|
Di kalangan seniman tari di Indonesia, masih jarang yang menyadari bahwa bidang yang digaulinya banyak memberikan andil terhadap terbentuknya ideologi bangsa. Dimana ideologi tersebut, di abad XXI ini menjadi makin terbuka, sudah barang tentu hal ini dikarenakan oleh kesadaran tumbuhnya sikap demokratisitas.
IDEOLOGI adalah sebuah daya untuk menggerakkan jiwa dari setiap individu untuk lebih dinamis, bahkan sebagai daya perekat antarindividu yang makin renggang. Maka ideologi sebuah dinamisator menjadi semakin memungkinkan individu untuk dapat menumbuhkan adanya komunitas yang lebih solid dalam usaha-usaha tertentu -- di bidang ekonomi, politik dan juga budaya.
Ideologi yang ditumbuhkan pada masa lalu, ditandai adanya sebuah keyakinan adanya daya hidup yang tumbuh di lingkungan masyarakat agraris, yaitu adanya orientasi raja sebagai penggerak alam semesta. Sehingga, peran raja tidak hanya sebagai penguasa, tapi lebih ditekankan sebagai kekuatan ideologis untuk memberikan semangat hidup dari masyarakatnya. Hal ini akan tercermin dari semua perilaku raja dengan berbagai seremonial. Dalam seremoni yang diselenggarakan raja, akan banyak terlibat simbol-simbol yang tertuang dalam kesenian, diantaranya adalah seni tari. Maka seni tari itu tidak hanya hadir sebagai hiburan visual yang semata-mata hanya untuk ditonton, tetapi hadir sebagai sebuah kekuatan yang memberikan kekuatan penggerak atau dinamisator.
Telaah Kritis
Selama ini, tampaknya belum banyak yang menyadari bahwa seni tari itu menyimpan banyak kenyataan sejarah, yaitu sebagai fakta mental mitos dan dongeng. Sungguhpun tidak dapat begitu saja dipungut sebagai fakta historis. Simaklah tari "Bedhaya" yang dibawakan sembilan wanita (gadis) yang merupakan tari yang dikultuskan sebagai tarian yang sakral. Di Surakarta disebut sebagai tari "Bahaya Ketawang" dan di Yogyakarta disebut taru "Bedhaya Semang".
Keduanya diyakini diciptakan Sultan Agung Hanyokro Kusumo Saidin Panata Gama Senapati Ing Ngalaga dari Mataram.
Tarian ini menceritakan tentang pertemuan Nyai Rara Kidul sebagai penguasa laut selatan dengan raja-raja Jawa dinasti Mataram. Mitologi yang menyertai tarian tersebut juga dijelas dalam Babat Tanah Jawi. Dalam kajian historial fenomenologi, yang terkandung dalam manifact tersebut tidak ditelaah mentah-mentah tetapi harus diterima secara kritis. Yaitu kenyataan "perkawinan raja-raja Jawa" sejak zaman Mataram tersebut, perlu disadari sebagai sebuah konsep untuk mendewasakan diri sebagai sebagai seorang penguasa bangsa (Jawa), setidaknya sebagai manusia yang tumbuh dan bersandar pada budaya Jawa -- budaya masyarakat yang ditumbuhkan dari perpaduan budaya agraris dan budaya kelautan.
Penyatuan antara budaya agraris lebih meyakini keberadaan kekuatan kosmologis alam yang berorientasi pada gunung (letak arwah nenek moyang) dan kosmologi alam yang berorientasi pada laut (letak kekuatan supranatural yang memiliki kekuasaan penghancur). Seperti yang tercermin pada tokoh-tokoh antagonis dalam seni petunjukan wayang "Dasamuka", selalu disebutkan sebagai raja sabrang (seberang). Sungguhpun pada waktu lampau, kenyataan dalam mitologi itu adalah sebuah strategi politis. Secara konseptual, perkawinan raja-raja Jawa dengan Nyai Rara Kidul adalah hasil dari pemikiran Jawa dimana seorang raja (penguasa negara) membutuhkan legitimasi.
