Mas Karebet, the King (Part 3)
title: Mas Karebet, the King (Part 3)
writer: Retold by Satoto Kusasi
source: www.geocities.com/satotok/index.html

Mas Manca, Ki Wuragil dan Ki Wila bersorak-sorak gembira, kemudian mereka melompati pagar dan mendekati Jaka. Ki Manca menggendong Jaka dipunggungnya dan berkeliling lapangan diikuti oleh teman-temannya. Sampai dimuka panggung mereka berhenti dan memberi hormat kepada baginda.

" Sangat baik Jaka,kamu hebat, engkau menghadap saya satu hari setelah besok," kata Sultan dan tampak dia tersenyum yang menandakan bahwa dia tidak marah lagi.

"Kanjeng Sinuwun, saya Jaka Tingkir bersama teman-teman saya menghadap baginda, saya akan datang ke istanamu sesuai perintah mu," kata Jaka.

Hari di mana dia harus menghadap Sultan adalah hari yang terindah didalam hidupnya, hari karunia dari Tuhan YME. Dia duduk dilantai dengan kaki bersila layaknya seorang rakyat Jawa menghadap Rajanya. Kemudian baginda bersabda, "Jaka mulai sekarang kamu menduduki pos mu sebagai Tantama didalam kemiliteran Demak," Tamtama adalah salah satu kedudukan yang cukup tinggi didalan ranking militer Demak.

Kabar dari masyarakat Demak yang dia dengar, tidak seorangpun mau mengikuti Jaka guna membunuhnya pada waktu Jaka diusir dari Jabatannya dan dihukum. Bukan saja mereka takut tetapi juga mereka menghormati Jaka.  Setiap perajurit Demak mengakui bahwa Jaka adalah pemimpin yang karismatik. Rumor yang tersebar di masyarakat bahwa Jaka pernah membunuh salah seorang perajurit yang ingin menangkapnya sewaktu dijatuhi hukuman, dengan melempar daun sirih saja.

Setelah enam bulan berjalan, Sultan menaikan pangkatnya menjadi Tumenggung yang setara denga Jenderal dalam kemiliteran modern. Jaka bersyukur kepada Tuhan YME atas karuniaNya yang diberikan dan bekerja lebih keras lagi guna memperbaiki militer Demak. Sultan masih berambisi untuk memperluas Kerajaannya kearah Supit Urang, Mataram dan Pasuruan, oleh sebab itulah militer Demak harus lebih baik dari sebelumnya.

Pada akhirnya Sultan memutuskan mengangkat Jaka Tingkir sebagai menantunya. Alangkah senangnya dia dan juga teman-temannya tidak dapat dikatakan. Jadi tidak ada lagi pertemuan rahasia dan tidak ada lagi pengawal yang melaporkan kepada Raja apabila Jaka bertemu dengan Ratu Mas Cempa di Kaputren. Semua berjalan normal dan legal sekarang.

Sultan mengadakan pesta pernikahan anaknya yang terakhir, antara Jaka Tingkir dengan Ratu Mas Cempa. Semua rakyat mendukung dan merestui pernikahan pasangan yang serasi ini. Setelah pesta pernikahan, Sultan menganugrahi kepangkatan kepada Jaka sebagai Bupati di Pajang, jadilah dia Adipati Pajang. Pajang nama sebelumnya adalah Pengging.

Pada waktu itu Demak memulai ekspansinya menyerang Supit Urang dan Mataram.   Keduanya dapat ditundukan dengan mudah. Kemudian menyusul Pasuruan. Sultan sendiri memimpin penyerangan disertai dengan puteranya yang kedua, Pangeran Timur dan tentu saja dengan Jaka Tingkir. Pada penyerangan ke Pasuruan, Sultan gugur dibunuh oleh dayangnya sendiri di tendanya.  Dayang itu adalah suruhan Pangeran Aryo Penangsang, putera dari Pangeran Kanduruan. Dulu Pangeran Kanduruan dibunuh oleh keponakannya sendiri Pangeran Prawoto, putera dari Sultan Trenggono.

Pasukan Demak ditarik mundur dari peperangan bersama dengan mayat Rajanya. Kemudian di Demak dilakukan penobatan raja baru yaitu Pangeran Prawoto dengan gelar Sultan Mukmin, menggantikan ayahandanya, Sultan Trenggono. Sunan Giri sangat mendukung penobatan tersebut.  Sunan Giri adalah salah satu dari sembilan orang suci. Jadi dia mempunyai pengaruh politik didalam kesultanan Demak.  Sultan Prawoto juga dilantik sebagai pemimpin agama, maka dia juga disebut sebagai Sunan Prawata.

