Tentang Kita

Indonesia Bukan Butuh Pemimpin Baru,Tapi Kesadaran Baru 

Caturahadi

Krisis yang terjadi di Indonesia tidak mungkin bisa diselesaikan hanya dengan cara memilih pemimpin baru? Karena siapa pun yang memegang kendali kebijakan di republik ini akan menemui kendala sama dalam versi berbeda. Meski calon-calon pemimpin baru  yang muncul ke permukaan seperti  Megawati, Amien Rais atau Akbar Tandjung sekali pun.  

Ada cerita sederhana dari seorang sopir Taksi saat mengantar penulis dari perjalanan stasiun Gambir ke Jl. Fatmawati Jakarta Selatan.Saat melewati Istana Negara, si sopir tiba-tiba mengatakan “Kasihan Gus Dur?”

“Lha memangnya kenapa mas?” 

Bagaimana tidak kasihan, kata si sopir, setiap hari ada demo menghujat Gus Dur, mencemooh lewat koran dan televisi, atau apa pun lah. Pokoknya Gus Dur tidak cocok lagi jadi presiden. Apalagi pemimpin partai politik atau pakar politik menasehati Gus Dur untuk mundur dan Indonesia perlu mencari presiden baru.Lho memang negara ini apa?

 Bajaj, bus kota, metro mini yang bisa setiap saat   sopirnya diganti?“Kalau menurut bapak,  gimana menghadapi situasi  sekarang ini?”“Indonesia butuh kesadaran baru, bukan pemimpin baru?”“Maksudnya, pak”“Ya.. kesadaran baru yang tidak saling menghujat atau mencaci maki.

 Kesadaran baru untuk saling menolong. Gus Dur ada kekurangannya, nah yang pinter di bidang itu perlu membantu dengan iklas. Kalau ada ketidak-cocokan saling dibicarakan sampai ada kecocokan. Selain itu kesadaran baru melihat kepentingan rakyat, bukan partai atau kelompok.

Nah mungkin masih banyak kesadaran baru-kesadaran baru lain, pokoknya tidak dijadikan ajang memperebutkan posisi politis.“Bapak, kok fasih sekali bicara politik?”“Mungkin beginilah cara kami orang kecil melihat apa yang terjadi di negara ini. Kami tidak tidak butuh pemimpin baru. Siapa pun silahkan. Yang penting negeri ini aman dan kami bisa mencari penghasilan dengan tenang,”

 Setelah turun dari Taksi di Jl. Fatmawati, satu kalimat yang selalu saya ingat dari sopir taksi itu adalah kesadaran baru. Benarkah itu bisa menjadi sarana awal menyelesaikan konflik psikologis atau apa pun namanya yang membuat perseteruan antar elit politik, DPR, MPR dan presiden  segera berakhir? Tapi pertanyaan yang muncul kemudian, bisakah tokoh-tokoh itu siap membangun kesadaran baru untuk mengamankan republik ini?

Spanduk yang  terpasang di Jl. Darmo bertuliskan  “Siapa berani menurunkan presiden Abdurrahman Wahid, masyarakat Madura akan marah”. Ataukah pemandangan  di halaman Gedung MPR/DPR, Selasa (21/11) dengan gelaran spanduk yang intinya, Gus Dur sebaiknya mengundurkan diri karena gagal memantapkan perekonomian dalam negeri dan justru memicu persekutuan antar ras di Aceh dan Ambon, mungkin bisa menjadi jawaban sementara bahwa kesadaran baru sulit diharapkan.  

Dari spanduk di Jl. Darmo Surabaya tersimpan pertanyaan: benarkah itu aspirasi masyarakat Madura? Kalau pun benar, masyarakat Madura yang mana:  kaum awam seperti petani, nelayan, atau  warga kelas bawah yang lain? Adakah  ini sebuah upaya mobilisasi psikologis agar masyarakat Madura yang dianggap mayoritas pendukung Partai Kebangkitan Bangsa untuk mem-back-up Gus Dur?.

