Ass. wr. wb.
Mas Naufal,
Kewajiban berbakti kepada orangtua itu fardhu 'ain, yakni kewajiban terhadap
orang per-orang, siapapun dia, bagaimanapun kondisinya, dan apapun yang
diperlakukan orangtua terhadap dirinya.
Jadi
fardhu/kewajiban disini adalah mutlak perintah syara' yang tidak boleh
diingkari, akan berdosa besar dan fasek (setingkat dibawah dosa syirik kepada
Alloh) bilamana diingkari atau dilanggar, karena termasuk inkar terhadap Alloh swt dan Al-Qur'an maupun sunnah.
Alqur'an banyak
membedah dan menjelaskan berbakti terhadap orang tua antara lain :
1) Surah
Al-Israa', ayat 23-24;
artinya :
23. Dan Tuhanmu
telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan
"ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia.
24.Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil".
2)Surah
Al-Ahqaf, ayat 15 :
Artinya :
Kami perintahkan
kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya
mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).
Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia
telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo`a: "Ya Tuhanku,
tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan
kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh
yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada
anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang berserah diri".
Begitu juga
hadits Nabi SAW. antara lain sbb :
1)
"Kerodho'an Allah terletak pada keredho'an ibu-bapak dan kemurkaan Allah
terletak pada kemurkaan ibu-bapak." (Hadits riwayat At-Tirmidzi)
2).
"Seorang lelaki datang berjumpa Nabi SAW, beliau meminta izin untuk
berjihad, lalu Nabi SAW bertanya: "Apakah kedua ibu bapakmu masih
hidup?" Beliau menjawab: "Ya", Baginda SAW bersabda: "Maka
kepada keduanyalah engkau berjihad (berbuat baik kepada keduanya dengan jiwa
dan harta)." (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
3) "Apabila
seorang manusia mati terputuslah amalannya melainkan tiga: sedekah jariah atau ilmu yang bermanfaat
atau anak yang solih yang mendoakan untuknya." (Hadits riwayat Muslim)
4) "Pada
zaman Rasulullah SAW ibuku yang masih musyrik suatu hari datang mengunjungiku.
Lalu aku meminta fatwa kepada Rasulullah SAW, aku berkata: "(Ibuku datang)
dalam keadaan senang hati, apakah aku masih perlu meneruskan hubunganku dengan
ibuku?" Baginda SAW bersabda: "Ya, tetaplah meneruskan hubungan
dengan ibumu." (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Pemahaman saya :
Ini maknanya, dengan orangtua yang berbeda agama sekalipun dengan kita, kita
diwajibkan juga menghormati dan berbakti terhadapnya, kecuali terhadap hal-hal
yang dilarang Alloh SWT, apalagi terhadap orang tua yang muslim, dan
kesalahannya hanya yang bersifat tekhnis saja. (dibesarkan oleh orang lain)
5) "Seorang
berbangsa Arab datang kepada Nabi SAW lalu berkata: "Wahai Rasulullah
apakah yang termasuk dosa besar itu ?" Nabi SAW menjawab:
"Mensyirikkan Allah." Dia (orang Arab itu) berkata lagi:
"Kemudian apa lagi ?", Baginda SAW menjawab: "Kemudian
mendurhakai kedua ibu bapak ." (Hadits riwayat Al-Bukhari)
6) "Tidak
masuk syurga orang suka mengungkit-ungkit pemberiannya, orang yang durhaka
kepada kedua ibu bapaknya dan orang yang gemar minum minuman keras."
(Hadits riwayat Imam Ahmad)
7) "Tiga
golongan yang tidak dipandang oleh Allah 'Azza wa Jalla pada hari kiamat: yaitu
orang yang durhaka kepada kedua ibu bapaknya, perempuan yang meyerupai seperti
laki-laki dan orang yang dayus." (Hadits riwayat An-Nasa'ie)
(ket : dayus
adalah istri yang durhaka kepada suaminya)
8) "Berbuat
baiklah kepada ibu-bapak kamu niscaya anak-anak kamu akan berbuat baik kepada
kamu." (Hadits riwayat Ath-Thabarani dengan sanad yang baik)
Jadi, pada
hakikatnya kewajiban orangtua terhadap anak itu ada batasannya, sedangkan
kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua ibu-bapaknya itu tanpa batas hingga
si anak menutup mata.
Maksudnya adalah
kewajiban orangtua terhadap anak itu adalah seperti sebatas melahirkannya, dan
jika mampu maka wajib merawatnya dan mendidiknya (terutama didikan agama)
hingga usia anak tsb balligh, selebihnya (setelah balligh) seraca syara'
selesailah kewajiban orangtua terhadap anak, apakah itu mengasih makan,
pakaian, pendidikan dsb.
