Seks adalah persoalan yang purba. Adam dan Hawa, manusia pertama di
dunia, dikeluarkan dari surga penyebab utamanya adalah persoalan seks.
Buah kuldi yang dilarang Tuhan untuk dimakan Adam, kalau merujuk
Alquran surat Al A'raaf ('tempat tertinggi') ayat 19-22, tidak lain
yang dimaksud "buah kuldi" adalah sesuatu yang berhubungan dengan
aurat, seks. Dan Adam memakan buah kuldi itu karena bujukan setan.
Sampai sekarang pun persoalan seks terus bertebaran, hingga ke karya
sastra.
Dalam bukunya Khazanah Sastra Indonesia, A Teeuw menempatkan sastra
sebagai jalur keempat ke kebenaran, setelah agama, filsafat, dan ilmu
pengetahuan. Sastra ditempatkan Teeuw pada posisi yang relatif
terhormat karena di dalamnya mengandung nilai dan di antaranya
merupakan cerminan masyarakat sejamannya yang bisa dijadikan hikmah.
Dalam kaitannya dengan persoalan seks, baik dalam sastra daerah,
sastra Indonesia, maupun sastra dunia, pembicaraan seputar perkelaminan
itu merupakan suatu ketelanjuran. Gatoloco, Centini, Pengakuan Pariyem,
Madame Bovary, dan Lady Chatterley's Lover adalah sejumlah contoh
betapa persoalan seks sudah merambah karya sastra sejak lama. Dalam
buku Seks, Sastra, Kita, Goenawan Mohamad sampai pada kesimpulan bahwa
persoalan karya sastra bukan pada ada tidaknya seks pada karya sastra,
melainkan wajar tidaknya kehadiran seks dalam pengucapan literer.
Gatoloco sesungguhnya bukanlah karya sastra yang bermutu tinggi
semacam Mahabarata dan Ramayana. Ia sering dibicarakan karena dua hal,
yakni karena adanya ajaran mistik Jawa dan perkara seks yang tersusun
secara vulgar. Peredarannya yang sangat terbatas di lingkungan keraton
Jawa yang homogen menyebabkan kelahiran Gatoloco dan juga Darmogandul
serta Centini tidak menimbulkan ketegangan di masyarakat sekitarnya,
yang saat itu belum begitu melek huruf.
Ini berbeda dengan kelahiran Lady Chatterley's Lover karya DH
Lawrence, Ullyses karya James Joyce, Madame Bovary karya Gustave
Flaubert, dan Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag yang sempat
menimbulkan ketegangan dalam masyarakat yang sudah melek huruf dan
memperlakukan persoalan kesusilaan dengan ketat, di negara
masing-masing. Karya sastra lainnya yang sering menimbulkan ketegangan
di tengah masyarakat pembacanya adalah karya sastra yang menyinggung
persoalan agama dan politik, dan terlalu banyak contohnya, seperti
Satanic Verses Salman Rushdie, Langit Makin Mendung Ki Panjikusmin, dan
Bumi Manusia, Rumah Kaca, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa karya
Pramoedya Ananta Toer.
A Sudewa, dalam tulisannya "Wanita Jawa: Antara Tradisi dan
Transformasi" (yang dihimpun dalam Citra Wanita Jawa dan Kekuasaan Jawa
karya Budi Santoso), menyebutkan Serat Gatholoco berisi perdebatan
ajaran tasawuf, berisi dialog antara guru laki-laki dengan murid
perempuan dengan menggunakan kata-kata yang kasar dan terkadang jorok.
Sang guru bernama Gatoloco, yang berarti alat kelamin laki-laki.
Sedangkan sang murid bernama Perjiwati, yang berarti alat kelamin
perempuan.
Sementara dalam Bakat Alam dan Intelektualisme, Subagio
Sastrowardoyo menyebutkan Gatoloco sebagai sastra Jawa yang berisi
ajaran mistik Islam Jawa yang tergolong klasik. Mistik dalam karangan
itu diuraikan melalui simbol seksual. Buku tersebut merupakan karya
sastra yang mengandung pengalaman erotik dengan uraian plastis sampai
kepada kejadian yang sekecil-kecilnya. Gatoloco, Centini, dan
Darmogandul diistilahkan Subagio Sastrowardoyo sebagai ensiklopedi
kebudayaan Jawa yang mengetengahkan berbagai kehidupan sosial, moral,
dan agama dalam masyarakat Jawa, melukiskan adegan persetubuhan dan
perlambangan perkelaminan dengan sangat nyata dan hidup.
