Under Construction

KETIKA penyair mati, puisi rasanya tidak berhenti. Dia yang suka menggubah madah telah sampai di akhir perjalanannya, jauh di sana, tapi kumpulan puisi-puisinya ibarat jejak yang terawetkan di sepanjang jalan. Orang-orang lain yang kebetulan lewat di jalan yang sama, dan menemukan jejak-jejak itu, barangkali tergerak untuk memperhatikannya, menilik segi-seginya, atau menerka-nerka ke mana arahnya. Sekalipun orang-orang yang lalu lalang itu berupaya menghapuskannya atau mencoba melupakannya, tapi bagaimanapun jejak-jejak itu ada atau pernah ada, dan siapapun yang menemukannya pastilah terpengaruh olehnya dengan berbagai cara. Begitulah puisi-puisi itu, jejak-jejak penyair itu, tetap hidup dengan caranya sendiri, seakan mencoba untuk jadi abadi. HWS

Hidupmu, wahai, Saudaraku, merupakan tempat tinggal sunyi yang terpisah dari wilayah perumahan orang lain, bagaikan ruang tengah rumah yang tertutup dari pandang mata tetangga. Seandainya rumahmu tersaput oleh kegelapan, sinar lampu tetanggamu tak dapat masuk meneranginya. Jika kosong dari persediaan pangan, isi gudang tetanggamu tak dapat mengisinya. Jika rumahmu berdiri di sehamparan gurun, engkau tak dapat memindahkannya ke halaman orang lain, yang telah diolah dan ditanami oleh tangan orang lain. Jika rumahmu berdiri di atas puncak gunung, engkau tak dapat memindahkannya ke lembah, karena lerengnya tak dapat ditempuh oleh kaki manusia.

Kehidupanmu, Saudaraku, diliputi oleh kesunyian, dan jika bukan karena kesepian dan kesunyian itu, engkau bukanlah engkau, dan aku bukanlah aku. Jika bukan karena kesepian dan kesunyian itu, aku akan percaya manakala mendengar suaramu sebagai suaraku, atau manakala aku memandang wajahmu, itulah wajahku sendiri yang tengah memandang cermin.

 

Under Construction

Hidupmu, wahai, Saudaraku, merupakan tempat tinggal sunyi yang terpisah dari wilayah perumahan orang lain, bagaikan ruang tengah rumah yang tertutup dari pandang mata tetangga. Seandainya rumahmu tersaput oleh kegelapan, sinar lampu tetanggamu tak dapat masuk meneranginya. Jika kosong dari persediaan pangan, isi gudang tetanggamu tak dapat mengisinya. Jika rumahmu berdiri di sehamparan gurun, engkau tak dapat memindahkannya ke halaman orang lain, yang telah diolah dan ditanami oleh tangan orang lain. Jika rumahmu berdiri di atas puncak gunung, engkau tak dapat memindahkannya ke lembah, karena lerengnya tak dapat ditempuh oleh kaki manusia.

Kehidupanmu, Saudaraku, diliputi oleh kesunyian, dan jika bukan karena kesepian dan kesunyian itu, engkau bukanlah engkau, dan aku bukanlah aku. Jika bukan karena kesepian dan kesunyian itu, aku akan percaya manakala mendengar suaramu sebagai suaraku, atau manakala aku memandang wajahmu, itulah wajahku sendiri yang tengah memandang cermin.

Under Construction

Hidupmu, wahai, Saudaraku, merupakan tempat tinggal sunyi yang terpisah dari wilayah perumahan orang lain, bagaikan ruang tengah rumah yang tertutup dari pandang mata tetangga. Seandainya rumahmu tersaput oleh kegelapan, sinar lampu tetanggamu tak dapat masuk meneranginya. Jika kosong dari persediaan pangan, isi gudang tetanggamu tak dapat mengisinya. Jika rumahmu berdiri di sehamparan gurun, engkau tak dapat memindahkannya ke halaman orang lain, yang telah diolah dan ditanami oleh tangan orang lain. Jika rumahmu berdiri di atas puncak gunung, engkau tak dapat memindahkannya ke lembah, karena lerengnya tak dapat ditempuh oleh kaki manusia.

Kehidupanmu, Saudaraku, diliputi oleh kesunyian, dan jika bukan karena kesepian dan kesunyian itu, engkau bukanlah engkau, dan aku bukanlah aku. Jika bukan karena kesepian dan kesunyian itu, aku akan percaya manakala mendengar suaramu sebagai suaraku, atau manakala aku memandang wajahmu, itulah wajahku sendiri yang tengah memandang cermin.

Design downloaded from free website templates.