Ada tiga hal yang menjadi pokoknya; seorang raja Jawa harus menguasai tiga dunia (kosmologi Jawa) yaitu dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Dalam menguasai dunia atas, harus diciptakan mitologi yang berkaitan dengan dewa-dewa, perhatikan kisah Ken Arok yang dilegitimasi sebagai anak Dewa Brahma. Sementara kaitannya dengan raja-raja Jawa, bahwa tari "Bedhaya" itu adalah tarian sakral milik para dewa yang disebut tari "Malinggotbawa" atau "Langgotbowo", kemudian tarian itu diturunkan untuk disajikan sewaktu melakukan upacara sakral, berikutnya digunakan untuk upacara kenaikan tahta raja (jumenengan) atau ulang tahunnya yang diperingati 8 tahun sekali. Untuk menguasai dunia tengah, dunia kehidupan nyata ini, raja memiliki segenap ilmu pengetahuan dan keterampilan seperti Sri Sultan Hamengkubuwana I yang terkenal sebagai arsitek dan ahli strategi perang dan juga seniman. Maka gelar yang dikenakan adalah "Senapati Ing Ngalaga" (penglima di medan perang). Raja Jawa juga harus menguasai dunia yang dikuasai oleh roh jahat, setan, jin, peri, prayangan dan hewan-hewan buas. Raja Jawa dimitoskan sebagai suami Nyai Rara Kidul karena sang ratu itu yang dianggap memerintah dunia bawah tersebut. Oleh karena dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah yang memberikan karismatik dari raja, maka manifact tari "Bedhaya" itu merupakan fenomena sosial dalam kehidupan seorang raja Jawa.
Ideologi ini yang menyebabkan eksistensi raja dapat lebih diperkokoh, bahkan untuk membangun eksistensi raja tidak hanya sebagai penguasa, tetapi sekaligus sebagai manifestasi kekuatan dari kosmologi alam semesta.
Harus Menggali
Dalam kehidupan ini memang banyak macam yang telah diperbuat manusia. Untuk mengetahui apa yang terjadi atas realitas masa lalu itu, hendaknya orang tidak hanya mengorek dari pernyataan dalam berbagai dokumen, tetapi juga menggalinya dari kenyataan tari.
Sampai sekarang, pemahaman orang tentang tari "Tayub" adalah sebatas tari hiburan, dimana di situ ada teledak, tandak, atau ronggeng yang menampakan diri sebagai wanita penghibur laki-laki. Akar dari tradisi itu adalah ketika muncul teledak kondang yang bernama mas Ajeng Gambyong dimasa pemerintahan Susuhunan Pakubuwana IX di Kasunanan Surakarta. Data-data tentang ronggeng eksklusif itu hanya terdapat pada serat "Cantang Balong". Tentunya seorang koreografer hanya menyimak gaya dan bagaimana merekonstruksi tarian tersebut. Padahal, setidaknya mereka menyadari bahwa semangat ledek atau tandak tersebut terus berkembang hingga sekarang di daerah-daerah tertentu. Seperti halnya di Gunung Kidul, orang tua sangat mengidamkan anaknya mempunyai suara yang berkualitas, sebab itu adalah sebuah modal yang akan dapat menggali emas (kekayaan). Kenyataan ini juga terjadi di Malang, hampir 90% tandak Tayub berpendidikan SD.
Maka sebenarnya ada suatu pandangan yang memiliki faktor kesinambungan dan tetap hidup dalam benak masyarakat, yakni melepaskan anaknya sebagai tandak atau teledek itu bukan aib. Hal itu merupakan sebuah kebanggaan dan sekaligus harapan untuk bisa mengubah status diri, minimal kondisi perekonomiannya meningkat.
Memang fenomena sosial yang dibawa oleh seni tari tradisional tidak seluruhnya bagus, tetapi perlu disimak hal-hal yang sedikitnya mampu untuk bisa mengangkat harkat diri sebagai bangsa yang berbudaya. Simaklah tari "Srimpi" atau setidaknya tari "Pendet" atau tari yang lain -- katakanlah tari "Remo". Tarian ini sebenarnya membawa fenomena yang mampu membuka dimensi. Di lingkungan keraton pada zaman dahulu, tari "Srimpi" adalah sebagai bentuk pendidikan etika bagi putri raja, tari "Pendet" adalah sebagai pendidikan religius dan sekaligus membina kedisiplinan diri -- dimana seorang gadis cilik bersedia didorong punggungnya agar bisa cengked (membusung). Sementara tari "Remo" memberikan fenomena heroik yang setidaknya dapat mengaktualisasikan diri sebagai patriot yang punya kebanggaan atas bangsanya.
Pertimbangan dari data-data tersebut menjadikan para sejarawan tari tidak hanya menggunakan dokumen tertulis, baik primer atau skunder. Tetapi, dapat mempertimbangkan data tersebut, sungguhpun harus tetap setiap dengan melakukan "kritik sumber sejarah". Penguasaan teknis tari bagi sejarawan tari merupakan hal yang mutlak, karena sebagai upaya melakukan kritik sumber selain mengkonvirmasikan antarsumber, juga sejarawan tari menganalisanya melalui tubuhnya sendiri.
�������
|

|
|
| |
| |
|