Gatoloco secara ekstrim sekali menggambarkan proses persetubuhan.
Gatoloco yang menjadi tokoh utama di dalam karya mistik itu adalah
personifikasi dari asas kelelakian. Ia dirupakan sebagai laki-laki
buruk wajah dan bentuknya, tubuhnya kerdil, kulitnya seperti sisik,
tidak bermata, tidak berhidung, dan tidak berkuping. Gatoloco selalu
ditemani oleh bujangnya yang bernama Darmogandul. Dari nama dan segala
simbolik di sekitar kedua tokoh ini tersarankan kepada pembaca bahwa
yang digambarkan adalah bentuk alat kelamin laki-laki.
Gatoloco dan Darmogandul mengembara beberapa lama sambil berdebat
mengenai filsafat dan mistik dengan ahli-ahli agama. Mereka akhirnya
bertemu dengan putri Perjiwati yang tinggal di gua Terusan. Dari
perlambangan dan lukisan telah kentara pula bahwa tokoh perempuan ini
adalah personifikasi dari asas perempuan. Dalam satu adegan dilukiskan
bagaimana Gatoloco berhasil memasuki gua tersebut untuk menjemput
Perjiwati, yang diuraikan dengan plastis dan detil, terkadang cenderung
menjadi kasar di sana-sini tentang proses persetubuhan.
Sementara dalam Serat Centhini bertebaran pula adegan-adegan erotik
yang menimbulkan nafsu birahi. Sunan Pakubuana V atau Kanjeng Gusti
Pangeran Adipati Anom di Surakarta, yang memprakarsai lahirnya Serat
Centhini, sempat kecewa pada ketiga pujangga yang menulis Serat
Centhini, yakni Kyai Ngabehi Ranggasutrasna, Kyai Ngabehi Yasadipura
II, dan Kyai Ngabehi Sastradipura. Alasannya sederhana, ketiga pujangga
keraton itu tidak jelas mengungkap masalah senggama atau tulisan
semacam Kamasutra, sebuah karya India yang menggarap persoalan seks
secara serius. Sunan Pakubuana V pun kemudian mengambil alih penulisan
Serat Centhini yang berjilid-jilid itu. Mulai Jilid 5-10 pun kemudian
bertebaran adegan erotik karya Sunan Pakubuana V secara jelas dan
tuntas. Adegan ini dapat ditemui pula dalam Suluk Tambanglaras karya
Sumahatmaka.
Dalam khasanah sastra Indonesia pun, terutama dalam Pengakuan
Pariyem karya Linus Suryadi Ag, juga bertebaran adegan seks antara
Pariyem dengan Raden Bagus Ario Atmojo dan antara Pariyem dengan pacar
pertama dan teman sekampungnya, Sokidi Kliwon.
Ada 24 halaman dari
192 halaman cerita Pengakuan Pariyem yang berbicara tentang seks. Dan
itu dituturkan secara blokosuto atau apa adanya. Salah satu adegan
percintaan antara Pariyem dengan Raden Ario Atmojo itu seperti ini:
//"Lha, Den Bagus Ario Atmojo, betapa sering dia kumat manjanya.
Wah, wah, kalau sudah begini, saya dibikin setengah mati. Lha, sudah
gede kok suka merengek, kayak bocah kehilangan bonekanya. Apalagi kalau
saya goda, besok saja ah, besok saja, saya sedang capek kok. Tapi saya
juga pasang gaya: melepas setagen berganti kain, copot kebaya ganti
yang lain.
Wuah-wuah, dia pasti terus merajuk. Tidak jarang dia pun
ngamuk-ngamuk. Bilangnya, dia tresna banget sama saya. O allah Gusti
nyuwun ngapura. O, saya tahu itu omongan gombal. Tapi biarpun gombal
saya senang. Apabila seorang pria naik birahi, tingkah lakunya penuh
emosi. Tingkah lakunya tak berbeda, sama dengan binatang piaraannya.
Otaknya macet, nalarnya buntet, dan perasaannya terbakar.
Demikian pun Den Bagus Ario Atmojo. Saya dibopongnya, diambunginya.
