SEBUAH lakon ketoprak dipentaskan WO Ngesti Pandawa bersama Kelompok
Penikmat dan Pencinta Seni Semarang, Sabtu (14/2) malam lalu. Inilah sebuah
pentas yang menurut ketua kelompok wayang orang itu, Cicuk, untuk menggalang
dana.
''Bunga Rp 5 juta dari dana abadi (Rp 500 juta) dan bantuan Walikota
sebesar Rp 5 juta per bulan belum cukup untuk menutup biaya operasional
yang besarnya sekitar Rp 12 juta sampai Rp 13 juta,'' kata Cicuk.
Maka, digelarlah pentas dengan lakon Penangsang Gugur itu. Sejumlah
nama di luar Ngesti dipasang untuk menjadi magnet, antara lain Drs Sukirno
(Rektor Untag Semarang), Maston (Ketua Teater Lingkar), dan Drs Sudarto
MSc (Ketua PGRI Jateng). Tak ketinggalan Gareng Sumarbagyo, maskot Ngesti
Pandawa.
Dengan harga tiket Rp 25 ribu (VIP) dan Rp 10 ribu (balkon), lakon
bersetting masa Kerajaan Pajang itu dipadati pengunjung, khususnya untuk
kelas VIP. Beberapa tokoh masyarakat dan pejabat terlihat di kursi barisan
depan.
Penangsang Gugur berkisah seputar upaya balas dendam Raja Jipang,
Aryo Penangsang, yang merasa haknya atas Kerajaan Pajang telah dirampas
oleh Raden Trenggono. Ia juga perlu membunuh Prawoto, anak Trenggono, karena
telah menyuruh seorang punggawa untuk membunuh ayahnya, Pangeran Seda Lepen.
Tapa Telanjang
Lakon diawali dari adegan pembunuhan atas Prawoto, hingga kemudian
cerita mengalir sampai pada terbunuhnya Raja Kalinyamat. Peristiwa itu
membuat Ratu Kalinyamat bertapa telanjang. Ia bersumpah tak akan mengenakan
pakaian sebelum Pennagsang tewas.
Satu-satunya target pembunuhan Penangsang yang lolos adalah Jaka Tingkir
yang tak lain Hadiwijaya. Kelak, lewat tombak pusaka miliknya; Kyai Plrered,
Penangsang mati di tangan Sutawijaya, pangeran muda Pajang.
Pembunuhan atas Penangsang memang tak lepas dari peran Ki Ageng Pamanahan.
Dialah sebenarnya ahli strategi yang lihai dari Pajang. Lewat tipuan dan
jebakan yang dia rancang, Raja Jipang itu akhirnya tumbang. Perseteruan
Jipang-Pajang, konon juga karena campur tangan Sunan Kudus.
Bahkan, dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha, Sunan Kudus
secara tak langsung menyuruh Penangsang untuk menghabisi Prawoto, juga
Jaka Tingkir. Sebab, selain berguru kepadanya, mereka ternyata juga berguru
pada Sunan Kalijaga.
Sejarah, adakalanya tak hanya memiliki satu versi. Jika Penangsang
Gugur malam itu tak mencoba mengungkap lebih rinci persaingan antara
Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga, tak apa. Namun, ada sesuatu yang mengganjal
ketika lakon malam itu memposisikan Sutawijaya sebagai putra Hadiwijaya.
Sebab, di banyak buku sejarah, Sutawijaya adalah anak dari Ki Ageng Pamanahan,
dan bukankah Jaka Tingkir sendiri pada masa itu belum memiliki anak? (Ganug
Nugroho Adi-79)
�������