|
|
|
| Industri
Mebel Kayu Jati di JatimPenulis:
Diburu Asing, Kekurangan Tenaga Penting KEKHASAN corak industri mebel kayu jati di kawasan Banyuwangi, Probolinggo, hingga Pasuruan mengundang minta pembeli asing. Terutama yang kini banyak diburu adalah mengkombinasikan antara mebel kuno dengan menambah bahan baru (reproduksi). Telah lama hasil produksi mebel kayu jati di kawasan Pantura ini selalu menjadi incaran pedagang di Bali. Yang kemudian oleh pedagang tersebut diekspor lagi ke mancanegara dengan harga yang tentu jauh lebih mahal. Bahkan, kini pedagang Bali pun harus bersaing keras dengan para pedagang asing yang mulai aktif mendatangi para industri mebel. Sudah menjadi hal yang lumrah munculnya para "tengkulak asing" yang berkeliling ke kampung-kampung mencari-cari usaha mebel antik untuk dijual lagi ke luar negeri. Bermodal gambar dan sedikit memberi pembinaan sang "tengkulak asing" ini memesan berbagai jenis mebel yang lagi tren di negaranya. Karena itu, ketika krisis ekonomi menimpa negeri ini banyak industri kelimpungan, justru industri mebel kayu jati yang umumnya pengusaha menengah kecil masih tetap mampu eksis. Bahkan, rata-rata kinerja industrinya saat itu menujukkan kenaikan. Terutama yang produksinya lebih banyak dilempar ke pasaran ekspor. Hanya ketika terjadi berbagai kerusuhan massa dan memanasnya politik beberapa waktu lalu membuat kinerja industri mebel kayu jati sedikit menurun. Ini semata lantaran banyak para pembeli asing langganannya takut datang ke Indonesia. Minim Tenaga Ukir Imam Chumaidi, pemilik CV Jati Agung di Banyuwangi salah satu yang kerap kedatangan para "tengkulak asing" ini. Sejak lama ia mengaku, sudah menjalin bisnis dengan pembeli dari Napoli Itali (Totem). Semula usaha yang dirintis sejak 1971 banyak yang dilempar ke Bali. Tercatat empat toko yang dipasok hasil kerajinan mebelnya. "Seminggu bisa 1 truk yang nilainya hanya Rp 30 juta, mulai dari kursi, lemari, dan barang perabot lainnya," kata Chumaidi. Baru empat tahun lalu, ia mulai merintis memenuhi pesanan pembeli asing dari Itali senilai Rp 150 juta. "Dia tahu produk saya juga dari Bali. Karena tertarik dia mencari langsung ke sini," ceritanya. Kendati produknya diminati pembeli asing, ia masih tetap melayani pesanan lokal. Saat ini omsetnya mencapai Rp 200 juta per tahun. "Terakhir akan ekspor lagi ke Itali mencapai Rp 75 juta," kata Chumaidi yang mengaku kali pertama mendapat kucuran kredit Bank BNI sebesar Rp 30 juta pada 1997 dan terakhir mendapatkan lagi Rp 100 juta sebagai modal usaha. Besarnya minat pembeli asing terhadap kerajinan mebel Jatim ini juga dibenarkan, Chalid Nagib, perajin mebel yang lebih kosentrasi pada reproduksi furniture, yakni mengkombinasikan barang asli dengan yang bahan baru. |
Pengakuan
serupa juga diutarakan, Suhartono, pengusaha mebel antik di kawasan
Probolinggo. Usaha yang dirintis bersama istrinya sejak 1990 terus
berkembang hingga mampu ekspor ke sejumlah negara, antara lain
Australia, Belanda, dan Spanyol, Itali. "Pembeli kami sangat
menyukai corak-corak mebel khas Madura," katanya. Karena itu,
semula lebih banyak mencari mebel kuno untuk diperbaiki kembali
ketimbang membuat mebel dari bahan kayu jati baru. Tapi lama-lama
lantaran mebel kuno jumlahnya sangat terbatas, ia mencoba
mengkombinasikan bahan mebel kuno dan barang baru. "Dan ternyata
tetap disukai," kata pemilik CV Jodang ini. Sekitar tahun 1998
omsetnya masih tercatat Rp 500 ribu, tetapi sekarang rata-rata sudah
mencapai Rp 100 juta/bulan. Tahun lalu mampu mencetak ekspor senilai Rp
1,3 miliar.
"Kemungkinan tahun ini juga tak jauh beda," ujar mitra usaha Bank BNI ini. Namun, sejumlah industri mebel ini mengaku, sekarang ini dihadapkan sejumlah kendala. Terutama, minimnya tenaga ukir yang profesional. "Saya harus mendidik bertahun-tahun untuk bisa mendapatkan tenaga ukir yang berkualitas. Yang tentu butuh biaya tak sedikit," ujar Suhartono. Akibat keterbatasan tersebut, poroduksinya tidak bisa maksimal. Padahal permintaan terus mengalir. "Mungkin baru 60% yang bisa kami penuhi dari permintaan luar negeri," ujarnya. Keluguan senada juga diutarakan, Chalid. Menurut dia, mengingat hasil produksinya dilempar ke pasar ekspor, maka soal kualitas menjadi hal yang terpenting. Sebab mutu itu sudah menjadi tuntutan utamanya. "Karena itu, tenaga kerja kami harus yang terdidik dan ini agak sulit mencari orangnya," katanya. Chumaidi mengaku, sempat harus menanggung kerugian gara-gara barang yang diproduksi tak sesuai dengan yang diinginkan si pembeli. Akhirnya harus dikembalikan. "Untung tidak semua barang yang dikembalikan, sehingga nilai kerugiannya tak begitu besar," katanya berkisah. Tentang bahan baku kayu jati, hampir semua menilai sejauh ini belum ada masalah. Perhutani telah menyediakan khusus bahan baku bagi UKM yang membeli tidak dalam jumlah besar. Kebutuhan para UKM mebel ini bervariasi antara 30 hingga 100 meter kubik dengan harga Rp 2,4 juta/meter kubik. Penulis: Agung Kusdiyanto Surabaya Post Selasa, 28 November 2000
|
| Ruangan ini merupakan tempat untuk mengkomunikasikan persoalan Industri Kecil atau HomeIndustri. | |