Babad Giyanti (aksara Jawa:
) adalah sebuah syair dalam bentuk tembang macapat yang
dikarang oleh Yasadipura tentang sejarah
pembagian Jawa pada 13 Februari 1755. Sesudah keraton dipindahkan ke Surakarta dari
Kartasura karena dibakar oleh orang Tionghoa, maka Pangeran Mangkubumi
pun keluar dari keraton dan marah sampai memberontak. Sebab tanah
bengkoknya dikurangi banyak sekali. Maka berperanglah beliau melawan keraton
Surakarta. Selama peperangan ini beliau dibantu oleh banyak pangeran dan
bangsawan lainnya, antara lain Pangeran Samber-Nyawa (Mangkunegara I). Lalu
Pangeran Samber Nyawa dibuat panglima perang.
Dalam peperangan ini, Pangeran Mangkubumi menaklukkan daerah-daerah di
sebelah barat Surakarta, di daerah Mataram. Selanjutnya Pangeran Samber Nyawa
malahan bentrok dengan Pangeran Mangkubumi. Akhirnya orang kompeni menengahi,
Pangeran Mangkubumi boleh menjadi raja sendiri; sultan Hamengkubuwana I di
kota baru yang dinamakan Yogyakarta dan Pangeran
Samber Nyawa tetap tinggal di Surakarta dan menjadi Pangeran Mangkunegara I.
Perang ini selesai pada masa pemerintahan susuhunan Pakubuwana III.
Karya sastra ini memuat visi Yasadipura dari peristiwa di atas ini. Secara
umum karya sastra ini dianggap indah dan mendapatkan kritik yang baik oleh para
pakar kesustraan Jawa.
Daftar isi
- 1 Masa penulisan
- 2 Ringkasan
- 3 Daftar pustaka
Masa penulisan

Peta pembagian Mataram setelah Perjanjian Giyanti dan
didirikannya Mangkunagaran pada tahun 1757
Masa penulisan Babad Giyanti tidak diketahui secara pasti. Namun
diperkirakan karya sastra ini digubah antara tahun 1757 dan 1803. Tahun 1757 adalah tahun
terakhir yang ditulis kejadian-kejadian peristiwanya di karya sastra ini.
Sementara tahun 1803 merupakan tahun meninggalnya Yasadipura senior.
Tapi perlu dikemukakan di sini pula bahwa tidaklah pasti oleh Yasadipura yang
mana karya sastra ini dikarang. Sebab Yasadipura senior menurunkan Yasadipura
junior yang juga merupakan seorang sastrawan ternama. Yasadipura junior adalah
kakek Ranggawarsita. Oleh para
pakar sastra Jawa, Babad
Giyanti biasanya dianggap dikarang oleh Yasadipura senior.
Ringkasan
Perhatian: Bagian di bawah ini mungkin akan membeberkan isi cerita
yang penting atau akhir kisahnya.
Halaman pertama suntingan teks Babad Giyanti keluaran tahun
1885
Babad Giyanti membahas peristiwa-peristiwa politik yang terjadi di pulau Jawa
antara tahun 1741 dan 1757.
Peristiwa-peristiwa ini ditulis menurut sudut pandang atau opini Yasadipura.
Tahun 1746 merupakan sebuah lembaran hitam dalam sejarah Jawa. Sampai tahun 1746 wilayah
Kasunanan Mataram mencakup seluruh bagian Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada tahun
tersebut Mataram secara sekaligus kehilangan seluruh pesisir utara, dan bahk
di antara Pasuruan dan Banyuwangi semuanya hilang. Pada waktu yang sama muncul
perang baru lagi di mana Mataram kehilangan separuh daerah yang masih ada. Lalu
ketika perjanjian perdamaian ditanda tangani sembilan tahun kemudian, pada tahun
1755, paling tidak separuh penduduk Jawa tewas.
Alasan langsung bencana-bencana ini ialah kunjungan audiensi kepada Susuhunan
yang dilakukan oleh Gubernur-Jenderal Van
Imhoff pada tahun 1746. Beberapa tahun sebelumnya pesisir utara dan Jawa
bagian timur dijanjikan kepada VOC, karena VOC telah membantu Sunan
menumpas pemberontakan. Sekarang ini Van Imhoff menuntut janji sang Sunan. Sunan
Pakubuwana II yang kala itu menjabat memang pernah menjanjikan daerah-daerah ini
ketika ia sedang terjepit. Kala itu beliau harus melarikan diri dari keraton
sementara dikawal oleh para serdadu VOC.
Sunan Pakubuwana II memang tidak banyak mengenal damai dalam masa
pemerintahannnya (1726-1749). Warga Tionghoa yang memberontak dan mengacau,
karena alasan yang sangat berbeda dan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan
Sunan yaitu karena ada pembantaian warga Tionghoa di Batavia pada tahun 1740,
dan sebuah pemberontakan di Madura yang menjalar ke Jawa Timur. Selain itu di
ibu kota sendiri, banyak pangeran-pangeran, �warisan� ayahnya yang memberontak
meminta kekuasaan serta intrik-intrik keraton. Salah seorang pangeran yang
banyak menganggu sunan Pakubuwana II adalah adiknya sendiri, pangeran
Mangkunagara. Untungnya Pakubuwana II bisa membuangnya ke Sri Lanka berkat bantuan VOC.
