Ki Banyu Biru paman Jaka Tingkir adalah guru yang terkenal, banyak anak-anak muda datang
berkunjung untuk menjadi muridnya,diantaranya adalah Mas Manca dari desa
Calpitu di kaki Gunung Merapi. Ayahnya adalah tantama dari
militer Majapahit bernama Jabaleka. Murid yang lain
adalah Ki Wuragil dan Ki Wila adalah keponakan dari Ki Banyu Biru sendiri.
Ki Banyu Biru mempunyai kesaktian untuk mendapat inspirasi bahwa dia akan
menerima seorang murid yang akan menjadi Raja terkenal ditanah Jawa. Pada sore harinya
datanglah Jaka Tingkir yang melamar menjadi muridnya. Ki Banyu Biru
menerima dengan senang hati. Jaka Tingkir belajar dengan rajin dan dia
juga dapat berteman dengan murid-murid yang lain. Dalam tempo tiga bulan
dia sudah dapat menguasai semua ilmu dan lulus dalam ujian.
"Jaka tiga bulan sudah cukup untuk kamu belajar ilmu dari saya, nah sekarang kamu
kembali ke Demak dan menghadap Sultan kembali," kata Ki Banyu Biru.
"Tetapi saya takut, karena Sultan akan menolak saya," kata Jaka.
"Jangan takut dan jangan ragu-ragu anakku; Sultan akan mengadakan kunjungan ke gunung
Prawata pada musim ini seperti biasanya dan kamu dapat menemui dia disana; ini
saya bekali kamu segenggam tanah," kata Ki Banyu Biru.
"Segenggam tanah? untuk apa?,"
"Pada perjalanan kamu nanti, kamu akan menemui kerbau Danu di kaki gunung Prawata;
jejali dia dengan tanah ini, kerbau itu akan mabuk dan mengamuk; ikuti dia
kemana larinya; dia akan menuju ke alun-alun di muka villa Raja; kemudian Raja
akan meminta kamu untuk menangkap binatang itu," kata Ki Banyu Biru.
"Menakjubkan planing Ki Banyu Biru, tetapi mungkin ini merupakan ramalan bukan
rencananya," pikir Jaka.
"Saya harap rencana ini akan terealisasi nantinya," kata Jaka.
"Jaka kamu akan ditemani oleh Ki Manca, Ki Wuragil dan Ki Wila. Jadilah tim yang
kompak dalam menghadapi semua hal," kata Ki Banyu Biru.
Kempat anak muda itu memulai perjalanannya menuju gunung Prawata. Pada perjalanannya
mereka memerlukan tempat bermalam. Lurah disuatu desa menawarkan rumahnya
untuk menginap. Lurah itu bernama Bahureksa. Mereka menerima tawarannya.
Adalah seorang gadis cantik dan menarik dan juga pandai bergaul tinggal
di rumah itu. Dia adalah anak gadisnya Ki Lurah sendiri, namanya Kaninten. Jaka tertarik dengannya dan Kanintenpun merespon, maka jadilah
cinta kilat. Karena mereka hanya tinggal dua hari
saja, maka Jaka dan kawan-kawannya minta pamit kepada Ki Lurah untuk meneruskan
perjalanannya.
"Ki Lurah, kami berterimakasih atas layanan, selanjutnya kami minta diri untuk
meneruskan perjalanan kami," kata Jaka.
"Sebelum engkau pergi, saya ada berita dari anak saya yang
mengatakan bahwa kamu telah mempermalukan anak saya. Maka saya minta
kepada kamu, Jaka Tingkir, untuk mengawini anak saya," kata Ki Lurah.
"Saya tidak melakukan apa-apa; saya minta maaf jika dalam pergaulan saya telah
menykiti anda semua,"
"Saya memaksa atau saya akan bunuh kamu semua," kata Ki Lurah.
"Saya sudah mempunyai kekasih yang akan saya kawini segera,
dia adalah Ratu Mas Cempa, puteri kerajaan Demak; saya tidak bisa mengawini
Kaninten," kata Jaka.
Bahureksa memegang hulu kerisnya dan menusuk dengan gerakan cepat. Jaka
menghindar dan kemudian membalas dengan pukulan yang tepat kemukanya. Walaupun tanpa senjata, Jaka dapat mengatasi serangan Bahureksa
karena dia adalah muridnya Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Banyu Biru. Dalam
beberapa menit, Jaka memberikan pukulan terakhir, jadilah dia pemenang di dalam
pertarungan ini. Tetapi pasukan Jagabaya atau semacam
pasukan privat telah mengepung keempat anak muda itu.
"Hai anak muda engkau telah mempermalukan anak gadis kami yang
terbaik, maka engakau tidak dapat keluar dari desa kami ini; engkau harus mati
atau kami yang mati," kata pemimpin Jagabaya.
"Tenang ki Sanak, saya tidak melakukan sesuatu atau menyakiti
Kaninten, bahkan dia sekarang baik-baik saja; saya tidak melakukan sesuatu,
sumpah, saya minta maaf," kata Jaka.
