|
YOGYAKARTA – ”Musuh besar manusia itu bukan harta, tahta atau
kekuasaan, tapi justru hawa nafsu dalam diri sendiri di setiap
manusia,” kata Ratu Wandan dengan lantang, sesaat sebelum menjalani
hukuman gantung. Ratu Wandan--mertua Amangkurat I yang juga adik
ipar Sultan Agung, raja Mataram--akhirnya mati di tiang gantungan
atas perintah Amangkurat I (diperankan Widayat) yang tengah berkuasa.
Kisah perseteruan Ratu Wandan (diperankan Hagi Sundari) dan suaminya
Pangeran Pekik melawan Amangkurat I, diawali karena Tejoningrat
dijodohkan dengan Hoyi yang merupakan gendakan (kekasih) Amangkurat
I. Di sini, Amangkurat I tak terima dengan tindakan Ratu Wandan yang
bertindak
sebagai “mak comblang”. Akibat kesewenang-wenangan itulah, banyak
kawula Mataram dan juga Trunojoyo dari Madura memberontak. Sejak
saat itulah selalu terjadi disintegrasi.
Fragmen yang dipentaskan dengan media ketoprak di Aula Lembaga
Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta pada Jumat (24/7) malam ini,
diangkat dari Serat Centhini jilid 12 pada bagian terakhir.
Bertindak sebagai sutradara dan penulis naskah adalah Bondan
Nusantara, dengan pemain melibatkan Didik Ninik Thowok, Gareng
Rakasiwi, Wisben, Hagi Sundari serta Widayat.
Acara malam itu sengaja digelar atas prakarsa Elizabeth D Inandiak
yang menerjemahkan Serat Centhini ke dalam bahasa Prancis atas
keinginan Duta Besar Prancis untuk Indonesia pada tahun 1996,
Thierry de Beaucé. Di samping pada hari ini saduran Serat Centhini
diterbitkan kembali dalam bentuk utuh di bawah judul “Centhini,
Kekasih yang Tersembunyi”. Tak hanya pentas ketoprak saja, hari itu
juga digelar seminar tentang “Serat Centhini dan Arsitektur serta
bahasa Arab.”
“Serat Centhini adalah salah satu karya sastra terbesar dunia. Namun
12 tahun yang lalu belum diterjemahkan ke dalam bahasa apapun,”
ungkap Elizabeth yang menerjemahkan Serat Centhini pada tahun 2002.
Menurut Elizabeth, Thierry de Beaucé terpesona dengan kisah Serat
Centhini dan memutuskan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia akan
membiayai sebuah saduran Serat Centhini yang terancam sirna itu.
“Agar jangan sampai terlupakan dan kandungannya terwariskan dalam
bahasa yang megah dan indah,” tambahnya.
Dari berbagai sumber yang ditelusuri SH, Serat Centhini mengisahkan
tentang perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh
Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram.
Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri (Jayengresmi, Jayengraga/Jayengsari,
dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti) berpencar meninggalkan
tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh
Mataram.
Dalam pengembaraannya itu mereka mencicipi semua kebijaksanaan dan
segala pelanggaran yang tumbuh subur di Tanah Jawa. Di candi-candi
yang terlantar, di puncak foya-foya mewah, di hutan belantara yang
dikuasai jin-jin mbalelo maupun di mulut-mulut gua yang pekat.
Serat Centhini itu sendiri, menurut sejarah, digubah atas kehendak
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta, seorang putra
Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, yang kemudian bertahta sebagai
Sunan Pakubuwana V. Adapun yang dijadikan sumber dari Serat Centhini
adalah kitab Jatiswara, yang bersangkala jati tunggal swara raja.
Artinya menunjukkan angka 1711 (tahun Jawa)–zaman Pakubuwana III.
Atas kehendak Sunan Pakubuwana V, gubahan Suluk Tambangraras atau
Centhini ini dimanfaatkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan
lahir dan batin masyarakat Jawa, termasuk di dalamnya keyakinan dan
penghayatan mereka terhadap agama. Untuk itu Pangeran Adipati Anom
ditunjuk sebagai pelaksana yang kemudian dibantu tiga orang pujangga
istana, yaitu Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura
II (sebelumnya bernama Raden Ngabehi Ranggawarsita I) dan Raden
Ngabehi Sastradipura. Pangeran Adipati Anom bahkan mengerjakan
sendiri jilid 5 sampai 10, karena ia kecewa bahwa pengetahuan
tentang masalah senggama kurang jelas ungkapannya.
“Dunia Dalam” Masyarakat Jawa
Tak ada yang membantah jika Serat Centhini dikatakan sebagai
ensiklopedi mengenai "dunia dalam" masyarakat Jawa. Karena isinya
meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa,
seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris,
karawitan dan tari, tata cara membangun
rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman,
adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa dan lain-lainnya.
“Tak ada serat-serat yang lain selengkap Serat Centhini. Dan banyak
hal di dalam Serat Centhini ini
sangat relevan dengan keadaan sekarang ini,” tutur Bondan Nusantara,
tokoh Ketoprak Yogya. Karena itu pula, Bondan dalam pentas yang
bertajuk “Hari Huru-Hara Centhini” yang diselenggarakan LIP Yogya
mengambil salah satu bagian yang dipandang paling relevan dan diberi
judul “Nafsu Terakhir.”
Bondan mengaku cukup sulit untuk mempopulerkan Serat Centhini yang
penuh dengan wejangan serta metamorfosa dan menggunakan bahasa
sastra yang kemudian diangkat lewat ketoprak. “Ini mengingat
ketoprak adalah kesenian rakyat, maka harus komunikatif, mudah
dicerna,” ujar Bondan.
Dalam cerita “Nafsu Terakhir” yang diangkat dari Serat Centhini,
menurut Bondan, mengingatkan manusia tentang perlunya mengalahkan
hawa nafsunya sendiri, tentang hubungan manusia dan segala
macamnya. Dan ini bias dilihat cerita itu jelas tersirat bagaimana
rakyat Mataram sendiri berontak karena tak diperhatikan oleh
penguasa kerajaan.
“Jangan bicara nasionalisme kalau tak diperhatikan. Nasionalisme
akan bangkit jika pemerintah memberi manfaat. Dalam kasus ini lihat
saja Tejoningrat yang anak Amangkurat sendiri memberontak. Juga
Trunojoyo,” kata Bondan.
Tak hanya itu saja. Dalam adegan pertemuan antara Centhini (diperankan
Didik Ninik Thowok) dengan Jamil (oleh Gareng Rakasiwi) serta Jamal
(Wisben) juga terdapat banyolan yang segar. Misalnya Jamil
mengusulkan agar para menteri dan presiden mendatang lebih baik
berasal dari kalangan
seniman/budayawan.
Menteri Hukum dan HAM dipegang Christine Hakim, Menteri Agama Dedi
Dhukun, Menteri Kehutanan Tarzan, Menteri Pertahanan bisa Meriam
Belina atau Kris Dayanti.
Tak pelak ratusan penonton yang memadati aula LIP Yogya
terkekeh-kekeh. Pertunjukan yang berlangsung satu jam ini terasa
sangat singkat. n
—‘—‘—‘—
|

|
|
| |
| |
|