Jaka Tingkir dan keluarganya tinggal di Pajang sebagai Adipati Pajang. Mereka bekerja keras membangun daerahnya.  Rakyat sebetulnya lebih setuju memilih Jaka sebagai raja mereka, jika ada pemilihan bebas seperti di era moderen, oleh sebab itu banyak rakyat yang pindah ke Pajang untuk menjadi rakyatnya Adipati Pajang. Semua temannya dan rakyatnya mendukung dia menjadi raja, maka Jaka mengangkat dirinya sebagai Raja denga gelar Sultan Hadiwijoyo. Ibukota kerajaan adalah Pajang, maka kerajaannya pun bernama Kerajaan Pajang.

Kerajaan Demak semetara itu mengalami kemunduran sejak Sultan Prawoto sakit. Rakyat disitu pun tidak protes dengan berita Jaka Tingkir mengangkat dirinya menjadi Raja; mereka berpendapat bahwa wahyu keprabon memang jatuh kepada Jaka Tingkir yang berarti memang Tuhan YME menghendaki dia sebagai Raja.

Sultan Hadiwijoyo tidak melupakan janjinya kepada Ki Ageng Sela, maka dia memanggil keluarga gurunya untuk didudukan sebagai pembantu-pembantunya di kerajaan; Sultan memanggil Ki Ageng Ngenis, putera Ki Ageng Sela.  Ki Ageng Ngenis membawa puteranya, Ki Ageng Pemanahan.

Kita dapat membuat catatan kecil mengenai pembantu-pembantu Sultan Hadiwijoyo seperti di bawah ini:

Mas Manca diangkat sebagai patih Pajang dan bergelar Patih Mancanegara. Dia menjadi tangan kanan Sultan Hadiwijoyo dan banyak berjasa dalam perkembangan Pajang.

Ki Wuragil dan Ki Wila diangkat sebagai Bupati dalam, banyak berjasa dalam pengembangan wilayah seperti membuka lahan pemukiman dan perladangan.

Ki Ageng Banyu Biru diangkat sebagai penasehat kerajaan atau Pepunden.

Sultan juga tidak melupakan Ki Ageng Sela, seperti sudah diterangkan di atas.

Ki Ageng Ngenis, putera Ki Ageng Sela diberikan desa perdikan yang disebut desa Nglaweyan. Selain Ki Ageng Pemanahan,sebagai putera tertua, Ki Ageng Ngenis juga mengangakat anak yang namanya Panjawi. Kedua puteranya ini adalah murid dari Sunan Kali Jaga.

Oleh Sultan Hadiwijoyo keduanya ditugaskan sebagai kepala pasukan tamtama Pajang dan juga Keduanya diangakat saudara oleh Sultan.

Ki Ageng Pemanahan mempunyai putera seorang bernama Raden Bagus Danang. Kemudian hari puteranya ini diangkat anak oleh Sultan Hadiwijoyo sebagai "lanjaran' karena Sultan tidak mempunyai anak. Pangeran ini dikenal dengan nama Ngabehi Lor Ingpasar.

Ki Ageng Pemanahan juga membawa kakak iparnya bernama Ki Jurumartani di dalam pemerintahan Sultan Hadiwijoyo.

Sementara itu Aryo Penangsang, Adipati Jipang Panolan tidak merasa puas dan marah besar, " Beraninya si Jaka Tingkir mengangakat dirinya sebagai Raja, lalu dengan demikian saya berada dibawah kekuasaannya dan saya harus melapor, tidak sudi. Seharusnya saya adalah Raja Demak, karena saya adalah putera Pangeran Kanduruan dan bukan si Prawoto"

Adipati Jipang sangat frustrasi karena skenarionya gagal.  Misinya membunuh Sultan Trenggono berhasil dengan sukses, seharusnya diikuti dengan penobatan dia sebagai Raja Demak pada langkah berikutnya. Mengapa tidak ada orang mendukung dia sebagai Raja, bahkan kakeknya yang diharapkan tidak juga mendukungnya. Oleh sebab itulah dia bermaksud pergi ke Kudus hendak mencurahkan ketidak puasannya dan nasibnya kepada kakeknya, Sunan Kudus. Mengapa dia gagal menjadi Raja.

Sebagaimana diketahui Sunan Kudus adalah pembunuh ayah Karebet. Tetapi didalam cerita ini dikatakan bahwa Sunan Kudus juga sebagai salah satu gurunya Karebet.  Jadi Sultan Hadiwijoyo menghormati Sunan Kudus, sekalipun dia adalah pembunuh ayahnya.

Sebaliknya Sunan Kudus adalah kakeknya Aryo Penangsang. Oleh sebab itulah Sunan Kudus selalu membela cucunya. Bukan hanya cucunya tetapi juga Sunan Kudus adalah gurunya.

Adipati Jipang Panolan beserta seluruh stafnya datang ke Kudus, menghadap Sunan Kudus. Dia datang dengan marah dan muka yang masam, tidak tersenyum dan tidak hormat kepada semua yang orang yang ditemuinya di Kasuhunan.

"Penangsang, bukan caranya begitu, menghadap saya dengan muka marah dan masam seperti kamu itu," kata Sunan Kudus dengan marah.

