Mas Manca, Ki Wuragil dan Ki Wila bersorak-sorak gembira, kemudian mereka melompati pagar
dan mendekati Jaka. Ki Manca menggendong Jaka dipunggungnya
dan berkeliling lapangan diikuti oleh teman-temannya. Sampai dimuka panggung mereka berhenti dan memberi hormat kepada
baginda.
" Sangat baik Jaka,kamu hebat, engkau menghadap saya satu hari setelah
besok," kata Sultan dan tampak dia tersenyum yang menandakan bahwa dia
tidak marah lagi.
"Kanjeng Sinuwun, saya Jaka Tingkir bersama teman-teman saya menghadap baginda, saya
akan datang ke istanamu sesuai perintah mu," kata Jaka.
Hari di mana dia harus menghadap Sultan adalah hari yang terindah didalam
hidupnya, hari karunia dari Tuhan YME. Dia duduk dilantai dengan kaki
bersila layaknya seorang rakyat Jawa menghadap Rajanya. Kemudian baginda bersabda, "Jaka mulai sekarang kamu menduduki
pos mu sebagai Tantama didalam kemiliteran Demak," Tamtama adalah salah
satu kedudukan yang cukup tinggi didalan ranking militer Demak.
Kabar dari masyarakat Demak yang dia dengar, tidak seorangpun mau
mengikuti Jaka guna membunuhnya pada waktu Jaka diusir dari Jabatannya dan
dihukum. Bukan saja mereka takut tetapi juga mereka menghormati Jaka.
Setiap perajurit Demak mengakui bahwa Jaka adalah pemimpin yang
karismatik. Rumor yang tersebar di masyarakat
bahwa Jaka pernah membunuh salah seorang perajurit yang ingin menangkapnya
sewaktu dijatuhi hukuman, dengan melempar daun sirih saja.
Setelah enam bulan berjalan, Sultan menaikan pangkatnya menjadi
Tumenggung yang setara denga Jenderal dalam kemiliteran modern. Jaka
bersyukur kepada Tuhan YME atas karuniaNya yang diberikan dan bekerja lebih
keras lagi guna memperbaiki militer Demak. Sultan
masih berambisi untuk memperluas Kerajaannya kearah Supit Urang, Mataram dan
Pasuruan, oleh sebab itulah militer Demak harus lebih baik dari sebelumnya.
Pada akhirnya Sultan memutuskan mengangkat Jaka Tingkir sebagai
menantunya. Alangkah senangnya dia dan
juga teman-temannya tidak dapat dikatakan. Jadi tidak ada lagi pertemuan
rahasia dan tidak ada lagi pengawal yang melaporkan kepada Raja apabila Jaka
bertemu dengan Ratu Mas Cempa di Kaputren. Semua berjalan normal dan legal
sekarang.
Sultan mengadakan pesta pernikahan anaknya yang terakhir, antara Jaka Tingkir dengan
Ratu Mas Cempa. Semua rakyat mendukung dan merestui pernikahan pasangan yang serasi
ini. Setelah pesta pernikahan, Sultan menganugrahi kepangkatan kepada Jaka
sebagai Bupati di Pajang, jadilah dia Adipati Pajang. Pajang nama sebelumnya
adalah Pengging.
Pada waktu itu Demak memulai ekspansinya menyerang Supit Urang dan Mataram.
Keduanya dapat ditundukan dengan mudah. Kemudian menyusul Pasuruan. Sultan
sendiri memimpin penyerangan disertai dengan puteranya yang kedua, Pangeran
Timur dan tentu saja dengan Jaka Tingkir. Pada penyerangan ke Pasuruan,
Sultan gugur dibunuh oleh dayangnya sendiri di tendanya. Dayang itu
adalah suruhan Pangeran Aryo Penangsang, putera dari Pangeran
Kanduruan. Dulu Pangeran Kanduruan dibunuh oleh keponakannya sendiri
Pangeran Prawoto, putera dari Sultan Trenggono.
Pasukan Demak ditarik mundur dari peperangan bersama dengan mayat Rajanya. Kemudian di
Demak dilakukan penobatan raja baru yaitu Pangeran Prawoto dengan gelar Sultan
Mukmin, menggantikan ayahandanya, Sultan Trenggono. Sunan Giri sangat
mendukung penobatan tersebut. Sunan Giri adalah salah satu dari sembilan
orang suci. Jadi dia mempunyai pengaruh politik didalam kesultanan Demak.
Sultan Prawoto juga dilantik sebagai pemimpin agama, maka dia juga disebut sebagai
Sunan Prawata.
Jaka Tingkir dan keluarganya tinggal di Pajang sebagai Adipati Pajang. Mereka
bekerja keras membangun daerahnya. Rakyat sebetulnya lebih setuju memilih
Jaka sebagai raja mereka, jika ada pemilihan bebas seperti di era moderen, oleh
sebab itu banyak rakyat yang pindah ke Pajang untuk menjadi rakyatnya Adipati
Pajang. Semua temannya dan rakyatnya mendukung dia menjadi raja, maka Jaka
mengangkat dirinya sebagai Raja denga gelar Sultan Hadiwijoyo. Ibukota
kerajaan adalah Pajang, maka kerajaannya pun bernama Kerajaan Pajang.
