Berakhirnya Dendam Raja Jipang
title: Berakhirnya Dendam Raja Jipang
writer: --
source: Suara Merdeka, Sabtu, 21 Februari 2004

SEBUAH lakon ketoprak dipentaskan WO Ngesti Pandawa bersama Kelompok Penikmat dan Pencinta Seni Semarang, Sabtu (14/2) malam lalu. Inilah sebuah pentas yang menurut ketua kelompok wayang orang itu, Cicuk, untuk menggalang dana.

''Bunga Rp 5 juta dari dana abadi (Rp 500 juta) dan bantuan Walikota sebesar Rp 5 juta per bulan belum cukup untuk menutup biaya operasional yang besarnya sekitar Rp 12 juta sampai Rp 13 juta,'' kata Cicuk.

Maka, digelarlah pentas dengan lakon Penangsang Gugur itu. Sejumlah nama di luar Ngesti dipasang untuk menjadi magnet, antara lain Drs Sukirno (Rektor Untag Semarang), Maston (Ketua Teater Lingkar), dan Drs Sudarto MSc (Ketua PGRI Jateng). Tak ketinggalan Gareng Sumarbagyo, maskot Ngesti Pandawa.

Dengan harga tiket Rp 25 ribu (VIP) dan Rp 10 ribu (balkon), lakon bersetting masa Kerajaan Pajang itu dipadati pengunjung, khususnya untuk kelas VIP. Beberapa tokoh masyarakat dan pejabat terlihat di kursi barisan depan.

Penangsang Gugur berkisah seputar upaya balas dendam Raja Jipang, Aryo Penangsang, yang merasa haknya atas Kerajaan Pajang telah dirampas oleh Raden Trenggono. Ia juga perlu membunuh Prawoto, anak Trenggono, karena telah menyuruh seorang punggawa untuk membunuh ayahnya, Pangeran Seda Lepen.

Tapa Telanjang

Lakon diawali dari adegan pembunuhan atas Prawoto, hingga kemudian cerita mengalir sampai pada terbunuhnya Raja Kalinyamat. Peristiwa itu membuat Ratu Kalinyamat bertapa telanjang. Ia bersumpah tak akan mengenakan pakaian sebelum Pennagsang tewas.

Satu-satunya target pembunuhan Penangsang yang lolos adalah Jaka Tingkir yang tak lain Hadiwijaya. Kelak, lewat tombak pusaka miliknya; Kyai Plrered, Penangsang mati di tangan Sutawijaya, pangeran muda Pajang.

Pembunuhan atas Penangsang memang tak lepas dari peran Ki Ageng Pamanahan. Dialah sebenarnya ahli strategi yang lihai dari Pajang. Lewat tipuan dan jebakan yang dia rancang, Raja Jipang itu akhirnya tumbang. Perseteruan Jipang-Pajang, konon juga karena campur tangan Sunan Kudus.

Bahkan, dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha, Sunan Kudus secara tak langsung menyuruh Penangsang untuk menghabisi Prawoto, juga Jaka Tingkir. Sebab, selain berguru kepadanya, mereka ternyata juga berguru pada Sunan Kalijaga.

Sejarah, adakalanya tak hanya memiliki satu versi. Jika Penangsang Gugur malam itu tak mencoba mengungkap lebih rinci persaingan antara Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga, tak apa. Namun, ada sesuatu yang mengganjal ketika lakon malam itu memposisikan Sutawijaya sebagai putra Hadiwijaya. Sebab, di banyak buku sejarah, Sutawijaya adalah anak dari Ki Ageng Pamanahan, dan bukankah Jaka Tingkir sendiri pada masa itu belum memiliki anak? (Ganug Nugroho Adi-79)

�������



 

 

 

 

 

 

 
 






Hosted by:
Edi Cahyono

E-Mail:

Edi Cahyono
Hosted by www.Geocities.ws

1