"Saya minta maaf, Eyang benar, saya lagi muak, mengapa Prawoto yang menjadi Raja, seharusnya saya. Percuma saya melenyapkan Paman Trenggono," kata Aryo Penangsang.

"Hai jangan ngomong sembarangan, ngawur seperti itu.  Apakah kamu datang hanya ingin mencurahkan kemarahanmu?, kata Sunan Kudus dengan lebih marah.

Aryo Penangsang demikian sombong sehingga dia merasa biasa saja sewaktu mengatakan bahwa dia yang melenyapkan Sultan Trenggono. Hal ini yang membuat Sunan Kudus marah besar.

"Maaf Eyang Guru, bukan maksud saya mau marah-marah di muka guru, tetapi saya memang sedang frustrasi," kata Aryo Penangsang.

"Baiklah saya dapat mengerti apa yang sedang kamu hadapi, tetapi hadapilah masalah ini dengan kalem dan mudah," kata Sunan Kudus.

"Semua orang yang mengetahui sejarah Demak, tentu akan setuju bila saya sebenarnya adalah Raja yang syah,karena saya adalah putera Pangeran Kanduruan, tetapi mengapa semua orang tidak mendukung saya, bahkan Eyang sendiri tidak mendukung, " kata Aryo Penangsang Dia sudah mengatakan maaf tidak akan marah, tetapi kali ini marah lagi bahkan marah langsung kepada Eyangnya.

Dia meneruskan,"Saya juga sakit hati dengan tindakan si Karebet yang tidak diduga langsung menjadi Raja, beraninya dia, apa pangkatnya dia dan dia tidak menghargai saya tidak memandang martabat saya. Saya tidak setuju Jipang Panolan dibawah kekuasaan Pajang.

"Baiklah, apakah kamu sudah puas mencurahkan semua masalahmu?  Jangan dikira aku kakekmu diam berpangku tangan, tidak, bahkan saya berpikir bagaimana memecahkan masalah ini,"

"Apa pendapatmu, bila seseorang sebagai muridku berchianat kepada almamaternya dan pergi berguru kepada orang lain?" kata Sunan Kudus.

"Siapakah dia yang dimaksud guru?,"

"Dia adalah Pangeran Prawoto.dia lari dan berguru kepada Sunan Kali Jaga," kata Sunan Kudus.

"Jadi apa yang akan kita lakukan guru?"

"Engkau adalah muridku, apakah engkau mau bermaksud membersihkan sekolahmu dari penghianat seperti Pangeran Prawoto?" kata Sunan Kudus.

"Akan kita bunuhkah dia Guru?,"

"Saya tidak mengatakan itu," kata Sunan.

"Guru katakanlah denganjelas dan tegas," kata Aryo Penangsang.

"Penangsang jangan memaksa saya, berbicara harus dengan sopan kepada gurumu," kata Sunan Kudus.

"Maaf, tetapi saya akan menunggu perintahmu," kata Aryo Penangsang.

"Tidak, saya tidak akan mengeluarkan perintah. Kamu datang ke Kudus dengan kemarahanmu untuk membunuh Sultan Prawoto dan Jaka Tingkir, itu semua adalah masalahmu, dan bukan masalah saya," kata Sunan Kudus.

"Apakah engkau merestui Eyang?," kata Aryo Penangsang.

"Tidak, saya ingin mengatakan bahwa saya tidak pernah memberi kamu perintah untuk membunuh Sultan Prawoto dan Jaka Tingkir, tetapi saya juga tidak pernah mencegahmu.   Tetapi harus diingat bahwa Sultan Prawoto bukan saja seorang Raja tetapi juga seorang pemimpin Agama. Jadi apa bila terjadi sesuatu yang tidak baik dengannya, negeri ini akan geger," kata Sunan Kudus.

"Saya tidak perduli. Saya siap apapun yang akan terjadi bahkan saya siap untuk menyatakan perang dengan Kerajaan Demak," kata Aryo Penangsang.

Aryo Penangsang dan Patih Matuhun kembali ke Jipang Panolan.

Pada Istananya, Aryo Penangsang memanggil pengawalnya yang terbaik, namanya Rangkud untuk diberi tugas.

"Rangkud kamu mempunyai tugas dari saya. Saya tau bahwa tugas ini berat bagimu, bunuh raja Demak."

"Jangan katakan tidak, setiap perajurit Jipang Panolan adalah pembrani dan tidak takut mati untuk Negaranya dan Rajanya, kamu mengerti?," kata Aryo Penangsang.

"Tetapi,...."

"Tidak ada tetapi, kerjakan perintah saya,"

"Raja Demak mempunyai kesaktian yang mana keris saya tidak akan mempan menembus tubuhnya," kata Rangkud.

"Jangan takut akan hal itu, ambil keris kamu dan bawalah kepada Sunan Kudus, Sunan akan membacakan mentera di keris kamu, maka besi tua itu akan bertuah."

�������



 
 





Hosted by:
Edi Cahyono

E-Mail:

Edi Cahyono
Hosted by www.Geocities.ws

1