkau risaukan tentang
makanan, karena Tuhan telah menyediakan semuanya di alam sana, asalkan engkau
mau berusaha menjemputnya Nak".
Si burung kecil mendengarkan nasehat Ayahnya dengan
sungguh-sungguh, dia termenung sesaat, kemudian dengan semangat dia berkata,
"Iya Ayah, aku akan belajar terbang sekarang, aku tidak akan takut."
Lalu, si burung kecil mulai mencoba mengepakkan sayapnya perlahan... agak
cepat... semakin cepat... dan kemudian... "Aku bisa terbang!", teriak
si burung kecil gembira. Ayah dan ibunya tersenyum bahagia menyaksikan usaha
anaknya.
Kini, siburung kecil itu sudah menjelma menjadi seekor
burung besar yang gagah. Ia sudah bisa mencari makan sendiri, ia sudah
menjalani banyak perjalanan hidup yang menjadikannya mandiri seperti sekarang,
bahkan ia sudah menemukan seekor burung betina cantik menjadi pasangannya. Si
burung itu bergumam, "semua ini tidak akan aku dapatkan seandainya aku tak
mau belajar terbang"
Teman,
Dahulu, kita adalah burung-burung kecil itu, yang sangat bergantung pada ayah
dan ibu kita. Namun Teman, mari lihatlah dengan seksama diri kita di cermin
saat ini. Kita bukan lagi anak kecil yang masih harus selalu di 'suapi' oleh
ayah dan ibu seperti dahulu, kita bukan lagi bocah kecil yang harus berdiam
diri keenakan menanti 'subsidi' rutin setiap bulan masuk ke rekening tabungan
kita dari Ayah dan Ibu.
Cobalah Teman, perhatikan sekali lagi sosok pada cermin di
hadapanmu itu. Ya Tuhan, ternyata kita sudah dewasa, tak terasa usia sudah
merangkak ke angka 24 tahun lebih. Tapi, mengapa diri ini tak ubahnya seperti
si burung kecil tadi yang masih ingin terus berdiam di sarang, karena tak mau
susah memikirkan harus mencari makan.
Teman, mari sejenak kita layangkan ingatan kita pada
Rasulullah SAW yang sudah mandiri sedari Beliau kecil. Malu sekali rasanya diri
ini, malu pada kedua orangtua, terlebih lagi malu kepada-Mu Ya Rabb. Teman,
Kemanakah perginya taujih Imam Syahid Hasan Al Banna, bahwa salah satu karakter
(muwashoffat) seorang kader da'wah adalah Qodiirun 'alal kasbi
(mampu mencari nafkah sendiri alias mandiri). Apakah hanya menjadi baris-baris
kalimat tak bermakna dalam catatan agenda kita? Semoga tidak.
Teman, Apakah kita tak memperhatikan kedua orangtua kita
yang sudah mulai lanjut usia, lihatlah kerutan yang mulai menghiasai wajah mereka,
lihatlah tenaga mereka sudah tak sekuat dulu lagi. Lalu, Apakah begini bakti
kita terhadap mereka? Kita masih 'tega' membiarkan mereka membanting tulang
untuk membiayai kuliah dan kebutuhan kita sehari-hari. Teman, padahal sudah
saatnya kita menunjukkan pada mereka bahwa kita sudah bisa mandiri seperti si
burung kecil tadi.
Teman, mari kepakkan 'sayap' mu sekarang juga. Jangan
takut dengan kencangnya angin di luar sana, jangan takut dengan ganasnya
kehidupan disana. Karena itu akan membawa kita pada sebuah kedewasaan diri akan
hakikat hidup sesungguhnya.
"Berapa lamakah kau kan tetap menggelepar menggantung di sayap orang.
Kembangkan sayapmu sendiri dan terbanglah lepas seraya menghirup udaraBebas di
taman luas". (Muh Iqbal)
Eka Satriana
[email protected]