|
Buah Kejujuran
Pada
suatu hari ada seorang penebang kayu yang sedang menebangi cabang
sebuah pohon yang melintang di atas sungai. Tiba-tiba kapaknya
terjatuh ke sungai itu. Ketika ia mulai menangis, Tuhan menampakkan
diri dan bertanya, "Mengapa kamu menangis?" Si penebang kayu
menjawab bahwa kapaknya telah terjatuh ke dalam sungai.
Segera Tuhan masuk ke dalam air dan muncul dengan sebuah kapak
emas.
"Inikah kapakmu?" Tuhan bertanya.
"Bukan," si penebang kayu menjawab.
Tuhan masuk kembali ke air dan muncul dengan kapak perak. "Inikah
kapakmu?" Tuhan bertanya lagi.
"Bukan," si penebang kayu menjawab.
Sekali lagi Tuhan masuk ke air dan muncul dengan kapak besi.
"Inikah kapakmu?" Tuhan bertanya.
"Ya!" jawab si penebang kayu.
Tuhan sangat senang dengan kejujurannya dan memberikan ketiga
kapak itu kepadanya. Si penebang kayu pulang ke rumahnya dengan hati
bahagia.
Beberapa waktu kemudian, si penebang kayu berjalan-jalan di
sepanjang sungai dengan istrinya. Tiba-tiba sang istri terjatuh ke
dalam sungai. Ketika ia mulai menangis, Tuhan menampakkan diri dan
bertanya, "Mengapa kamu menangis?"
Si penebang kayu menjawab bahwa istrinya telah terjatuh ke dalam
sungai. Segera Tuhan masuk ke dalam air dan muncul dengan Sophia
Latjuba. "Inikah istrimu?" Tuhan bertanya.
"Ya!" si penebang kayu menjawab, cepat.
Mendengar itu, Tuhan menjadi sangat marah. "Kamu berbuat curang!
Aku akan mengutukmu!" tegur Tuhan.
Si penebang kayu segera menjawab, "Maafkan saya, ya Tuhan. Ini
hanya kesalahpahaman belaka. Kalau saya berkata 'Bukan' pada Sophia
Latjuba, Engkau pasti akan muncul kembali dengan Kris Dayanti. Kalau
saya juga berkata 'Bukan' kepadanya, pada akhirnya Engkau pasti akan
muncul dengan istri saya, dan saya akan berkata 'Ya'. Kemudian
Engkau pasti akan memberikan ketiganya kepada saya.
"Tuhan, saya adalah orang miskin. Saya tidak akan mampu
menghidupi mereka bertiga. Itu sebabnya saya menjawab 'Ya'."
Hmm... Kejujuran, kapan pun memang selalu membawa kisah manis.
(CN02) |