Secara Syar'i
bilamana anak sudah balligh, orangtua sudah tidak ada kewajiban lagi apakah
anak tersebut bekerja atau nganggur, jadi orang baik atau penjahat, semua
adalah tanggung jawab si anak itu sendiri, tidak ada urusan kewajiban terhadap
orangtua lagi.
Sedangkan
kelaziman atau keumuman yang kita lihat sehari-hari, misalnya menyekolahkan
anaknya sampai perguruan tinggi, menikahkan dsb, itu semata-mata sifat
kerahiman (kasih-sayang) orangtua terhadap anaknya bukan merupakan kewajiban
syara'.
Sebagaian ulama
mengatakan bahwa batasan itu berlaku baik terhadap anak laki-laki maupun perempuan,
sebagian ulama lagi mengatakan batasan itu berlaku terhadap anak laki-laki
saja, sedangkan anak wanita batasnya sampai anak wanita itu dinikahkan kepada
laki-laki lain, karena itulah di sebut ijab-kobul (serah-terima) atau Nikah. Setelah menikahkan anak wanitanya,
selesailah sudah kewajiban orangtua terhadap anak perempuan tersebut,
selebihnya adalah berkewajiban dan tanggung jawab suaminya.
Akan tetapi
kewajiban anak untuk berbakti kepada orangtua dimulai sejak dia balligh sampai
ajal menjemput/liang kubur. Walaupun orangtua sudah tiada, si anak wajib tetap
berbakti kepada ibu-bapaknya, minimal dia mendoakan orangtuanya : Robbighfirli
waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro.
"Ya
Tuhanku! ampunilah aku dan kedua ibu bapaku serta kasihanilah mereka berdua
sebagaimana mereka telah mengasihani aku semasa aku masih kecil."
Manfaat daripada
do'a ini dalam sebuah hadits diriwatkan bahwa :
"Sesungguhnya seseorang itu diangkat
darjatnya di dalam syurga, lalu dia berkata: "Dari manakah semua
ini?" Maka dikatakan kepadanya: "Dari anakmu yang memintakan ampun
untukmu." (Hadits riwayat Ibnu Majah)
Kemudian
berbakti kepada kedua orangtua setelah kedua atau salah satunya meninggal dunia
adalah dengan melanjutkan silaturrahmi kepada sahabat-sahabatnya, dalilnya :
1) "Aku
mendengar Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya termasuk perbuatan paling baik
ialah seseorang yang meneruskan silaturrahim (hubungan baik) dengan sahabat
baik ayahnya sesudah ayahnya meninggal dunia." (Hadits riwayat Muslim)
2) "Ketika
kami di sisi Rasulullah SAW datang seorang laki-laki dari kaum Bani Salamah,
lalu dia bertanya: "Wahai Rasulullah! Masih adakah sesuatu kebaikan yang
boleh saya kerjakan untuk kedua ibu bapak saya sesudah keduanya meninggal
dunia? Nabi SAW menjawab: "Ya, (yaitu): mengerjakan sembahyang ke atas
keduanya, memohon keampunan bagi keduanya, melaksanakan janji keduanya sesudah
(meninggal) keduanya, menghubungkan tali silaturrahim yang terhubung kecuali
karena jasa keduanya dan memuliakan teman-teman keduanya." (Hadits riwayat
Abu Daud)
3) "Nabi
SAW menziarahi kubur ibu Baginda, lalu Baginda menangis dan membuat orang-orang
disekitar Baginda menangis. Kemudian Baginda bersabda: "Aku minta izin
kepada Tuhanku Yang Maha Mulia dan Maha Agung untuk menziarahi kuburnya (ibu
Baginda), lalu Allah mengizinkanku. Aku minta izin kepadaNya untuk minta ampun
baginya, akan tetapi tidak diizinkanNya. Oleh itu, ziarahilah kubur, kerana
sesungguhnya ia mengingatkan kepada mati." (Hadits riwayat Muslim)
Mas Naufal,
setelah saya uraikan diatas dengan panjang lebar, maka solusinya adalah,
teruskan berbakti terhadap kedua orangtua walau dalam keadaan apapun juga.
jangan memutuskan tali silaturrahmi, Alloh dan Rasulnya sangat membenci orang
yang memutuskan tali silaturrahmi, apalagi dengan orangtuanya sendiri.
Tekanlah
perasaan membeci orangtua kita sendiri, karena hal itu adalah bujukan setan
supaya kita durhaka, dan seperti hadits di atas bila kita memperlakukan
orangtua dengan tidak baik, maka suatu saat nanti anak kitapun akan
memperlakukan kita dalam kondisi yang sama. (istilahnya hukum karma berlaku).
Demikian,
mudah-mudahan jawaban saya bermanfaat buat rekan anda.
Bila ada yang
salah terhadap pemahaman saya yang bodoh ini mohon dapat dikoreksi,- dan bila
ada yang ingin menambahkannya dipersilahkan,-
Salam saya buat
teman anda itu.
wassalam,
Arland - jakarta.