Saya sibaringkan di atas amben, tempat tidur saya bila malam, tempat
ngaso saya bila siang. Dalam keriat-keriut diseling sunyi, saya
digulatinya habis-habisan. Tak malam, tak siang, tak sore, waktu habis
di atas bale-bale. Dalam dahaga saya reguk air murni, jagad merasuk ke
dalam sanubari. Oh ampun ya ampun! Anunya gede banget lho. Saya marem
meladeninya.//
Komentar Subagio Sastrowardoyo atas Pengakuan Pariyem yang dimuat di
majalah Tempo menunjukkan sikap yang bisa menerima atas kehadiran buku
tersebut, yang memang sempat menimbulkan ketegangan dalam masyarakat
pembaca pada awal kemunculannya. Dalam pandangannya, Subagio menilai
Maria Magdalena Pariyem berbeda dengan Maria Magdalena di dalam Kitab
Injil yang sadar akan dosanya. Maria Magdalena Pariyem dari Gunung
Kidul, Yogyakarta, ini tidak mengenal dosa. Dia tidak merasa terikat
kepada dogma-dogma agama dan membenarkan naluri-naluri alam. Kehidupan
mengalir dengan wajar dan tidak ada penyesalan-penyesalan yang menggoda
batinnya. Pariyem lebih dekat kepada kejawaannya daripada kepada agama
Katoliknya, seperti yang terucap dalam pengakuannya, "Bila dia itu
orang Jawa tulen, tak usah merasa perlu ditanya -- perkara dosa."
Kehidupan seks Pariyem yang dibentangkan dalam buku ini tanpa
disidhem dan didekam, juga sekadar mengikuti aliran alam yang tidak
terhambat oleh cuaca batin yang gelap. "Saya mau mengalir saja, saya
krasan ada di dalamnya." Dia tidak gusar ketika hilang keperawanannya
oleh teman sekampungnya, Sokidi Kliwon. Juga kemudian setelah menjadi
babu (pembantu) di Yogya, ia melayani kebutuhan bermain cinta putra
majikannya dengan lega lila (ikhlas) pula. Bahkan setelah hubungan itu
membuahkan anak, ia rela menerima keturunan itu, dan tidak menjadi soal
baginya apakah ia akan dinikahi atau tidak.
Dalam bukunya Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan: Seberkas
Catatan Sastra, Subagio Sastrowardoyo yang menyoroti moralitas dalam
kesusastraan mengatakan, moralitas dalam sastra dinilai dari dasar
pertimbangan seberapa jauhnya kandungan karya sastra memenuhi ataupun
melanggar tanggapan masyarakat pada umumnya mengenai kepatutan hidup
yang disebut kesusilaan.
Dalam sejarah kesusastraan dunia, beberapa karangan yang kemudian
terkenal sebagai karya sastra yang besar artinya bagi perkembangan
sastra pada suatu waktu pernah mengalami pelarangan di suatu negara.
Ullyses karya James Joyce pernah dilarang beredar di Amerika Serikat,
Lady Chatterley's Lover karya DH Lawrence pun pernah dilarang beredar
di Inggris dengan alasan bahwa roman-roman itu terlalu terbuka
mengetengahkan hubungan seks. Terutama pada bagian yang menguraikan
pertemuan-pertemuan Lady Chatterley dengan bujang (pembantu) pemelihara
binatang piaraannya di sebuah gubuk, karena adanya dorongan perasaan
Lady Chatterley yang tidak puas hidup dengan suaminya. Hanya saja,
setelah Amerika dan Inggris dikuasai kelas menengah yang tidak
konservatif, maka kedua karya tersebut dapat beredar kembali.
A Teeuw dalam Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra, yang
menggunakan pendekatan teori resepsi, melihat adanya pergeseran norma
sosio-budaya dalam pelarangan buku Lady Chatterley's Lover. Dalam
sejarah sastra Inggris, buku DH Lawrence Lady Chatterley's Lover yang
bentuk aslinya dianggap melanggar tata susila, sehingga mau tak mau
buku itu harus diubah, dibersihkan, supaya penulisnya dapat luput dari
hukuman penjara. Jauh kemudian bentuk asli baru memungkinkan
diterbitkan tanpa bahaya. Jelaslah kasus semacam itu sangat menarik
dari segi resepsi sastra dalam masyarakat: karya yang pada masa
tertentu dianggap melanggar tata susila dan berbahaya, beberapa puluh
tahun kemudian ternyata dapat diterima, setidaknya tidak dapat diadili
lagi, karena perubahan norma susila yang menjadi lebih longgar.
Persoalan seks akan menjadi sesuatu yang lazim dalam sejarah manusia
sejak awalnya hingga akhirnya. Bahkan Tuhan pun tidak pernah
mengajarkan hal itu pada Adam sebelumnya, selain mengajarinya nama-nama
pohon dan binatang. Namun tidak perlu ada mata pelajaran atau kuliah
khusus untuk mengerti dan memahami soal seks, yang bisa membawa
persoalan yang berbeda-beda dalam masyarakat heterogen.
�������