Pentas Ketoprak “Nafsu Terakhir” Mengingatkan Musuh Besar Manusia
title: Pentas Ketoprak “Nafsu Terakhir” Mengingatkan Musuh Besar Manusia
writer: Sjarifuddin
source: Sinar Harapan, 26 Juli 2008

YOGYAKARTA – ”Musuh besar manusia itu bukan harta, tahta atau kekuasaan, tapi justru hawa nafsu dalam diri sendiri di setiap manusia,” kata Ratu Wandan dengan lantang, sesaat sebelum menjalani
hukuman gantung. Ratu Wandan--mertua Amangkurat I yang juga adik ipar Sultan Agung, raja Mataram--akhirnya mati di tiang gantungan atas perintah Amangkurat I (diperankan Widayat) yang tengah berkuasa.
Kisah perseteruan Ratu Wandan (diperankan Hagi Sundari) dan suaminya Pangeran Pekik melawan Amangkurat I, diawali karena Tejoningrat dijodohkan dengan Hoyi yang merupakan gendakan (kekasih) Amangkurat I. Di sini, Amangkurat I tak terima dengan tindakan Ratu Wandan yang bertindak
sebagai “mak comblang”. Akibat kesewenang-wenangan itulah, banyak kawula Mataram dan juga Trunojoyo dari Madura memberontak. Sejak saat itulah selalu terjadi disintegrasi.
Fragmen yang dipentaskan dengan media ketoprak di Aula Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta pada Jumat (24/7) malam ini, diangkat dari Serat Centhini jilid 12 pada bagian terakhir. Bertindak sebagai sutradara dan penulis naskah adalah Bondan Nusantara, dengan pemain melibatkan Didik Ninik Thowok, Gareng Rakasiwi, Wisben, Hagi Sundari serta Widayat.
Acara malam itu sengaja digelar atas prakarsa Elizabeth D Inandiak yang menerjemahkan Serat Centhini ke dalam bahasa Prancis atas keinginan Duta Besar Prancis untuk Indonesia pada tahun 1996, Thierry de Beaucé. Di samping pada hari ini saduran Serat Centhini diterbitkan kembali dalam bentuk utuh di bawah judul “Centhini, Kekasih yang Tersembunyi”. Tak hanya pentas ketoprak saja, hari itu juga digelar seminar tentang “Serat Centhini dan Arsitektur serta bahasa Arab.”
“Serat Centhini adalah salah satu karya sastra terbesar dunia. Namun 12 tahun yang lalu belum diterjemahkan ke dalam bahasa apapun,” ungkap Elizabeth yang menerjemahkan Serat Centhini pada tahun 2002. Menurut Elizabeth, Thierry de Beaucé terpesona dengan kisah Serat Centhini dan memutuskan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia akan membiayai sebuah saduran Serat Centhini yang terancam sirna itu. “Agar jangan sampai terlupakan dan kandungannya terwariskan dalam bahasa yang megah dan indah,” tambahnya.
Dari berbagai sumber yang ditelusuri SH, Serat Centhini mengisahkan tentang perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram.

Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri (Jayengresmi, Jayengraga/Jayengsari, dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti) berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram.
Dalam pengembaraannya itu mereka mencicipi semua kebijaksanaan dan segala pelanggaran yang tumbuh subur di Tanah Jawa. Di candi-candi yang terlantar, di puncak foya-foya mewah, di hutan belantara yang dikuasai jin-jin mbalelo maupun di mulut-mulut gua yang pekat.
Serat Centhini itu sendiri, menurut sejarah, digubah atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, yang kemudian bertahta sebagai Sunan Pakubuwana V. Adapun yang dijadikan sumber dari Serat Centhini adalah kitab Jatiswara, yang bersangkala jati tunggal swara raja. Artinya menunjukkan angka 1711 (tahun Jawa)–zaman Pakubuwana III.
Atas kehendak Sunan Pakubuwana V, gubahan Suluk Tambangraras atau Centhini ini dimanfaatkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa, termasuk di dalamnya keyakinan dan penghayatan mereka terhadap agama. Untuk itu Pangeran Adipati Anom ditunjuk sebagai pelaksana yang kemudian dibantu tiga orang pujangga istana, yaitu Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura II (sebelumnya bernama Raden Ngabehi Ranggawarsita I) dan Raden Ngabehi Sastradipura. Pangeran Adipati Anom bahkan mengerjakan sendiri jilid 5 sampai 10, karena ia kecewa bahwa pengetahuan tentang masalah senggama kurang jelas ungkapannya.

“Dunia Dalam” Masyarakat Jawa
Tak ada yang membantah jika Serat Centhini dikatakan sebagai ensiklopedi mengenai "dunia dalam" masyarakat Jawa. Karena isinya meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa, seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun
rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa dan lain-lainnya.
“Tak ada serat-serat yang lain selengkap Serat Centhini. Dan banyak hal di dalam Serat Centhini ini
sangat relevan dengan keadaan sekarang ini,” tutur Bondan Nusantara, tokoh Ketoprak Yogya. Karena itu pula, Bondan dalam pentas yang bertajuk “Hari Huru-Hara Centhini” yang diselenggarakan LIP Yogya mengambil salah satu bagian yang dipandang paling relevan dan diberi judul “Nafsu Terakhir.”
Bondan mengaku cukup sulit untuk mempopulerkan Serat Centhini yang penuh dengan wejangan serta metamorfosa dan menggunakan bahasa sastra yang kemudian diangkat lewat ketoprak. “Ini mengingat ketoprak adalah kesenian rakyat, maka harus komunikatif, mudah dicerna,” ujar Bondan.
Dalam cerita “Nafsu Terakhir” yang diangkat dari Serat Centhini, menurut Bondan, mengingatkan manusia tentang perlunya mengalahkan hawa nafsunya sendiri, tentang hubungan manusia dan segala
macamnya. Dan ini bias dilihat cerita itu jelas tersirat bagaimana rakyat Mataram sendiri berontak karena tak diperhatikan oleh penguasa kerajaan.
“Jangan bicara nasionalisme kalau tak diperhatikan. Nasionalisme akan bangkit jika pemerintah memberi manfaat. Dalam kasus ini lihat saja Tejoningrat yang anak Amangkurat sendiri memberontak. Juga Trunojoyo,” kata Bondan.
Tak hanya itu saja. Dalam adegan pertemuan antara Centhini (diperankan Didik Ninik Thowok) dengan Jamil (oleh Gareng Rakasiwi) serta Jamal (Wisben) juga terdapat banyolan yang segar. Misalnya Jamil mengusulkan agar para menteri dan presiden mendatang lebih baik berasal dari kalangan
seniman/budayawan.
Menteri Hukum dan HAM dipegang Christine Hakim, Menteri Agama Dedi Dhukun, Menteri Kehutanan Tarzan, Menteri Pertahanan bisa Meriam Belina atau Kris Dayanti.
Tak pelak ratusan penonton yang memadati aula LIP Yogya terkekeh-kekeh. Pertunjukan yang berlangsung satu jam ini terasa sangat singkat. n

—‘—‘—‘—



 
 






Hosted by:
Edi Cahyono

E-Mail:

Edi Cahyono
Hosted by www.Geocities.ws

1