MANGKUNEGARAN - Pagi ini, artis sinetron dan pemeran Jaka Tingkir
pada atraksi budaya Larung Ageng 2002 lalu, GRM Paundrakarna Sukmaputra,
diwisuda menjadi pangeran putra dan bergelar Gusti Pangeran Haryo
(GPH) di depan nama kelahirannya. Gelar itu diberikan sebagai pertanda
anak pertama KGPAA Mangkunagoro IX dengan istri terdahulu, Sukmawati Soekarnoputri,
itu sudah dewasa.
''Wisuda dan pemberian gelar itu hanya sebagai tanda dia (GRM Paundra)
sudah dewasa. Itu dari kacamata KGPAA Mangkunagoro IX selaku ayahnya. Kalau
untuk gelar prang wedana, perjalanannya masih panjang,'' tutur Sekretaris
Kabupaten Mandrapura MNg Supriyanto Waluyo SE , kemarin.
Mengenai posisi GRM Paundra ''Jaka Tingkir'' Karna setelah diwisuda,
menurut seorang abdi dalem yang enggan disebutkan namanya, bukan
berarti sebagai bentuk awal persiapan sebagai calon pewaris tahta. Karena,
bentuk-bentuk persiapan untuk menjadi seorang calon pewaris atau prang
wedana itu dalam sejarah kepemimpinan di Pura Mangkunegaran, melalui
proses panjang.
Dikatakan abdi dalem ini, seorang yang disiapkan menjadi prang
wedana atau calon pewaris tahta, tidak hanya mendapat tambahan gelar
pangeran, tetapi tambahan prabu di belakang gelarnya, seperti yang
diberikan KGPAA
Mangkunagoro VII kepada almarhum Gusti Pangeran Haryo Prabu (GPHP) Radityo
Kusumo, kakak tertua KGPAA Mangkunagoro IX yang sekarang bertahta.
''Hanya karena Gusti Radityo berhalangan tetap atau wafat, kemudian
Kangjeng Gusti (KGPAA Mangkunagoro IX-Red) ketiban sampur menggantikannya.
Tetapi, almarhum (KGPAA) MN VII tidak mewisuda prang wedana pengganti
atau tidak mengangkat Kangjeng Gusti sebagai putra mahkota. Inilah bedanya
dari yang lain,'' tutur abdi dalem ini membeberkan sekilas masa
lalu proses suksesi di Pura Mangkunegaran.
Sebab itu, lanjutnya, wisuda yang dilakukan KGPAA Mangkunagoro IX yang
akrab disapa Gusti Mangku terhadap putra sulungnya itu masih jauh dari
pencalonan atau penetapan sebagai putra mahkota.
Karena, selain akan mengalami perubahan gelar seperti itu, seseorang
yang disiapkan menjadi putra mahkota atau prang wedana, akan melalui
proses panjang penempaan diri, yang kurang lebih mirip perjalanan jenjang
karier seorang perwira tinggi di militer.
''Itu mirip yang terjadi di lingkungan militer. Misalnya, untuk meraih
pangkat kolonel atau bintang satu dan seterusnya, pasti harus melalui sesko,
sespim, seskogab, Lemhanas dan sebagainya. Di Mangkunegaran atau lembaga
adat lain seperti itu. Tetapi lebih imbang antara santapan wadhag
dan laku batinnya,'' paparnya lagi.
Selain mewisuda GRM Paundra ''Jaka Tingkir'', Gusti Mangku juga akan
mewisuda sekitar 100 pemohon, yang berlangsung dalam sebuah upacara di
Pendapa Ageng Pura, pagi ini. Para pemohon itu datang dari abdi
dan sentana dalem lama, tetapi ada yang sama sekali baru.
Menurut KRMT Trenggono yang bertanggung jawab dalam memproses permohonan
itu, selama ini Gusti Mangku lebih mengutamakan pemohon dari kalangan internal.
Utamanya, para sentana dan abdi dalem yang sudah begitu
lama suwita dan bertugas di berbagai tempat yang menjadi bagian
wilayah Pura Mangkunegaran.
''Misalnya, para juru kunci di sejumlah astana, petilasan-petilasan
dan sebagainya. Persentasenya lebih besar dibandingkan dengan para pemohon
dari luar,'' ungkap Kepala Biro Pariwisata Pura itu.(won-17k)
�������