"Baiklah, atas nama Bahureksa saya akan merundingkan kepada
kamu; saya menawarkan, untuk kompensasi malu Kaninten saya minta kamu membayar
seribu Kepeng," kata kepala Jagabaya.
"Baiklah saya terima tawaranmu," kemudian Jaka membayar.
Mereka mendapatkan pengalaman berharga di desa Bahureksa ini tentang
wanita. Jaka Tingkir harus mengendalikan keinginannya kepada wanita di masa
akan datang. Wanita itu dapat merubah nasib seorang
laki-laki dan dapat merubah karir seorang laki-laki.
Mereka meneruskan perjalanannya ke gunung Prawata guna menemui Sultan. Setelah
sampai dikaki gunung mereka melihat seekor kerbau sedang merumput, ini tentulah
kerbau Danu yang dikatakan oleh Ki Banyu Biru. Dan tentunya padang
rumput ini sudah dekat dengan Vila Raja. Jaka Tingkir mengambil segenggam tanah
dari kantung nya dan mendekati kerbau tadi, "kalem,
sedikit kerbau," kemudian dijejalkan tanah itu kedalam mulutnya.
Beberapa menit kemudian, Kerbau itu menggoyang-goyangkan kepalanya,
matanya mulai merah dan kakinya mulai digaruk-garukan ke tanah. Berhasil kerja tanah tadi.
Kerbau Danu benar-benar mabuk, dia lari dengan cepat kearah pasar. Dia lari
dengan cepat menabrak apa-apa yang didepannya. Orang-orang
di pasar gempar dan lari menyelamatkan diri sambil berteriak-teriak.
Tidak seorangpun yang dapat emnangkap atau menenangkan kerbau itu, bahkan
prajurit-prajurit Demak, sehingga salah seorang perajurit menghadap Sultan
langsung dan melapor," Tuan, ada seekor kerbau yang mengamuk menghancurkan
apa saja di pasar, tak seorangpun yang sanggup melawannya,"
"Seekor binatang mengamuk dan tak seorangpun berusaha. Baiklah, saya perintahkan
kepada kamu untuk memobilisasi perajurit guna menangkapnya, giring dia kearah
alun-alun dan buatkan sebuah panggung untuk saya guna mengamati
alun-alun," kata Sultan.
"Baik Tuanku"
Kerbau Danu adalah kerbau besar yang garang, memasuki alun-alun. Ada beberapa
serdadu yang mencoba menangkapnya tetapi gagal bahkan beberapa perajurit
terluka dan yang lain menjadi takut. Beberapa pekerja sibuk membuat
panggung untuk raja mengamati. Hari itu adalah hari ketiga sejak Danu mabuk
dicekoki tanah ke dalam mulutnya.
Sultan dan pengikutnya duduk di panggung. Dia menarik kesimpulan bahwa semua
serdadunya telah gagal. Sementara itu orang-orang dari kampung dan kampung
sekitarnya telah datang kepinggir alun-alun menonton kerbau yang mabuk. Di
antaranya adalah Jaka Tingkir dan teman-temannya. Tiba-tiba Sultan melihat
Jaka diantara rakyat tanpa sengaja. Sultan memberikan tanda kepada
bawahannya dan berkata," adakah kamu melihat anak muda yang berada
disana. Dia pasti Jaka Tingkir. Katakan kepadanya untuk menangkap
kerbau. Jika dia berhasil, saya akan memberikan pengampunan atas
dosa-dosanya." Pengawal mendekati Jaka Tingkir, "Hai Jaka,
Sultan meminta kamu untuk menangkap kerbau itu, jika kamu berhasil Sultan akan
memberikan pengampunan atas dosa-dosa kamu."
"Benarkah, saya akan mencoba, terimakasih banyak," kata Jaka. Dia melompati
pagar alun-alun dan mendekati panggung dan tunduk menghormat menghadap Sultan.
"Ini adalah kesempatan saya untuk mempraktekan ilmu silat saya dari Ki
Ageng Banyu Biru dan Ki Ageng Sela. Dan juga kesempatan saya untuk kembali
kepada karir saya dan tidak ketinggalan untuk bersatu kembali dengan Ratu Mas
Cempa," pikir Jaka.
"Tuanku, saya akan mencoba semua kemampuan saya, doakan saya," kata Jaka.
Dia berbalik menghadapi binatang itu. Kerbau itu lari kearahnya dengan kepala
ditundukkan. Jaka menghindar dan Jaka kembali dari belakang kerbau guna menangkap
ekornya. Dia berhasil menangkap ekornya dan menarik sekuat tenaganya
sampai kerbau itu pingsan. Dia memukul kepapala kerbau itu dengan tinjunya
sampai kepala kerbau itu pecah. Kerbau mati dalam sekejap.
Para penonton berteriak gembira ria, "Hidup Jaka, Hidup Jaka.�
�������