|
|
|||
| Latihan
Mengelola Hawa Nafsu MANUSIA
bukanlah sejenis tetumbuhan. Tetapi, manusia adalah sejenis hewan. Hewan
yang pandai berpikir, al hayawanun nathiq. Tetumbuhan
hidup dan berkembang biak tanpa hawa nafsu, tanpa keinginan hati. Dia
makan tanpa mengganggu porsi pihak lain. Kawin tanpa cinta, besar tanpa
kesombongan. Dia memberi tanpa meminta imbalan. Jika
suatu waktu ada orang datang menggusurnya, dia pun tidak memprotes atau
datang mengadu ke "Komnas HAT" (Komisi Nasional Hak Asasi
Tetumbuhan). Jikau
ada orang berbaik kepadanya dengan memberinya makanan tambahan,
menyiraminya waktu tanah kering, memberantas penyakitnya, merawat, dan
menjaganya, pasti bukan karena kepentingannya. Tetapi karena kepentingan
manusia yang ingin mendapat pemberiannya lebih banyak dan lebih baik
dari tetumbuhan itu. Manusia,
al hayawanun natiq itu hidup dan berkembang biak penuh dengan hawa nafsu
atau keinginan hati manusia. Di antaranya keinginan mengumpulkan harta
benda untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum dan keperluan-keperluan
lain dan keinginan syahwat seksual untuk perkembangbiakan melahirkan
keturunan. Juga keinginan kelebihan dari orang lain untuk meningkatkan
harkat kemuliannya, keinginan mnguasai pihak lain untuk menciptakan
ketertiban pergaulan hidup, keingintahuan yang mendorongnya menuntut
ilmu pengetahuan dan keinginan-keinginan lain. Keinginan-keinginan
hati itulah yang menyebabkan manusia tidak punah dan berkembang dari
keadaannya yang sangat sederhana menjadi yang kita saksikan di zaman
kita ini. Perkembangan itu akan terus berlanjut sampai pada batas yang
hanya diketahui oleh Allah SWT semata. Manusia
yang diciptakan oleh Al Khaliq, Maha Penciptanya sebagai khalifah di
bumi, tidak terbayangkan dapat melaksanakan tugas kekhalifahannya itu
tanpa hawa nafsu, tanpa keinginan hati. Tetapi, apabila hawa nafsu
manusia itu dibiarkan bekerja tanpa batas dan tanpa arah yang benar, dia
akan menimbulkan bencana dan mala petaka. Menimbulkan kerusakkan di bumi,
menimbulkan fasaadin fil ardli. Itulah
mengapa Allah mensyariatkan puasa kepada manusia, sebagai pelatihan
mengelola hawa nafsu itu, supaya hawa nafsu itu terkendali dan terarah
ke arah yang baik dan benar. Seperti
yang dikatakan Allah, seisi alam ini disediakan oleh Allah buat
kepentingan manusia. Huwal ladzi khalaqa lakum ma fil ardli jami'a.
"Dialah yang menciptakan apa yang ada di bumi seluruhnya untuk kamu,"
demikian firman Allah dalam Al Quran. Tetapi,
karena hawa nafsu manusia cenderung tidak kenal batas dan berketerusan,
maka Allah berfirman. "Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi,
sesudah dia tertata rapi, wa laa tufsidu fil ardli ba'da ishlaahiha.
Tapi jadilah manusia-manusia yang aamanuu wa'amilus shalaahiha, yang
beriman dan beramal saleh. Ketentuannya
bagaimana? Boleh makan tapi makanlah yang halal dan baik. Kullu ma fil
ardli halalan thoyyiba. Boleh makan dan minum tapi jangan berlebihan, wa
kullu wasyrabuu wa laa tusrifuu. Untuk melatih manusia supaya tahun dan
menaati batas, dalam berpuasa orang boleh makan dan minum di malam hari
sampai terbit fajar, sesudah itu dilarang sampai matahari terbenam. Wa
kuluu wasyrabuu hatta yatabayyanu lakumul khoitul abyadhu minal khaitil
aswadli minal fajri, tsumma attimu shiyama ilal laili. Begitu
juga menyetubuhi istri, bahkan di malam hari pun dilarang menyetubuhi
istri apabila sedang beri'tikaf di masjid. Wa laa tubasyiruhunna wa
antum'aakifuuna fil masaajid. Dalam
bulan Ramadan, apabila tanpa alasan yang mendatangkan rukhshah, orang
dilarang makan, minum yang halal, dan menyetubuhi istri di siang hari,
yang semua itu diperbolehkan di luar hari puasa. Selasa,
28 November 2000 Surabaya
Post
|
. Jangan-Jangan
Ada
hal-hal yang di luar hari berpuasa sudah dilarang Allah, seperti makan
dan minum yang haram, perbuatan-perbuatan maksiat yang lain, dalam bulan
Ramadan larangan itu semakin ditekankan. Karena
itu, jangan orang berpuasa yang meninggalkan hal-hal yang tidak
terlarang di luar hari puasa, tapi mengerjakan hal-hal yang terlarang di
dalam maupun di luar hari puasa. Janganlah orang yang berpuasa mengumbar
dendam, merusak kebahagiaan orang lain, dan jangan ngerumpi membicarakan
kekurangan orang lain, jangan memfitnah, jangan membicarakan keburukan
orang yang tidak diperbuatnya, jangan berkata bohong, jangan menipu
orang, jangan berselingkuh, jangan mengerjakan korupsi dan kolusi yang
melanggar aturan, jangan menggunakan hak dengan sewenang-wenang, jangan
main kuasa seenaknya, jangan makan dan minum barang haram walaupun di
malam hari, jangan makan minum sesuatu yang diperoleh secara haram, dan
jangan-jangan yang lain. Kalau semua itu tidak terhindari, jangan-jangan seperti yang disabdakan Nabi junjungan kita, rubba sha'imin hadhuhul ju'u wal'athasy. Wa rubba qaimin hadhuhus syahar. Banyak orang berpuasa hanya memperoleh lapar dan dahaga. Dan banyak orang yang salat tarawih hanya memperoleh jaga di malam hari. (KH Nadjih Ahjat) |
||
| Ruangan ini merupakan tempat merenung sejenak dan introspeksi | |||