Namun bagi putranya, Raden Mas Said, hal ini
menjadikan alasan untuk membangkang dan membalas dendam terhadap pamannya, Sunan
Pakubuwana II. Karena Pakubuwana II tidak kuat melawan Raden Mas Said, maka
beliau menjanjikan imbalan bagi yang bisa mengusirnya. Seorang adik Pakubuwana
II yang lain, pangeran Mangkubumi berhasil mengusir Raden Mas Said. Namun
kemudian patih Sunan Pakubuwana II berpendapat bahwa imbalannya terlalu besar,
padahal Sunan Pakubuwana II sebenarnya tidak apa-apa.
Masalah dengan Mangkubumi ini justru terjadi ketika Van Imhoff sedang meminta
audiensi di keraton pada tahun 1746. Van Imhoff sebenarnya bersedia untuk
membantu Sunan Pakubuwana II, maka beliaupun menegur Mangkubumi mengenai
tuntutannya yang keterlaluan di tempat umum. Lalu Sunan Pakubuwana II memotong
imbalannya sampai dua pertiga. Mangkubumi kehilangan mukanya dan tidak bisa
tetap tinggal di keraton. Beliaupun pergi dan mencari kontak dengan Raden Mas
Said, keponakannya yang telah diusirnya. Kehilangan muka Mangkubumi sebenarnya
bukan satu-satunya alasan, meski alasan utama, menjauhnya Pakubuwana II dengan
Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi sebenarnya juga kurang setuju terhadap keputusan
kakaknya menyerahkan daerah pesisir dan akan kompensasi VOC yang telah diberikan
untuk pendapatan yang hilang.
Perang awalnya berlangsung buruk bagi sunan Pakubuwana II dan sekutunya, VOC.
Mereka hanya bisa mempertahankan posisi mereka saja. Musuh mereka menyerang di
seluruh pulau Jawa. Bahkan kota Surakartapun tidak aman. Mangkubumi menerapkan
taktik perang gerilya.
Sementara ini Mangkubumi tujuannya tidak hanya membalas dendam saja, namun
beliaupun ingin menjadi Sunan. Ketika Sunan Pakubuwana II pada saat
berlangsungnya perang jatuh sakit dan mangkat pada tahun 1749, maka Mangkubumi
memproklamasikan dirinya sebagai Susuhunan yang baru dan mendirikan keraton di
Yogyakarta. Karena Surakarta dan VOC tidak mengakuinya, namun menobatkan putra
Sunan Pakubuwana II menjadi Sunan Pakubuwana II, maka kala itu terdapat dua
Susuhunan di Jawa.
Kala itu terlihat jelas bahwa kedua kubu tidak ada yang lebih kuat untuk
mengalahkan yang lain. Maka kedua kubupun sadar dengan hal ini. Selain itu
Gubernur-Jenderal Van Imhoff meninggal pada tahun 1750 dan digantikan oleh Jacob
Mossel. Lalu Pangeran Mangkubumi sudah tidak akrab lagi dengan Raden Mas
Said sehingga situasipun berubah. Raden Mas Said sendiri memiliki aspirasi untuk
menjadi raja. Pada tahun 1754 mulailah rundingan antara Mangkubumi dengan VOC
(tanpa melibatkan Raden Mas Said dan Sunan Pakubuwana III). Tawaran Mangkubumi
untuk melawan Raden Mas Said, diterima oleh VOC. Imbalannya ialah separuh
wilayah kekuasaan Mataram yang masih ada. Tawarannya diterima oleh VOC. Pada
tanggal 13 Februari 1755 perjanjian ini ditanda tangani
di desa Giyanti, beberapa kilometer di sebelah timur Surakarta. Mangkubumi
akhirnya mendapatkan gelar Sultan Hamengkubuwana I. Sunan Pakubuwana III tidak
bisa berbuat lain daripada menerima kenyataan. Sementara itu Raden Mas Said dua
tahun kemudian pada tahun 1757 memutuskan untuk menghentikan
peperangan dengan syarat beliau boleh menjadi raja. Tuntutannya dituluskan dan
beliau mendapat wilayah yang diambil dari wilayah Surakarta dan diperbolehkan
menyebut dirinya Pangeran Adipati.
Daftar pustaka
- (nl) W. van der Molen, 1997, Twaalf eeuwen
Javaanse literatuur, [Leiden].
- (id) Poerbatjaraka, 1952,
Kepustakaan Djawa, Amsterdam/Djakarta: Djambatan.
- (jv) Raden Ngab�hi Yasadipura, 1885-92, Babad
Surakarta ingkang ugi nama Babad Giyanti, Soerakarta : Toef &
Kalf.
- (jv) Rad�n Ngab�hi Yasadipura, 1937-39, Babad
Giyanti, Batawi-Centrum : Balai Poestaka.
�������