Begitu pula demo di gedung DPR/MPR itu.  Dua keinginan yang muncul  dengan mengatas-namakan masyarakat ini memang tidak harus dibenturkan. Karena sudah dapat dibayangkan dampak bila itu terjadi.

Kembali ke Awal

 
  Lembaga Keuangan Islam Jawab Ekonomi Kapitalis 

Lembaga keuangan Islam merupakan paradigma baru di bidang ekonomi yang dapat menjawab dan mengatasi krisis ekonomi dewasa ini, sebagai akibat kegagalan dari sistem ekonomi kapitalis dan sosialis. Prinsip itu, sangat bertentangan dengan sistem ekonomi Islam.

Hal tersebut dikemukakan KH Khalid Fathullah ketua MUI pusat dalam seminar nasional sehari zakat perusahaan dan komitmen sosial dunia usaha yang diselenggarakan BAZIS Jabar, di Preanger Bandung, Rabu.

"Menurut Islam, semua sektor ekonomi yakni produksi, pemasaran dan konsumsi diatur dalam Al Quran dan Al Hadis. Islam mengakui pemilikan terhadap objek ekonomi oleh setiap individu, di samping mengakui hak umum atas objek ekonomi," ujarnya.

Dikatakan, sistem ekonomi Islam hasil dari aktivitas ekonomi akan membawa implikasi yakni umat Islam harus memprioritaskan barang-barang ekonomi yang baik agar dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupannya.

Ditegaskan, barang-barang yang hanya sekadar untuk pamer dan membangkitkan konsumerisme tanpa kendali, sangat dilarang oleh Islam. Sebab, akan menimbulkan ketimpangan sosial ekonomi. Begitu juga yang berhubungan dengan barang produksi yang ditimbun dan baru dikeluarkan pada saat konsumen sangat membutuhkan.

Menurut KH Khalid Fathullah, Al Quran menjamin stabilitas ekonomi dan senantiasa memperhatikan sikap perilaku para pelaku ekonomi dalam menjalankan aktivitasnya. Dalam hal ini Al Quran secara tegas menyatakan agar umat Islam tidak melakukan manipulasi harta dalam aktivitas jual beli dan aktivitas ekonomi lainnya. Juga dianjurkan tetap menggunakan dengan bijaksana dan secara terbatas, serta tetap mengawasi penggunaan harta ke jalan yang dihalalkan.

Dikemukakan, prinsip Al Quran dan Al Hadis tentang ekonomi cukup jelas untuk dilaksanakan oleh umat Islam dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi, umat Islam belum menghayati sepenuhnya tentang prinsip-prinsip ekonomi Islam tersebut. Sehingga, umat Islam mengalami krisis ekonomi yang berkepentingan dalam bentuk kemiskinan.

"Problema kemiskinan inilah yang merisaukan ulama dan cendekia untuk mencari jalan dalam upaya mengurangi kemiskinan di tengah-tengah umat," katanya.

Ditegaskan, Islam tidak membatasi aktivitas ekonomi hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, bahkan menganjurkan untuk memperoleh hasil yang lebih banyak supaya dapat memberi zakat untuk kaum muslimin yang membutuhkan. Di samping itu, jelasnya lagi, harta yang diperoleh dianjurkan untuk digunakan dalam rangka memenuhi kewajiban kepada Allah SWT.

Diingatkan dia, prinsip Islam tentang ekonomi tidak akan terlaksana bila aktivitas ekonomi umat hanya menghasilkan sekadar untuk kebutuhan pribadi. Hal itu, katanya, akan melemahkan ekonomi umat dan menimbulkan kemiskinan. Untuk mengatasi kemiskinan, Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. (Ery Budiono)

Kembali ke Awal

 
Hosted by www.Geocities.ws

1