Kerajaan Demak semetara itu mengalami kemunduran sejak Sultan Prawoto sakit. Rakyat
disitu pun tidak protes dengan berita Jaka Tingkir mengangkat dirinya menjadi
Raja; mereka berpendapat bahwa wahyu keprabon memang jatuh kepada Jaka Tingkir
yang berarti memang Tuhan YME menghendaki dia sebagai Raja.
Sultan Hadiwijoyo tidak melupakan janjinya kepada Ki Ageng Sela, maka dia memanggil
keluarga gurunya untuk didudukan sebagai pembantu-pembantunya di kerajaan;
Sultan memanggil Ki Ageng Ngenis, putera Ki Ageng Sela. Ki Ageng Ngenis
membawa puteranya, Ki Ageng Pemanahan.
Kita dapat membuat catatan kecil mengenai pembantu-pembantu Sultan Hadiwijoyo
seperti di bawah ini:
Mas Manca diangkat sebagai patih Pajang dan bergelar Patih Mancanegara. Dia
menjadi tangan kanan Sultan Hadiwijoyo dan banyak berjasa dalam perkembangan Pajang.
Ki Wuragil dan Ki Wila diangkat sebagai Bupati dalam, banyak berjasa dalam
pengembangan wilayah seperti membuka lahan pemukiman dan perladangan.
Ki Ageng Banyu Biru diangkat sebagai penasehat kerajaan atau Pepunden.
Sultan juga tidak melupakan Ki Ageng Sela, seperti sudah diterangkan di atas.
Ki
Ageng Ngenis, putera Ki Ageng Sela diberikan desa perdikan yang disebut desa
Nglaweyan. Selain Ki Ageng Pemanahan,sebagai putera tertua, Ki Ageng Ngenis
juga mengangakat anak yang namanya Panjawi. Kedua puteranya ini adalah murid
dari Sunan Kali Jaga.
Oleh Sultan Hadiwijoyo keduanya ditugaskan sebagai kepala pasukan
tamtama Pajang dan juga Keduanya diangakat saudara oleh Sultan.
Ki Ageng Pemanahan mempunyai putera seorang bernama Raden Bagus Danang. Kemudian
hari puteranya ini diangkat anak oleh Sultan Hadiwijoyo sebagai "lanjaran'
karena Sultan tidak mempunyai anak. Pangeran ini dikenal dengan nama Ngabehi
Lor Ingpasar.
Ki Ageng Pemanahan juga membawa kakak iparnya bernama Ki Jurumartani di dalam
pemerintahan Sultan Hadiwijoyo.
Sementara itu Aryo Penangsang, Adipati Jipang Panolan tidak merasa puas dan marah besar,
" Beraninya si Jaka Tingkir mengangakat dirinya sebagai Raja, lalu dengan
demikian saya berada dibawah kekuasaannya dan saya harus melapor, tidak sudi.
Seharusnya saya adalah Raja Demak, karena saya adalah putera Pangeran Kanduruan
dan bukan si Prawoto"
Adipati Jipang sangat frustrasi karena skenarionya gagal. Misinya membunuh Sultan
Trenggono berhasil dengan sukses, seharusnya diikuti dengan penobatan dia
sebagai Raja Demak pada langkah berikutnya. Mengapa tidak ada orang
mendukung dia sebagai Raja, bahkan kakeknya yang diharapkan tidak juga
mendukungnya. Oleh sebab itulah dia bermaksud pergi ke Kudus hendak
mencurahkan ketidak puasannya dan nasibnya kepada kakeknya, Sunan Kudus.
Mengapa dia gagal menjadi Raja.
Sebagaimana diketahui Sunan Kudus adalah pembunuh ayah Karebet. Tetapi didalam cerita
ini dikatakan bahwa Sunan Kudus juga sebagai salah satu gurunya Karebet.
Jadi Sultan Hadiwijoyo menghormati Sunan Kudus, sekalipun dia adalah pembunuh
ayahnya.
Sebaliknya Sunan Kudus adalah kakeknya Aryo Penangsang. Oleh sebab itulah Sunan Kudus
selalu membela cucunya. Bukan hanya cucunya tetapi juga Sunan Kudus adalah
gurunya.
Adipati Jipang Panolan beserta seluruh stafnya datang ke Kudus, menghadap Sunan Kudus.
Dia datang dengan marah dan muka yang masam, tidak tersenyum dan tidak hormat
kepada semua yang orang yang ditemuinya di Kasuhunan.
"Penangsang, bukan caranya begitu, menghadap saya dengan muka marah dan masam seperti kamu
itu," kata Sunan Kudus dengan marah.
