Cerita islami : Seorang Wanita dalam Sebuah Misi
Sidra Khan melaporkan tentang ajakan Aisha Bhutta pada dunia untuk
memeluk Islam
The Guardian (London) Kamis 8 Mai 1997.
Aisha Bhutta, dengan nama gadisnya Debbie Rogers, tampak tenang.
Dia duduk di atas sofa dalam ruangan depan yang luas di rumah tempat tinggalnya
di Cowdaddens, Glasgow. Dindingnya dihiasi dengan kutipan dari Alquran, sebuah
jam khusus untuk mengingatkan keluarganya akan jam salat dan sebuah poster kota
suci Mekah. Mata biru Aisha yang tajam bersinar dengan penuh semangat laksana
semangat pengabar injil, dia tersenyum dengan pancaran cahaya yang hanya
dimiliki oleh orang mukmin sejati. Wajahnya sangat jelas merupakan wajah gadis
Skotland--tidak ada basa-basi, berselera humor baik--tetapi tertutup oleh hijab
dengan baik.
Bagi seorang gadis Kristen yang baik yang pindah memeluk Islam dan
menikah dengan laki-laki muslim, hal ini cukup luar biasa. Tetapi lebih dari
itu, dia juga telah mengislamkan orang tuanya, kebanyakan keluarganya dan paling
tidak tiga puluh orang teman dan tetangganya.
Keluarganya adalah pemeluk Kristen keras dengan mereka, Rogers
biasanya menghadiri pertemuan Pasukan keselamatan. Ketika seluruh remaja di
Britania mencium poster George Michael mereka dan mengucapkan selamat malam,
Rogers punya foto Yesus tergantung di dinding kamarnya. Kemudian dia dapati
bahwa Kristen tidak cukup; terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawab dan dia
merasa tidak puas dengan kekurangan struktur yang teratur dalam keyakinannya.
"Ada lebih banyak hal yang harus kupatuhi daripada berdoa ketika aku
merasa menyukainya."
Aisha pertama kali melihat calon suaminya, Muhammad Bhutta, ketika
dia berumur 10 tahun dan menjadi pelanggan tetap di sebuah toko, yang dikelola
keluarganya. Dia melihatnya sedang salat di belakang. "Ada keridhaan dan
kedamaian dalam apa yang dilakukannya. Dia bilang dia adalah seorang Muslim.
Saya berkata, "Apa itu Muslim?"
Selanjutnya dengan bantuannya, dia mulai melihat Islam lebih
dalam. Pada usia 17 tahun, dia sudah membaca seluruh isi Alquran dalam bahasa
Arab. "Segala sesuatunya saya baca," ucapnya, "Menimbulkan suatu
perasaan."
Dia membuat keputusan untuk memeluk Islam pada umut 16 tahun.
"Ketika saya mengucapkan kalimat syahadat, saat itu terasa bagaikan
melepas beban berat yang selama ini saya pikul di pundak. Saya merasa seperti
bayi yang baru dilahirkan."
Meskipun sudah memeluk Islam, orang tua Muhammad menentang
pernikahan mereka. Mereka memandang dirinya sebagai seorang gadis barat yang
akan menggiring anak tertua mereka pada kesesatan, dan membuat jelek nama
keluarga. Dia sebagaimana diyakini oleh bapaknya Muhammad adalah "musuh
terbesar." Walaupun demikian, pasangan ini menikah di masjid setempat.
Aisha memakai pakaian yang dijahit tangan oleh ibunya Muhammad dan
saudari-saudarinya yang menyelinap menghadiri upacara menentang keinginan dari
bapaknya yang menolak untuk hadir.
Adalah nenek tertuanya yang membuka jalan dan ikatan antara para
wanita. Dia datang dari Pakistan di mana pernikahn campur ras merupakan hal
yang tabu, dan dia mendesak untuk bertemu dengan Aisha. Dia sangat terkesan
dengan fakta bahwa dia telah belajar Alquran dan bahasa Punjab kemudian dia
meyakinkan yang lainnya. Perlahan, Aisha, sekarang 32 tahun, menjadi bagian
dari keluarga itu. Orang tua Aisha, Michael dan Marjory Rogers, bagaimanapun
menghadiri pernikahan, mereka lebih khawatir dengan pakaian yang sekarang
dipakai anak gadisnya dan apa yang akan dipikirkan para tetangga.
