|
|
||
|
Mengapa
Konflik
Singapura dan Indonesia Harus Terjadi? Mengapa
perseteruan dengan Singapura harus terjadi? Belum jelas mengapa Presiden
Abdurrahman Wahid tersinggung oleh sikap PM Goh Chok Tong yang tak
peduli atas krisis yang sedang terjadi di Indonesia? Begitu pula kepada
Lee Kuan Yeu yang menolak merekomendasi masuknya Timor Timur dan Papua
Nugini?
Kritikan
Gus Dur terhadap PM Goh Chok Tong seusai mengikuti KTT Informal ke 4
Asean di Singapura membuat hubungan bilateral kedua negara sedikit
memanas. "Pada
umumnya rakyat Singapura suka merendah-rendahkan orang Melayu... kami
seolah-olah tidak wujud," kata Gus Dur, seperti dilaporkan
koran-koran Malaysia, Senin (27/11), mengutip berita dari Jakarta. "Sebelumnya,
hanya Perdana Menteri Malaysia Mahathir berani menentang Singapura,
tetapi sekarang... Mahathir mempunyai kawan baru," lanjut Gus Dur,
sambil menambahkan bahwa ia telah bertanya pada Mahathir ketika bertemu
pada acara sarapan KTT tersebut dan bertanya mengapa Malaysia tidak
mengontrol pasok airnya ke Singapura. Gus
Dur juga mengecam Lee karena menolak usulannya untuk memasukkan Timtim
dan Papua Nugini dalam ASEAN. "Hasil pertemuan saya dengan Lee Kuan
Yew cukup jelas bahwa Singapura hanya mau mengeruk keuntungan dari
hubungannya dengan negara-negara tetangga. Sebagian nasihatnya memang
berguna dan sebagian lagi tidak," katanya. Gus
Dur, dalam perjalanan pulang usai KTT, mengatakan PM Singapura Goh Chok
Tong tak peduli terhadap Indonesia yang tengah terpuruk dalam krisis
ekonomi ketika mempromosikan investasi untuk negara-negara Asia Tenggara. Wahid
juga menuduh Singapura yang mayoritas berpenduduk etnis Cina terlalu
memfokuskan diri ke Republik Rakyat Cina dan mengabaikan "bagian
selatan ASEAN." Pernyataan Gus Dur mengenai hal ini berkaitan
dengan rencana pengembangan jalur kereta api Trans Asia dari Singapura
ke Cunming di Cina yang diprakarsai Malaysia dan proyek pengembangan
Delta Sungai Mekong. Tak
Ingin Menanggapi Goh
tampaknya tidak ingin menanggapi pernyataan Gus Dur. Namun pernyataan
yang dikeluarkan kantor PM Singapura Goh Chok Tong mengatakan para
pemimpin ASEAN telah sepakat atas usulannya bahwa negara-negara ASEAN
yang "kurang terkena dampak krisis finansial dan ekonomi"
harus memelopori "pemulihan kredibilitas dan daya tarik ASEAN di
mata investor." Dalam
pernyataan yang disiarkan hari Selasa, kantor Goh mengatakan bahwa
"tidak ada yang membuat proposal...untuk menerima anggota baru"
pada KTT itu. Meski Gus Dur menyebut gagasan itu, "dia tidak
mengajukannya sebagai sebuah proposal," demikian pernyataan itu. Tanggapan
Singapura menyebutkan para pemimpin pada waktu itu "setuju ASEAN
harus mengkonsolidasikan diri sendiri, khususnya, dalam mengintegrasikan
para anggota baru yakni Vietnam, Kamboja, Myanmar dan Laos dengan
seluruh ASEAN." (Ant,
Astaga, Surabaya Post,dio) Trend-News
Minggu III Nopember 2000 (Selasa,
28/11)
Kembali
ke Awal |
|
Korsel
Akan Tanda Tangani Perjanjian Kebudayaan Pemerintah
Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) akan menandatangani kesepakatan
dalam bidang kerja sama kebudayaan dan perjanjian ekstradisi di Istana
Merdeka Jakarta, Selasa (28/11) ini. Penandatanganan itu akan dilakukan
Menteri Luar Negeri (Menlu) Alwi Shihab dan Menlu dan Perdagangan Korsel
Lee Joung-binn, disaksikan Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden
Korsel Kim Dae-jung. Presiden
Kim dan rombongan berada di Indonesia untuk kunjungan kenegaraan dari
tanggal 27 sampai 29 November 2000. Menurut buku panduan yang
dikeluarkan Sekretariat Presiden, Senin, sebelum penandatanganan
perjanjian antara kedua negara dilakukan pertemuan antara Presiden RI
dan Presiden Korsel di ruangan Jepara. (miliKita)
|
|
|
||
|
|
||
| |
||
|
Ruangan ini akan menyajikan berita-berita paling hangat dalam seminggu. Bisa analisa soal politik, ekonomi, kriminal, budaya, atau konflik sosial. Bila pengujung situs ini ada yang berminat menuangkan ide dan kreasinya, silahkan. Kami akan senang sekali menerimanya |
||