"Saya minta maaf, Eyang benar, saya lagi muak, mengapa Prawoto yang menjadi Raja,
seharusnya saya. Percuma saya melenyapkan Paman Trenggono," kata Aryo Penangsang.
"Hai jangan ngomong sembarangan, ngawur seperti itu.
Apakah kamu datang hanya ingin mencurahkan kemarahanmu?, kata Sunan Kudus dengan lebih marah.
Aryo Penangsang demikian sombong sehingga dia merasa biasa saja sewaktu
mengatakan bahwa dia yang melenyapkan Sultan Trenggono. Hal ini
yang membuat Sunan Kudus marah besar.
"Maaf Eyang Guru, bukan maksud saya mau marah-marah di muka
guru, tetapi saya memang sedang frustrasi," kata Aryo Penangsang.
"Baiklah saya dapat mengerti apa yang sedang kamu hadapi, tetapi
hadapilah masalah ini dengan kalem dan mudah," kata Sunan Kudus.
"Semua orang yang mengetahui sejarah Demak, tentu akan setuju bila saya sebenarnya
adalah Raja yang syah,karena saya adalah putera Pangeran Kanduruan, tetapi
mengapa semua orang tidak mendukung saya, bahkan Eyang sendiri tidak mendukung,
" kata Aryo Penangsang Dia sudah mengatakan maaf tidak akan marah, tetapi
kali ini marah lagi bahkan marah langsung kepada Eyangnya.
Dia meneruskan,"Saya juga sakit hati dengan tindakan si Karebet yang tidak diduga langsung
menjadi Raja, beraninya dia, apa pangkatnya dia dan
dia tidak menghargai saya tidak memandang martabat saya. Saya tidak setuju Jipang Panolan dibawah kekuasaan Pajang.
"Baiklah, apakah kamu sudah puas mencurahkan semua masalahmu?
Jangan dikira aku kakekmu diam berpangku tangan, tidak, bahkan saya berpikir bagaimana memecahkan masalah ini,"
"Apa pendapatmu, bila seseorang sebagai muridku berchianat
kepada almamaternya dan pergi berguru kepada orang lain?" kata Sunan Kudus.
"Siapakah dia yang dimaksud guru?,"
"Dia adalah Pangeran Prawoto.dia lari dan berguru kepada Sunan Kali
Jaga," kata Sunan Kudus.
"Jadi apa yang akan kita lakukan guru?"
"Engkau adalah muridku, apakah engkau mau bermaksud membersihkan
sekolahmu dari penghianat seperti Pangeran Prawoto?" kata Sunan Kudus.
"Akan kita bunuhkah dia Guru?,"
"Saya tidak mengatakan itu," kata Sunan.
"Guru katakanlah denganjelas dan tegas," kata Aryo Penangsang.
"Penangsang jangan memaksa saya, berbicara harus dengan sopan kepada gurumu," kata
Sunan Kudus.
"Maaf, tetapi saya akan menunggu perintahmu," kata Aryo Penangsang.
"Tidak, saya tidak akan mengeluarkan perintah. Kamu datang ke Kudus dengan
kemarahanmu untuk membunuh Sultan Prawoto dan Jaka Tingkir, itu semua adalah
masalahmu, dan bukan masalah saya," kata Sunan Kudus.
"Apakah engkau merestui Eyang?," kata Aryo Penangsang.
"Tidak, saya ingin mengatakan bahwa saya tidak pernah memberi kamu perintah untuk
membunuh Sultan Prawoto dan Jaka Tingkir, tetapi saya juga tidak pernah
mencegahmu. Tetapi harus diingat bahwa Sultan Prawoto bukan saja seorang
Raja tetapi juga seorang pemimpin Agama. Jadi apa bila terjadi sesuatu
yang tidak baik dengannya, negeri ini akan geger," kata Sunan Kudus.
"Saya tidak perduli. Saya siap apapun yang akan terjadi bahkan saya siap untuk
menyatakan perang dengan Kerajaan Demak," kata Aryo Penangsang.
Aryo Penangsang dan Patih Matuhun kembali ke Jipang Panolan.
Pada Istananya, Aryo Penangsang memanggil pengawalnya yang terbaik, namanya Rangkud
untuk diberi tugas.
"Rangkud kamu mempunyai tugas dari saya. Saya tau bahwa tugas ini berat bagimu,
bunuh raja Demak."
"Jangan katakan tidak, setiap perajurit Jipang Panolan adalah pembrani dan tidak takut
mati untuk Negaranya dan Rajanya, kamu mengerti?," kata Aryo Penangsang.
"Tetapi,...."
"Tidak ada tetapi, kerjakan perintah saya,"
"Raja Demak mempunyai kesaktian yang mana keris saya tidak akan mempan menembus
tubuhnya," kata Rangkud.
"Jangan takut akan hal itu, ambil keris kamu dan bawalah kepada Sunan Kudus, Sunan akan
membacakan mentera di keris kamu, maka besi tua itu akan bertuah."
�������