Enam tahun kemudian, Aisha memulai misi untuk mengislamkan mereka
dan keluarganya yang lain, kecuali saudari perempuannya (saya masih berusaha).
"Suami saya dan saya berusaha mengislamkan ibu dan ayah, memberitahu
mereka tentang Islam dan mereka melihat perubahan pada diriku, seperti, saya
telah berhenti membantah." Ternyata ayah Aisha lebih sulit direkrut, maka
dia mendapat bantuan dari ibunya yang baru Islam (yang telah meninggal karena
kanker). "Ibu dan saya terus berbicara pada ayah tentang Islam dan ketika
kami sedang duduk di sofa dapur, suatu hari ayah bilang, "Apa kata-kata
yang kalian ucapkan ketika menjadi seorang Muslim?" "Saya dan Ibu
langsung melompat ke atasnya."
Tiga tahun kemudian, saudara Aisha memeluk Islam melalui
telepon--terima kasih pada British Telecom. Kemudian istri dan anak-anaknya
ikut, dan diikuti oleh anak laki-laki dari saudarinya. Ini tidak berhenti di
situ. Keluarganya memeluk Islam. Aisha mengalihkan perhatiannya pada
orang-orang Cowcadden.
Setiap Senin selama 13 tahun yang lalu, Aisha mengajar tentang
Islam untuk wanita-wanita Skotlandia. Sejauh ini dia telah membantu
mengislamkan lebih dari 30 orang. Para wanita itu berasal dari latar belakang
aturan yang membingungkan. Trudy, seorang dosen di Universitas Glasgow dan
mantan seorang Katholik, menghadiri pelajaran Aisha murni karena ia ditugasi
untuk menulis beberapa penelitian. Tetapi setelah enam bulan mengikuti, dia
masuk Islam, dan memutuskan bahwa Kristen terlalu berbelit-belit dengan
ketidakkonsistenan logika. Tidak seperti Aisha, Trudy memilih untuk tidak
memakai hijab, karena yakin bahwa itu interpetasi kaum lelaki terhadap Alquran.
Keluarganya tidak tahu bahwa dia telah masuk Islam.
"Bisa saya katakan bahwa dia mulai terpengaruh dengan
pembicaraan," kata Aisha. Bagaimana dia bisa katakan? "Saya tidak
tahu, itu hanya perasaan." Kelasnya terdiri dari gadis-gadis muslim yang
terpengaruh idealisme barat dan perlu diselamatkan, wanita muslim yang
berpengalaman yang ingin sebuah forum terbuka untuk diskusi mengasingkan mereka
di masjid setempat yang didominasi pria, dan ini benar-benar menarik dalam
Islam. Aisha menyambut baik semua pertanyaan. "Kita tidak bisa
mengharapkan orang-orang untuk percaya secara buta."
Suaminya,
Muhammad Bhutta, sekarang 41 tahun, kelihatan tidak terlalu tergerak untuk
mengislamkan orang laki-laki Skotlandia. Dia biasanya membantu restoran
keluarga, tetapi tujuan utamanya dalam hidup ini adalah untuk menjamin lima
anak pasangan ini tumbuh sebagai muslim. Yang tertua, Safia, hampir 14 tahun
tidak menolak rasa malu untuk mengislamkan orang. Suatu hari dia bertemu
seorang wanita di jalan dan membawakan belanjaannya, wanita itu menghadiri
pelajaran Aisha dan sekarang dia seorang muslim.
"Saya bisa
katakana dengan jujur bahwa saya tidak pernah menyesalinya," ucap Aisha
tentang masuk Islamnya dia. "Setiap pernikahan mengalami pasang surut dan
kadang-kadang anda butuh sesuatu untuk mendorong anda keluar dari kesulitan.
Tetapi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Setiap kesulitan itu
memiliki kemudahan." Maka ketika anda menghadapi situasi sulit, anda
berusaha agar kemudahan itu datang." Muhammad lebih romantis, "Saya
merasa kami sudah saling mengenal satu sama lain selama berabad-abad dan tidak
terpisahkan satu sama lain. Menurut Islam, anda tidak hanya teman hidup, anda
bisa menjadi teman di surga dengan baik selamanya. Itu merupakan hal yang
indah, anda tahu itu."
Sumber:
Diterjemahkan dari a Woman on a Mission
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia